| |
|
|
|
 |
CAHAY AURAT
|
 |
 |
Selasa, 7 February 2006 @ 08:19 WIB - Diari |
 |
| |
Ribuan jilbab berwajah cinta Membungkus rambut, tubuh sampai ujung kakinya Karena hakekat cahaya Allah Ialah terbungkus di selubung rahasia Siapa bisa menemukan cahaya? Ialah suami, bukan asal manusia
Jika aurat dipamerkan dikoran dan dijalanan Allah mengambil kembali cahaya-Nya Tinggal paha mulus dan leher jenjang Tinggal bentuk pinggul dan warna buah dada
Para lelaki yang melototkan mata Hanya menemukan benda Jika wanita bangga sebagai benda Turun ke tingkat batu derajat kemakhlukannya Jika lelaki terbius oleh kekayaan dunia Luntur manusianya
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
abell Selasa, 7 February 2006 @ 08:58 WIB
 (Reply)
yup betul ! allah akan menambahkan cahaya di wajah wanita yang berjilbab... amin....
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
MALAM KU TANPA MU
|
 |
 |
Selasa, 7 February 2006 @ 08:16 WIB - Diari |
 |
| |
Tanpamu.. malam ini terasa sepi sekali. hanya sesekali suara jangkrik memecah kebisuan. Kadang nyaring. menyentak lamunanku. Kadang pilu. menggugah sudut hatiku. Mengusik segala diamku. Kembalikan kenangan waktu itu. Saat-saat kau ada bersamaku.
Krik! Krik! Suara-suara itu semakin lama makin membahana. berirama di telingaku. mengikuti detak-detak jantungku. terasa semakin bernada. seakan mengajakku melangkah untuk berdansa. satu... dua... satu.. dua... aku berdansa. berputar. menari. dalam irama ilusi. aku semakin asyik bermimpi.
Aku terus menari. terbang. melayang. sampai menembus gumpalan awan. halus. lembut. tersentuh oleh ujung-ujung jariku. putih. biaskan cahaya indah di pelupuk mataku.
Aku terus menari. menghibur diri. mengisi sepi. mengukir rasa pada hari-hari ini. tanpamu. aku tenggelam dalam nadaku. terlarut dalam rangkaian kata-kataku.
Aku terus menari. dan akan tetap menari. sampai kau datang mengganti. sampai kau kembali mengusir malam yang sepi.
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
lukisan langit
|
 |
 |
Selasa, 7 February 2006 @ 08:07 WIB - Diari |
 |
| |
Langit memang menggetarkan Diantara dinding-dinding palsu berkelibat senyap di serpihan sayap-sayap awan Kau lukis sunyian lama secerdas tiupan angin purba dan menjabarkan gemetar mimpi-mimpi pagi dan senja hilang Genap sesaat, setelah kau hentakkan guratan-guratan syair ke dalam tungku-tungku nanarku, menambun di hadapan silau embun, memberkas semu keseluruhan jari-jari bunyi debum. Dan akupun tetap ingin terbang berlabuh di tepian karang bulan, tertidur di selipan ufuk-ufuk galaksi sampai aksara langit membukakan derita yang jelas bagiku,dan mengajari aku untuk - menghitung bintang-bintang pudar. Kala itu benar, deru pepohonan bulan mengata-ngataiku, "pernah ada langit beratap yang meniduri seluruh bumimu tak terucap, mencabuti bulu-bulu kudukmu dan melemparkanmu ke dalam mulut asap-asap kering. Nerakamu sendiri. Gugusan yang harus kau singgahi!" jakarta 31 januari 2006
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
uNTUKMU sAHABAT
|
 |
 |
Senin, 6 February 2006 @ 16:07 WIB - Diari |
 |
| |
Untukmu Sahabat Oleh:tidak tertera Disaat kita nikmati kebersamaan Banyak hal terlewatkan begitu saja Keceriaan, gelak-tawa serta canda Semuanya mengalir begitu saja
Waktu yang tersedia Seolah tak mampu untuk menampungnya Begitu cepat berlalu Berlari seolah tak mau berhenti
Kenangan-kenangan itu terasa tak kali kita pergi Pergi meninggalkan semua kegembiraan yang melenakan Satu persatu kenangan itu diputar kembali Ada sederet senyum saat terlintas film-film yang lalu
Kenapa kegembiraan itu harus pergi? Kenapa tak selalu mengikutiku kemana pergi? Kapan ini semua akan terulang? Akankah kita tetap seperti ini?
Sahabat... Semua yang pernah kita jalani Hari demi hari, waktu demi waktu Tak kala kita lalui semuanya bersama
Banyak hal yang pernah terjadi Semua kita lalui dengan segala kekurangan yang kita miliki Kadang benci, kesal dan kecewa Juga senang, hormat dan sayang
Sungguh luar biasa apa yang telah kita lalui bersama Inikah pemberian tak ternilai dari Sang Kuasa? Yang sering kali tak pernah kita syukuri
Ya, Allah.. Lindungilah mereka yang ku-cinta
NB: 'tuk sahabat-sahabatku yang pernah bersama-sama dalam mengisi sepenggal perjalanan 'Hijjau'.
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
abell Senin, 6 February 2006 @ 16:09 WIB
 (Reply)
lagi-lagi puisi ini bukan untuk gue, karena gue blon pernah jalan sama elu di perjalanan "hijau"
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
FRIEND IS SURPRISE
|
 |
 |
Senin, 6 February 2006 @ 16:05 WIB - Diari |
 |
| |
Teman adalah Hadiah Oleh: tidak tertera Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.
Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.
Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.
Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dll.
Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karena justru ia membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.
Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut" mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.
Mereka akan bilang: "Menari itu tidak menarik" "Tidak ada yang cocok denganku" "Teman-temanku sudah lulus semua" "Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku" "Kisah hidupku membosankan"
Mereka tidak akan bilang: "Aku tidak bisa menari" "Aku membutuhkan kamu denganku" "Aku kesepian" "Aku butuh diterima" "Aku ingin didengarkan"
Mereka semua hadiah buat kita, entah bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
abell Senin, 6 February 2006 @ 16:07 WIB
 (Reply)
waaah ngblognya gencar juga nih....
|
|
 |
 |
 |
| |
buls_amator Senin, 6 February 2006 @ 16:10 WIB
 (Reply)
kayaknya ni postingan pernah gw muat deng!!!
|
|
 |
 |
 |
| |
clieve Senin, 6 February 2006 @ 17:01 WIB
 (Reply)
kayaknya kenal ama 2 orang yg ngasi komen di atas...
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
RSS Blog  |
| Created: |
| Senin, 6 February 2006 @ 06:22 WIB |
|
|
|