|
Busway, You've gotta be kidding me!
Senin, 25 February 2008 @ 18:08 WIB - Diari

Langit bergemuruh pelan. Gulungan awan hitam bergelayut, enggan menyingkir dari mentari pagi yang seharusnya sudah bersinar di pukul setengah enam. Kuhela nafas pedih sembari menatap ke arah langit dari balik teralis kamar kos di bilangan Jakarta Barat. Hari ini merupakan hari terakhirku bekerja di salah satu software house di wilayah Artha Gading. Ya... aku sudah memutuskan untuk keluar tepat hari ini.... Tepat satu bulan setelah aku bekerja disana. Ayah menyarankanku untuk keluar setelah mengetahui aku cukup sering pulang malam dan jarak kos keduaku yang berlokasi di Semper juga terkenal rawan. Surat pengunduran diri sudah kuajukan dan hari ini adalah hari terakhir kuberjumpa dengan teman-teman. “Belum berangkat kak?” Adikku menyadarkanku dari lamunan. “Iyah, kakak berangkat. Assalamu’alaikum.” Enggan kumenjawab. Ada firasat buruk menyergap batin. Gerimis kecil sisa badai semalam masih menahanku untuk berangkat. Namun dorongan batinku yang lain memaksaku menerobos dinginnya pagi berbekal payung dan jaket yang melekat di tubuh. Setengah berlari kuterobos rintik hujan menuju halte busway Jelambar selepas turun dari minibus bernomor 88. Kuberusaha melindungi tas yang kubawa. Kunaiki jembatan penyebrangan busway dengan hati-hati. Hujan deras semalam membuatnya basah dan licin. Sepatu pantovel yang kukenakan sepertinya begitu licin bahkan untuk digunakan berdiri. Perlahan sambil berpegangan dengan pembatas jembatan, aku melangkah naik. Selintas kulirik tempat antrian bus “AAAAAAAAH!” Aku menjerit panik. Tampak banyak sekali orang sudah berkumpul di depan pintu jurusan Senen. Aku mempercepat langkahku. Namun baru hendak turun menuju loket karcis, aku terantuk lembaran besi yang mencuat keluar dan nyaris membuatku tersungkur ke depan. Untunglah gerak reflekku cukup baik sehingga aku bisa langsung berpegangan pada pagar pembatas dan tidak jadi tersungkur. Ah... rasanya shelter ini baru dibangun, kenapa sudah banyak bagian yang rusak. Segera setelah mendapatkan kartu, aku hendak masuk bersama beberapa orang yang juga membeli tiket bersamaku. Aku harus antri untuk memasuki peron busway karena satu peron ditutup karena rusak. Aku berdiri termangu di barisan belakang antrian. Kulirik sekilas jam digital di dinding.... 6.17. Ah... kalau 10 orang berangkat sekali busway datang, dan setiap busway datang setiap 5 menit sekali, aku akan sekitar 15-20 menit dari sekarang. Yah... cukuplah jika aku masuk pukul sembilan. Menit demi menit berlalu. Bus yang kunanti tak kunjung muncul. Menyisakan peluh yang menetes dibalik jaket yang kukenakan. Hawa dingin yang sedari tadi menggigitku berganti dengan rasa panas dari sekumpulan CO2 yang dihembus dari raga yang merasa bosan menanti bus yang tak jua muncul. Susah payah kulepas jaket diantara himpitan orang-orang yang semakin resah. Bus tak kunjung juga datang. Setelah dua puluh menit berlalu, bus pertama muncul dan penuh. Aku terpana kala melihat hanya empat orang yang diijinkan masuk dari sekian banyak calon penumpang yang berdesakan tuk maju. Tinggi badanku yang nyaris 170 cm menyelamatkanku dari desakan orang-orang di belakangku. Setidaknya aku bisa bernafas lebih lega dari calon penumpang lain yang tenggelam dalam kerumunan manusia yang larut dalam kesah. “Kemana sih nih bis?” Ibu-ibu di sebelahku melap wajahnya yang penuh peluh. Make up yang disusunnya sedari pagi lenyap tak berbekas. “Macet barangkali!” Seorang bapak yang mengenakan jas hitam menyahut. Tampak peluh membasahi punggungnya. Aku menghela nafas panjang. Jam digital itu telah menunjukan angka 7.30. Astagfirullah... Sudah satu jam lebih aku berdiri gamang dan hanya dua busway yang melintas membawa kurang dari 15 orang pengantri. Setidaknya aku harus dapat busway sebelum pukul 7.45 atau aku akan terlambat. Kemana busway-busway yang seharusnya datang? Gosip yang menyebar diantara keluh kesah orang-orang ini semakin beragam. Ada yang mengatakan buswaynya terjebak banjir di Kali Deres, mogok, ditutup ataupun tidak beroperasi. Entah darimana mereka mendapat kabar itu. Seorang wanita seumuranku yang berdiri tepat disebelahku juga berulang kali melongok jam ditangannya cemas. Aku pun terbawa suasana cemas ini. Bukankah ini hari terakhirku bekerja? Mengapa harus terjadi hal seperti ini? Setidaknya aku ingin meninggalkan kesan baik sebelum pergi. Aku kembali menghela nafas kesal. Firasat burukku terbukti. You've gotta kidding me! Batinku mengeluh. Aku tidak habis pikir mengapa bus-bus berwarna merah itu tak bisa lebih banyak mengangkut penumpang. Setidaknya lebih sering muncul sehingga tidak terjadi penumpukan antrian seperti ini. Aku menatap ke sebelah kanan. Antrian kini sudah tidak diijinkan masuk peron. Dan kulihat makin banyak orang-orang berderet sampai naik sampai jembatan. “Permisi....” Tiba-tiba seorang laki-laki tinggi berambut pendek mengandeng seorang wanita yang sudah terlihat pucat berbalik arah dan mendesak kerumunan untuk keluar dari antrian. Aku tak tega melihat bagaimana wanita dengan tinggi 150 cm itu tampak kesulitan untuk bernafas. Wajahnya pucat dibalik buliran keringat yang menetes satu-satu. Aku menatapnya menjauh kala kusadari aku didorong maju. Rupanya dua buah busway datang bersamaan. Banyak orang terburu-buru mendorong untuk maju “Saya sedang buru-buru!” Jerit seorang bapak-bapak paruh baya. “Kita semua buru-buru pak!!” seorang wanita cantik ber make up tebal berteriak karena dia didorong maju dengan paksa. Tubuhku yang kurus tinggi terdorong-dorong limbung. “Aduh!” Aku menjerit cukup keras saat kurasakan seseorang menginjak kakiku keras. “Pleasee stop it!” Jerit wanita keturunan yang ikut antri di sebelahku saat nyaris terdorong jatuh ke aspal kala kami sudah berada di ujung lantai shelter sementara orang-orang di belakangku masih terus berusaha mendorong maju. Aku berpegangan pada pintu dan tidak jadi jatuh. Alhamdulillah bisikku lega. Konyol sekali kalau aku sampai terjungkal ke bawah dan masuk rumah sakit di hari terakhir aku bekerja. Tak pernah bisa kumengerti mengapa para pengantri harus mendorong-dorong, saling sikut untuk bisa maju ke depan? Bukankah lambat laun, asal tertib mereka akan bisa sampai ke depan? Tapi setidaknya sekarang aku bisa bernafas lega. "Bus pertama yang akan datang setelah ini akan membawaku pergi." Hiburku dalam hati. Udara pagi yang sejuk kembali bisa kurasakan melegakan paru-paruku. Hujan kembali jatuh menemani bumi. Airnya menerpa bagian bawah kakiku. Kaos kaki yang kukenakan terasa lembab dibalik sepatu pantovel yang kupakai. Dua puluh menit berlalu lagi tanpa ada satupun busway yang lewat. Aku mulai panik. Aku mengirim SMS ke bagian administrasi meminta ijin bahwa aku datang terlambat hari ini. Juga manajer divisi web development. Aku tidak bisa menelepon karena suara terlalu bising dengan suara petir dan air hujan yang seperti ditumpahkan dari langit. Kupasang headset Mp4 player-ku di kedua belah telingaku. Kucoba mengalihkan pikiranku yang kalut dengan lagu-lagu kesukaanku. Ya... perasaanku sedikit terhibur mendengar lagu-lagu yang sengaja kusetel cukup keras mengurangi segala bising yang terjadi disekitarku. Aku tersadar dari buaian lagu Don’t Don kala kurasakan getaran di saku bajuku. Ku baca sms yang masuk. Bay, kantor listrik mati baru saja. Katanya ada pemadaman di seluruh wilayah Gading. Kamu dah dimana? Aku tersentak. Kulihat jam di handphone-ku. Sudah pukul 9.03. Rasanya aku ingin menangis saja. Hancur sudah.... setidaknya butuh 1 jam lebih perjalananku dari Jelambar menuju Artha Gading. “Bus dataaang.... bus datang!” Terdengar suara yang sontak membuyarkan semua pikir yang berkecamuk di kepalaku Busway itu membuka pintu dan sontak seperti yang diduga sebelumnya semua orang mendorongku untuk maju. Kakiku terinjak lagi dan aku hampir jatuh. Penjaga busway menarikku masuk. Namun... kakiku yang masih terinjak orang di belakangku membuat sepatuku longgar dan akhirnya sepatu kananku lepas kemudian jatuh ke sela antara busway dan lantai shelter. Aku berusaha memberi tahu penjaga pintu busway kalau sepatu kananku terjatuh. Penjaga itu entah pura-pura tak tahu atau benar-benar tak mendengar jeritanku. Ia hanya tersenyum. Pintu busway pun tertutup.... aku termangu diam. Kutatap hampa hujan yang mengguyur bumi dibalik petir yang menyambar-nyambar. Otakku sudah tak bisa lagi berpikir apa-apa. Tidak bisa memikirkan cara mengatasi perjalananku yang masih panjang dengan hanya mengenakan sepatu sebelah. Hati dan kepalaku terlalu sakit.... Air mataku pun akhirnya menetes. (Jelambar-Gading, 4 Desember 2007) ************************************ Dibuat berdasarkan kisah nyata Kristi (Bayu Kristanti) dengan diberi sedikit bumbu-bumbu penyedap biar lebih enak dibaca (halah) Sorry ga bisa nulis cerpen. Ini baru ketiga kalinya saya nulis cerpen. Seringnya fanfiction. Dibuat atas bujukan dan rayuan maut teman2 blogers disini. Kristi persembahkan kisah sederhana ini untuk turut memeriahkan lomba cerpen mbak Roseheart. Smoga ga gitu malu-maluin yah. wehehehe *Masih rada trauma naik busway kala hujan*
|