Empat buah grup yang sedang menanjak namanya, koes plus, panbers, mercy's dan rhapsodia pentas di senayan, dalam acara jambore safari. koes plus belum tertandingi oleh grup lain dalam menarik penonton. BUKAN main padatnya. Yang tidak kebagian pintu resmi, nyerobot liwat jendela kaca di bagian atas Istora Senayan. Para penjaga keamanan tidak dapat bertindak lebih dari memandang saja massa yang bagaikan semut itu. Perbatasan kelas, pagar besi yang bagai tumbak ujungnya, dilompati saja seperti orang melompat galah. Sementara yang masih bertahan di pintu resmi hanya bisa saling dorong-mendorong atau menjerit kalau kena pencet. Orang-orang penting di lantai yang datar tak mendapat perlindungan lagi. Garis batas telah roboh. Maka popor anggota-anggota keamananpun diacungkan ke kepala penonton sambil mengingat zaman demonstrasi dulu.
Semua itu terjadi satu malam dibelakang malam tahun baru 1973. Kegiatan yang sukses itu, bernama jambore Safari menampilkan empat buah grup yang sedang menanjak namanya. Koes Plus, Panbers, Mercy's dan Rhapsodia. Bangunan yang berkapasitas 100.000 pantat itu tumpat padat melebihi targetnya. Kurang jelas adakah ini bukti bahwa kini zamannya musik grup atau memang saat pertunjukannya tepat. Yang pasti tentunya orang tertarik karena kesan nya seperti sedang diadu. "Yang diadu hanya ayam". kata Charles dari grup Mercy 's yang menolak menamakan acara itu sebagai medan pertarungan antar grup.
Oloan Sitompul dan Tatiek Tamzi telah berhasil meletakkan batu pertam dengan meyakinkan. Akibatnya semut semut liar yang tidak bisa dikuasai oleh petugas keamanan itu dengan sukarela menaklukkan diri di bawah kalimat kalimat ramah meskipun cuma dibuat buat. Lampupun padam dan panggung mulai menyala karena di situ telah berdiri rombongan Rhapsodia dari Bandung, dengan lima orang pelakunya. Tidak menunggu kesempatan baik, segera saja mereka menampilkan seorang solisnya untuk memuntahkan lagu panas sambil berjingkrak. Keplokpun lantas menghujani mereka. Bukan keplok tanda kesenangan - sekedar menyambut mulainya acara. Selebihnya Rhapsod terpaksa menderita peluru-peluru tajam dari penonton berupa teriaan yang menyuruh mereka turun, karena mereka memaksakan juga untuk menyelesaikan lima buah lagu.
Hancurnya sebuah. Panbers dengan peralatan sitarnya mencoba mengganti. Disertai salam perdamaian yang sudah klise itu - mengacungkan dua jari mereka segera menarik lagu bernama Pilu. Para penonton mencoba menikmati juga. Tapi percohaan tidak berlangsung lama karena teriakan turun segera pula dilontarkan. Untunglah dalam jambore itu masih ada grup Medan bernama Mercy's. Tatkala mereka naik panggung, suasana menghina dari arah penonton mulai dapat dikurangi. Apalagi sesudah itu muncul pula Koes Plus. Keadaan tiba-tiba berubh. Orang-orang tidak berteriak lagi. Suasana menjadi gembira dan menyenangkan. Demikianlah babak pertama jambore tersebut berakhir dengan kata "sukses" masih tetap berada di tangan Koes Plus, dan kata "bolehlah" untuk Merc's. Pada babak kedua keadaan tidak berbalik. Rhapsocia yang sudah babak-belur di babak satu benar-benar ditimpa kemalangan seperti judul lagunya yang agak berhasil dinyanyikan malam itu: Hancurnya sebuah harapan.
Tidak kurang dari empat puluh lagu secara borongan dinyanyikan malam itu. Istora, yang telah mengadili para pemain bulu tangkis di waktu-waktu lalu, malam itu memberikan pula putusan-putusannya. Gerak-gerik kelompok Rhapsodia yang rupanya ingin menggolongkan diri ke dalam jenis musik underground ternyata tidak meyakin kan. Apalagi tatkala salah-seorang anggota berusaha menaiki sebuah pengeras suara, ia nyaris jatuh kalau tidak segera dipegang. Bukan karena jenis musik atau pola penyuguhannya, tapi karena hal tersebut kentara sekali tidak seimbang dengan bobot mereka sendiri. Musik ulderground bukanlah musik para pemuda yang jiwanya masih mentah. Ia memang ekspresif tetapi bukan tanpa kontemplasi. Sementara itu Panbers yang suka juga menyanyikan musik keras, tampak lebih dewasa dari Rhapsodia. Kekurangannya pada malam itu: belum banyak lagu-lagunya yang menjadi milik pendengar. Sedang kenyataan nya, publik malam itu lebih banyak menuntut kenikmatan telinga daripada sensasi mata.
Jadi kesenangan. Mercy's yang tampak kecut pada permulaannya, ternyata mendapat tempat lumayan. Terutama karena hampir semua lagu yang dinynyi kannya berasal dari rekaman pertama dan sudah menjadi milik pendengar. Charles yang pernah merasa bahwa rekaman pertama itu hanya akan menjadi kenang-kenangan hari tua, tentunya sudah punya pendapat lain sekarang. Hanya saja patut disayangkan, mereka yang mengaku dipengaruhi irama Deli ini tidak segera menetapkan bahwa dengan pola dan warna mereka, mereka sesungguhnya pantas untuk musik manis. Dan musik seperti itu aksinyapun seharusnya sederhana saja. Tidak perlu seperti Albert yang meniup sax dengan gerak pantat "begitu".
Pada akhirnya memang Koes Plus belum dapat dikejar grup lain dalam mengumpulkan massa. Apalagi Yon sendiri mengaku dengan sederhana bahwa mereka masih akan selalu mengikuti selera masyarakat. Malam itu, sebagaimana biasanya, Tony kembali mengadakan kontak langsung dengan penonton. Inilah kunci Koes Plus Tahu keinginan publik, merekapun menyanyikan lagu lania seperti Senja, Telaga Sunyi dan sebagainya, sampai pada hasil-hasil mereka yang baru seperti Why do you love me. Ini yang tidak dipunyai atau kata kanlah diabaikan grup lain. Tony yang kelihatan sudah memperhitungkan benar bagaimana memilih tampang kalau muncul, dalam jambore itu berkata dengan pintar: "Bermain bersama grup lain seperti ini memang sudah lama kami tunggu, sesuai dengan judul lagu kami ini". Kemudian dinyanyikannya lagu menanti. Penonton, begitulah, jadi kesenangan.
loiyloiSenin, 24 November 2008 @ 15:46 WIB
 (Reply)
whehehe.. kmaren sabtu liat koes ploes berasudara di kick andy :d
maryoSenin, 24 November 2008 @ 17:02 WIB
 (Reply)
wew, tapi udah lama banget ya...
gifri windhuSelasa, 25 November 2008 @ 12:48 WIB
 (Reply)
bagaiman pun koes plus tetap nomor satu... panbers,mercy's,dloyd...lewat!!!!!! pokoke koes plus
didietSenin, 22 Desember 2008 @ 12:35 WIB
 (Reply)
band mana di indonesia nyang bisa nandingin super group ini . . . brapo eyang yon . . . . . . . . . .
nindySenin, 22 Desember 2008 @ 12:37 WIB
 (Reply)
isi komentar kamu di sini!
nindySenin, 22 Desember 2008 @ 12:40 WIB
 (Reply)
q suka lagu terlalu indah dilupakan sama hidup yang sepi, memang lagu2nya apa aja sich?