| |
|
|
Meredan kemarahan
Jumat, 13 Oktober 2006 @ 11:17 WIB - Diari
Meredan kemarahan
Pertengkaran bisa terjadi manakala setiap orang membenarkan pendapatnya. Misalnya ; seorang anak merasa dirinya benar, ketika hendak memilih jodoh atau sekolah yang sesuai pilihannya sendiri. Sedangkan orangtua merasa benar dengan memilihkan jodoh atau sekolah untuk masa depan anaknya. Akibatnya bisa ditebak, jika masing-masing pihak merasa benar, maka pasti akan terjadi pertengkaran. Orang yang tidak terlatih untuk memahami pendapat oranglain hasilnya adalah emosional.
Dalam rumah tanggan juga begitu, rumah yang kita bangun dengan megah, dilengkapi kamar mewah dengan kasur empuk, serta aksesoris yang mahal tidak akan ternikmati andaikata suami istri sibuk bertengkar. Coba kita renungkan apa yang kta peroleh dari pertengkaran? Ternyata bila kita telaah penyebab pertengkaran adalah karena kita belum terbiasa menyikapi perbedaan dengna tepat. Akibarnya setiap orang lebih sibuk membela pendapatnya sendiri.
Setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, kita harus belajar bijak terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain. Tidak setiap orang berbuat salah. Ada yang salah karena dia tidak tau itu salah, ada yang tau itu salah tapi belum sanggup menghidar dan sebagainya. Kedua, kita harus senang mengingat kebaikan dan berani mengaku kelebihan orang lain. Misalnya apabila seorang anak marah pada ibunya, cobalah untuk menulis kekurangan ibu. Setelah itu cobalah untuk menuliskan kebaikannya. Semakin banyak kebakan yang kita pikirkan insya 4JJI akan membuat hati ini semakin melunak. Ketiga, kita harus mulai melupaka jasa dan kebaikan diri, sebab semakin kita ingin dihargai, semakin kita ingin dihormati, semakin kita ingin dipuji, maka kita akan semakin sering sakit hati. Dan itu hanya akan menyengsarakan kita. Maka lupakanlah keinginan untuk dipuji, dihormati atau merasa diri paling berjasa. Sadarilah, pujian manusia itu kecil nilainya. Tetapi pujian 4JJI lah yang kekal dan mulia didunia serta akhirat.
Keempat, Marilah kita sibuk melihat kekurangan diri sendiri sebelum melihat kekurangan orang lain. Sehebat apapun perkataan kita, tidak akan ada harganya kalau kita tidak memperbaiki diri. Langkah perbaikan diri akan menuju pribadi yang bisa disuritauladani. Jika setiap individu sibuk memperbaiki dir, insya 4JJI akan tercipta keluarga, masyarakat negara yang baik pula. Semoga hari demi hari yang kita lewati menjadi awal menuju perbaikan diri
|
Disarankan: 0
 |
| |
bisot Jumat, 13 Oktober 2006 @ 11:38 WIB
 (Reply)
aminnnn
|
|
 |
 |
 |
| |
roseheart Jumat, 13 Oktober 2006 @ 11:43 WIB
 (Reply)
saya sangat setuju dengan pendapat mbak khaila
 |
 |
| |
 |
khailasari Jumat, 13 Oktober 2006 @ 12:14 WIB
makasi rose, eh kangan panggil mba dunk, khaila kan masih ank2
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
deesan Jumat, 13 Oktober 2006 @ 12:11 WIB
 (Reply)
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
Created on:
Kamis, 27 Juli 2006 @ 16:37 WIB |
|
|