biSoT RanTasSa
http://bisot.bloggaul.com
biSoT RanTasSa

back DOWNLOAD SHOUTBOX



DISCLAIMER


contact:

email : bisot @ jhtc.info


Jakarta
JHTC-REO


DONWNLOAD AREA

Firefox





Blogger
komunitas
JoinMyCommunity

site


Personal



AddThis



Komunitas-Blogger-NTT

Join-My-Community-at-MyBloglog!



biSoT di FRIENDSTER



biSoT di Multiply


Bisot Rantassa














Backlinks Cloud


khusus blogger BLOGGAUL yg ingin link ke blog bisot klik di sini






hot


CSS Style by: KAPUK


Foto Album Gaul

 
 
 
 
PENGUMUMAN:
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis
 

Memberi makanan sebagai pembuka puasa

Kamis, 4 September 2008 @ 19:56 WIB - Diari


Salman al-Farisi ra. berkata :
“Rasulullah berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: "Telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, didalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain.
Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga. Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman.
Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun”.

Kami bertanya: “Wahai Rasulullah saw. Tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa?”

Rasul Saw menjawab: “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu.
Ramadhan adalah bulan dimana awalnya rahmat, tengahnya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.
Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka. Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya.
2 hal itu adalah Syahadat Laa ilaaha illallah dan beristighfar kepadaNya.
Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka.
Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul saw.) dipadang mahsyar, satu kali teguk tidak akan pernah haus sampai masuk surga”.
(HR Al-Uqaili, Ibnu Huzaimah, al- Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.”
(HR. At Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

Yuk, bagi yang berpuasa, bisot traktir berbuka puasa.

salam



Disarankan: 0
  Komentar: 7 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
  rawinaw   Kamis, 4 September 2008 @ 20:02 WIB    (Reply)
aku traktir bisot ... bsiot traktir mbak ajeng ya
  bisot   Kamis, 4 September 2008 @ 20:08 WIB
rasanya adil degh mbak, sabtu yah... hehehehe
 
 
  sastrawiguna   Kamis, 4 September 2008 @ 20:02 WIB    (Reply)
mauuuuu.....!!!
  bisot   Kamis, 4 September 2008 @ 20:09 WIB
di jakarta yah teh hihihihi
 
 
  koesplator   Kamis, 4 September 2008 @ 20:15 WIB    (Reply)
wah .... sayang di jakarta klo di malang mau deh di traktir bro
bisot met berbagi buka puasa ya ... sukses ya ...
  bisot   Kamis, 4 September 2008 @ 20:30 WIB
hihihihi sip bro
nanti kalau saya ke malang say traktir degh huehehehe (gak janji juga sih hihihihi)
 
 
  debz   Jumat, 5 September 2008 @ 08:13 WIB    (Reply)
wuih tumben icot postingan kek gini...

icot traktir gw dunks...
 
  haerulsohib   Jumat, 5 September 2008 @ 10:59 WIB    (Reply)
mau, mau, mau..mau dong...
 
  malin kundang   Selasa, 23 Juni 2009 @ 16:25 WIB    (Reply)
mengakali pahala
saya melakukan eksperimen terhadap sebuah formula pahala yang lazim dikenal, yaitu:
barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

eksperimennya berjalan seperti ini.
suatu hari seorang teman saya satu kos-kosan berpuasa. saya mengenalnya sebagai orang yang baik, ramah, penolong, jujur, saleh, rajin sholat, dan berkecukupan. tentu ketika dia berpuasa, puasanya itu dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus. dia orang mampu, bukan orang yang berpuasaseperti beberapa mahasiswa di kos-kosan kami yang lain waktu itukarena uang kiriman habis atau karena dihabiskan untuk berjudi (entah judi kyu-kyu atau sepakbola).

dalam benak saya, pahalanya pasti besar, lalu saya teringat dengan formula di atas. kalau saya nanti memberi atau membelikannya makanan untuk berbuka puasa, tentunya saya akan mendapatkan pahala yang sama. ah, kesempatan baik. kapan lagi saya bisa mendapatkan pahala sebesar itu? disiplin tidak punya. ketulusan relijius tidak terpelihara. niat baik bertaqwa tidak ada, ketahanan untuk menahan lapar, haus, dan nafsu apalagi. tapi, di kantung saya, ada beberapa ribu uang kiriman ekstra yang bisa saya gunakan untuk membelikan makanan buka puasa. alhamdulillah, ternyata jalan menuju pahala dan kebajikan tidak seterjal dan seberliku yang saya bayangkan.

jadi saya sudah siapkan rencana untuk menyiapkan atau membelikan makanan berbuka bagi kawan saya yang alim ini.

menunggu adalah pekerjaan yang paling mengesalkan. apalagi menunggu kesempatan mendapat pahala 'murah meriah' pada saat azan magrib berkumandang. buat kawan saya yang sedang kelaparan dan kehausan itu, menunggu dilakukannya dengan tidur siang. sebagai seorang 'investor pahala' tentu saya tidak mau pahala yang saya dapatkan nantinya berkurang nilainya karena puasa kawan saya ini diisi terlalu banyak tidur. ketika dia mulai terlelap, saya pukul bangku dikamarnya dengan keras. blarrr! dia kaget, terbangun dan sedikit gusar, tetapi tetap menahan sabar. "ada apa?" katanya. "jangan tidur, puasa kok tidur, mana tantangannya? lalu dia menggerutu tidak jelas dalam bahasa ibunya, tidak tidur lagi, dia kemudian membaca diktat kuliah.

lalu saya pikir, orang yang berpuasa sambil berjalan-jalan ke pasar atau malah ke lokalisasi pelacuran, ke tempat-tempat dengan godaan dan tantangan yang begitu tinggi tentunya akan menghasilkan pahala lebih tinggi daripada yang berpuasa sambil membentengi diri dengan kebajikan atau menjauhkan diri dari kemaksiatan. puasa dengan taktik 'menghindar' adalah puasa anak tk, puasa for beginner, menurut saya. saya harus memberikan tantangan yang lebih besar lagi, demi meningkatkan mutu pahala yang bisa saya dapatkan nantinya, ini murni pemikiran untung-rugi investasi pahala.

lalu, di kamarnya, di komputernya, saya putarkan vcd porno. murni hanya sebagai tantangan. buat saya menonton film porno berjamaah sungguh tidak menaikkan birahi dan tidak bermanfaat kecuali sebagai sarana bersosialisasi dengan khalayak berselera rendah yang lain. film porno bagi saya hanya bisa berfungsi jika ditonton secara privat. kali ini film porno saya mainkan dalam fungsi yang lain: meningkatkan pahala puasa seseorang.

teman saya yang berpuasa kaget, sempat menegur saya dengan jengkel, "kamu kan tahu saya sedang berpuasa...." saya jawab, "tentu, dan ini agar pahalamu bertambah, karena puasamu jadi lebih tertantang dan teruji." dia lalu melengos keluar, mengambil air wudhu dan sholat ashar di kamar saya.

matahari makin menggelincir ke barat. tak sedetikpun kawan saya ini saya lepaskan dari tantangan dan godaan. mulai dari menghamburkan segala celaan sampai mencuranginya dalam permainan kartu truf secara brutal, membiarkannya dengan sabar mengocok kartu.

akhirnya, ketika azan magrib menjelang dalam hitungan menit, ia datang dan menyampaikan niatnya meminjam sepeda saya. "jangan," kata saya, "kamu kan seharian belum makan, nanti lemas, bahaya." lalu saya boncengi dia bersepeda ke warung pilihannya. dia berbuka dengan sepotong pisang goreng yang hangat dan harum baunya, satu gelas es teh manis, lalu sepiring nasi putih yang masih berasap, sepotong sayap ayam bakar kecap, dan semangkuk sup jagung. saya hanya memesan segelas es teh, belum waktunya makan malam buat saya.

lalu kami mengobrol, sambil merokok, dan ketika tiba waktunya pergi, saya bergegas mendahuluinya ke kasir lalu membayar semua makanan dan minuman. "lho...." dia terheran-heran. mana pernah saya berbaik hati membayari makanan orang lain, bahkan kepada pacar sendiri (lebih jelasnya, saya tidak pernah punya pacar karena menghindar kewajiban membayari makannya dalam kencan, ini memang bukan peraturan resmi, tapi sejenis konvensi tak tertulis. saya berusaha mencari pacar yang justru membayari makan saya dalam kencan, tapi tidak pernah dapat).

saya diam saja. lalu di parkiran warung, saya katakan, "kamu kan sudah makan, sudah 'isi bensin', gantian, sekarang saya yang dibonceng, kamu nggenjot."

masih didera penasaran, setiba di kos-kosan, kawan saya bertanya kenapa tumben saya berbaik hati membayari makan buka puasanya. lalu saya jelaskan skema investasi pahala yang saya operasikan sepanjang hari.

"bajingan!" itulah komentar pertama dari mulutnya yang tidak lagi berpuasa.

"tapi kamu tidak kehilangan apa-apa, pahalanya tidak dibagi dua, ini jaminan dari nabi. saya hanya memanfaatkan ekstra, bonus, apalah namanya...." demikian saya berupaya membendung kekesalannya.

"modal nggenjot berangkat, sama berapa ribu perak aja minta pahala sama."

"lho, tapi kan saya ikhlas. kamu juga yang ikhlas dong, kalo nggak nanti malah pahalamu yang berkurang. saya kan sudah ikhlas mbayari buka puasa."

"gue ganti aja dah duitnya, gue bayar sendiri aja."

"nggak bisa! mending dapet pahala daripada duit. duit gampang dicari, pahala puasa kayak gini yang susah nyarinya jaman sekarang."

"brengsek. lu emang kapitalis curang. pahala dikira dagangan apa?"

"ape kate lo aje deh."

nah demikianlah sebagian gerutuan dan sesekali makian yang berjalan lewat waktu isa, sepanjang pertandingan sepakbola langsung yang disiarkan tv, sampai tiba waktunya sahur lagi. dia pergi sendiri berangkat sahur dengan motor, tak lagi meminjam sepeda saya untuk ke warung. mungkin enggan berbagi pahala dengan sepeda saya.

saya juga tidak terlalu peduli. jaminan nabi untuk dapat pahala sama hanya pada memberi makan orang yang berbuka, bukan yang sahur.
  bisot   Jumat, 10 Juli 2009 @ 22:12 WIB
saya sudah lama menjawabnya silahkan klik link ini untuk jawaban saya
 
 
  malin kundang   Sabtu, 11 Juli 2009 @ 19:29 WIB    (Reply)
iya, saya sudah baca komentarnya. sama saja sih pertanyaan saya dengan yang ditanyakan di "aku menyimak."
 
Kembali Ke Atas