| |
K2K Production, Keke Dheraj, akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya, film produksinya Hantu Puncak Datang Bulan akhirnya bisa tayang di bioskop se-Indonesia. Namun dengan terlebih dulu berganti judul jadi Dendam Pocong Mupeng.
Itu setelah film yang dibintangi sejumlah aktris ’’panas” – seperti Andy Soraya, pedangdut Tessa Mariska, dan Lio ’’Trio Macan’’-- ini sempat tertunda jadwal tayangnya. Film ini sempat mendapat protes keras dari Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Film yang disutradarai Steady Rimba ini dinilai tak layak jadi tontonan masyarakat.
Alasannya banyak berisi adegan ’’panas”. Misalnya, saat adegan Andy Soraya dan kekasih brondongnya, Ferly Putra, bermesraan di kamar mandi atau kolam renang. Belum lagi, adegan setengah bugil Andy Soraya dan tarian erotis Tessa Mariska, membuat film ini ditentang FPI dan MUI.
’’Meski judul ganti, tapi isi film masih tetap sama. Kami memertahankan film ini harus diputar lagi, karena biaya produksi yang sudah kami keluarkan kurang lebih sebesar Rp 4 miliar harus bisa balik modal,” ungkap Keke.
Meski begitu, Keke tetap melalui prosedur. Yakni, film harus lolos Lembaga Sensor Film (LSF) terlebih dulu. Pihaknya tak mau rugi kedua kalinya. Saat itu 43 copy film yang sudah diedarkan di 84 bioskop se-Indonesia terpaksa ditarik kembali.
Menurut Keke film gagal tayang karena FPI dan MUI sudah menonton triler film ini di internet sebelum disensor LSF. ’’Padahal film ini bukan film porno, tapi horor–komedi,” tandasnya.
Keputusan menayangkan lagi film ini –pasca ganti judul-- ternyata tetap mendapatkan protes MUI, Jumat (12/3). Padahal, terang Keke, film ini sudah mendapatkan izin tayang dari LSF. Dalam protesnya itu, MUI tak ingin disalahkan atas lolos tayangnya film horor esek-esek –seperti Dendam Pocong Mupeng– ini di bioskop Indonesia. MUI mendesak pemerintah segera mencabut film semacam itu.
Menurut Mira, bila para sineas mau kreatif dan tak hanya mengejar kuantitas, maka masyarakat Indonesia akan terbiasa dengan tontonan yang memiliki kandungan pesan moral dan edukasi yang positif ketimbang hanya menyuguhkan aurat kaum hawa. Buktinya, film sekuel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi produksi Miles tetap mampu menyedot jutaan penonton tanpa harus mengandung unsur horor dan eseks-eseks.
Namun apa yang diungkapkan MUI itu ditampik oleh Keke. Menurut dia, film tetaplah sebagai hiburan. Saking tidak pedulinya dengan pesan moral, hingga kini Keke sudah memproduksi 10 judul film dengan tema dan genre sama. Bahkan tahun 2010 ini, Keke sudah menyiapkan 7 judul film seperti itu.
’’Hanya genre itu yang mampu dijual saat ini. Kami tak mau rugi. Bagi saya, film hanyalah hiburan. Film yang berbau pendidikan sekarang hanya mampu menyerap penonton paling banyak sekitar 50 ribuan orang,” ujarnya di Setiabudi Building, Jakarta, Rabu (10/3) lalu.
Memang belakangan layar bioskop kita dipenuhi oleh film produksi sineas dalam negeri. Namun bumbu komedi, seks, horor atau gabungan dari semuanya seperti berkumpul di sana, seolah tak ada tema lain yang bisa dibuat para sineas kita. Menurut sutradara film Arisan Brondong, Helfi Kardit, banyak alasan mengapa produser sampai mengambil langkah itu. Selain masalah selera pasar, rupanya ada masalah lain.
’’ Kendala bujet menjadi masalah awal. Kalau dibandingkan dengan film Hollywood misalnya, berbeda jauh. Di sana support untuk dana besar tak masalah. Di sini mencari Rp 2 miliar saja sudah harus putar otak,” ungkap Helfi di Senayan Jakarta belum lama ini.
Sutradara yang memulai debutnya lewat film Hantu Bangku Kosong ini mengaku, bukan tak pernah mencoba membuat karya-karya yang bermutu seperti film yang bernilai edukatif. Ia pernah membawa proposal film Perang Paderi. Biaya yang dibutuhkan kira-kira Rp 20 miliar. Tapi investor pasti berpikir, kapan bisa balik biayanya. Begitulah, menyatukan antara kreatif dengan bisnis ternyata adalah hal yang sulit.
Yang penting baginya, industri film itu terus berkembang. ’’Bisa mendapat 500 ribu penonton saja sudah happy,” imbuh pria kelahiran Padang, 7 Agustus 1974 ini.
|
|