| |
|
|
|
 |
Golput OK-lah
|
 |
 |
Senin, 9 February 2009 @ 12:06 WIB - Diari |
 |
| |
hari-hari ini kita disibukkan oleh bermacam-macam berita yang menggemaskan. Tingkah para aktor politik yang sungguh menjemukan, iklan-iklan partai politik yang membosankan. Tidak ada yang mengenakan. Serba monoton, tidak ada yang kreatif. Inikah bangsa besar yang selalu mereka usung ? Oh, sungguh memalukan. Bangsa besar tapi gemar bertengkar, gemar mengobral janji kosong, gemar tebar pesona dengan berbagai macam pasang gambar diri di pinggir-pinggir jalan. Apakah mereka semua ini tidak malu, bahwa banjir masih menggenang sebagian wilayah, kok ya tega menjual diri... Masyarakat kita masih dililit masalah, mereka asyik menghitung-hitung suara yang bakal mereka raup. Padahal itu semua hanya mimpi. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya suara golput itu sangat nyata. Ya, golput. Golput adalah solusi ketidakpuasan akan nasib negeri. Golput adalah solusi akan stagnannya politik yang hanya begitu begitu saja. Mari bergolput ria.......OK ...!!!!!
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
|
 |
 |
Kamis, 22 January 2009 @ 11:07 WIB - Diari |
 |
| |
Alhamdulillah, kembali bertemu dengan saudara-saudara sesama. Tidak ada info penting yang hendak tersaji pada kolom kali ini. Meski tidak penting, namun serasa penting bagi saya karena diberi kesanggupan oleh Tuhan untuk nongkrong di depan layar ini. Ini suatu kenikmatan yang luar biasa. Kesempatan untuk berbagi cerita, sangat mudah bagi saya namun belum tentu bagi yang lain. Hal ini terkait dengan model penyikapan atas kehidupan. Kehidupan bukan hal yang angker. mesti disikapi penuh waspada dan rasa takut yang enggak-nggak. Ini sederhana saja, sesederhana kita membalik tangan. Hidup di muka bumi yang sederhana ini kadang dipersulit oleh seabreg keinginan-keinginan yang tiada batas. Memang keinginan tidak akan berujung sepanjang usia. Ia akan terus menggelayut minta dibelai dan dikasihani dan ujungnya dituruti. Kalau tidak dituruti akan menggerogoti kesadaran. Banyak yang tidak kuasa menahan teror keinginan, hingga tidak sedikit yang tahan dan ujungnya gantung diri, menenggak minuman keras, dan narkoba. Demikian itu akan terus berlangsung sebagai drama kolosal kehidupan yang mewarnai berita-berita di media. Kekerasan Israel atas Plestina, jelas awal mulanya hanya sebatas keinginan untuk memperluas wilayah teritorial. Konflik memanas yang terus mendapat sorotan media, dan menuai kecaman dunia. Tinggal bagaimana kita sanggup mengelola keinginan, ini yang penting. Keinginan jangan sampai menindih akal sehat, justru sebaliknya akal sehatlah yang mesti mengomando keinginan. Perjuangan mempertahankan kondisi prima bagi akal sehat agar senantiasa stabil memimpin keinginan merupakan perjuangan besar. Jihad Akbar, kalau dalam terminologi Islam. Sehingga jihad-jihad yang sering diserukan oleh beberapa kalangan yang berwujud perang fisik melawan tentara musuh, menghancurkan tempat-tempat maksiat, menyegel kafe-kafe malam remang-remang dan menyeret dan memukuli orang-orang yang tidak sepaham, bukanlah jenis jihad akbar yang dimaksud. Itu adalah jenis premanisme yang kebetulan dilakukan oleh mereka yang berjubah. Tanpa sadar, mereka telah memaksakan keinginan kepada pihak lain yang jelas tidak akan sama keinginannya. Memaksakan pemahaman, yang mustahil akan seragam sepanjang manusia ini jujur pada hati nuraninya. Pemahaman adalah anugerah Ilahi yang tinggi yang masing-masing individu telah mengemban kepahamannya sendiri. Tidak ada manusia yang kembar, dan lebih jauh kalau kita teliti tidak ada yang kembar dalam tindakan. Inilah yang luput dari wacana mereka yang gemar mengusung penegakan syariat. Syariat adalah hukum yang berada dalam kerangka grand theory. Sehingga butuh turunan-turunan agar pas dengan realitas. Kegiatan menurunkan ini mustahil tanpa sekularisme, sebuah ide yang dianggap angker oleh sebagian besar kalangan. Padahal itu adalah ide biasa yang niscaya diperlukan guna menurunkan ide agung yang berada di luar ruang waktu agar selaras dengan konteks ruang waktu. Lagi-lagi kini, kita dihadapkan pada kondisi situasi dimana fundamentalisme agama mendapat lahan subur untuk berkembang seiring derap globalisasi yang bersemangat menggeneralisir. Globalisasi tak terelakkan, yang juga memicu keinginan-keinginan sebagian kalangan untuk mempertahankan identitas primordialnya. Identitas yang diusung atas dasar agama, etnik, ras dan bangsa merupakan identitas kecil yang mestinya disikapi ala kadar saja. Sebab ada yang tinggi dari itu, yaitu identitas sebagai manusia. Identitas inilah yang kini senyap bertiarap di tengah gemuruh orang-orang melangsungkan hajatan akbar memanggul primordialisme aliran dan sektarian. Open society masih merupakan pekerjaan panjang yang butuh stamina prima untuk melangsungkannya. Mewujudkan kehidupan yang terbuka, egaliter tidak sebagai lari 100 meter atau 500 meter, melainkan lari maraton yang jaraknya bermil-mil yang tak tembus pandang. PR ini, kini menghadapi rongrongan keras dari kaum fundamentalisme pasar, ilmu maupun agama.
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Jangan Tunda-Tunda
|
 |
 |
Rabu, 21 January 2009 @ 11:57 WIB - Diari |
 |
| |
Obama telah resmi menjabat sebagai presiden negeri Paman Sam. Sekitar 4 juta manusia memadati kota Washington untuk menyaksikan anak Menteng ini diambil sumpah. Sementara kita yang disini pun juga tidak mau ketinggalan untuk ikut larut dalam keharuan dan pengharapan akan masa depan dunia yang damai. Entah, saya sendiri diam-diam memendam rasa apatis dengan itu semua. Dunia damai, sejahtera dan seabreg harapan lainnya yang ditumpahkan, bagi saya bukan hal yang istimewa untuk diharukan. Obama atau siapa pun tokoh yang ditokohkan pada abad ini, tidak berarti apa-apa untuk kelangsungan hidup saya kini dan disini. Dunia tidak berarti apa-apa, hanya sekedar numpang sesaat melepas lelah untuk menempuh perjalanan yang jauh. Perjalanan menuju Tuhan. Menuju Tuhan...inilah yang sedang kuributkan dalam hati. Ada krisis di Timur Tengah, ada krisis keuangan global, ada krisis kemanusiaan, dan krisis-krisis sejenis lainnya merupakan tampilan wajah Tuhan di abad sekarang. Kalau sekarang Israel telah menghentikan serangannya, apakah lantas Timur Tengah tidak bergejolak ? Tidak, Timur Tengah akan terus bergolak. Hamas dan Fatah akan terus rebutan lahan Palestina. Israel akan terus merongrong wilayah Gaza maupun Tepi Barat. Keinginan damai hanya omong kosong. Perundingan damai hanya merupakan jeda sesaat sambil menunggu momen lagi untuk menghujani tanah Palestina dengan senjata nuklirnya. Sudahlah, kita tidak usah ikut memusingkan dengan itu semua. Toh, tidak kita pikirkan atau pun serius kita pikirkan, semua berjalan di luar prediksi. Karena mereka ada hukumnya sendiri yang berada di luar jangkauan otak kita. Israel akan terus menggemparkan dunia, melecehkan PBB, sembari menunggu waktu yang tepat kapan menguasai Indonesia. Tunggu saja. ...! Lantas bagaimana dengan kita. Menunggu dijajah. Lho memangnya sekarang ini kita sudah merdeka.. Belum. Kita sama sekali belum merdeka. Malah penjajahan abad kini lebih sadis, karena kita sama sekali tidak menyadari sedang dijajah, dimalingi, dirampok dan lain sebagainya. Yang kini musti kita kerjakan dengan segera adalah menggarap diri seserius mungkin hingga tidak ada waktu luang untuk berpikir selain menggarap diri. Instrumen otak kita musti dijejali dengan pemahaman-pemahaman dan wawasan yang luas. Tidak bisa tidak, sekarang atau mati membeku terlindas oleh zaman. Biarlah semua bersorak-sorak, bergembira ria, seolah bahaya yang menghadang tidak ada. Tapi kita mesti menyadari, bahaya kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan, merupakan musuh nyata yang mesti segera diamputasi dengan kekuatan intelektual dan spiritual. Nah sekaranglah waktunya, jangan ditunda, kalau tidak mau dikatakan sebagai orang yang merugi sebagaimana sabda Tuhan dalam "wal ashri"-Nya.
ung, 210109 supardi annifari
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
 |
 |
 |
| |
| Adalah perjalanan menuju Tuhan, dengan pengabdian seutuh usia kepada makhluk-Nya. |
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
 |
BLOG [v] |
 |
Arsip Blog
|
|
| |
|
|
| |
 |
PENGUNJUNG [v] |
 |
Total: 12
|
|
| |
|
|
| |
 |
KOMENTAR |
 |
|
|
| |
RSS Komentar Blog  |
|
 |
 |
 |
RSS Blog  |
| Created: |
| Jumat, 16 January 2009 @ 21:52 WIB |
|
|
|