| |
|
Jumat, 5 February 2010 @ 09:58 WIB - Diari
Pernahkah kau terbangun dan mendapati bahwa hidupmu tidaklah baik-baik saja? Seminggu ini aku terbangun dengan sebuah realita yang terasa begitu menusuk ulu hatiku yang paling dalam. Seribu kata penyemangat yang senantiasa menjadi pegangan hidupku tiba-tiba terasa bagai sebuah kata klise yang tiada bermakna dan menguapkan sekumpulan kebohongan-kebohongan yang semakin terasa menyesakkan.
Seketika itu juga jiwaku yang sombong merasa begitu kerdil, seketika itu juga hatiku yang merasa kaya menjadi orang yang paling miskin di dunia. Aku merasa hidupku amat sangat tidak berguna, hari-hari yang kulalui hanyalah sekumpulan waktu yang aku gunakan untuk menumpuk kayu bakar di dasar neraka yang amat dalam. Sebuah pertanyaan besar menganggu benakku “Bagaimana kalau hari ini adalah hari terakhirku di dunia?” benarkah jiwaku yang begitu sombong sanggup mempertanggungjawabkan semua yang telah aku lakukan?, benarkah kekayaan hatiku yang aku agung-agungkan itu dapat menjadi penyeimbang dosa-dosaku?
Apa yang tertinggal? Dan apa yang aku bawa? Apa yang aku punya selain kesombongan dan keangkuhan? Aku merasa aku semakin tidak mengenal diriku sendiri. Aku semakin merasa hilang dan tidak berbekas. Aku semakin merasa kosong dan tidak berguna. Aku semakin mempertanyakan eksistensiku di dunia ini.
Benarkah jika keadaan berbeda, maka kehidupanku juga akan berbeda? Terkadang pertanyaan itu terngiang di benakku. Benarkah jika keadaan berbeda aku juga akan menjadi pribadi yang berbeda? Akankah segalanya menjadi lebih baik? Atau malah bertambah buruk? Entahlah, yang perlu aku yakini saat ini adalah “semua memang yang terbaik” dan aku tidak mengharapkan lebih, aku tidak menyesal menjadi diriku yang saat ini, aku tidak pernah menyesali kehidupanku, aku bahkan tidak pernah menyesali nyawa yang bersarang dalam tubuhku.
Haaaahhh.. lagi-lagi aku menggunakan bahasa yang klise dan memuakkan!. Apa yang tidak aku punya? Aku punya dua tangan, dua mata, dua telinga, satu mulut, anggota badan yang lengkap. Aku punya orang-orang yang menyayangiku, aku punya teman-temanku, aku masih punya pakaian yang lengkap, aku punya tempat tinggal, aku punya penghasilan sendiri, bukankah seharusnya itu cukup? Dimana rasa syukurku? Apa kekuranganku?? Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadziban... Nikmat Tuhanmu yang mana yg engkau dustakan???… Astagfirullah hanya kata itu yg sanggup terucap dari bibirku.
Dunia dipenuhi dengan hiasan Semua dan segala yang ada akan Kembali padaNya
Bila waktu tlah memanggil Teman sejati hanyalah amal Bila waktu telah terhenti Teman sejati tingallah sepi Bila Waktu Tlah Berakhir - Opick
|
Disarankan: 0
 |
| |
mawi wijna Jumat, 5 February 2010 @ 11:26 WIB
 (Reply)
jum'at minggu kemarin, saat subuh, saya merasa bersyukur diberi segala nikmat oleh-nya. namun sore harinya tak disangka, saya didera masalah yang menyangkut banyak orang. saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, "semua tak ada yang pernah sempurna".
|
|
 |
 |
 |
| |
detective_girl Jumat, 5 February 2010 @ 14:16 WIB
 (Reply)
sulit sekali membayangkan bagaimana kehidupan setelah didunia ini.. terkadang aku merasa takut, tapi tetap saja aku seringkali tidak bersyukur terhadap nikmat yang telah allah berikan.. yang bisa kita lakukan hanyalah mengubah sikap dan diri kita menjadi lebih baik
|
|
 |
 |
 |
| |
rianz Sabtu, 6 February 2010 @ 19:16 WIB
 (Reply)
ketakutan memang membayang di benak kalo memikirkan dosa2 yg telah kita perbuat, dan memikirkan akibatnya nanti d akhirat... semoga tuhan mengampuni dosa2 kita.. amiin...
|
|
 |
 |
 |
| |
samsul arifin Minggu, 7 February 2010 @ 08:30 WIB
 (Reply)
ora mudheng is.
|
|
 |
 |
 |
| |
sastrawiguna Senin, 8 February 2010 @ 19:14 WIB
 (Reply)
udah lama banget bunda gak mampir ke sini,,pas mampir bunda mendapatkan tulisan yang cukup menggedor nurani ..hehe.... bunda suka banget pemahamanmu tentang satu hal : fabiayyi 'alaa irabbikumma tukadziban...
subhanallah... ending yang manis,,,
|
|
 |
 |
 |
| |
wong solo Rabu, 10 February 2010 @ 13:01 WIB
 (Reply)
like dis. aku doaìn biar jadi istiqomah.
|
|
 |
 |
 |
| |
harumi Sabtu, 13 February 2010 @ 17:14 WIB
 (Reply)
emnak jenk kadang2 kita tak mensyukuri yang telah kita miliki, padahal masih banyak yang "lebih kurang" dari pada kita
|
|
 |
 |
 |
| |
hanif Kamis, 18 February 2010 @ 02:03 WIB
 (Reply)
alhamdulillah jika kita masih diingatkan tentang apa sebenarnya arti hidup kita di dunia. mari terus memperbaharui tobat is.
|
|
 |
 |
 |
|
|
Senin, 18 January 2010 @ 10:58 WIB - Diari
Bunga sepatu, entah apa nama ilmiahnya, entah apa jenisnya pokoknya beberapa hari yang lalu aku melewati sebuah ruko dengan jajaran bunga di pelataran, yah salah satunya bunga sepatu itu. Bunga sepatu bertumpuk, berwarna pink dengan daun berwarna hijau tua pekat. Seketika itu juga ingatan membawaku kembali pada saat aku melihat bunga sepatu jenis ini pertama kalinya. Entah itu kapan, aku tidak bisa mengingat tanggal, bulan dan tahun secara pasti.
Aku hanya ingat nuansanya, terik kala itu tapi tidak panas, pagi hari karena bunga sepatu pasti akan mengatup dan layu pada sore harinya. Aku sedang asik memetik tomat-tomatan, salah satu buah dari rumput liar yang tumbuh di belakang rumah berwarna kuning dan daun-daunan sebagai sayuran dalam acara bermain masakanku hari itu. Saat itu aku melihat ibuku jongkok di samping sebuah pohon kelapa, diam dengan gunting, pisau dan golok (bendo dlm bahasa jawa) disampingnya, sebagai anak kecil insting membawaku untuk mendekatinya. Ternyata oh ternyata, bunga sepatu tumpuk berwarna pink dan merah nya bermekaran. Tanpa sadar dan penuh takjub aku ikut berjongkok di samping bunga bersebelahan dengan ibu. Lama… tak ada suara, tak ada kalimat, kami berdua sama-sama terdiam di depan bunga itu hingga akhirnya ibuku berpaling padaku dan tersenyum. Yah.. hanya senyum, tapi aku kembali teringat senyum itu ketika aku menatap bunga sepatu di pelataran ruko pagi itu.
Kebun belakang rumah, dulu setiap hari aku selalu menghabiskan waktuku di sana. Ada pohon mangga kweni yang beraroma harum, ada pohon nangka merah yang kata Ibu di tanam Bapakku, ada pohon dukuh, ada pohon mengkudu, pohon jambu biji, pohon kelapa pastinya dan pohon pisang. Selebihnya ada berbagai macam bunga, dari bunga sedap malam, bunga sepatu berwarna-warni, dan lain sebagainya. Ada satu jenis bunga, yaitu bunga terompet berwarna ungu yang Ibuku ambil bijinya dari RSUD Kebumen. Bunga terompet ungu yang sangat subur, aku dan Ibu setiap hari selalu menantikan kapan bunga-bunga berwarna ungu itu bermekaran tapi sepertinya bunga itu memang tidak mau mekar, ah entahlah aku tidak pernah tau bunga itu pernah mekar.
Dua minggu sekali kebun belakang rumah selalu di sapu oleh Ibu, eyang dan kakak sepupuku, setelah itu sampah di bakar di dalam satu lubang besar. Kalian tau jantung? Bunga pohon pisang yg berbentuk dan berwarna seperti jantung manusia? Aku punya hobi membakar jantung di atas pediangan (bakaran sampah) setelah itu aku potong2 sebagai ayam bakar hahahaha.. masa kecilku ku habiskan dengan main tanah dan main bakar-bakaran. Biasanya Ibu akan menegurku untuk tidak terlalu dekat dengan api dan masukkan kembali semua sampahnya ke lubang, itu karena aku menggunakan daun pohon nangka yg sudah mengering dan kecoklatan sebagai kerupuk yg di remas-remas. Secara otomatis, kebun yang sudah di sapu akan kotor kembali dengan potongan jantung bakar, bunga sepatu bakar dan daun-daun pohon nangka (kleang aku menyebutnya).
Aku tersenyum ketika teringat itu semua, tersenyum ketika mba asih (kakak sepupuku) yang marah-marah karena aku ngotorin hasil sapuannya. Tersenyum ketika aku mandi dari slang yg di gunakan untuk menyirami kebun itu. Tersenyum teringat eyang yang selalu membuatkanku rumah dari gedeg, sebagi rumah-rumahan ketika teman-temanku yg lain membuat rumahan mereka sendiri. Tersenyum ketika aku ingin menginap di dalam rumah-rumahan dan membuat Ibu kalang kabut. Teringat ketika aku menyembunyikan pisau dapur di dalam rumah-rumahan. Tersenyum ketika eyang memarahiku gara-gara tercium bau tak sedap dari rumah-rumahanku (daun2 yg membusuk). Aku tersenyum lebar ketika mengingat kebun belakang rumahku yang dulu.
Aku, eyang dan kakak sepupuku masih meneruskan rutinitas membersihkan kebun dan menyiramnya meski tanpa ibu ada di sana. Aku masih memotong bunga-bunganya dan mencoba merapikannya meski tidak sepandai ibu. Aku dan eyang masih sempat menambah cangkokan pohon jeruk dan pohon sukun di kebun itu bahkan ketika kami hanya berdua, hingga kemudian hanya aku yang berdiri di sana, hanya aku yang harus merawatnya, hanya aku yang harus menyiramnya. Hingga akhirnya aku tidak kuasa menghentikan kuasa alam yg menutup kebun itu dengan rumput liar dan sampah tidak lagi ketika aku merasa untuk apa melakukannya? Ibu takkan tersenyum di sana bukan?
Tiga tahun yang lalu ku buka pintu belakang rumah, aku hanya bisa berdecak tak kuasa, aku tak mengenali tempat itu lagi, aku bahkan tidak melihat ke arah bunga sepatu tumpuk kebanggaan ibu. Aku hanya menarik nafas panjang dan ku tutup kembali pintu itu dan kutinggalkan tempat itu entah sampai kapan.
|
Disarankan: 0
 |
| |
mawi wijna Senin, 18 January 2010 @ 14:18 WIB
 (Reply)
halamanku dulu kubuat rumah-rumahan pohon. tapi ndak tinggi2 amat, cuma setengah meter. ditutup kardus, kalau hujan tamatlah riwayat itu rumah. sekarang itu pohon udah tinggi, ndak enak dipakai rumah-rumahan pohon lagi.
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:04 WIB
huakakakak.. kl cowo pasti rumah2an pohon.. aku ngga bisa manjat
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
jojo Rabu, 20 January 2010 @ 02:52 WIB
 (Reply)
ternyata...masa kecilmu suka yang aneh2... pantaesan...sekarang tambah aneh.... klo dah gede gini jagn main bakar2 sembarangan yak...
ayo buruan kunjungi kembali blakang rumahmu..siapa taw skrg da bunga mekar...
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:08 WIB
jul.. .emang aku seaneh itu yak? perasaan pas sekelas dulu aku ngga aneh kan?
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
pipin Kamis, 21 January 2010 @ 15:13 WIB
 (Reply)
aku suka paragraf terakhir tulisan ini. kaya berbau cerpen gitu. menimbulkan rasa penasaran pembaca. hehehe
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:10 WIB
hahahaha.... cerpen? waks udah lama ngga nulis daku ini pin........ :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
rianz Jumat, 22 January 2010 @ 19:22 WIB
 (Reply)
kenangan yg indah seindah bunga sepatu...
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:12 WIB
hu uh :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
budi Minggu, 24 January 2010 @ 12:46 WIB
 (Reply)
bunga yang indah is...sayang aku skr sama g punya taman
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:44 WIB
emang dulu punya taman??
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
detective_girl Senin, 25 January 2010 @ 11:07 WIB
 (Reply)
nice posting! membacanya seakan2 aku ikut masuk ke dalam ceritamu.. kenangan masa lalu emang tak akan terlupakan.. terkadang aku juga mengingat2 masa kecilku.. smangad ya mbak is!
btw, mampir kblogq yaw..
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:52 WIB
hahahah.. kenangan masa kecil emang indah bangetttt...... oke, ntar mampir deh :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
gege Selasa, 26 January 2010 @ 13:32 WIB
 (Reply)
hihihii cuma mo komen gini doank : nama ilmiahnya bunga sepatu tuh hibiscus rosasinensis, hehehehhee....
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:52 WIB
huak.. ada miss gege  oo.. itu nama ilmiahnya to :d :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
the_godfather Kamis, 28 January 2010 @ 22:09 WIB
 (Reply)
cara bikin tampilan blog kayak gini gmn mbak?hehe.. di jawab ya?
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:55 WIB
hmmm... buat di profile aja, aku jg di buatin... jadi tdk tau pastinya
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
harumi Minggu, 31 January 2010 @ 16:39 WIB
 (Reply)
jenk waktu kecil juga aq paling suka main masak-masakan dan rumah-rumahan, di samping rumahku juga dulu banyak pot bunga yang ditanama oleh ibuku, namun kini sudah tiada, kosong, selain itu juga dulunya di sekitar rumahku banyak kembang sepatu jenk tapi kini sudah sangat jarang ditemui, dulu juga suka aq potong2 nich bunga kisahnya sebagai sayuran
 |
 |
| |
 |
harumi Minggu, 31 January 2010 @ 16:43 WIB
jenk aq dach baca bukunya, emnak bagus yach
|
 |
 |
| |
 |
iestea Jumat, 5 February 2010 @ 10:56 WIB
iyaaa...... aku jg suka tu, potong2 bunga kwkwkwk
the mediator yak? emang bagus jeng haruuu... :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
|
|
Senin, 11 January 2010 @ 09:06 WIB - Diari
Minggu sore yang membetekan, fuh… seminggu ini eh lebih dari seminggu deh pokoknya dari awal liburan sampai saat ini aku merasa beban di kedua pundakku terasa amat sangat berat. Aku tidak tau kenapa, mungkin gara-gara menganggap apa yang sedang aku lakukan saat ini sebagai beban. Masku sering mengatakan, jangan pernah jadikan sesuatu sebagai beban, karena ketika kita mengerjakaannya pasti akan terasa berat dan seolah-olah tidak ikhlas.
Yeah, lagi-lagi tentang tugas akhirku, lagi-lagi tentang skripsiku. Aku yakin suatu saat nanti aku pasti akan merindukan masa-masa tertekan seperti saat ini. semalam mbakku tiba-tiba telp dan menanyakan “sudah buat bahan presentasinya? Bikin sekalian transparannya takutnya nanti laptopmu bermasalah bla-bla-bla” kalian tau apa yang aku rasakan saat itu? fuh.. aku ingin menangis seketika itu juga. Mas dan Mbakku selalu mengatakan “kalau skripsi mu beres kan berarti kamu bisa mikir yang lainnya lagi” adduuuuwww… aku makin stress diberi ultimatum seperti itu, kenapa? Karena dengan kata lain setelah sidang dan wisuda mereka akan makin menekanku untuk merit!!!. Ampun deh ah…. Lucu, aku masih menganggap itu sebagai hal lucu-lucuan. 
Merit, menikah.. wow.. kata itu masih membuat otakku heng! Aku masih belum tau apa dan bagaimana. Esti, adek sepupuku yang 2th lebih muda dariku sering mengatakan teman-temannya sudah punya anak, merit muda dst. Aku masih bertanya-tanya apa yg menyebabkan mereka merit muda? Apa alasannya? Kenapa dan mengapa??. Aku masih merasa umurku (thn ini 24th) masih muda loo *dijitak*, selain itu mau nikah emang sama siapa?? Huahahaha.. aku ngga laku *nyengir*. Sampai saat tulisan ini di buat aku masih belum punya bayangan mau menikah dengan siapa, tapi aku sudah punya bayangan setelah menikah mau ngapain, maksudnya beberapa goldku memang melibatkan peran seorang suami didalamnya.
Aku jadi ingat beberapa cerita mbakku pas malam tahun baru, yeah… tahun ini aku menikmati pergantian tahun dengan makan nasi goreng dan melihat kembang api berdua sama mbakku. Masku, gilang, dede, mak dan baba sudah pada terbuai di alam mimpi. Aku tidak melewatkan malam tahun baru dengan teman-temanku seperti dua tahun terkhir atau keliling Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami berdua duduk manis di depan tv dengan sebungkus nasgor dimakan berdua, dan melihat kembang api pas jam 00.00. di sela-sela acara itu mbakku bercerita tentang proses pacarannya dengan masku dan bagaimana akhirnya mereka menikah.
Aku memulai dengan sebuah pertanyaan “kenapa mau nikah sama mas mba?” kemudian mbakku bilang kalau dulu dia itu tidak suma masku, yeah jarak mereka 9th. Mbakku masih duduk di kelas 2 SMK sementara masku adalah salah satu staff pengajar di sekolahnya. Salah satu alasan simplenya adalah “karena setiap kali jalan sama mas, mas pasti ngajakin sholat kalo tiba waktunya sholat, bahkan di bela-belain masku yg bawa mukena buat mba” aku ngakak sampai perutku sakit pas denger itu. simple banget, dan kayaknya ngga bakal jadi alasanku menikahi seseorang karena : 1. aku selalu bawa mukena di dalam tas, 2. kebanyakan yg jalan denganku pasti sholat kecuali yg bukan muslim.
Selain itu, sudah pasti karena mak yg sedikit memaksa. Masku apel 2x setiap minggu dan setiap kali apel mas selalu ngobrol sama mak dan baba di rumah sementara mbakku mengerjakan PR (ampun pacaran macam apa itu). pokoknya masku lebih getol mencari pendekatan sama mak dan baba. Saat itu aku berfikir, pantas setiap kali ada temen kuliah atau temen main ku yg kebetulan lawan jenis, entah itu pacarku atau bukan mas pasti akan mencari sejuta alasan untuk berada di dekat ruang tamu. Dulu waktu masih di Jakarta, ruang tamu berbatasan langsung dengan ruang computer nah masku pasti deh nyalain computer dan nongkrong di situ tiap temenku pada dateng. Woha… lucu [hmpfh].
Aku teringat sebuah pembicaraan antara aku dan kakandaku tersayang, waktu itu kami sedang mendiskusikan mudik. Nanti kalau mak-baba ikut pulang ke Kebumen, mobil pasti ngga muat bla-bla, dengan entengnya aku bilang “tenang aja mas, nanti aku dan suamiku bawa mobil satu deh” belum semenit aku mengatakan itu, masku langsung memberondongku dgn 1001 pertanyaan, dari “beneran ngga punya pacar? Sampai apa mau di cariin saja?” aku hanya tertawa sampai sakit perut! Sepertinya die bener-bener tidak percaya aku ngga punya pacar saat ini. sebenarnya kalau di pikir-pikir di jodohin ada enaknya juga, aku tidak perlu repot2 mengenalkan pacarku ke keluargaku, aku tdk perlu cemas keluargaku tidak bisa menerimanya, aku tdk akan di cemaskan oleh hal-hal yg berbau stadarnya kakakku bla-bla-bla. Apalagi kalau yg di jodohkan padaku seperti Roarke langsung deh okeh… *ditabok*
Masalah hanya terletak, bisakah die *orang itu* menerimaku?? Woho.. siape si gw?? I’m just an ordinary girl, cewek biasa yg mendapat banyak predikat dari orang lain, dari glamour sampai hedon . “Apa kamu yakin bisa mencintainya is?” kata hatiku berkata, yeah.. kalau kaya roarke pasti gampang di cintai deh *dijitak*. Fuh!!! Aku tidak tau apa itu cinta, ada yg bilang aku matre, tp kl aku matre dah aku pacarin dong si kaya itu. ada yg bilang aku lebih mentingin tampang, wah-wah.. kl gitu yg ganteng itu aku pacarin dari dulu dong?? jujur deh, aku tidak tau aku maunya yg seperti apa.. parah kan? Mungkin hanya orang yg bisa menerimaku apa adanya, menerima kekurangan dan kelebihanku apadanya, orang yg bisa membuatku nyaman dan selalu membuatku tersenyum hanya dengan mengingat namanya. Haghaghaghag.. aku kebanyakan baca novel romance tau ngga sih!!!
Ya amppuunn.. aku jadi curhat diblog!! Bodo amat dah… kadang lucu juga kalau baca novel romance, apalagi Historical Romance yg baru di rilis GPU belum lama ini, temanya kurang lebih berputar sekitar wanita-wanita yg berburu suami. Aku sampai suka ngakak sampai guling-guling kalau baca quote2 cerdas para penulis itu *berharap aku akan mengikuti mereka suatu hari nanti* . Yeah.. novel selalu bisa menghiburku di kala suntuk 
Salah satu quote yg aku baca malam minggu ini Kau tatap mataku Kupandangi indahnya Kularikan jemariku ke rambutmu Dan kurasakan kutu menggitnya. [The Mediator – Meg Cabot]
dengan meresap esteh manis beserta dokumen, data dan komik berserakan, suara merdu Ken Chan dan Jay Chou di Mp3ku
|
Disarankan: 0
 |
| |
detective_girl Senin, 11 January 2010 @ 18:41 WIB
 (Reply)
haha... bnar2 curhatan nie.. but it's ok.. kog kayaknya qm takut bgt y ama merit?? napa non?? hmm.. klo q c pny target nikah umur 23.. haha.. klo cew, gag enak ngundur lama2.. smoga lancar ya cpet dpt jodoh  btw, mampir kblogq yaw..
 |
 |
| |
 |
iestea Senin, 18 January 2010 @ 11:03 WIB
huaaa... aku masih takut merit coz takut ngga bisa se enaknya jeng hahahaha.. tadinya aku jg target nikah 24th, tp mundur deh tahun depan aja hahaha amin-amin.. sankyu yak :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
mawi wijna Selasa, 12 January 2010 @ 07:24 WIB
 (Reply)
lha udah ada pacar toh? jadi knp nyai jadi bingung perkara menikah? ato mau saya carikan di pasar terdekat? *lempar sepatu*
 |
 |
| |
 |
iestea Senin, 18 January 2010 @ 11:04 WIB
sekarang si ngga punya pacar hiks  ogah ah carinya di pasar.. emang bumbu dapur
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
harumi Selasa, 12 January 2010 @ 16:26 WIB
 (Reply)
wah jenk masih diberi pertanyaan yang sama yach ma keluarganya? moga sukses nya skripsinya semangat!
aq belum baca tuch novel jenk!
 |
 |
| |
 |
iestea Senin, 18 January 2010 @ 11:04 WIB
jeng haru ini makin menjadi-jadi kwkwkwkwkw bagus loo.. baru buku 1 si jeng, moga di lanjutin ma gpu :d :d
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
ipin maripin Selasa, 12 January 2010 @ 19:24 WIB
 (Reply)
wislah is, daripada mumet mending balikan baen karo si ***, hehehe. hayo, semangat buat skripsinya.
 |
 |
| |
 |
iestea Senin, 18 January 2010 @ 11:05 WIB
sapa itu *** ??? hahahha... engga lah, we are friend without best pin
|
| |
|
|
 |
 |
 |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
Created on:
Rabu, 2 January 2008 @ 18:23 WIB |
|
|