HOME BLOG
   
  Minum Kopi Bersama
http://koesplus.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

Foto Album Gaul

 
 
 
 
PENGUMUMAN:
Mind Mapping - cara baru untuk ngeBlog!
 
Corak Sendiri, Koes Plus
Sabtu, 22 November 2008 @ 16:54 WIB - Musik, Film & Hiburan





Artikel :Tempo
Edisi. 08/II/29 April - 05 Mei 1972
(Ejaan bahasa lama)

Peta musik pop koes

Kisah perjalanan dari koes bersaudara sampai koes plus. ada pengaruh everly brothers, bee gees dan beatles. perkembangan musiknya & komentar remy silado, titiek puspa, bing slamet dan jawaban koes plus. PADA "pembukuan" musik pop Indonesia, terdjadi krisis. Bermula
ada sedikit harapan dengan muntjulnja kembali Sitompoel Sisters
dari pengembaraannja. Ternjata jang diharap kebanjak aktip dalam
show. Lebih dari itu, mereka telah pula mengumumkan niat nja
untuk berhenti menjanji. Bob Tutupoly jang banjak djuga
penggemarnja, sampai kini belum menepati djandjinja untuk
kembali. Emilia Contessa jang mempunjai bakat jang gemilang,
ternjata hanja menggojang tubuhnja terus tanpa menghasilkan
album jang baik. Ada rekaman-rekamannja jang tjukup lumajan,
tetapi bukan sukses. Apalagi kini ia sedang direbut oleh
"orang-orang film". Selebihnja, Benjamin, Broery, Frans Daromez,
Alfian, Muchsin, Titiek San&ora, Maja Sopha, Ida Rojani dan
sekerandjang jang lain, tjukup giat, tetapi tidak mentjatat jang
bisa disebut "harapan". Mereka semua, bersama banjak penjanji
ketjil jang muntjul bagai kunang-kunang dihutan-hutan kapur,
tenggelam dalam suasana pembadjakan dan tiru-meniru. Mereka
merendam kwalitas dengan kwantitas, tetapi tetap tidak bisa
"istimewa". Tiba pula Dara Puspita muntjul kembali dari Eropa.
Tetapi keempat gadis itu tak ubahnja dengan tamu-tamu jang
singgah sebentar. Mereka seolah-olah sudah dikeluarkan dari
"pembukuan". Ada beberapa kelompok pemuda jang menggabungkan
dirinja untuk membentuk grup jang bernama Gypsi, Roollies, AKA,
Fanny's, Prophecy, Lady Faces, Rhapsodia, dan sebagainja. Namun
semuanja bukan pentjipta dan belum sempat menundjuk kan
keistimewaan dalam sebuah album. Beberapa orang dara mentjoba
pula bersatu, tetapi semuanja bubar sebelum banjak berbuat.
Namun demikian rezeki dalam kehidupan musik pop tidak terlalu
mundur. Banjak biduan jang sudah bisa hidup menggantungkan diri
pada kemerduan suaranja, sementara dulu hal itu hanja merupakan
impian. Tetapi berbitjara soal mutu, kita terpaksa menghitung
dengan sebelah djari sadja. Nama Panbers dengan albumnja jang
pertama berisi beberapa tjiptaan hanja langkah ketjil, Emilia
dengan warna interpretasi dan pendjiwaannja dalam menjanji belum
mendapat lagu, Wehaswara dalam beberapa tjiptaannja, Iwan A.
Rachman dan Nana Mamahit dengan selera baru nja, serta patut
djuga disebut-sebut Trio Bimbo, Titiek Puspa, Pattie Bersaudara,
Benjamin dengan penggaliannja kepada musik Betawi, Rijanto untuk
tjiptaan tjiptaannja, semuanja masih terlalu sedikit

Ludruk & Bros.

Tersebutlah seorang pegawai kabupaten di kota pelabuhan Tuban,
bernama Pak Koeswojo. Dimilikinja delapan orang putera.
Diantaranja, jang tertua seorang peladjar SMP tampak sangat
menggemari kesenian. Ia beladjar seni tari dan mendjadi anggota
gamelan ludruk dikota itu. Mungkin tidak akan pandjang kisahnja
kalau sadja sekeluarga Koeswojo menetap dikota tersebut. Tetapi
seperti sudah ditulis sadja, pada tahun 1951 keluarga itu pindah
ke Djakarta, karena Pak Koeswojo mendapat tugas di Kementerian
Dalam Negeri. Ditempat jang baru inilah anggota ludruk Tuban
itu, sambil meneruskan sekolahnja di SMA membentuk "Teen-ager's
Voice" Ini bukan lagi ludrukan tetapi sebuah band. Tetapi belum
berantara lama, nama jang mentereng itu digiling oleh semangat
"nasionalisme" sehingga perlu dirubah mendjadi Irama Remaja.
Bintang film berwadjah paling komersiil saat ini, jakni Sophan
Sopiaan sempat djuga menjanji dalam rombongan itu. Tetapi ini
djuga tidak begitu berpamor. Achirnja Tonny Koeswojo, begitulah
nama bekas penabuh ludruk Tuban itu, mengubur perkumpulannja
sambil melahirkan komplotan baru, bernama Koes & Bros. Jan
Mintaraga jang sekarang dikenal sebagai pelukis komik jang
berbau silat dan roman remadja, terlibat pula didalam nja.
Tetapi dalam perdjalanannja Koes & Bros belum berhasil menembus
level nasional. "Waktu itu masih iseng, belum ternama", kata
Tonny kepada TEMPO Sampai tahun 1960 sesudah namanja di rubah
lagi mendjadi Koes Bersaudara untuk waktu dua tahun band itu
hanja berkotek-kotek sebagai band lokal. Baru tahun 1962 setelah
perusahaan piringan hitam Irama memberikan mereka kesempatan
rekaman, mendadak sontak mereka merubah penulisan peta musik pop
Indonesia. Masjarakat pen dengar musik liwat radio diseluruh
tanah air saat-saat itu djuga sedang mengarahkan telinganja
kepada Rachmat Kartolo. Lagu-lagu asal daerah Padang atau
Makasar dengan suara marakas dan ketipung mulai digeser oleh
lagu-lagu sengsara jang sederhana dan sentimentil. Seri "Patah
Hati" Rachmat Kartolo telah menenggelamkan para pentjint musik
dalam alam duka jang mirip dengan suasana penjerahan kepada
nasib. Maka tjukup mengherankanlah rekaman Koes Bersaudara mulai
dari "Pagi Jang Indah Sekali" sampai ke "Sendja", jang
menuliskan tjinta, keindahan alam, kesengsaraan ataupun
kegembiraan dengan lebih realistis bahkan kekanak-kanakan, dapat
merebut pasaran. Apalagi kemudian Tonny dengan ketiga orang
adiknja: Nomo, Jon dan Jok mulai mengadakan
pertundjukan-pertundjukan untuk umum Perlombaan ketenaranpun
dimulai. Peta musik pop Indonesia-pun berubah. Sjair-sjair
pendek jang sederhana, polos, tema sehari-hari jang njata, suka
duka perasaan kaum remadja jang tidak kehilangan energi, meniup
perlahan-lahan kekuasaan lagu-lagu sengsara jang penuh ornamen.
Meskipun kalau ditarik perbandingan Koes Bersaudara masih djauh
dari puisi-puisi jang lahir dalam lagu-lagu Beatles atau Bob
Dylan jang berkembang saat-saat itu, Koes Bersaudara telah
melontarkan lagu-lagu jang bernilai lirik. Disinilah letak
kekuatannja. Meskipun untuk semua itu mereka harus menebus
dengan harga jang tjukup mahal. Kemasgulan Koeswojo, ajah mereka
sendiri. "Karena sekolah tidak ada jang djadi semuanja, padahal
maksud kepindahan ke Djakarta untuk masa depan pendidikan kami",
kata Tonny mendjelaskan.

Nasionalisme Glodok.

Koes Bersaudara jang menondjolkan Jon dan Jok, berduet dalam
setiap lagu, diakui sendiri oleh jang bersangkutan, sering
meniru Everly Brothers. Kemudian ketika "buku besar" musik pop
diobrak-abrik oleh "harmoni liar" empat pemuda gondrong dari
Liverpool jang menamakan diri The Beatles -Koes Bersaudarapun
terlibat dalam peniruan jang lain. Mereka sedikit meninggalkan
duet-duet jang padu. Sebagaimana Beatles jang mengedjar harmoni
dari rintihan-rintihan jang bebas, Koes Bersaudara muntjul dalam
berbagai pertundjukan panggung menjanjikan tjiptaan John Lennon
dan Pau Mc Cartney dengan tjara penjampaian jang saat itu biasa
disebut: "kebudajaan kontra revolusioner". Lagak lagu jang penuh
sopan santun seperti jang diharapkan oleh Pemerintah tidak
dilaksanakan. Tonny sendiri mengakui bahwa mereka bagaikan
tjatjing kepanasan, bergojang dan berlompatan-lompatan bila
sudah menghadapi penonton. Polah ini mendapat gandjaran jang
lumajan djuga. Pemerintah saat itu berkenan membiajai keempat
bersaudara Koeswojo, mondok di pendjara Glodok selama 3 bulan.

"Bersama kami djuga ditahan 2 orang lainnja. Seorang dituduh
membunuh seorang lagi dituduh korupsi", kata Jon mengenang
peristiwa itu. Soal perasaan sedih diakuinja ada. "Tapi kami
selalu menjanji, sehingga kesedihan itu hilang", katanja. Iapun
rupanja sempat djuga merajakan ulang tahunnja dibalik tali-tali
besi Glodok jang dingin itu, dengan wiski, kopi dan air mata.
"Saat itu saja anggap sebagai komedi. Kami seperti mimpi, ketika
tembok jang keras teraba, baru kami sadar bahwa itu bukan
main-main", kata Tonny memberi bumbu.

Dua hari mendjelang Gestapu mereka dibebaskan tanpa proses
pengadilan. Dari pendjara mereka membawa 6 buah lagu baru,
diantaranja Voor Man, Didalam Bui, Balada Kamar 15. Tetapi masih
tjukup lama setelah itu mereka mengalami masa-masa jang sulit.
Intimidasi masa-masa sebelum Gestapu tetap mengedjar mereka.
"Pemerintah dan pers waktu itu memusuhi kami, meskipun rakjat
tetap menggemari", kata Tonny. Ia menjebut-njebut tingkah Karim
DP jang pernah memberitakan mereka main digeredja membawakan
lagu Beatles. "Padahal saja tahu betul, tidak pernah
melakukannja", kata Tonny. Dengan sebuah kalimat: Koes
Bersaudara, saat itu dalam keadaan mental break down.
Rekaman-rekamannja sendiri sudah djauh meninggalkan Everly
Brothers, jang padu dan sederhana itu. Mereka kehilangan
kegembiraan terperosok kedalam pemamahan tekanan batin mereka.
Mungkin itu sebabnja kemudian mereka menoleh kepada Tuhan dengan
menjanji: Kuserahkan hidupku, semuanja untukmu. Hanja satu
pintaku, djadikan aku dombamu. Lagu jang berdjudul: "Djadikan
Aku Dombamu" itu masih tjukup berhasil. Tetapi dalam lagu-lagu
lainnja, tidak tjukup mejakinkan seperti sebelumnja. Harapan
bahwa Koes Bersaudara akan lahir sebagai grup jang mempunjai
karakter sendiri mulai diragukan, karena dengan terang-terangan
sekali pengaruh Bee Gees menggiring mereka. Misalnja dalam lagu
jang bernama "Rasa Hatiku", duet jang pernah dipudji padu
berubah mendjadi back ground jang ngotot. Tonny jang belum
mengganti gitarnja dengan organ memang tampak lebih kaja dengan
variasi tetapi dalam keutuhan tjiptaan-tjiptaannja mundur.
Lagu-lagu berbahasa Inggris seperti: Three Little Word, To The
So Galled The Guilties, The Land Of Ever Green, The Old Man, Is
Still For giveness, diketengahkan tanpa memperbaiki kedudukan.
Bahkan menimbulkan kesan kompensasi. Soalnja pengaruh Bee Gees
dilahap tanpa persiapan vocal jang matang, sementara harmoni
liar Beatles--seperti jang terdengar pada lagu "Bilakah Kamu
Tetap Disini" belum ditinggalkam Masa mentjari pegangan ini
berlangsung sampai tahun 1969. Selama masa kemunduran ini
diam-diam Koes Bersaudara sendiri telah menanamkan pengaruhnja
pula pada pentjiptaan lagu-lagu pop Indonesia. Kesederhanaan
jang terlalu sederhana dan kekanak-kanakan melanda lirik-lirik
pop. Ia merupakan akibat pentjiptaan plus pembawaan lagu, jang
tidak dilatari oleh keharuan, hanja bertopang atas dasar "laku"
dan "tidak laku" sadja. Maka mulailah zaman jang kalau boleh-
kita namakan "seri binatang", "seri anak aleman" dan "seri
tjinta palsu".

Lirik Lepas Puber.

"Tahun 1969 Koes Bersaudara mendjadi Koes Plus. Itu merupakan
taraf terachir perdjalanan puber kami", kata Tonny. Ia tidak
mendjelaskan apa ada alasan chusus Nomo berhenti memukul drum,
lantas digantikan oleh Murry. Para penggemar mereka tentu agak
sulit djuga untuk membiasakan mengganti kata "Bersaudara"
mendjadi "Plus" dibelakang kata: Koes. Meskipun dalam soal
permainan, Murry memang berarti "plus". Perubahan-perubahan jang
lain setelah di "plus"-kan ini terhitung banjak djuga. Tonny
menukar gitar dengan organ, meskipun tidak sama sekali
meninggalkannja. Suara piano dan plute masuk pula dalam
perbendaharaan instrumen mereka, sehingga lebih mendekatkan lagi
mereka pada musik Bee Gees. Jon lebih sering menjanji sendirian
dengan latar-belakang Tonny dan Jok. Tonny sendiri merasa sudah
tjukup berani untuk tarik suara. Lihat sadja misalnja lagu
Kerontjong Pertemuan--album ke empat jang tidak djelek itu.
Murry sendiripun menjanji --Bertemu dan Berpisah, dalam album
keempat. Sementara Tonny tidak lagi monopoli dalam pentjiptaan
lagu-lagu Jon menundjukkan bakat sebagai pentjipta jang baik,
lihat misalnja album keempat terutama lagu: Bunga di Tepi
Djalan, jang didjadikan djudul album. Dalam keutuhan, disamping
djelas mengarah kepada 'musik manis" dengan tambalan Bee Gees
dan Cats disana-sini, Koes Plus mulai meraih tanda-tanda
kediriannja dengan mentjoba-tjoba mengambil unsur kerontjong,
langgam, jazz bahkan djuga suara berat (heavy-sound). Ini
benar-benar mendjadi sebuah langkah baru jang kalau boleh
dinamakan pendobrakan kepada seri binatang, anak aleman, tjinta
palsu dan sebangsanja itu.

Dalam album pertama Tony jang tetap bertindak sebagai pemimpin
kelompok menjanjikan tjiptaannja jang berdjudul:

**
Hilang Tak Berkesan.
Kuingin berlari sendiri kedepan
kutinggal kasihku berdiri sendiri
Aku berlari tjepat sekali
kutjoba lupakan semua......

**

Tjetusan untuk "mengada" ini bagaikan sebuah reaksi terhadap
penderitaan dalam kehidupan jang dilukiskannja dengan simbolis
dalam tjiptaan Tonny jang bernama "Kelelawar".

**

Kelelawar sajapnja hitam
terbang rendah ditengah malam
Pagi-pagi mereka pulang.
Dibawah dahan bergantungan
Hitam, hitam, hitam!

**

Kepekaan kepada derita, terlihat berachir dengan kesimpulan jang
tidak mati dalam lagu "cerita" Disana Tonny setelah membeberkan
hidupnja jang penuh derita merasakan bahwa achirnja dia
mengerti: semua didunia tiada jang abadi. Maka tidak
mengedjutkan kalau didalam "Tjintamu Telah Berlalu" dia tidak
lagi melukiskan kepedihan tjinta sesaju "Telaga Sunji" dalam
periode Koes Bersaudara. Dengan dewasa dan puitis Tonny kembali
menulis liriknja:

**

Kunjalakan api didalam tungku
dingin sekali malam itu
Namun djauh dingin dalam hidupku
sedjak tjintamu telah berlalu

**

Lagu ini bukan sadja berhasil tetapi djuga sukses dalam
pelemparannja disamping lagu "Derita" dan "Kembali ke-Djakarta"
Dia mengukuhkan kembali harapan peminat musik pop Indonesia
kepada Koes. Organ jang dipilih oleh Tonny ternjata masuk sekali
untuk lagu-lagu sedjenis itu. Meskipun dapat dilantjarkan kritik
tjukup pedas untuk tjiptaan ataupun pembawaan lagu-lagu seperti
"brgembira", "DhegDheg Plas" atau "Hilang Tak Berkesan" sendiri
jang mentjoba menondjolkan improvisasi spontan jang ternjata
masih seradak-seruduk kaku.

Dalam album kedua, rupanja terdjadi perkembangan psikologis.
Setelah musik mereka diterima timbul hasrat-hasrat untuk
melakukan eksperimen. Lahirlah lagu-lagu "Djangan Selalu Marah"
dan "Mengapa Kau Sedih" jang merupakan pertjobaan untuk
berdeklamasi dengan agak konjol. Sementara dalam jang bernama
"Pentjuri Hati" tampak ada hasrat untuk sekadar mentjitjip suara
berat dengan mengeram seperti Led Zeppelin tanpa totalitas jang
baik, sehingga kelihatan merupakan sekadar bentuk djeritan jang
kurang mejakinkan. Lirik-lirik jang puitis didalam album pertama
tidak banjak terdapat dalam album ini. Meskipun demikian album
ini tjukup menarik pula karena adanja Kisah Sedih di Hari Minggu
dan Hidup Jang Sepi -- dua buah lagu manis jang merebut pasaran
djuga disamping Djandjimu, Rahasia Hatiku, Andaikan Kau Datang
dan Bilakah Kau Pulang jang dibawakan dengan baik.

ll Plus Djawa.

Album ketiga jang banjak dimasuki unsur-unsur jazz, menelorkan
sebuah lagu jang laris bernama Selamat TinggaL Muntjul pula lagu
Kasih Sajang jang kemasukan langgam Djawa meskipun tidak terlalu
istimewa. Dalam album inikoor model Beatles kembali muntjul
dalam keadaan jang lebih matang. Misalnja pada lagu-lagu: Hati
Jang Sutji, Selalu Gembira. Suara flute-pun masuk dalam lagu Isi
Hatiku jang mengingatkan kepada tiupan flute Herbie Mann. Murry
sangat menghidupkan situasi dengan pukulan-pukulan drum jang
pasti dan banjak variasi. Dalam lagu Kasih Jang Sutji jang
santai itu, Murry benar-benar merupakan "plus". Sedangkan
sesuatu jang agak istimewa muntjul dalam sebuah lagu monoton
jang bernam Bunga Dan Remadja. Liriknja jang sederhana terasa
sedikit berfilsafat tentang kehidupan:

**

Kemanakah perginja setangkai bunga
Aku tahu, dia kan dipersunting dara remadja
Kemanakah perginja dara remadja
Aku tahu, dia akan dipersunting para teruna.
Kemanakah perginja para teruna
Aku tahu, dia akan pergi mendjadi tentara
Kemanakah perginja semua tentara
Aku tahu, dia akan pergi djuang dimedan laga
Kemanakah perginja tentara jang gugur berlaga
Aku tahu, dia akan ditanam dan mendjadi bunga

**

Kisah setangkai bunga dan remadja. Album ini memperbaiki
prestasi album kedua dalam pentjiptaan maupun pembawaan. Tampak
Koes menjadari dimana letak kekuatamlja, tanpa mentjoba sok
underground lagi.

Album keempat jang muntjul tidak lama berselang setelah album
ketiga menampakkan beberapa pengulangan tema. Tonny dengan
Djangan Berulang lagi, masih mengulang Kisah Sedih di Hari
Minggu, Djeritan Hati -- tjiptaan Jon seolah seri kedua dari
Selamat Tinggal. Jang dapat ditjatat disini adalah muntjulnja
Jon, Jok dan Murry sendiri dengan lagu-lagu tjiptaannja. Tiga
buah lagu Jon: Djeritan Hati, Bunga di Tepi Djalan, Termenung
Lesu dan tiga buah tjiptaan Jok: Why Do You Love Me, Djangan
Sedih, kembalilah terasa lahir sebagai tjetusan jang spontan dan
masih segar. Ini merupakan variasi jang baik bagi Tonny jang
mungkin karena terlalu banjak mentjipta lagu-lagunja jang
terachir banjak jang berseri dan terasa dipaksa keluar. Murry
sendiri mentjoba mentjiptakan. Bertemu dan berpisah jang
sesungguhnja bisa bagus kalau sadja tidak dibawakannja sendiri.
Suaranja belum waktunja untuk diketengahkan. Lain dengan Tonny
dalam Kerontjong Pertemuan -- mungkin dapat dianggap lagu
terbaik jang sudah mengukuhkan dirinja sebagai pantas menjallji
sendiri.

Selain lagu Kerontjong Pertemuan album keempat ini masih satu
periode dengan album-album Koes Plus jang lainnja. Tonny memang
telah menjempurnakan suasana dengan petikan piano jang
mejakinkan dalam Djangan Berulang Lagi dan Why Do You Love me
misalnja. Setjara keseluruhan dalam album ini permainan Koes
Plus lebih padu. Tanpa keraguan lagi sebagaimana terlihat dalam
album kedua. Ia telah menemukan dirinja kembali jang hilang
setelah keluar dari pendjara. Konon album kelima telah pula
diselesaikan.

Kontemporer.

Remy Silado jang dikenal sebagai tukang tjari tjatjad musik pop
di Indonesia, pernah mnjatakan bahwa lagu-lagu seperti jang
dinjanjikan oleh Titiek Sandhora adalah sampah. Berhadapan
dengan Koes Plus ia berkata: "Mereka punja lirik jang kuat.
Lirik maupun unsur melodinja seimbang. Selain komunikatif, djuga
ditambah dengan unsur-unsur kesederhanaan melodik nja".
Kritiknja pada musik-musik Koes: "Semuanja selesai sampai
disana. Mereka hanja mengharap publik suka atau tidak suka".

Titiek Puspa, biduan dan pentjipta jang tak pernah laju, memudji
Koes Plus dalam pertemuannja dengan para remadja di Gelanggang
Remadja Bulungan. Menurut Titiek, Koes Plus adalah grup jang
bebas dari pembadjakan dan pendjiplakan, jang mempunjai ide dan
tjiri chas. Sementara Bing Slamet dalam tekadnja untuk
menghidupkan kembali kerontjong, sempat pula mengukuhkan Koes
Plus sebagai rombongan musik jang berhasil dan bermutu.

Taufiq Ismail, penjair jang bermukim di DKD berkata pula kepada
TEMPO bahwa ia termasuk penggemar Koes Plus. Alasannja: musik
Koes Plus puitis. Sedangkan ketua DKD sendiri Omar Khayam, dalam
pekan seni kontemporer tahun lalu telah berani mengetengahkan
Koes Plus sebagai salah satu nomor Alasannja Koes Plus dapat
menampung keinginan dan selera kaum muda masa kini.

Dan apa kata Koes Plus sendiri tentang dirinja? Terhadap tuduhan
dan sindiran sementara kalangan jang bermaksud mengetjilkan,
dengan berbagai predikat misalnja dengan mengatakan bahwa
mereka"Bee Gees Djawa"? Atau bahwa mereka itu-itu sadja? Bahwa
mereka tidak mempunjai "stage act" jang baik? Berkata Tonny jang
melakukan tugas djubir: "Memang kami kurang sekali dalam soal
acting. Memang kami terpengaruh djuga oleh Bee Gees. Sebenarnja
kami telah mentjiptakan lagu-lagu kami sebelum Bee Gees ada,
tapi mereka duluan terkenal, sehingga orang berpendapat kami
jang meniru mereka". Utjapan Tonny ini bisa sadja tidak di
pertjaja. Meniru atau tidak meniru achirnja selesai setelah
musik itu dapat berkomunikasi dengan publik. Hanja dalam hal
membandingkan Koes Plus dengan musik-musik jang menganut paham
lain djelas-djelas tidak mungkin dilakukan. Seperti kata Tonny
sendiri: "Mas Khayam bilang saja ditantang AKA. Lho kok lutju.
AKA kan band jang akan membawakan musik underground Barat,
bagaimana mereka mau menantang Koes Plus? Kalau mereka mentjipta
sendiri, baru kita bisa lajani. Saja sebetulnja kepingin sebuah
festival band dan bukan hanja sekedar jambore. Di mana misalnja
satu lagu seperti Bengawan Solo, didjadikan bahan untuk mengudji
aransemen masing-masing grup jang ambil bagian", demikian Tonny.

Yang mengikat, yang membawa, yang ...
Perjalanan hidup koeswoyo, dan anak-anaknya yang tergabung dalam grup koes bersaudara, yang berkembang menjadi koes plus. profil pribadi tony, yon, yok, nomo, plus murry. koes bersaudara akan muncul kembali. IKATAN kekeluargaan agaknja merupakan faktor jang paling penting
mengapa Koes Plus d/h Koes Bersaudara dapat bertahan sampai
sepuluh tahun. Jon Koeswojo mendjelaskan ada satu faktor lain.
"Masing-masing keahlian saling disadari oleh setiap orang dari
kami", katanja. Maksudnja: kesadaran itu membawa toleransi djuga
dalam pembagian rezeki mereka. Tidak rahasia lagi bahwa faktor
pembagian rezeki bukan hal jang sepele dalam grup-grup jang
kakap maupun jang ingusan. Djustru itulah jang sering membuat
sengketa. "Tonny karena dia jang mengasuh dan tertua, tentunja
mendapat honor jang lebih tinggi dari saja, begitu pula dengan
jang lain. Kami saling menjadari", kata Jon. Dalam pembagian
selengkapnja disisihkan bagian-bagian untuk keperluan kas, untuk
memelihara alat-alat, buat orang tua dan buat anggota. "Kalau
dulu kami kekanak-kanakan, sekarang lebih dewasa", kata Jon,
agaknja ia teringat bagaimana mereka tjektjok diatas panggung
PPBI Jogja selama masa Koes Bersaudara.

Rumah mereka berdekatan disebuah kompleks didaerah Tjipete jang
penuh pohon rambutan. Disalah satu podjok tinggallah orang tua
mereka, jang selalu menasehati anak-anaknja agar "mawas diri".
"Jang sering dilakukan dalam grup lain, jakni para anggota jang
merasa dialah jang paling berguna sehingga menimbulkan
perpetjahan, tidak ada lagi pada kami", kata Jon. Ia
mendjelaskan pula, untuk mengokohkan hubungan sehari-hari jang
berlangsung baik, diadakan pula rekreasi-rekreasi bersama.

Bagaimana dengan soal-soal asmara? Tidak ada jang terlalu
istimewa. Artinja belum pernah terdengar skandal besar tentang
mereka. Memang pernah djuga ada desas desus bahwa Jon ada main
dengan Susy dari Dara Puspita. Dan Nomo pernah berkentjan dengan
Tanty Josepha. Atau Tonny jang terpaksa mengaku orang Batak
supaja berhasil menikahi isterinja. Lebih dari itu, Koes Plus
memang bukan Rendra jang suka mempublikasikan kehidupan
pribadinja, walaupun Tonny mengaku sedjalan dengan penjair itu,
karena merasa dalam dunia musik djuga orang "urakan".

TENTANG KOESWOJO.

Koestono, Koesnomo, Koesjono dan Koesrojo jang kemudian lebih
suka dipanggil Tonny, Nomo, Jon dan Jok, keempat-empatnja putera
Koeswojo. Orang tua jang berputera 8 orang ini kini sudah
berusia 69 tahun. Sebelum mendjadi pegawai kabupaten Tuban,
pernah mendjadi Asisten Wedana di Babat. Tahun 1951 ia bojongan
ke Djakarta mendjadi pegawai Departemen Dalam Negeri. Empat
tahun kemudian menerima pensiun, langsung bekerdja di Bank,
kemudian membuka perusahaan tembakau di Solo. Sementara itu
Koes-Koes berempat tetap tinggal di Djakarta main musik.

"Sebetulnja bapak anti, sebab anakanak itu diharapkan madju
dalam pendidikan", kata Koeswojo. Ajah jang suka musik Waltz ini
mengabarkan pada mulanja tidak melihat tanda-tanda bakat musik
pada putera-puteranja. Tahutahu sadja isterinja Atmini jang
meninggal tahun 1969, menerima permohonan para putera untuk
dibelikan alat musik. Koeswojo bermula mempunjai rasa tidak
enak, apalagi kalau-kalau sedang ngobrol dengan kawan-kawannja
tentang kemadjuan putera-putera mereka. Tetapi kemudian tidak
dapat berbuat apa-apa. Ia mengalihkan pikirannja. "Insinjur
tjari duit, Dokter tjari duit, tukang musik djuga tjari duit",
katanja menjabarkan hati.

Bung Karno.

Semasa Koes Bersaudara dalam pendjara Koeswojo pernah mentjoba
menemui Bung Karno atau Fatmawati. Gagal. Dengan takdjub ia
mengeluh: "Orang salah njanji kok dihukum?" Pertanjaan ini
didjawab oleh Bung Karno dalam pidatonja tanggal 17 Agustus
1965: "Djangan seperti kawan-kawanmu Koes Bersaudara. Masih
banjak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan".
Koeswojo jang sangat memperhatikan pidato itu ingat sekali bahwa
satu-satunja band jang disebut Bung Karno adalah keempat
anaknja.

Kini, setelah Koes Plus kembali merdeka menjanji, bagaimana
pendapat sang bapak? "Sebetulnja lagu-lagunja nggak ada jang
saja senangi", djawab orang tua itu djudjur. "Lagu-lagu Koes
Bersaudara bagi saja lebih mengesankan. Misalnja lagu Pagi Jang
Indah Sekali jang sederhana itu". Selandjutnja, sebagaimana
galibnja para orang tua, Koeswojo memberi petuah pada
putera-puteranja: "Lagu-lagu kalian hendaknja bisa dinjanjikan
sampai kelapisan tukang betjak. Djangan hanja dinikmati golongan
intelek. Mereka itu sudah senang, dikasih lagu ja tambah
senang".

DUNIA TONNY.

"Djika saja bukan diri saja sekarang, jang saja sukai adalah
saja sendiri", kata Tonny Koeswojo. Ini tjukup sebagai petundjuk
betapa kejakinan putera sulung Koeswojo ini kepada dirinja.
Dengan tubuh runtjing, rambut gondrong dan kumis, ia telah
berhasil menghasilkan 70% dari semua lagu jang dinjanjikan oleh
Koes Bersaudara dan Koes Plus. Tanpa kehilangan kontrol ia
menamakan dirinja orang urakan dalam musik. Dua orang putera
jang didapatnja dari isterinja orang Medan tidak menenggelamkan
kariernja keatas dapur dan tempat tidur keluarga. Tampaknja ia
sudah berhasil bekerdja sama dengan musik dari segi karier
maupun periuk nasi. Pekerdjaan jang tjukup tidak mudah.

Kesederhanaan, kerendahan hati dan keinginan untuk selalu kontak
seperti jang selalu tampak apabila ia menggiring atjara, jang
djuga merupakan tjiri dalam tjiptaan musiknja, bertolak dari
sikap hidup jang djelas. Ia memandang hidup dari segi komiknja,
walaupun tjiptaan-tjiptaannja sendiri selalu bertjerita tentang
sepi, sunji dan leharuan jang bertolak dari luka tjinta. Ia
mengaku suka filsafat sedjak zaman Koes Bersaudara. Bedanja:
"Waktu zaman Koes Bersaudara kami beranggapan kita berbuat dosa
karena titik pangkalnja dari Tuhan, djadi soalnja kembali kepada
Tuhan. Sehingga kami sering nekad", kata Tonny. Bagaimana
sekarang? Pemimpin band jang mempunjai perawakan dan gerak gerik
mirip WS Rendra ini mendjawab: "Saja orangnja tidak mau pertjaja
begitu sadja tanpa kejakinan. Saja tidak mau pertjaja begitu
sadja pada Qur'an kalau saja tidak mengerti. Soalnja pertjaja
sadja tanpa disertai alasan dan argumentasi untuk pertjaja tidak
kuat, sama seperti kita pertjaja kepada djimat".

Kawabata. Orang jang pernah bergaul dengan manusia satu ini akan
tjepat sekali menjadari bahwa intelegensinja tidak sama dengan
musisi-musisi pop jang banjak ditemui kini di Indonesia. "Ia
mempunjai bobot", kata seorang penggemarnja memudji. Pudjian
tersebut tjukup beralasan kalau kita ikuti pengakuan Tonny,
bahwa disamping memegang gitar, organ dan piano dia djuga
memegang buku. "Saja membatja Bagawad Gita, Gitanjali,
Shakespeare", kata Tonny. "Disamping itu jang saja rasakan punja
pengaruh pada saja adalah Kawabata, itu pengarang Djepang jang
baru sadja dikabarkan bunuh diri minggu lalu. Sedangkan Walt
Whitman memang hebat, tetapi achir-achir ini saja kurang suka.
Penjair-penjair Indonesia seperti Chairil Anwar djuga saja
sukai"

Kita tidak akan susah-susah untuk mengusut apa semua itu benar.
Lirik-liriknja sedjak zaman Koes Bersaudara, sebagaimana
terlihat dalam "Sendja" atau "Telaga Sunji" misalnja, tjukup
menundjukkan dasar batjaan jang bukan hanja komik atau
roman-roman pitjisan. Sadjak jang tertjipta pada udjung kalimat
lagu-lagunja lahir dengan wadjar, dari suasana batin jang
puitis. Terhadap lirik-liriknja ini Tonny berkata: "Sekarang
kita mentjipta dengan lirik-lirik sederhana. Saja soalnja tidak
suka sjair - di wadjahmu kulihat bulan jang tidak realistis.
Saja kepingin meskipun sesuatu itu harus indah, tetapi tetap
realistis". Sikap untuk menerima apa seadanja ini, dipakainja
pula untuk merasionalisasi kekurangan "gaja"-nja dalam
membawakan lagu-lagu diatas pangung. "Kami bertitik tolak pada
kewadjaran. Paling-paling gojang kepala mengikuti irama bas.
Karena kami selalu mengusahakan mentjiptakan musik-musik jang
sederhana tetapi bagus", kata Tonny.

Pendjiplakan.

Dalam mendjawab, apakah Koes Plus barat asli, ketimbang menulis
sjair-sjair berbahasa Inggeris, Tonny menanggapi: "Saja
sebetulnja segan menjanjikan lagu barat, tetapi selamanja saja
seperti dibajangi oleh sedjumlah penonton jang kelihatannja
menginginkan kami menjanjikan lagu barat. Bagaimanapun bagusnja
tidak puas kami menjanjikannja karena jang terang lagu itu
imitasi". Tapi ia mengaku pula bahwa pada zaman Koes Bersaudara
ia menduplikat The Everly Brothers dan Ricky Nelson serta
membadjak sebuah lagu Hawai mendjadi sebuah lagu bernama
"Dipantai Bali" Tetapi terhadap ini sgera disuguhkannja alasan:
bahwa fase-fase pendjiplakan selalu akan dilalui oleh
penjanji-penjanji. "Hanja sekarang ini prinsip Koes Plus, selama
kita mampu akan terus mentjipta", katanja. Bahkan ia menambahkan
pula bahwa ia bermaksud menjusun komposisi musik gamelan pop.
"Kita tidak perlu dalam pentjiptaan pergi djauh-djauh keluar
negeri seperti Beatles mentjari sitar ke India", katanja.
"Kekajaan musik Djawa, Bali, Sumatera dan berapa banjak lagi,
tak kan habis-habisnja untuk digali".

Bila terhadap sumber inspirasi ia tak merasa kekurangan, dalam
soal penghargaan materiil dari pihak perusahaan piringan hitam
ia malah mengandjurkan. Baginja sistim flat, kurang memberikan
kesedjahteraan padanja, sementara hasil rekamannja djuga didjual
lewat kaset-kaset. Konon seorang anggota DPR pernah mau mendesak
pemerintah turun tangan dalam soal itu, Tonny menolak. "Bagi
saja masjarakatlah jang seharusnja diperbaiki keadaan hidupnja
dimana kalau penghasilan mereka baik, kamipun terbawa serta".

JON & JOK PLUS MURRY.

Diatas panggung Jon dan Jok mempunjai perbedaan jang djelas. Jon
selalu tenggelam dalam lagu-lagu jang dibawakannja dengan penuh.
Ia menjentak gitar dan emosinja sementara rambutnja berhamburan
menutup sebagian mukanja. Jok sendiri jang mempunjai suara
melengking tinggi selalu kelihatan tjanggung, tak pernah
menemukan keserasian antara tubuh dan suaranja. Ia tidak
mempunjai selera jang baik dalam berpakaian, sematjam
keserampangan. Namun demikian lagu-lagu tjiptaannja tidak lebih
djelek dari kepunjaan Jon. Keduanja mentjipta sama baik.
Walaupun setelah keluar dari masa Koes Bersaudara, Jon lebih
menundjukkan bakat sebagai penjanji solo dari Jok sendiri.

Jon abang Jok, putera kelima Koeswojo, lahir di Tuban 27
September 1943. Kini sedang menanti kelahiran puteranja jang
pertama. Pernah mengikuti kuliah tingkat persiapan Universitas
Res Publica (sekarang Trisakti) djurusan Arsitektur. Sedjak SMA
menjenangi Ricky Nelson dan Everly Brothers. Sampai kini sudah
mentjiptakan 9 buah lagu, semuanja berirama blues. Dia suka
klasik dan pop. "Jaz saja tidak begitu senang, tidak menusuk
perasaan. Jazz kan lagu sambilan sadja", katanja. Mendjawab soal
masa depan, Jon tampaknja tidak seawas Tonny. "Bidang pop entah
kemana tudjuannja, saja sendiri tidak tahu", kata Jon. "Saja
memang bertjita-tjita mendirikan perusahaan dengan modal
sendiri. Kalau dapat nantinja djadi grup jang populer".

Petani.

Jok jang lebih gondrong dan djuga lebih pendiam, tampak lebih
tua dari abangnja. Ia kelihatan tidak mempunjai ambisi sebesar
Jon. Selintas ia kelihatan bertampang atjuh tak atjuh,
perhatiannja hanja pada bass gitar jang mendjadi bagiannja.
Pendidikannja hanja sampai di SMA Triguna. Ia senang kepada
Cliff Richard pada masa ketjilnja, sampai sekarang. "Umumnja
saja senang lagu-lagu lembut, musik underground kurang
tertarik", katania. "Beatles walaupun tjepat tetapi beat-nja
manis". Lain dari Tonny dan Jon, Jok tidak banjak mentjipta.
Kepribadiannja sederhana dan dewasa. Tjita-tjitanja djuga
sederhana. "Soal masa depan, pasti mas, djelas sudah saja
pikirkan. Kalau Koes Plus bubar saja akan mendjadi petani biasa.
Pokoknja saja bisa hidup tenang. Saja tidak pernah pegang uang,
semua saja serahkan pada isteri".

Murry jang menggantikan Nomo memegang drum, bergabung karena
menemukan persamaan selera. "Saja merasa sedjiwa dengan mereka",
katanja mendjelaskan. Untuk alasan itu ia terpaksa menanggalkan
keanggotaan band "Patas" (milik Kedjaksaan) jang mulai tahun
1968 diikutinja. "Lagu-lagu tjiptaan Koeswojo bersaudara
mengarah-arah klasik, saja sendiri suka lagu klasik disamping
musik lembut", kata Murry jang djuga rupanja lagi menanti
kedatangan bajinja jang pertama. Sebagaimana ketiga rekannja,
iapun gondrong bertjambang, menjanji dan mentjipta lagu. Sampai
kini sudah tiga buah tjiptaannja, dengan tjiri langgam Djawa.
"Saja djadi terpengaruh oleh mereka dan ikut mentjipta, padahal
dahulu saja hanja menjanji", katanja. Arek Surabaja jang berusia
23 tahun ini ingin sekali meniru Beatles terutama John Lennon.
Tonny menamakan dia sebagai anak jang penuh perdjuangan.
Pentjipta lagu "Doa Sutjiku" jang tjukup digemari ini, hidup
terpisah dari Koes Bersaudara. "Murry tidak tinggal disini,
nggak mau katanja karena takut tjektjok. Dia tekun, penuh
dedikasi, sekarang dia saja paksa melijanji Bagus djuga. Saja
suka sama dia", komentar Tonny membanggakan anggotanja.

NOMO JANG HILANG.

"Sering kalau suatu saat bila saja mendengar njanjian
saudara-saudara saja, hati saja sering terharu. Lebih-lebih
djika lagu itu adalah lagu-lagu zamannja Koes Bersaudara, dimana
saja turut andil dalam bentuk pukulan-pukulan drum", kata Nomo,
alias Koesnomo Koeswojo ditempat tinggalnja Bandung. Kini ia
giat dibidang dagang. Djual beli rumah, mobil dan sebagainja. Ia
jang mengaku tidak pernah menjanji dan menulis lagu dalam
zamannja Koes Bersaudara, merasa mempelopori menjanji meniru
Everly Brothers dengan bantuan Jan Mintaraga, ketika
rombongannja masih bernama Koes Brothers. "Saja tidak berbakat
membuat lagu dan suara saja agak djelek dibandingkan dengan
saudara saja", kata Nomo.

Selisih.

Tahun 1968 adalah awal selisih antara Nomo pemain drum dengan
abangnja Tonny. Soalnja Nomo minta kepada Tonny agar tidak
mengandelkan kehidupan dari musik sadja. "Main musik ja main
musik, tapi djangan main musik tok. Tjari usaha bisniz lain",
usul Nomo. "Achirnja hidup ini tidak dapat hanja ditundjang oleh
musik", katanja pula. Rupanja dalam hal ini Tonny kurang
setudju. Maka terdjadilah pergeseran ditahun 1969, tatkala nama
Koes Plus- mulai dipakai. Murry menggantikan Nomo, sedangkan
Nomo diangkat sebagai ofisial Koes Plus.

Sesudah mendjadi pedagang Nomo jang sudah punjaanak kelihatannja
tidak dapat benar-benar-lepas dari kenangan masa-masa silamnja.
"Saja tidak patah arang dengan musik", katanja. "Saja masih
tetap merindukan kembalinja Koes Bersaudara. Walaupun tidak
terlalu pasti saja jakin bahwa Koes Bersaudara akan kembali",
katanja. Tapi utjapan ini djangan disalah tafsirkan. Koes
Bersaudara jang dirindukannja kembali itu, adalah Koes
Bersaudara jang tidak hanja bergerak dibidang musik, tapi Koes
Bersaudara "Coporation" jang bergerak dibidang musik dan bisniz.



Disarankan: 0
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print


 

-------------------------------------- hit
Image ****************************************** ****************************************** Image Image Image ******************************************* ******************************************* ================================= Photobucket @@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@ Photobucket
Koesplator
 
    » Profile
    » Buku Tamu
kolam susu kencana fm 98,6
kpp live in jogja
on air / online lagu-lagu kbp
discography album kbp
malam empat puluh lagu 1973
Arsip Blog 
CARI BLOG:
Malam Kudus & Hari Natal (1...
Dewi Rindu - Kus Bersaudara...
Jamane - Koes Bersaudara (1...
Untuk Dia (1973)...
Why Do You Love Me - Yon & ...
Duet Maut Yon dan Yok Koesw...
Album Koes Plus / Bersaudar...
rianz
happy_hippie_hippo
selly_chuu
harumi
mayzal01
Total: 193 
dadakoe band
q suka lagu terlalu i...
isi komentar kamu di ...
band mana di indonesi...
thank's ya buat boz w...
apakah ada yang punya...
 
 
Created on:
Selasa, 3 Juli 2007 @ 21:12 WIB
 
   
 
Mind Mapping - cara baru untuk ngeBlog!
BlogGaul mau berubah ...
Punya siapa nih??
Lombanya Risa
Tebarkan Amalan, tebarkan Senyuman
untuk ansera
kerapuhan di balik ** kes...
01.30 wib
penjahat kemanusiaan
kesetiaan sebuah berang-b...
lovin asia
alsa.want.a.blog. :)
bisnisyahoo
software pulsa
qisthon
 
   
   
    Copyright © 2004 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI