Artikel :Tempo Edisi. 08/II/29 April - 05 Mei 1972 (Ejaan bahasa lama)
Peta musik pop koes
Kisah perjalanan dari koes bersaudara sampai koes plus. ada pengaruh everly brothers, bee gees dan beatles. perkembangan musiknya & komentar remy silado, titiek puspa, bing slamet dan jawaban koes plus. PADA "pembukuan" musik pop Indonesia, terdjadi krisis. Bermula ada sedikit harapan dengan muntjulnja kembali Sitompoel Sisters dari pengembaraannja. Ternjata jang diharap kebanjak aktip dalam show. Lebih dari itu, mereka telah pula mengumumkan niat nja untuk berhenti menjanji. Bob Tutupoly jang banjak djuga penggemarnja, sampai kini belum menepati djandjinja untuk kembali. Emilia Contessa jang mempunjai bakat jang gemilang, ternjata hanja menggojang tubuhnja terus tanpa menghasilkan album jang baik. Ada rekaman-rekamannja jang tjukup lumajan, tetapi bukan sukses. Apalagi kini ia sedang direbut oleh "orang-orang film". Selebihnja, Benjamin, Broery, Frans Daromez, Alfian, Muchsin, Titiek San&ora, Maja Sopha, Ida Rojani dan sekerandjang jang lain, tjukup giat, tetapi tidak mentjatat jang bisa disebut "harapan". Mereka semua, bersama banjak penjanji ketjil jang muntjul bagai kunang-kunang dihutan-hutan kapur, tenggelam dalam suasana pembadjakan dan tiru-meniru. Mereka merendam kwalitas dengan kwantitas, tetapi tetap tidak bisa "istimewa". Tiba pula Dara Puspita muntjul kembali dari Eropa. Tetapi keempat gadis itu tak ubahnja dengan tamu-tamu jang singgah sebentar. Mereka seolah-olah sudah dikeluarkan dari "pembukuan". Ada beberapa kelompok pemuda jang menggabungkan dirinja untuk membentuk grup jang bernama Gypsi, Roollies, AKA, Fanny's, Prophecy, Lady Faces, Rhapsodia, dan sebagainja. Namun semuanja bukan pentjipta dan belum sempat menundjuk kan keistimewaan dalam sebuah album. Beberapa orang dara mentjoba pula bersatu, tetapi semuanja bubar sebelum banjak berbuat. Namun demikian rezeki dalam kehidupan musik pop tidak terlalu mundur. Banjak biduan jang sudah bisa hidup menggantungkan diri pada kemerduan suaranja, sementara dulu hal itu hanja merupakan impian. Tetapi berbitjara soal mutu, kita terpaksa menghitung dengan sebelah djari sadja. Nama Panbers dengan albumnja jang pertama berisi beberapa tjiptaan hanja langkah ketjil, Emilia dengan warna interpretasi dan pendjiwaannja dalam menjanji belum mendapat lagu, Wehaswara dalam beberapa tjiptaannja, Iwan A. Rachman dan Nana Mamahit dengan selera baru nja, serta patut djuga disebut-sebut Trio Bimbo, Titiek Puspa, Pattie Bersaudara, Benjamin dengan penggaliannja kepada musik Betawi, Rijanto untuk tjiptaan tjiptaannja, semuanja masih terlalu sedikit
Ludruk & Bros.
Tersebutlah seorang pegawai kabupaten di kota pelabuhan Tuban, bernama Pak Koeswojo. Dimilikinja delapan orang putera. Diantaranja, jang tertua seorang peladjar SMP tampak sangat menggemari kesenian. Ia beladjar seni tari dan mendjadi anggota gamelan ludruk dikota itu. Mungkin tidak akan pandjang kisahnja kalau sadja sekeluarga Koeswojo menetap dikota tersebut. Tetapi seperti sudah ditulis sadja, pada tahun 1951 keluarga itu pindah ke Djakarta, karena Pak Koeswojo mendapat tugas di Kementerian Dalam Negeri. Ditempat jang baru inilah anggota ludruk Tuban itu, sambil meneruskan sekolahnja di SMA membentuk "Teen-ager's Voice" Ini bukan lagi ludrukan tetapi sebuah band. Tetapi belum berantara lama, nama jang mentereng itu digiling oleh semangat "nasionalisme" sehingga perlu dirubah mendjadi Irama Remaja. Bintang film berwadjah paling komersiil saat ini, jakni Sophan Sopiaan sempat djuga menjanji dalam rombongan itu. Tetapi ini djuga tidak begitu berpamor. Achirnja Tonny Koeswojo, begitulah nama bekas penabuh ludruk Tuban itu, mengubur perkumpulannja sambil melahirkan komplotan baru, bernama Koes & Bros. Jan Mintaraga jang sekarang dikenal sebagai pelukis komik jang berbau silat dan roman remadja, terlibat pula didalam nja. Tetapi dalam perdjalanannja Koes & Bros belum berhasil menembus level nasional. "Waktu itu masih iseng, belum ternama", kata Tonny kepada TEMPO Sampai tahun 1960 sesudah namanja di rubah lagi mendjadi Koes Bersaudara untuk waktu dua tahun band itu hanja berkotek-kotek sebagai band lokal. Baru tahun 1962 setelah perusahaan piringan hitam Irama memberikan mereka kesempatan rekaman, mendadak sontak mereka merubah penulisan peta musik pop Indonesia. Masjarakat pen dengar musik liwat radio diseluruh tanah air saat-saat itu djuga sedang mengarahkan telinganja kepada Rachmat Kartolo. Lagu-lagu asal daerah Padang atau Makasar dengan suara marakas dan ketipung mulai digeser oleh lagu-lagu sengsara jang sederhana dan sentimentil. Seri "Patah Hati" Rachmat Kartolo telah menenggelamkan para pentjint musik dalam alam duka jang mirip dengan suasana penjerahan kepada nasib. Maka tjukup mengherankanlah rekaman Koes Bersaudara mulai dari "Pagi Jang Indah Sekali" sampai ke "Sendja", jang menuliskan tjinta, keindahan alam, kesengsaraan ataupun kegembiraan dengan lebih realistis bahkan kekanak-kanakan, dapat merebut pasaran. Apalagi kemudian Tonny dengan ketiga orang adiknja: Nomo, Jon dan Jok mulai mengadakan pertundjukan-pertundjukan untuk umum Perlombaan ketenaranpun dimulai. Peta musik pop Indonesia-pun berubah. Sjair-sjair pendek jang sederhana, polos, tema sehari-hari jang njata, suka duka perasaan kaum remadja jang tidak kehilangan energi, meniup perlahan-lahan kekuasaan lagu-lagu sengsara jang penuh ornamen. Meskipun kalau ditarik perbandingan Koes Bersaudara masih djauh dari puisi-puisi jang lahir dalam lagu-lagu Beatles atau Bob Dylan jang berkembang saat-saat itu, Koes Bersaudara telah melontarkan lagu-lagu jang bernilai lirik. Disinilah letak kekuatannja. Meskipun untuk semua itu mereka harus menebus dengan harga jang tjukup mahal. Kemasgulan Koeswojo, ajah mereka sendiri. "Karena sekolah tidak ada jang djadi semuanja, padahal maksud kepindahan ke Djakarta untuk masa depan pendidikan kami", kata Tonny mendjelaskan.
Nasionalisme Glodok.
Koes Bersaudara jang menondjolkan Jon dan Jok, berduet dalam setiap lagu, diakui sendiri oleh jang bersangkutan, sering meniru Everly Brothers. Kemudian ketika "buku besar" musik pop diobrak-abrik oleh "harmoni liar" empat pemuda gondrong dari Liverpool jang menamakan diri The Beatles -Koes Bersaudarapun terlibat dalam peniruan jang lain. Mereka sedikit meninggalkan duet-duet jang padu. Sebagaimana Beatles jang mengedjar harmoni dari rintihan-rintihan jang bebas, Koes Bersaudara muntjul dalam berbagai pertundjukan panggung menjanjikan tjiptaan John Lennon dan Pau Mc Cartney dengan tjara penjampaian jang saat itu biasa disebut: "kebudajaan kontra revolusioner". Lagak lagu jang penuh sopan santun seperti jang diharapkan oleh Pemerintah tidak dilaksanakan. Tonny sendiri mengakui bahwa mereka bagaikan tjatjing kepanasan, bergojang dan berlompatan-lompatan bila sudah menghadapi penonton. Polah ini mendapat gandjaran jang lumajan djuga. Pemerintah saat itu berkenan membiajai keempat bersaudara Koeswojo, mondok di pendjara Glodok selama 3 bulan.
"Bersama kami djuga ditahan 2 orang lainnja. Seorang dituduh membunuh seorang lagi dituduh korupsi", kata Jon mengenang peristiwa itu. Soal perasaan sedih diakuinja ada. "Tapi kami selalu menjanji, sehingga kesedihan itu hilang", katanja. Iapun rupanja sempat djuga merajakan ulang tahunnja dibalik tali-tali besi Glodok jang dingin itu, dengan wiski, kopi dan air mata. "Saat itu saja anggap sebagai komedi. Kami seperti mimpi, ketika tembok jang keras teraba, baru kami sadar bahwa itu bukan main-main", kata Tonny memberi bumbu.
Dua hari mendjelang Gestapu mereka dibebaskan tanpa proses pengadilan. Dari pendjara mereka membawa 6 buah lagu baru, diantaranja Voor Man, Didalam Bui, Balada Kamar 15. Tetapi masih tjukup lama setelah itu mereka mengalami masa-masa jang sulit. Intimidasi masa-masa sebelum Gestapu tetap mengedjar mereka. "Pemerintah dan pers waktu itu memusuhi kami, meskipun rakjat tetap menggemari", kata Tonny. Ia menjebut-njebut tingkah Karim DP jang pernah memberitakan mereka main digeredja membawakan lagu Beatles. "Padahal saja tahu betul, tidak pernah melakukannja", kata Tonny. Dengan sebuah kalimat: Koes Bersaudara, saat itu dalam keadaan mental break down. Rekaman-rekamannja sendiri sudah djauh meninggalkan Everly Brothers, jang padu dan sederhana itu. Mereka kehilangan kegembiraan terperosok kedalam pemamahan tekanan batin mereka. Mungkin itu sebabnja kemudian mereka menoleh kepada Tuhan dengan menjanji: Kuserahkan hidupku, semuanja untukmu. Hanja satu pintaku, djadikan aku dombamu. Lagu jang berdjudul: "Djadikan Aku Dombamu" itu masih tjukup berhasil. Tetapi dalam lagu-lagu lainnja, tidak tjukup mejakinkan seperti sebelumnja. Harapan bahwa Koes Bersaudara akan lahir sebagai grup jang mempunjai karakter sendiri mulai diragukan, karena dengan terang-terangan sekali pengaruh Bee Gees menggiring mereka. Misalnja dalam lagu jang bernama "Rasa Hatiku", duet jang pernah dipudji padu berubah mendjadi back ground jang ngotot. Tonny jang belum mengganti gitarnja dengan organ memang tampak lebih kaja dengan variasi tetapi dalam keutuhan tjiptaan-tjiptaannja mundur. Lagu-lagu berbahasa Inggris seperti: Three Little Word, To The So Galled The Guilties, The Land Of Ever Green, The Old Man, Is Still For giveness, diketengahkan tanpa memperbaiki kedudukan. Bahkan menimbulkan kesan kompensasi. Soalnja pengaruh Bee Gees dilahap tanpa persiapan vocal jang matang, sementara harmoni liar Beatles--seperti jang terdengar pada lagu "Bilakah Kamu Tetap Disini" belum ditinggalkam Masa mentjari pegangan ini berlangsung sampai tahun 1969. Selama masa kemunduran ini diam-diam Koes Bersaudara sendiri telah menanamkan pengaruhnja pula pada pentjiptaan lagu-lagu pop Indonesia. Kesederhanaan jang terlalu sederhana dan kekanak-kanakan melanda lirik-lirik pop. Ia merupakan akibat pentjiptaan plus pembawaan lagu, jang tidak dilatari oleh keharuan, hanja bertopang atas dasar "laku" dan "tidak laku" sadja. Maka mulailah zaman jang kalau boleh- kita namakan "seri binatang", "seri anak aleman" dan "seri tjinta palsu".
Lirik Lepas Puber.
"Tahun 1969 Koes Bersaudara mendjadi Koes Plus. Itu merupakan taraf terachir perdjalanan puber kami", kata Tonny. Ia tidak mendjelaskan apa ada alasan chusus Nomo berhenti memukul drum, lantas digantikan oleh Murry. Para penggemar mereka tentu agak sulit djuga untuk membiasakan mengganti kata "Bersaudara" mendjadi "Plus" dibelakang kata: Koes. Meskipun dalam soal permainan, Murry memang berarti "plus". Perubahan-perubahan jang lain setelah di "plus"-kan ini terhitung banjak djuga. Tonny menukar gitar dengan organ, meskipun tidak sama sekali meninggalkannja. Suara piano dan plute masuk pula dalam perbendaharaan instrumen mereka, sehingga lebih mendekatkan lagi mereka pada musik Bee Gees. Jon lebih sering menjanji sendirian dengan latar-belakang Tonny dan Jok. Tonny sendiri merasa sudah tjukup berani untuk tarik suara. Lihat sadja misalnja lagu Kerontjong Pertemuan--album ke empat jang tidak djelek itu. Murry sendiripun menjanji --Bertemu dan Berpisah, dalam album keempat. Sementara Tonny tidak lagi monopoli dalam pentjiptaan lagu-lagu Jon menundjukkan bakat sebagai pentjipta jang baik, lihat misalnja album keempat terutama lagu: Bunga di Tepi Djalan, jang didjadikan djudul album. Dalam keutuhan, disamping djelas mengarah kepada 'musik manis" dengan tambalan Bee Gees dan Cats disana-sini, Koes Plus mulai meraih tanda-tanda kediriannja dengan mentjoba-tjoba mengambil unsur kerontjong, langgam, jazz bahkan djuga suara berat (heavy-sound). Ini benar-benar mendjadi sebuah langkah baru jang kalau boleh dinamakan pendobrakan kepada seri binatang, anak aleman, tjinta palsu dan sebangsanja itu.
Dalam album pertama Tony jang tetap bertindak sebagai pemimpin kelompok menjanjikan tjiptaannja jang berdjudul:
** Hilang Tak Berkesan. Kuingin berlari sendiri kedepan kutinggal kasihku berdiri sendiri Aku berlari tjepat sekali kutjoba lupakan semua......
**
Tjetusan untuk "mengada" ini bagaikan sebuah reaksi terhadap penderitaan dalam kehidupan jang dilukiskannja dengan simbolis dalam tjiptaan Tonny jang bernama "Kelelawar".
**
Kelelawar sajapnja hitam terbang rendah ditengah malam Pagi-pagi mereka pulang. Dibawah dahan bergantungan Hitam, hitam, hitam!
**
Kepekaan kepada derita, terlihat berachir dengan kesimpulan jang tidak mati dalam lagu "cerita" Disana Tonny setelah membeberkan hidupnja jang penuh derita merasakan bahwa achirnja dia mengerti: semua didunia tiada jang abadi. Maka tidak mengedjutkan kalau didalam "Tjintamu Telah Berlalu" dia tidak lagi melukiskan kepedihan tjinta sesaju "Telaga Sunji" dalam periode Koes Bersaudara. Dengan dewasa dan puitis Tonny kembali menulis liriknja:
**
Kunjalakan api didalam tungku dingin sekali malam itu Namun djauh dingin dalam hidupku sedjak tjintamu telah berlalu
**
Lagu ini bukan sadja berhasil tetapi djuga sukses dalam pelemparannja disamping lagu "Derita" dan "Kembali ke-Djakarta" Dia mengukuhkan kembali harapan peminat musik pop Indonesia kepada Koes. Organ jang dipilih oleh Tonny ternjata masuk sekali untuk lagu-lagu sedjenis itu. Meskipun dapat dilantjarkan kritik tjukup pedas untuk tjiptaan ataupun pembawaan lagu-lagu seperti "brgembira", "DhegDheg Plas" atau "Hilang Tak Berkesan" sendiri jang mentjoba menondjolkan improvisasi spontan jang ternjata masih seradak-seruduk kaku.
Dalam album kedua, rupanja terdjadi perkembangan psikologis. Setelah musik mereka diterima timbul hasrat-hasrat untuk melakukan eksperimen. Lahirlah lagu-lagu "Djangan Selalu Marah" dan "Mengapa Kau Sedih" jang merupakan pertjobaan untuk berdeklamasi dengan agak konjol. Sementara dalam jang bernama "Pentjuri Hati" tampak ada hasrat untuk sekadar mentjitjip suara berat dengan mengeram seperti Led Zeppelin tanpa totalitas jang baik, sehingga kelihatan merupakan sekadar bentuk djeritan jang kurang mejakinkan. Lirik-lirik jang puitis didalam album pertama tidak banjak terdapat dalam album ini. Meskipun demikian album ini tjukup menarik pula karena adanja Kisah Sedih di Hari Minggu dan Hidup Jang Sepi -- dua buah lagu manis jang merebut pasaran djuga disamping Djandjimu, Rahasia Hatiku, Andaikan Kau Datang dan Bilakah Kau Pulang jang dibawakan dengan baik.
ll Plus Djawa.
Album ketiga jang banjak dimasuki unsur-unsur jazz, menelorkan sebuah lagu jang laris bernama Selamat TinggaL Muntjul pula lagu Kasih Sajang jang kemasukan langgam Djawa meskipun tidak terlalu istimewa. Dalam album inikoor model Beatles kembali muntjul dalam keadaan jang lebih matang. Misalnja pada lagu-lagu: Hati Jang Sutji, Selalu Gembira. Suara flute-pun masuk dalam lagu Isi Hatiku jang mengingatkan kepada tiupan flute Herbie Mann. Murry sangat menghidupkan situasi dengan pukulan-pukulan drum jang pasti dan banjak variasi. Dalam lagu Kasih Jang Sutji jang santai itu, Murry benar-benar merupakan "plus". Sedangkan sesuatu jang agak istimewa muntjul dalam sebuah lagu monoton jang bernam Bunga Dan Remadja. Liriknja jang sederhana terasa sedikit berfilsafat tentang kehidupan:
**
Kemanakah perginja setangkai bunga Aku tahu, dia kan dipersunting dara remadja Kemanakah perginja dara remadja Aku tahu, dia akan dipersunting para teruna. Kemanakah perginja para teruna Aku tahu, dia akan pergi mendjadi tentara Kemanakah perginja semua tentara Aku tahu, dia akan pergi djuang dimedan laga Kemanakah perginja tentara jang gugur berlaga Aku tahu, dia akan ditanam dan mendjadi bunga
**
Kisah setangkai bunga dan remadja. Album ini memperbaiki prestasi album kedua dalam pentjiptaan maupun pembawaan. Tampak Koes menjadari dimana letak kekuatamlja, tanpa mentjoba sok underground lagi.
Album keempat jang muntjul tidak lama berselang setelah album ketiga menampakkan beberapa pengulangan tema. Tonny dengan Djangan Berulang lagi, masih mengulang Kisah Sedih di Hari Minggu, Djeritan Hati -- tjiptaan Jon seolah seri kedua dari Selamat Tinggal. Jang dapat ditjatat disini adalah muntjulnja Jon, Jok dan Murry sendiri dengan lagu-lagu tjiptaannja. Tiga buah lagu Jon: Djeritan Hati, Bunga di Tepi Djalan, Termenung Lesu dan tiga buah tjiptaan Jok: Why Do You Love Me, Djangan Sedih, kembalilah terasa lahir sebagai tjetusan jang spontan dan masih segar. Ini merupakan variasi jang baik bagi Tonny jang mungkin karena terlalu banjak mentjipta lagu-lagunja jang terachir banjak jang berseri dan terasa dipaksa keluar. Murry sendiri mentjoba mentjiptakan. Bertemu dan berpisah jang sesungguhnja bisa bagus kalau sadja tidak dibawakannja sendiri. Suaranja belum waktunja untuk diketengahkan. Lain dengan Tonny dalam Kerontjong Pertemuan -- mungkin dapat dianggap lagu terbaik jang sudah mengukuhkan dirinja sebagai pantas menjallji sendiri.
Selain lagu Kerontjong Pertemuan album keempat ini masih satu periode dengan album-album Koes Plus jang lainnja. Tonny memang telah menjempurnakan suasana dengan petikan piano jang mejakinkan dalam Djangan Berulang Lagi dan Why Do You Love me misalnja. Setjara keseluruhan dalam album ini permainan Koes Plus lebih padu. Tanpa keraguan lagi sebagaimana terlihat dalam album kedua. Ia telah menemukan dirinja kembali jang hilang setelah keluar dari pendjara. Konon album kelima telah pula diselesaikan.
Kontemporer.
Remy Silado jang dikenal sebagai tukang tjari tjatjad musik pop di Indonesia, pernah mnjatakan bahwa lagu-lagu seperti jang dinjanjikan oleh Titiek Sandhora adalah sampah. Berhadapan dengan Koes Plus ia berkata: "Mereka punja lirik jang kuat. Lirik maupun unsur melodinja seimbang. Selain komunikatif, djuga ditambah dengan unsur-unsur kesederhanaan melodik nja". Kritiknja pada musik-musik Koes: "Semuanja selesai sampai disana. Mereka hanja mengharap publik suka atau tidak suka".
Titiek Puspa, biduan dan pentjipta jang tak pernah laju, memudji Koes Plus dalam pertemuannja dengan para remadja di Gelanggang Remadja Bulungan. Menurut Titiek, Koes Plus adalah grup jang bebas dari pembadjakan dan pendjiplakan, jang mempunjai ide dan tjiri chas. Sementara Bing Slamet dalam tekadnja untuk menghidupkan kembali kerontjong, sempat pula mengukuhkan Koes Plus sebagai rombongan musik jang berhasil dan bermutu.
Taufiq Ismail, penjair jang bermukim di DKD berkata pula kepada TEMPO bahwa ia termasuk penggemar Koes Plus. Alasannja: musik Koes Plus puitis. Sedangkan ketua DKD sendiri Omar Khayam, dalam pekan seni kontemporer tahun lalu telah berani mengetengahkan Koes Plus sebagai salah satu nomor Alasannja Koes Plus dapat menampung keinginan dan selera kaum muda masa kini.
Dan apa kata Koes Plus sendiri tentang dirinja? Terhadap tuduhan dan sindiran sementara kalangan jang bermaksud mengetjilkan, dengan berbagai predikat misalnja dengan mengatakan bahwa mereka"Bee Gees Djawa"? Atau bahwa mereka itu-itu sadja? Bahwa mereka tidak mempunjai "stage act" jang baik? Berkata Tonny jang melakukan tugas djubir: "Memang kami kurang sekali dalam soal acting. Memang kami terpengaruh djuga oleh Bee Gees. Sebenarnja kami telah mentjiptakan lagu-lagu kami sebelum Bee Gees ada, tapi mereka duluan terkenal, sehingga orang berpendapat kami jang meniru mereka". Utjapan Tonny ini bisa sadja tidak di pertjaja. Meniru atau tidak meniru achirnja selesai setelah musik itu dapat berkomunikasi dengan publik. Hanja dalam hal membandingkan Koes Plus dengan musik-musik jang menganut paham lain djelas-djelas tidak mungkin dilakukan. Seperti kata Tonny sendiri: "Mas Khayam bilang saja ditantang AKA. Lho kok lutju. AKA kan band jang akan membawakan musik underground Barat, bagaimana mereka mau menantang Koes Plus? Kalau mereka mentjipta sendiri, baru kita bisa lajani. Saja sebetulnja kepingin sebuah festival band dan bukan hanja sekedar jambore. Di mana misalnja satu lagu seperti Bengawan Solo, didjadikan bahan untuk mengudji aransemen masing-masing grup jang ambil bagian", demikian Tonny.
Yang mengikat, yang membawa, yang ... Perjalanan hidup koeswoyo, dan anak-anaknya yang tergabung dalam grup koes bersaudara, yang berkembang menjadi koes plus. profil pribadi tony, yon, yok, nomo, plus murry. koes bersaudara akan muncul kembali. IKATAN kekeluargaan agaknja merupakan faktor jang paling penting mengapa Koes Plus d/h Koes Bersaudara dapat bertahan sampai sepuluh tahun. Jon Koeswojo mendjelaskan ada satu faktor lain. "Masing-masing keahlian saling disadari oleh setiap orang dari kami", katanja. Maksudnja: kesadaran itu membawa toleransi djuga dalam pembagian rezeki mereka. Tidak rahasia lagi bahwa faktor pembagian rezeki bukan hal jang sepele dalam grup-grup jang kakap maupun jang ingusan. Djustru itulah jang sering membuat sengketa. "Tonny karena dia jang mengasuh dan tertua, tentunja mendapat honor jang lebih tinggi dari saja, begitu pula dengan jang lain. Kami saling menjadari", kata Jon. Dalam pembagian selengkapnja disisihkan bagian-bagian untuk keperluan kas, untuk memelihara alat-alat, buat orang tua dan buat anggota. "Kalau dulu kami kekanak-kanakan, sekarang lebih dewasa", kata Jon, agaknja ia teringat bagaimana mereka tjektjok diatas panggung PPBI Jogja selama masa Koes Bersaudara.
Rumah mereka berdekatan disebuah kompleks didaerah Tjipete jang penuh pohon rambutan. Disalah satu podjok tinggallah orang tua mereka, jang selalu menasehati anak-anaknja agar "mawas diri". "Jang sering dilakukan dalam grup lain, jakni para anggota jang merasa dialah jang paling berguna sehingga menimbulkan perpetjahan, tidak ada lagi pada kami", kata Jon. Ia mendjelaskan pula, untuk mengokohkan hubungan sehari-hari jang berlangsung baik, diadakan pula rekreasi-rekreasi bersama.
Bagaimana dengan soal-soal asmara? Tidak ada jang terlalu istimewa. Artinja belum pernah terdengar skandal besar tentang mereka. Memang pernah djuga ada desas desus bahwa Jon ada main dengan Susy dari Dara Puspita. Dan Nomo pernah berkentjan dengan Tanty Josepha. Atau Tonny jang terpaksa mengaku orang Batak supaja berhasil menikahi isterinja. Lebih dari itu, Koes Plus memang bukan Rendra jang suka mempublikasikan kehidupan pribadinja, walaupun Tonny mengaku sedjalan dengan penjair itu, karena merasa dalam dunia musik djuga orang "urakan".
TENTANG KOESWOJO.
Koestono, Koesnomo, Koesjono dan Koesrojo jang kemudian lebih suka dipanggil Tonny, Nomo, Jon dan Jok, keempat-empatnja putera Koeswojo. Orang tua jang berputera 8 orang ini kini sudah berusia 69 tahun. Sebelum mendjadi pegawai kabupaten Tuban, pernah mendjadi Asisten Wedana di Babat. Tahun 1951 ia bojongan ke Djakarta mendjadi pegawai Departemen Dalam Negeri. Empat tahun kemudian menerima pensiun, langsung bekerdja di Bank, kemudian membuka perusahaan tembakau di Solo. Sementara itu Koes-Koes berempat tetap tinggal di Djakarta main musik.
"Sebetulnja bapak anti, sebab anakanak itu diharapkan madju dalam pendidikan", kata Koeswojo. Ajah jang suka musik Waltz ini mengabarkan pada mulanja tidak melihat tanda-tanda bakat musik pada putera-puteranja. Tahutahu sadja isterinja Atmini jang meninggal tahun 1969, menerima permohonan para putera untuk dibelikan alat musik. Koeswojo bermula mempunjai rasa tidak enak, apalagi kalau-kalau sedang ngobrol dengan kawan-kawannja tentang kemadjuan putera-putera mereka. Tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa. Ia mengalihkan pikirannja. "Insinjur tjari duit, Dokter tjari duit, tukang musik djuga tjari duit", katanja menjabarkan hati.
Bung Karno.
Semasa Koes Bersaudara dalam pendjara Koeswojo pernah mentjoba menemui Bung Karno atau Fatmawati. Gagal. Dengan takdjub ia mengeluh: "Orang salah njanji kok dihukum?" Pertanjaan ini didjawab oleh Bung Karno dalam pidatonja tanggal 17 Agustus 1965: "Djangan seperti kawan-kawanmu Koes Bersaudara. Masih banjak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan". Koeswojo jang sangat memperhatikan pidato itu ingat sekali bahwa satu-satunja band jang disebut Bung Karno adalah keempat anaknja.
Kini, setelah Koes Plus kembali merdeka menjanji, bagaimana pendapat sang bapak? "Sebetulnja lagu-lagunja nggak ada jang saja senangi", djawab orang tua itu djudjur. "Lagu-lagu Koes Bersaudara bagi saja lebih mengesankan. Misalnja lagu Pagi Jang Indah Sekali jang sederhana itu". Selandjutnja, sebagaimana galibnja para orang tua, Koeswojo memberi petuah pada putera-puteranja: "Lagu-lagu kalian hendaknja bisa dinjanjikan sampai kelapisan tukang betjak. Djangan hanja dinikmati golongan intelek. Mereka itu sudah senang, dikasih lagu ja tambah senang".
DUNIA TONNY.
"Djika saja bukan diri saja sekarang, jang saja sukai adalah saja sendiri", kata Tonny Koeswojo. Ini tjukup sebagai petundjuk betapa kejakinan putera sulung Koeswojo ini kepada dirinja. Dengan tubuh runtjing, rambut gondrong dan kumis, ia telah berhasil menghasilkan 70% dari semua lagu jang dinjanjikan oleh Koes Bersaudara dan Koes Plus. Tanpa kehilangan kontrol ia menamakan dirinja orang urakan dalam musik. Dua orang putera jang didapatnja dari isterinja orang Medan tidak menenggelamkan kariernja keatas dapur dan tempat tidur keluarga. Tampaknja ia sudah berhasil bekerdja sama dengan musik dari segi karier maupun periuk nasi. Pekerdjaan jang tjukup tidak mudah.
Kesederhanaan, kerendahan hati dan keinginan untuk selalu kontak seperti jang selalu tampak apabila ia menggiring atjara, jang djuga merupakan tjiri dalam tjiptaan musiknja, bertolak dari sikap hidup jang djelas. Ia memandang hidup dari segi komiknja, walaupun tjiptaan-tjiptaannja sendiri selalu bertjerita tentang sepi, sunji dan leharuan jang bertolak dari luka tjinta. Ia mengaku suka filsafat sedjak zaman Koes Bersaudara. Bedanja: "Waktu zaman Koes Bersaudara kami beranggapan kita berbuat dosa karena titik pangkalnja dari Tuhan, djadi soalnja kembali kepada Tuhan. Sehingga kami sering nekad", kata Tonny. Bagaimana sekarang? Pemimpin band jang mempunjai perawakan dan gerak gerik mirip WS Rendra ini mendjawab: "Saja orangnja tidak mau pertjaja begitu sadja tanpa kejakinan. Saja tidak mau pertjaja begitu sadja pada Qur'an kalau saja tidak mengerti. Soalnja pertjaja sadja tanpa disertai alasan dan argumentasi untuk pertjaja tidak kuat, sama seperti kita pertjaja kepada djimat".
Kawabata. Orang jang pernah bergaul dengan manusia satu ini akan tjepat sekali menjadari bahwa intelegensinja tidak sama dengan musisi-musisi pop jang banjak ditemui kini di Indonesia. "Ia mempunjai bobot", kata seorang penggemarnja memudji. Pudjian tersebut tjukup beralasan kalau kita ikuti pengakuan Tonny, bahwa disamping memegang gitar, organ dan piano dia djuga memegang buku. "Saja membatja Bagawad Gita, Gitanjali, Shakespeare", kata Tonny. "Disamping itu jang saja rasakan punja pengaruh pada saja adalah Kawabata, itu pengarang Djepang jang baru sadja dikabarkan bunuh diri minggu lalu. Sedangkan Walt Whitman memang hebat, tetapi achir-achir ini saja kurang suka. Penjair-penjair Indonesia seperti Chairil Anwar djuga saja sukai"
Kita tidak akan susah-susah untuk mengusut apa semua itu benar. Lirik-liriknja sedjak zaman Koes Bersaudara, sebagaimana terlihat dalam "Sendja" atau "Telaga Sunji" misalnja, tjukup menundjukkan dasar batjaan jang bukan hanja komik atau roman-roman pitjisan. Sadjak jang tertjipta pada udjung kalimat lagu-lagunja lahir dengan wadjar, dari suasana batin jang puitis. Terhadap lirik-liriknja ini Tonny berkata: "Sekarang kita mentjipta dengan lirik-lirik sederhana. Saja soalnja tidak suka sjair - di wadjahmu kulihat bulan jang tidak realistis. Saja kepingin meskipun sesuatu itu harus indah, tetapi tetap realistis". Sikap untuk menerima apa seadanja ini, dipakainja pula untuk merasionalisasi kekurangan "gaja"-nja dalam membawakan lagu-lagu diatas pangung. "Kami bertitik tolak pada kewadjaran. Paling-paling gojang kepala mengikuti irama bas. Karena kami selalu mengusahakan mentjiptakan musik-musik jang sederhana tetapi bagus", kata Tonny.
Pendjiplakan.
Dalam mendjawab, apakah Koes Plus barat asli, ketimbang menulis sjair-sjair berbahasa Inggeris, Tonny menanggapi: "Saja sebetulnja segan menjanjikan lagu barat, tetapi selamanja saja seperti dibajangi oleh sedjumlah penonton jang kelihatannja menginginkan kami menjanjikan lagu barat. Bagaimanapun bagusnja tidak puas kami menjanjikannja karena jang terang lagu itu imitasi". Tapi ia mengaku pula bahwa pada zaman Koes Bersaudara ia menduplikat The Everly Brothers dan Ricky Nelson serta membadjak sebuah lagu Hawai mendjadi sebuah lagu bernama "Dipantai Bali" Tetapi terhadap ini sgera disuguhkannja alasan: bahwa fase-fase pendjiplakan selalu akan dilalui oleh penjanji-penjanji. "Hanja sekarang ini prinsip Koes Plus, selama kita mampu akan terus mentjipta", katanja. Bahkan ia menambahkan pula bahwa ia bermaksud menjusun komposisi musik gamelan pop. "Kita tidak perlu dalam pentjiptaan pergi djauh-djauh keluar negeri seperti Beatles mentjari sitar ke India", katanja. "Kekajaan musik Djawa, Bali, Sumatera dan berapa banjak lagi, tak kan habis-habisnja untuk digali".
Bila terhadap sumber inspirasi ia tak merasa kekurangan, dalam soal penghargaan materiil dari pihak perusahaan piringan hitam ia malah mengandjurkan. Baginja sistim flat, kurang memberikan kesedjahteraan padanja, sementara hasil rekamannja djuga didjual lewat kaset-kaset. Konon seorang anggota DPR pernah mau mendesak pemerintah turun tangan dalam soal itu, Tonny menolak. "Bagi saja masjarakatlah jang seharusnja diperbaiki keadaan hidupnja dimana kalau penghasilan mereka baik, kamipun terbawa serta".
JON & JOK PLUS MURRY.
Diatas panggung Jon dan Jok mempunjai perbedaan jang djelas. Jon selalu tenggelam dalam lagu-lagu jang dibawakannja dengan penuh. Ia menjentak gitar dan emosinja sementara rambutnja berhamburan menutup sebagian mukanja. Jok sendiri jang mempunjai suara melengking tinggi selalu kelihatan tjanggung, tak pernah menemukan keserasian antara tubuh dan suaranja. Ia tidak mempunjai selera jang baik dalam berpakaian, sematjam keserampangan. Namun demikian lagu-lagu tjiptaannja tidak lebih djelek dari kepunjaan Jon. Keduanja mentjipta sama baik. Walaupun setelah keluar dari masa Koes Bersaudara, Jon lebih menundjukkan bakat sebagai penjanji solo dari Jok sendiri.
Jon abang Jok, putera kelima Koeswojo, lahir di Tuban 27 September 1943. Kini sedang menanti kelahiran puteranja jang pertama. Pernah mengikuti kuliah tingkat persiapan Universitas Res Publica (sekarang Trisakti) djurusan Arsitektur. Sedjak SMA menjenangi Ricky Nelson dan Everly Brothers. Sampai kini sudah mentjiptakan 9 buah lagu, semuanja berirama blues. Dia suka klasik dan pop. "Jaz saja tidak begitu senang, tidak menusuk perasaan. Jazz kan lagu sambilan sadja", katanja. Mendjawab soal masa depan, Jon tampaknja tidak seawas Tonny. "Bidang pop entah kemana tudjuannja, saja sendiri tidak tahu", kata Jon. "Saja memang bertjita-tjita mendirikan perusahaan dengan modal sendiri. Kalau dapat nantinja djadi grup jang populer".
Petani.
Jok jang lebih gondrong dan djuga lebih pendiam, tampak lebih tua dari abangnja. Ia kelihatan tidak mempunjai ambisi sebesar Jon. Selintas ia kelihatan bertampang atjuh tak atjuh, perhatiannja hanja pada bass gitar jang mendjadi bagiannja. Pendidikannja hanja sampai di SMA Triguna. Ia senang kepada Cliff Richard pada masa ketjilnja, sampai sekarang. "Umumnja saja senang lagu-lagu lembut, musik underground kurang tertarik", katania. "Beatles walaupun tjepat tetapi beat-nja manis". Lain dari Tonny dan Jon, Jok tidak banjak mentjipta. Kepribadiannja sederhana dan dewasa. Tjita-tjitanja djuga sederhana. "Soal masa depan, pasti mas, djelas sudah saja pikirkan. Kalau Koes Plus bubar saja akan mendjadi petani biasa. Pokoknja saja bisa hidup tenang. Saja tidak pernah pegang uang, semua saja serahkan pada isteri".
Murry jang menggantikan Nomo memegang drum, bergabung karena menemukan persamaan selera. "Saja merasa sedjiwa dengan mereka", katanja mendjelaskan. Untuk alasan itu ia terpaksa menanggalkan keanggotaan band "Patas" (milik Kedjaksaan) jang mulai tahun 1968 diikutinja. "Lagu-lagu tjiptaan Koeswojo bersaudara mengarah-arah klasik, saja sendiri suka lagu klasik disamping musik lembut", kata Murry jang djuga rupanja lagi menanti kedatangan bajinja jang pertama. Sebagaimana ketiga rekannja, iapun gondrong bertjambang, menjanji dan mentjipta lagu. Sampai kini sudah tiga buah tjiptaannja, dengan tjiri langgam Djawa. "Saja djadi terpengaruh oleh mereka dan ikut mentjipta, padahal dahulu saja hanja menjanji", katanja. Arek Surabaja jang berusia 23 tahun ini ingin sekali meniru Beatles terutama John Lennon. Tonny menamakan dia sebagai anak jang penuh perdjuangan. Pentjipta lagu "Doa Sutjiku" jang tjukup digemari ini, hidup terpisah dari Koes Bersaudara. "Murry tidak tinggal disini, nggak mau katanja karena takut tjektjok. Dia tekun, penuh dedikasi, sekarang dia saja paksa melijanji Bagus djuga. Saja suka sama dia", komentar Tonny membanggakan anggotanja.
NOMO JANG HILANG.
"Sering kalau suatu saat bila saja mendengar njanjian saudara-saudara saja, hati saja sering terharu. Lebih-lebih djika lagu itu adalah lagu-lagu zamannja Koes Bersaudara, dimana saja turut andil dalam bentuk pukulan-pukulan drum", kata Nomo, alias Koesnomo Koeswojo ditempat tinggalnja Bandung. Kini ia giat dibidang dagang. Djual beli rumah, mobil dan sebagainja. Ia jang mengaku tidak pernah menjanji dan menulis lagu dalam zamannja Koes Bersaudara, merasa mempelopori menjanji meniru Everly Brothers dengan bantuan Jan Mintaraga, ketika rombongannja masih bernama Koes Brothers. "Saja tidak berbakat membuat lagu dan suara saja agak djelek dibandingkan dengan saudara saja", kata Nomo.
Selisih.
Tahun 1968 adalah awal selisih antara Nomo pemain drum dengan abangnja Tonny. Soalnja Nomo minta kepada Tonny agar tidak mengandelkan kehidupan dari musik sadja. "Main musik ja main musik, tapi djangan main musik tok. Tjari usaha bisniz lain", usul Nomo. "Achirnja hidup ini tidak dapat hanja ditundjang oleh musik", katanja pula. Rupanja dalam hal ini Tonny kurang setudju. Maka terdjadilah pergeseran ditahun 1969, tatkala nama Koes Plus- mulai dipakai. Murry menggantikan Nomo, sedangkan Nomo diangkat sebagai ofisial Koes Plus.
Sesudah mendjadi pedagang Nomo jang sudah punjaanak kelihatannja tidak dapat benar-benar-lepas dari kenangan masa-masa silamnja. "Saja tidak patah arang dengan musik", katanja. "Saja masih tetap merindukan kembalinja Koes Bersaudara. Walaupun tidak terlalu pasti saja jakin bahwa Koes Bersaudara akan kembali", katanja. Tapi utjapan ini djangan disalah tafsirkan. Koes Bersaudara jang dirindukannja kembali itu, adalah Koes Bersaudara jang tidak hanja bergerak dibidang musik, tapi Koes Bersaudara "Coporation" jang bergerak dibidang musik dan bisniz.