| |
|
|
;; Wina Berdiri Di Liang Lahat
Selasa, 2 September 2008 @ 14:18 WIB - Diari
Masih banyak yang ingin kukabarkan tentang ibu pada Wina. Perihal sakitnya belakangan ini, juga tentang kesedihan yang menggayut di wajah tuanya. Bahwa ibu telah memaafkan Wina. Tapi begitu pintu kamar kosnya digedor, aku merasa niat itu bakal lebur dalam sekejap.
Benar saja Wina menyuruhku menunggu. Dia bergegas menyambut tamunya. Pintu kamar ditutup dari luar. Mungkin ia tak ingin aku menguping percakapannya.
Untuk menunggu waktu, kujelajahi kamar Wina yang terbilang mewah. Ada Tv, kulkas, audio, laptop. Aku heran darimana Wina mendapatkan ini semua. Prasangka buruk menggelitik batok kepalaku. Aneka parfume dan peralatan kecantikan tersusun dengan rapi memenuhi meja rias. Ada yang miris saat di atas meja hias tergantung sepasang foto dalam bingkai merah jambu. Foto keluarga ketika masih kecil dan foto Wina sekarang dengan pakaian seronok dilatari bibir pantai. Ah Wina..Wina. Hidup memang aneh dan sulit ditebak.
Tak lama kemudian Wina keluar dari kamarnya. Aku tidak bisa pulang sekarang kak, masih ada urusan , katanya ketus. Aku mendengus. Dasar anak bandel. Sia-sia saja aku membujuknya.
Di akte kelahiran, tercatat nama aslinya : Kartiwan, biasa dipanggil Iwan. Ia lahir sebagai lelaki normal. Tapi siapa bisa menebak jalan hidup seseorang ? Setelah dewasa, Iwan menyulap dirinya menjadi waria. Keputusan yang nekad, mengingat keluarga kami masih berbau ningrat. Sejak itulah, sebutan Iwan tidak berlaku lagi.
Sejak kecil Iwan sudah memperlihatkan tabiat gajil. Ia lebih suka bergaul dengan kaum hawa. Mengoleksi boneka. Tingkah lakunya pun feminin. Kamu mesem-mesem saja melihat kelakuannya. Wong gagah, tapi koq gemulai , celetuk ibu. Ternyata kami kecolongan. Api dalam sekam itu diremehkan hingga membumbung tinggi dan akhirnya sulit dipadamkan.
Suatu hari lima tahun yang lalu, rumah bergetar. Bapak menemukan perkakas perempuan berada di kamar Iwan. Lip stick, bedak, eye shadow, celana dalam, kutang dan bahkan pembalut wanita. Alangkah terkejutnya kami. Tak ayal lagi Iwan dihajar bapak habis-habisan. Alangkah malunya kami, Iwan sudah mencoreng nama baik keluarga kami. Hampir tiap hari kepalan tangan bapak mampir di tubuhnya dan ibu hanya bisa pasrah. Beruntung ibu yang tabah selalu ada di sana. Di tengah dua kutub yang berbeda.
Kalau tahu akan begini jadinya, sudah dari orok dia kubunuh, kata bapak sehari setelah Iwan diusir dari rumah. Dan sejak itulah Iwan bukan lagi menjadi bagian keluarga kami.
Wina duduk di hadapanku. Gerak geriknya seperti bocah yang merajuk saat tidak diberi uang jajan. Pulanglah Win, kasihan ibu sakit, jenguklah olehmu , bujukku. Kalau tak ada orang lain di salon itu, sudah kutampar mukanya. Masa seorang kakak harus merayu adiknya setengah mati. Aku lagi sibuk, kak. Akhir-akhir ini langgananku banyak, elaknya. Lebih penting mana, nyawa ibu, atau langgananmu ?, kesabaranku sudah hilang. Kutinggalkan dia tanpa permisi. Tebal rasanya mukaku meratap-ratap di depan seorang waria dan dipelototi manusia sejenisnya.
Firasatku tidak meleset, ibu pulang semalam. Kerabat dan famili berdatangan. Rencananya ibu akan dikebumikan besok jam sepuluh pagi. Wina belum tahu berita ini. Kucoba berkali-kali menghubunginya, namun hand phone nya tidak aktif. Akupun mengirimkan pesan via SMS. Mudah-mudahan dia sempat membacanya.
Waktu bapak meninggalpun dia tidak datang. Apakah sekarang, saat wanita yang melahirkannya dengan susah payah dan melindunginya dari segala kesulitan wafat, diapun tidak akan datang juga.? Manusia macam apa dia. Apa dia tak lagi berfikir surga tak lagi di telapak kaki ibu ?
Begitulah jam sembilan pagi, iring-iringan jenazah bergerak menuju pemakaman. Puluhan bahkan ratusan kerabat dan handai tolan mengantarkan ibu ke tempat yang terakhir. Sesuai rencana, ibu akan dimakamkan tepat di samping makam bapak. Akhirnya sepasang merpati itu berkumpul kembali.
Langit mendung, awan hitampun mengepung. Wajah-wajah kuyu mulai memasuki areal pemakaman. Tak lama lagi, ibu berkalang tanah.
Kami terkesima begitu sampai di rumah ibu yang baru. Ada sebutir kepala menyembul dari balik permukaan tanah. Lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa pemiliknya. Itu Wina ! Dia berdiri tegak di liang lahat. Entah sudah berapa lama ia menunggu di sana.
Berpasang mata memperhatikannya. Lihatlah anak itu. Dia datang ke pemakaman ibu sebagai lelaki tulen. Sulit untuk dipercaya. Tapi mataku yang sembab masih sempat mengenalinya. Kopiah hitam bertengger di balik rambutnya yang dipotong cepak. Padahal baru saja dua hari yang lalu, rambutnya panjang terurai. Sungguh dia persis seperti Iwan. Adikku yang sekian lama hilang.
Ya..ya..tak salah lagi. Itu Kartiwan. Wajahnya putih bersih. Tak ada lip stick. Tak ada maskara. Tak juga air mata. Tapi, tatapannya hampa.
|
Disarankan: 0
 |
| |
miayam Selasa, 2 September 2008 @ 14:33 WIB
 (Reply)
yg penting hatinya tidak hampa, oke..!
 |
 |
| |
 |
okky Selasa, 2 September 2008 @ 15:21 WIB
ok..setuju
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
harry_zoe Selasa, 2 September 2008 @ 14:47 WIB
 (Reply)
kartiwan...nama yg aneh
 |
 |
| |
 |
okky Selasa, 2 September 2008 @ 15:22 WIB
komeng yang aneh. lagi puasa sebaiknya menghemat kata-kata....
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
nia_bjm Selasa, 2 September 2008 @ 15:27 WIB
 (Reply)
mbak .. salam buat kartiwan yaaa .. tetap jadi co sejati, jgn lagi berubah
 |
 |
| |
 |
bubu_okky Selasa, 2 September 2008 @ 16:53 WIB
hahaha..ya..ya..ya... nama yang aneh menurut bang harry....
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
koesplator Selasa, 2 September 2008 @ 15:49 WIB
 (Reply)
cerpennya bagus bunda, pasti ada kisah sesungguhnya di baliknya, tp kali ini mirip aja .... tetap nulis deh dan jaga selalu kesehatan ya ....
 |
 |
| |
 |
bubu_okky Selasa, 2 September 2008 @ 16:55 WIB
hehehe..pastinya kasus seperti ini ada kejadiannya mas koes... makanya cerpen ini dibuat...
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
haerulsohib Selasa, 2 September 2008 @ 20:25 WIB
 (Reply)
"terperangkap dalam tubuh yang salah", kasihan juga ya...
ini merupakan fenomena, dalam agama islam hanya dua jenis kelamin yang diakui, tapi kenapa si iwan mesti merasakan perasaan seperti wanita, atau mengapa si iwan memiliki naluri kewanitaan.
mungkinkah tuhan punya rencana dari semua itu.
good story bunda, aku juga punya teman yang seperti itu, dan sepertinya sulit berubah gitu...
 |
 |
| |
 |
bunda Selasa, 2 September 2008 @ 20:38 WIB
aku suka dengan istilahmu "terperangkap dalam tubuh yang salah"
patut dikasihani, karena toh dia tidak menginginkan semua itu...
ehehehe...makasih rul... kapan diskusi lagi... tentang anti klimax sebuah cerpen..?
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
wahyuikhwann Rabu, 3 September 2008 @ 09:49 WIB
 (Reply)
hmm..bagus ceritanya.. duh..sampe terpana qu bacanya..
 |
 |
| |
 |
bubu_okky Rabu, 3 September 2008 @ 11:23 WIB
thx a lot
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
awonk Rabu, 3 September 2008 @ 15:06 WIB
 (Reply)
kartiwan sebangsanya si ryan dari jombang, ya???
 |
 |
| |
 |
bunda Rabu, 3 September 2008 @ 15:19 WIB
gak sama...
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
mayadee666 Rabu, 3 September 2008 @ 23:06 WIB
 (Reply)
heiheiheih... namanya kocak... kartiwan...xddd bagus yaaahh ceritanya...^^
 |
 |
| |
 |
sastrawiguna Kamis, 4 September 2008 @ 16:45 WIB
ihiiiiyaaa....dapetnya nama itu... abis susah c cari nama cowok" yang mirip nama ceweq..
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
khoiri_se Kamis, 4 September 2008 @ 16:29 WIB
 (Reply)
cerita fiksi atau nonfiksi nih...?
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
Created on:
Jumat, 30 Mei 2008 @ 18:46 WIB |
|
|