| |
|
|
;; Surat Untuk Sahabatku ;;
Jumat, 29 Agustus 2008 @ 19:29 WIB - Diari
tuhan aku ingin kau di sampingku malam ini terlalu sunyi untuk dilewati sendiri aku ingin kau bernyanyi atau berkisah tentang negeri yang jauh negeri dengan cuaca yang bisa diterka janji yang tak pernah dihianati
di sini sunyi selalu membawa kabar waktu yang selalu gugur percuma hari yang dikubur luka.
tuhan hatiku terkoyak siapa melantakkan larik larik sajakku melumatkan bahasa menghancurkan kata kata aku hanya bisa diam aku hanya bisa bisu aku hanya bisa tidak percaya aku hanya bisa tidak mengerti aku hanya bisa tidak melakukan segala bahkan doa, kurasa, sudah tak bermakna.
perih
aku hanya bisa mati !
***
Sahabatku, kutulis surat ini hanya karena aku sudah tak mampu lagi menyimpannya dalam halaman-halaman perasaanku ini. Tentang kenyataan hidup ku. Tentang ikatan napas ku bersama orang-orang tercinta yang terasa begitu kecil dalam pusaran raksasa kemewahan dunia ini.
Bagiku hidup ini terlalu rahasia. Seringkali aku ingin menumpahkan air mataku hanya karena telah begitu letih menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup ini; hanya karena tak tahu bagaimana lagi aku harus menumbuhkan kerelaan untuk melangkah.
Sahabatku, aku ingin menyelesaikan semua persoalan ini. Aku ingin hidup tenang. Tetapi selalu saja tak kunjung bisa, hanya karena aku tak mampu mengeluarkan banyak jawaban yang nyata.
Aku memang sempat mengingat segalanya. Masa silam yang teraba begitu saja, membuatku menemukan rasa sesal dan kecewa yang sangat dalam. Aku gagal melahirkan anak-anak bernama kenangan dan pengalaman.
Ingin sekali aku demikian rapat menyembunyikan apapun yang membuatku sedih, tapi selalu saja tak bisa. Ingin sekali aku menyimpan kesedihan ini dengan tabah, seperti juga orang tua yang sebenarnya demikian bertahan bertahun-tahun menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Tapi yang terjadi padaku, keinginan untuk menyembunyikan kesedihan itu justru hanya keluh kesah panjang yang menghabiskan waktuku untuk mulai menjalani hidup ini dengan baik.
Sahabat, aku ingin meninggalkan semua ini. Aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar baru; tempat yang tak sedikitpun pernah merekam kehadiranku sebelumnya.
Aku telah menghabiskan waktu hanya untuk belajar mencerca kenyataan. Penyakit ini telah melemparku ke dalam rimba ketakutan dan keraguan menghadapi dunia. Telah kulewati waktu diantara hangar-bingar omong-kosong orang-orang. Telah kupungut hidup diantara hilir-mudik keangkuhan dunia. Aku terseret-seret diantaranya. Umurku tergilas di dalamnya. Cintaku diinjak-injak diantaranya. Rumah megah impianku digusur oleh kekonyolannya sendiri, dirubuhkan oleh kenyataan yang ada. Aku dibakar di ruang keterasinganku sendiri. Dunia berjalan lebih cepat meninggalkan impianku. Aku dicabik-cabik oleh rasa keterhinaan mengeja kalimat panjang sebuah kerumitan dunia. Aku dihimpit jeritku sendiri. Aku diejek ketidakmampuan, diejek ketidaksehatan.
Sahabatku hari-hariku terasa pendek dan nyeri. Kusandarkan ia pada doa dan keberuntungan hari esok. Kalau-kalau…ah, selebihnya memang hanya menghemat kesedihan tanpa sedikitpun menguranginya. Ingin sekali aku menjalani sisa usia ini dengan lantang, berpaut dengan keriuhan bumi. Tapi ternyata hanya kesunyian yang ada. Hingga tiba saatnya aku hanya percaya pada dua kawan, yaitu ketenangan dan kesunyian.
Inilah aku, sahabat. Inilah aku yang akan mengisi sisa usia dengan gemetar. Hanya melakukan sesuatu yang aku bisa, meski menelantarkan banyak hal yang lainnya. Inilah aku yang menimang kekalahan dengan kedua tangan. Barangkali aku akan tenang hanya dengan memindahkan kekalahan ini ke tempat yang lain.
Aku tak tahu, beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun ke depan, jika kenyataan ini masih begini, kepergianku akan dimulai. Hidup memang punya tikungan yang tak bisa kita tebak. Seperti juga hitungan tentang usia. Bukankah setiap hitungan ke depan yang sudah kita ketahui angkanya belum tentu akan terhitung? Karena kematian—direncanakan atau tidak—akan membawa kita kembali pada kekosongan.
Aku tahu tak ada perubahan. Tapi aku punya satu perubahan yang kian tajam dalam jiwaku, yaitu dendam pada hidup. Perasaan itu kian tumbuh dalam dadaku. Semenjak vonis dokter itu menghujamku. Aku tak tahu dendam itu kelak menjadi apa. Apakah ia menjadi kemenangan atau justru kekalahan yang lebih hitam, aku tak tahu. Tapi aku mulai merasakan, kesunyian telah menungguku, di ujung jalan itu. Dan kelak tiba waktunya aku akan meninggalkan segalanya, termasuk apa yang benar-benar sangat aku cintai.
Ada saatnya aku mesti membuang seluruh kenangan dan kebersamaan, hanya karena mesti kembali pada pengertian bahwa diri ini sesungguhnya adalah puisi tentang kesendirian…
Terima kasih untuk sahabatku, Oceph, Mhimi, Haerul, Harzoe, Mas Koes, Ferror, Henceu, Bisot, Loiy, Deesan, Nia_bjm, dan semua, tak bisa kusebut semuanya, sesungguhnya, aku masih ingin tetap bersamamu...
Untuk yang selalu menemaniku tanpa lelah, mengingatkanku dikala lupa, membesarkan hatiku dikala aku jatuh. Terimakasih, engkau telah memberiku ruang dan waktu, relakan aku tetap berada di dalamnya... meski hanya sejenak meski hanya sejenak...
|
Disarankan: 0
 |
| |
biyan Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 05:29 WIB
 (Reply)
pertama !!
 |
 |
| |
 |
bubu okky Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 08:19 WIB
ya pertama !
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
nia_bjm Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 06:22 WIB
 (Reply)
mbak okky .. peluk yang lama ..  baca goresan-goresan diatas, sy dapat merasakan perihhhhhhhh .. yang sabar ya mbak, hidup memang harus dijalani, dan ketika semua itu kita kembalikan ke allah, maka itulah ternyata cara allah memberikan kasih sayang-nya, tidak semua org bisa merasakan rasa seperti yang mbak rasakan, semoga dgn itu membuat mbak mendapatkan kemuliaan dihadapan allah, gbu .. 
 |
 |
| |
 |
bubu okky Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 08:21 WIB
big hug nia....
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
harry_zoe Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 10:19 WIB
 (Reply)
meski hanya sekejap?
 |
 |
| |
 |
okky Sabtu, 30 Agustus 2008 @ 12:45 WIB
kan ada syairnya.
berikan aku waktu agar ada di pelukan hatimu tak perlu kau berikan semua biar hanya tersisa hanya sudut hatimu berikan aku waktumu sepanjang akhir nafasku sampai raga ini kan terpisah tak mengapa hanya sekejap saja
tuh syair buah karya okky sastrawiguna...[:d]
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
inuya Senin, 1 September 2008 @ 10:48 WIB
 (Reply)
kenapa akhir2 ini bubu sedih terus?
 |
 |
| |
 |
sastrawiguna Senin, 1 September 2008 @ 17:23 WIB
ya..... postingannya bikin suasana muram dan sedih yak..? kenapa yah..? hiks...
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
icha Rabu, 3 September 2008 @ 16:46 WIB
 (Reply)
bundaaa... kata si mamah,orang yang paling sering di uji ma allah.. adalah orang yg paling disayang.. karna allah tau.. bunda kuat, hanya bunda yang mampu memerankan tokoh "okky" dlm hidup ini.. bukan oranglain!! harusnya bunda bangga.. bunda yg lulus casting..bunda yang jd pemeran utama dlm cerita hidup ini..bunda harus bangga...jgn sedih lagi.
seperti juga icha, icha ga pernah sedih... klo allah ngasi cobaan ini buat icha.. harus kluar masuk rs bunda... icha ga pernah sedih punya tubuh rapuh kyk gn bunda. kata mamah.. allah sayang ma icha, krn hanya icha yg lulus casting, yg lain hanya jd figuran.. makanya icha ga pernah sedih lagi, bunda juga harus gt. ntar kita tunggu aja, honor kita pasti gede bunda.. udah disiapin diatas sana...
icha sayang bunda
 |
 |
| |
 |
sastrawiguna Kamis, 4 September 2008 @ 16:56 WIB
insa allah, semoga allah berkenan melimpahkan kekuatan bagi bunda juga icha.
bunda juga sayang icha
|
| |
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
Created on:
Jumat, 30 Mei 2008 @ 18:46 WIB |
|
|