|
Beda cerpen dg fanfiction
Rabu, 27 February 2008 @ 18:07 WIB - Diari

Akhirnya selesai juga aku ngebuat cerpen wat lomba cerpennya mbak RoseHeart (yg belum baca bisa ngintip DISINI ). Maaf kalau cupu dan ga sebanding ama cerpenis2 lain di Indosiar. Tapi yah setelah didesak dg rayuan maut dr seniior2 blogger disini akhirnya saya luluh dan membuat cerpen tersebut yang diangkat dr kisah nyata (maklum kalau ga nyata ga ada ide). Knapa kok aku sll mengeluh ga bisa buat cerpen pdhl aku cukup sering membuat fanfic (lbh dr 20 fanfic sudah kuhasilkan dan beberapa masuk majalah). Itu krn ada perbedaan mencolok antara fanfic dg cerpen Dalam Fanfic, pengarang cukup menuangkan IDE ALUR CERITA tanpa harus memikirkan setting, karakter dan aspek2 personal lain krn smua sudah ada dari cerita aslinya. Sedangkan Cerpen aku harus mikir SEMUANYA tanpa luput sedikitpun. Itu yang menyebabkan cerpen JAUH lebih susah dari fanfiction Sebagai contoh.. selama aku hidup (Jiee) br 3 cerpen yg kuhasilkan. Sedang fanfic sudah 20 lebih Kembali ke masalah cerpen, ad ga sih cara belajar buat karya original? Dan kembali ke fanfic.. ..yah.... kalau ad waktu monggo dibaca (ARTNYA ITU ILUSTRASI BUATANKU UNTUK FANFICTION INI). Pendek kok PENANTIAN DALAM SEPI Base : Anime B’T X karya Kurumada Masami Central Character : Midori (karacter tambahan) Time Line : B'T X Neo BGM : IWAO JUNKO - SCARLET kalau tidak Hakuru (B'T X no 16) Aku merasakan perasaan menyayat di jantungku saat ini. Perih... Rasanya membakar dadaku hingga meleburkan tulang yang seharusnya menyangganya. Kuikatkan pita putih itu perlahan di kepalaku. Aku gemetar tatkala melakukan ikatan terakhir. Aku sudah berjanji tak akan menangis. Dan akan kutepati janjiku. Meski harusnya aku tak menjanjikan hal itu padamu. Kimono putih yang kukenakan terlihat begitu dominan. Entahlah...seolah semua warna di ruangan ini memutih pula. Semua warna kini melebur menjadi putih di mataku. Ya... meski aku dulu menyukai warna hijau. Seperti aku menyukai mata indahmu. Tapi kini semuanya akan berubah. Putih yang suci akan menenggelamkan semuanya... Perasaanku... Cintaku... juga dirimu. Aku tertunduk lemah. Malam begitu gelap meski jendela sudah kubuka lebar. Ach... tidak... ini bukan malam... Memang sudah beberapa hari matahari tak menampakkan sinarnya. Ditutup bayang gelap yang tak tahu dari mana asalnya dan kapan akan menghilang. Cahaya lilin kecil yang temaram menerangi ruangan kecil tempat aku bersimpuh dalam hampa. Fotonya berhiaskan pita hitam terpampang disana. Wajahnya yang masih tersenyum memandangku dengan lembut. Kuulurkan tanganku meraihnya. Kubelai bingkainya perlahan. “Aku akan pergi Midori. Jaga dirimu baik-baik!” “Tapi...” “Sstt...” Ia meletakkan jarinya di bibirku perlahan menghentikanku berbicara. “Aku yakin kalau aku tak akan kembali. Kau pun tahu itu!” Ia tersenyum. Aku tak kuasa menahan air mataku kala itu. Aku hanya diam dan menatap mata hijaunya yang teduh. Aku terisak tak berdaya. ************** Lanjutannya baca diSINI
|