CARI:  
   homo sapien
   http://homo_sapien.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
 
           
   
PENGUMUMAN
 
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis
Blogger Peduli
Mind Mapping - cara baru untuk ngeBlog!
 
     
 
huy
 
     
BLOG TERBARU
 
» slanker
» ovie chyndutz
» idealisme
» primadonna's stories
» samohung
» mawardi
» queenbubble
» red devil`s
» mckaye
» muhammad_bagus
 
     
POSTING TERBARU
 
» free download mp3 parc...
» free download mp3 supe...
» free download mp3 supe...
» free download mp3 moni...
» free download supernov...
» free the rain - untuk ...
» free download sinopsis...
» free download naffas -...
» free download monique ...
» free download the bran...
 
     
   
 
huy
PENGUMUMAN:
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis
 
Raja Singa
Rabu, 29 April 2009 @ 13:27 WIB - Diari
 
Suatu siang di kelas musik, seorang guru sedang menjelaskan tentang bentuk-bentuk pengulangan pada musik klasik. Guru itu biasa dipanggil Raja Singa. Raja, karena namanya Raja Subandriyo. Singa, karena wajahnya yang lebat ditumbuhi jenggot, sehingga terlihat serem seperti singa. Penyebutan itu terjadi, karena ia sendiri yang meminta atas dasar supaya dekat dengan murid-muridnya. Ia juga sering menyapa dengan bahasa lo dan gue. So, bukan salah murid-muridnya dong, kalau ia juga dipanggil sifillis.

Meskipun sudah terlihat renta, namun siang ini, ia terlihat bersemangat mengajar. Entah karena cuaca alamnya yang enak, atau karena suasana kelasnya yang sedang mendukung, atau justru karena sedang berbunga hatinya lantaran semalam…, dapat arisan!

“ Jadi, dalam musik klasik itu ada empat bentuk pengulangan lagu, yaitu,” terang Raja Singa sambil menghampiri Dian yang duduk di barisan terdepan.

“Sectional repetition, repetition by variation, repetition by fugal treatment, dan repetition by development,” jawab Dian lancar.

Lalu, ia menjelaskan masing-masing bentuk pengulangan itu serta jenis-jenisnya.

“ Pokoknya, urutannya kayak gitu. Biar mudah ngapalin jumlah jenisnya, caranya tinggal ngapalin 4-4-4-2,” terang Raja Singa masih sumringah.

“ Itu pasti cara lo ngapalin pas seusia kami,” celetuk Rio yang duduk di barisan tengah dengan nada slengekan.

“ Dan, itu lo namain, j-e-m-b-a-t-a-n-k-e-l-e-d-a-i,” Luna tak mau ketinggalan sambil mengeja kata jembatan keledai. Raja Singa hanya membalas dengan senyuman kecil.

“Nggak, ah, kayak formasi sepak bola,” tangkis Devina lugu.

“Ternayata lo pade udah hapal sama gaya ngajar gue, hahaha,” balasnya.

“ YA IYALAH, MASAK YA IYA DONG!!!” seluruh penghuni kelas bersamaan.

Sementara itu, Doni yang duduk di sudut paling belakang sedang tertidur pulas. Sudah menjadi kebiasaannya untuk setiap pelajaran musik klasik. Alasannya, karena ayahnya seorang juara karaoke di kampungnya.

“ Tapi, gue juga hapal sama kebiasaan lo pade, heheheh,” lanjut Raja Singa.

Kelas langsung diam, bermuka tanda tanya. Semua kepala tengok kanan kiri. Bingung.

“ Doni! Doni!” teriak Raja Singa sambil mendekati meja Doni.
Dengan tangkas, Albert menggebuk punggung Doni supaya bangun sebelum Raja Singa menggebuk punggungnya lebih keras.
“ Satu Nusa Satu Bangsa, pencopta Charlie ST 12, do sama dengan Bes, empat per tiga, dimulai hitungan kedua!” seru Doni sambil beridiri. Tanpa sadar, ia mengucapkan itu. Sontak, kelas jadi ramai jadi kayak pasar malem.
“ Oh, maaf, Mister. Gue ketiduran. Kemarin malem, gue belajar musik bareng bokap gue nyampe larut. So, ketiduran, deh, sekarang,” Doni mencari alas an.
“ Ya, udah. Sekarang silakan diapalkan itu bentuk dan jenis pengulangannya, entar ada tes lisan,” kata Raja Singa sambil berjalan menuju mejanya di depan.
Spontan, muka Doni menjadi pucat, lalu berwarna merah, dan menjadi seperti badut. Sedangkan yang lain, tak kalah menakutkannya dengan muka Doni.
Sepuluh menit kemudian….
“ Apa saja jenis dari repetition by variation?” pertanyaan pertama untuk Dewi.
“Em…, basso ostinato, passacaglia, chaconne, theme and variation,” jawab Dewi tangkas.
Sambil berjalan mendekati Hanung, Raja Singa bertanya pada Niko.
“ Apa itu concerto grosso?”
Raut muka Niko berubah hijau. “ Em…konser yang menggunakan alat-alat berat,” jawabnya dengan gemetar. Kelas riuh rendah. Doni yang masih bertampang cemas tertawa terbahak-bahak.
“ Apa, Hanung?” lanjut Raja Singa.
“ Konser yang didahului permainan beberapa solist dilanjutkan dengan bermain bersama-sama atau yang biasa disebut tuti,” jawabnya cerdas.
“ Perfect!”
Sementara itu, Doni menyembunyikan wajahnya dibawah dekapan tangannya sambil menghapalkan bentuk-bentuk pengulangan musik klasik. Ia tak mempedulikan siapa yang sedang ditanayai Raja Singa. Hingga akhirnya,
“ Sebutkan seluruh bentuk pengulangan dan jenis-jenisnya,” tanya Raja Singa sambil cengengesan memegangi tengkuk Doni.
Karena kaget, Doni menjawab,
“ Ah, gampang,” jawabnya sambil menunduk lagi.” Yang pertama, sectional repetition, jenisnya itu, em…two part form, lalu,” Doni mendongak supaya tidak ketahuan melihat buku. Sedangkan Raja Singa sedang memperhatikan Lusi yang asyik ngobrol dengan Ika. “ Ada three part form, lalu…,” belum selesai menjawab, Raja Singa mengangkat kepala Doni.
“ Ow, ternyata,” kata Raja Singa sambil tertawa terkekeh. Kelaspun menjadi seperti pasar malem lagi.
“ Ampun, mister,” rengek Doni sambil berdiri menjauh dari Raja Singa sambil terkekeh juga. Namun, tangan Raja Singa segera meraih telinag kanan Doni, lalu menjewernya. Kelas tak berhenti tertawa. Semua jungkir balik melihat tingkah Doni.
Setelah tenang dan Doni sudah kembali duduk di bangkunya, giliran Albert, teman sebangku Doni.
“ Sebutkan semua bentuk pengulangan dan jenisnya,” Raja Singa kalem.
“ Em…, sec..sec, sex, eh,” jawab Albert terbata-bata diakhiri dengan tinju di punggungnya. Kelas ramai lagi. Bahkan Frans yang giginya offset tak mau berhenti tertawa.
“ Ya, sudah, kita ulangi bareng-bareng aja,” Raja Singa mengambil keputusan sambil berjalan menuju depan kelas. “ Yang pertama, sectional…,” murid-murid mengikuti gerakan jarinya. Tiba-tiba, ”sebentar. Doni, kok lo ngomongnya keras sendiri, coba lo sendiri,” kata Raja Singa sambil tersenyum.
“Oke,” timpal Doni dengan gaya Budi Anduk. “ Yang pertama, sectional repetition,...,” jawab Doni agak tersendat-sendat dan sambil cengar-cengir, hingga akhirnya, “ jenis yang ketiga itu, em,…sya,…syagon,” jawab Doni dengan mantap. Kelas kembali dipenuhi tawa ria teman-teman Doni.
“ Sagon, kan, jualannya Nyak Binah. Kacau ini, kacau banget,” tanggap Raja Singa sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Tiba-tiba, bel istirahat berbunyi. Kelas musik klasik selesai. Wajah-wajah sumringah mulai bermunculan dan segera menuju kantin.
“ Oke, sampai di sini dulu, kita lanjutin pertemuan mendatang. Ingat, Doni! Pertemuan selanjutnya lo harus udah apal tuh materi,” pesan Raja Singa. “ Kalau nggak, siap-siap makan sagonnya Nyak Binah,” tambahnya sambil tertawa.
Saat Raja Singa hendak melangkah keluar kelas, Doni mendekatinya.
“Mister,” begitu sapaan Doni. “ Tumben¸ hari ini bahagia banget? Nggak kayak biasanya,” tanya Doni.
“ Lo pengen tahu?”
Doni mengangguk penuh tanda tanya.
“ Gue abis ‘tancap gas’ semalam, hihihi,” bisik Raja Singa ke telinga Doni.
“ Wah, enak nggak, ser?”
“ Ya, iyalah. Apalagi onderdilnya baru,”
“ Wew!!!” tanggap Doni dengan mata merem melek. “ Eh, emangnya ‘tancap gas’ apaan, sih, ser?”
“ Tancap gas pake motore gue yang baru, hehehehe,” jawab Raja Singa sembari pergi ke kantor.
“ Ya, elah, kirain ‘tancap gas’ yang itu,” repet Doni.




 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
huy
alibi
Minggu, 15 February 2009 @ 10:27 WIB - Diari
  Tubuhku terhenyak pada tembok depan kelasku. Wangi kesedihan Bescya masih mengambang. Hatiku seolah menjadi satu ton beratnya. Sementara tak ada sebatang hidung pun berkeliaran di sekolah ini, saat ini. Tak keruan lagi. Aku seperti tertimpa atap gedung ini. Lemas.
Perlahan aku terduduk lemas. Masih hambar aku ini. Kepalaku jadui pening. Hewan-hewan berkerlap-kerlip menari-nari di lingkar kepalaku. Tiba-tiba, handphone-ku berdering. Gita memanggil.
“Dit, lo di mana?”
Aku diam, menyangga jidatku.
“Barusan Bescya telepon gue. Katanya…,”
“Nggak, nggak ada apa-apa, kok!” sanggahku secepat mungkin.
“Tapi, dia ngomong kalau lo udah nggak perhatian lagi sama dia,”
“Eh, Git, di situ ada Bescya nggak?”
“Em…, e….Dit, udah dulu, ya. Pulsaku limit,” jawabnya gelagapan. Lalu, jaringan telepon terputus.
Dengan gontai aku meninggalkan sekolah. Men-starter motorku, dan pulang. Rumah kosong. Dikunci lagi. Aku hanya bisa duduk di teras rumahku. Memandangi lalu lalang manusia-manusia yang tak perhatian padaku. Tak peduli pada hatiku yang remuk redam.
Di ujung sana, mentari tua bersiap menuju ke peraduannya. Perlahan menghadirkan memori-memori kecil bersama Bescya. Senyumnya yang selalu hiasi mimpiku. Tawanya yang terus terngiang di telingaku. Ah, kini keadaan sudah berbeda. Semua terasa gamang di hari kasih sayang ini.
Berulang kali aku mencoba menghubungi Bescya, tapi tidak dijawab, bahkan dimatikan, hingga handphone­-ku low bat. Pupus sudah hati ini untuk mengklarifikasikan apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya bisa membodohi diri sendiri.
Tiba-tiba, terdengar suara motor mendekat rumahku. Lalu motor itu berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Seorang cowok sebaya denganku. Celana panjang hitam, kaus hitam, dan helmnya pun hitam. Dari postur tubuhnya, aku mengenal dia.
“Dit, lo dah putus sama Bescya? Lo apain dia?” sapanya dengan nadanya sedikit naik darah, setelah ia melepas helmnya.
“Eh, lo, Wa. Ngapain lo tanya-tanya soal gue sama Bescya?” timpalku berliput amarah.
“Gue nggak terima aja sama sikap lo ke Bescya, dia kan…,”
“Eh! Siapa lo! Ngapain lo ikut campur? Ini kan urusan gue sama Bescya!” aku mendekati motornya, tempat ia duduk.
“Lalu, hubungan lo sama Vika gimana? Itu lho, anak X-4,” balasnya santai.
“Lo….” Belum sempat aku mengakhiri kataku, sebuah suara cengeng muncul dari sudut jalan.
“Oh, jadi lo lebih mentingin cewek cecunguk itu dari pada gue yang udah jadi cewek lo selama dua tahun?!”
“Bescya, gue deket sama Vika lantaran gue musti jadi tutornya. Dia mau maju Olimpiade Biologi bulan depan. Dan…,”
“Dan lo tiap sore ke rumah dia. Tiap kali gue ajak jalan, lo selalu mengelak dengan berbagai macam alasan. Tugas sekolah lah, urusan keluarga di Bogor, dan lain sebagainya,” teriaknya di depan wajahku. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tapi,…,”
“Dan, kabar hubungan lo sama Vika udah diketahui di seluruh sudut sekolah!” Dewa memanasi perdebatan sore itu.
“Wa! Mending lo tutup mulut! Lo nggak punya hal ngatur gue sama Bescya,” timpalku mencoba tenang.
“Tapi saying, Bescya akan lebih tenang jika ada aku,” balasnya sambil tersenyum sombong. Sementara Bescya tertunduk dan terisak. Bescya udah jadi milik gue,” lanjutnya pelan tepat mengenai gendang telingaku.
Mataku nanar mendengar itu. Seolah langit benar-benar jatuh menimpaku. Mentari tua telah duduk diperaduannya. Yang tersisa hanya pancaran jingga di horizon barat. Mataku sayu melihat Bescya yang masih tertunduk.
“Bescya,” kataku lirih. “Dewa, gue mohon lo pergi dulu sebentar. Please,” pintaku lembut.
Kuraihkan kedua tanganku pada bahunya. Aku memandang lemas kepalanya yang masih tertunduk.
“Yang jelas, gue nggak ada hubungan apa pun sama Vika,” kataku masih lirih. “Gue nglakuin ini, karena gue diminta pihak sekolah. Hanya sebagai tutor. Gue tahu, gue salah udah bohongin lo. Gue juga salah, nggak share sama lo soal tugasku. Yang jelasm di Hari Valentine ini, gue…,” aku terdiam. Suasana ambiguitas membelengguku.
“Sorry, Dit. Kita putus,” Bescya tak kalah lirih.
Seakan petir menyambar tubuhku yang menjadi kaku ini. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, ia menatapku. Senyum terakhirnya untukku, tak mempan untuk menjadikan aku seperti semula. Untuk yang kedua kalinya, langit runtuh menimpaku.
“Gue tahu, lo masih saying gue. Tapi, selama ini, hati gue pada Dewa. Sorry, selama ini gue bohongin lo. Gue yang salah, Radit,” akunya.
Aku masih tak percaya dengan yang dikatakannya. Ternyata, aku dipakai sebagai jembatan agar Bescya dekat dengan Dewa, dan sebaliknya. Ingin rasanya berontak. Namun, biarlah insiden ini menjadi bumbu Valentineku di tahun ini.

 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
UH...
Sabtu, 7 February 2009 @ 22:30 WIB - Diari
  ternyata


blogku sepi....



halo.....



ah....
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 3 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     

S E L A N J U T N Y A »

 
 
amicus neccessarius est quod aqua et ignis
 
 
PROFILE
BUKU TAMU
 
     
 
BLOG  [v]
raja singa
alibi
uh...
oi
i come back
Arsip Blog
 
 
CARI BLOG
 
     
 
PENGUNJUNG  [v]
» dwikaisars
» lovely_12
» rianz
» haerulsohib
» harumi
Total: 33
 
     
 
FAVORITES
» sound of da heart
 
     
 
KOMENTAR  [v]
» ikutan jga ya jenk bi...
» biar gak sepi, aku ma...
» biar gak sepi, kunjun...
» syukur so pasti dah.....
» alhamdulillah.. visit...
 
  RSS Komentar Blog  

RSS Blog
Created:
Sabtu, 12 Juli 2008 @ 13:34 WIB
   
         
    Copyright © 2004, PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI