| |
|
Jumat, 31 Oktober 2008 @ 21:04 WIB - Diari
-Youkoso.
]-....... Untuk dianggap saudara dan bahkan anggota keluarga dalam suatu komunitas tertentu padahal belum saling mengenal dengan baik, adalah suatu kegembiraan tersendiri. Maka aku merubah pikiranku. Dan semoga tulisan pengantar ini tidak mengganggu…….- Aku akan jadi orang yang tak tahu berterima kasih kalau aku tak menyebutkan darimana ide awal penulisan cerpen ngga jelas tentang hukum yang dibuat dalam skala kecil yang diterapkan dalam lingkungan sekolah ini..
Mulanya cerpen ini pernah didaftarkan pada salah satu kompetisi lomba cerpen di weblog milik Risa-sama. Namun dikarenakan satu dua alasan tertentu yang dapat kujelaskan di bawah ini [setelah cerita =D], aku lebih memilih untuk mengarsipkannya di blogku. Hasil edit tulisan ini masihlah jauh dari sempurna.. Tapi untuk menunjukkan rasa terima kasihku pada penginspirasi ide cerita, aku ingin membuatnya menjadi top post selama beberapa hari ke depan. Semoga tidak mengganggu.. -
__
Kadang hidup ini penuh dengan ironi. Paling tidak begitulah yang dirasakan Minimari belakangan ini.
Memasuki tahun kedua, Minimari dan teman-teman satu angkatan harus mulai mengikuti ekstra kurikuler yang diadakan di sekolahnya. Ada delapan macam ekstra kurikuler yang diadakan di sekolahnya. Antara lain klub olah raga, klub memasak, klub bahasa, klub ilmiah, klub penyiaran, klub berkebun, klub pecinta alam dan klub meja hijau. Klub meja hijau adalah klub yang baru setahunan ini didirikan.
Setiap klub tentu saja memiliki satu guru pembimbing. Yang fungsinya untuk mengawasi kegiatan yang berlangsung di klub tersebut. Sedangkan mengenai ketua klub, biasanya diserahkan pada siswa kelas tiga yang dianggap mampu bertanggung jawab memimpin kegiatan.
Setiap siswa boleh memilih masuk ke klub yang disukai sesuai minat dan bakat yang dimiliki. Selain itu mereka juga diizinkan mengikuti lebih dari satu ekstra kurikuler dengan catatan mereka mampu menjalankan kedua kegiatan dengan penuh tanggung jawab.
Namun tentu saja untuk dapat bergabung ke dalam klub yang disuka, setiap siswa harus mengikuti ujian terlebih dahulu. Ujiannya ini seharusnya tidaklah sulit. Karena pertanyaan yang diajukan hanya bersifat keingin tahuan pihak sekolah seberapa kuatkah minat setiap siswa dalam rangka mengikuti kegiatan di klub tersebut. Kelak bila ia lulus ujian angket, ia baru bisa mengapresiasikan segala minat dan bakat di klub yang diikutinya. Itu jika lulus ujian. Namun bila gagal ujian, siswa tersebut akan dibuang ke dalam klub meja hijau.
Sebenarnya klub meja hijau adalah klub yang eksklusif dimana kebanyakan anggotanya adalah mereka yang sangat peduli pada suasana ketertiban dan keadilan dalam sekolah. Namun akan sulit dibayangkan, bila siswa-siswa buangan harus terdampar di klub eksklusif tersebut.
Dan rupanya Minimari termasuk salah seorang dari tujuh siswa yang harus terdampar di klub baru tersebut.
Ini disebabkan Minimari telah menjawab satu pertanyaan dalam angket ujian dengan jawaban yang aneh. Sehingga pihak sekolah menganggap bahwa mungkin ada baiknya bila Minimari bergabung di klub meja hijau.
Pertanyaan itu adalah mengenai “Hal apa yang dibenci?” Saat itu Minimari menjawab, “Aku benci belajar dan kekerasan.”
“Apa salahku dengan menjawab begitu?” Protes Minimari sebal. “Bila kau menjawab kau benci kekerasan, itu adalah jawaban yang bagus. Tapi kalau kau juga menjawab kau benci belajar.. Sepertinya kau terlalu jujur,” Sahut Chihiro sambil nyengir. “Tapi benci belajar kan bukan berarti tak mengerti apa-apa.” Sahut Minimari tambah sewot. “Pihak sekolah kan cuma tahu sisi luar dari orang yang benci belajar.. Mereka menganggap orang yang seperti itu dampaknya bisa bodoh atau semacamnya. Nah, sekarang tugasmu adalah menunjukkan pada mereka bahwa orang yang mengaku benci belajar bukan berarti bisa diremehkan begitu saja,” Sahut Chitose kembaran Chihiro dengan hati-hati. “Pasti!” Jawab Minimari yakin. Namun sesaat kemudian sambil nyengir ia meralat jawabannya. “Akan kucoba.”
Dan begitulah. Sejak masuk di klub meja hijau dua bulan yang lalu, Minimari yang biasanya berpenampilan sembrono kini harus bisa bersikap lebih rapi. Minimari yang cenderung bersikap pemalas, kini harus lebih serius mempelajari undang-undang hukum yang membingungkan. Minimari yang cenderung pemalu kini harus mulai membuka diri pada banyak orang lain demi menjalin jaringan yang lebih luas. Dan satu hal yang membuatnya tambah kelimpungan adalah ia tak dapat lagi terlambat berangkat sekolah seperti biasa yang ia lakukan. Karena bila ia melakukannya, ia tentu akan dengan mudah kena sangsi. Darimana lagi kalau bukan dari klub meja hijau? Kadang Minimari berpikir, para anggota klub meja hijau itu seperti polisi saja. Yang tugasnya mengawasi gerak-gerik para siswa-siswi.
Seharusnya semuanya berjalan seperti biasanya. Namun hal berubah jadi luar biasa ketika seorang Shou menelponnya malam itu.
"Berarti kalau kasusku ini disidangkan, akan menjadi kasusmu yang ke berapa?” Tanyanya. “Aku kan baru dua bulan bergabung di klub meja hijau, jadi kasus yang kutangani baru sedikit,” Sahut Minimari. “Kelak bila disidangkan kasusmu akan menjadi yang keempat..” Sejenak Minimari diam, lalu, “Tapi kasusku yang terakhir kalah di meja hijau.. Gara-gara klienku tiba-tiba kalap di tengah pengadilan yang sedang berjalan. Ia menyerang Hakim. Dan aku tak sempat mendalami emosi klienku yang temperamental. Sehingga hakim terpengaruh hasutan jaksa dan kemudian memvonisnya bersalah. Padahal waktu itu tinggal sedikit lagi,” Sambungnya geram. “Ah, aku tak tahu apakah mempelajari dan berusaha mengontrol sifat klien adalah bagian dari dari tugas pembela..” Kini nadanya berubah dongkol. “Memangnya waktu itu kasusnya tentang apa?” “Klienku dituduh sering minum minuman keras. Padahal ia nampak sempoyongan di sekolah hanya karena ia jarang tidur karena harus belajar hingga larut malam. Ditemukannya kaleng minuman keras di tasnya hanyalah rekayasa teman-teman sekelasnya yang iri pada reputasinya di kelas.”
Suara di seberang tertawa mendengar cerita Minimari. “Kalau begitu kuserahkan kasusku ini padamu.” Katanya tegas. “E?” “Jadilah pembelaku di sidang nanti.” Sejenak suara itu terdiam, lalu sambungnya, “Ingatlah, bahwa lukisanku yang sedang bermasalah itu memiliki nilai historis.. Jadi lakukanlah yang terbaik untuk bagianku dan juga bagianmu.” “Demo Shou..! - Tapi Shou..!” “Oyasumi? - Selamat malam?" “Ee.. Oyasumi..- Ya.. Selamat malam..” Sahut Minimari dengan terpaksa. Klik.
Setelah menutup telepon, pikiran Minimari tiba-tiba jadi kacau. Bagi Minimari permintaan Shou sungguh mengejutkan. Ia tak menyangka bahwa seorang Shou yang sombong mau mengandalkannya. Ia tahu bahwa dua dari tiga kasus yang dipercayakan padanya selama ia bergabung di klub meja hijau memang dapat ditangani dengan baik. Namun tak maukah Shou menang di pengadilan? Tak maukah ia mempertahankan hak ciptanya? Kenapa ia lebih mempercayakan kasus ini padaku yang notabene baru saja belajar tentang hukum?
Mengingat kasusnya yang gagal membuat Minimari merasa tak mampu menghadapi permintaan Shou. Semangatnya untuk menjadi ia yang seharusnya di klub meja hijau tiba-tiba menguap. Ia merasa tak berguna untuk temannya.
Namun tiba-tiba pikirannya melayang pada kejadian siang tadi. Saat itu Minimari dan teman-temannya menjenguk Shou di rumah sakit. Mereka mengobrol tentang lukisan Shou yang memenangkan juara dua pada lomba pameran lukisan sekolah tingkat daerah. Shou yang sedang tergolek lemah karena terserang Typhus menanggapi cerita Chihiro dari klub penyiar dengan tenang. “Kukira motif Senda berani mengakui bahwa lukisanmu adalah miliknya karena jumlah hadiah bagi para pemenang lomba memang lumayan besar.” “Hoo..” “Apa? Komentarmu hanya hoo saja??” Higuchi tiba-tiba jadi kesal. “Shou, walaupun kau juara dua, tapi juara dua pun dapat hadiah! Hadiahnya juga terbilang besar lho! Apalagi ada seorang pengunjung pameran yang berminat membeli lukisanmu dengan harga yang tinggi. Ah, Shou.. Itu namanya duit Shou! Duit! Apa kau ingin kuseret ke luar rumah sakit untuk bertemu dengan si peminat lukisanmu itu? Aku mengenal orangnya kok!” Nada Higuchi semakin berapi-api. “Lagipula siapa sih yang tak suka uang banyak?” Kini tangannya mengepal keras. Shou tertawa mendengar komentar Higuchi. “Kalau mendapat hadiah atas penghargaan pada lukisanku, maka akan kuterima. Tapi kalau sampai menjual salah satu lukisanku.. Kurasa aku belum sampai pada titik dimana aku harus menjualnya.” “Yeah, pemikiran seorang idealis sepertimu memang cukup sulit ditebak.” Celetuk Chihiro. “Yah, asal kau tidak lupa saja. Untuk akhirnya bisa masuk ke pameran yang bergengsi itu saja, lukisanmu harus melewati beberapa seleksi. Jadi bukan sembarang lukisan yang dapat masuk ke sana. Sekarang giliran ada yang mengklaim lukisanmu, kau malah bersikap acuh begitu.” Sahut Chitose ikut bersuara. “Ah, Shou kan memang sombong,” Imbuh Minimari ikut-ikutan kesal.
Shou kembali terbahak mendengar komentar teman-temannya. Namun dahinya mulai sedikit berkerut ketika Ren berkata, "Lukisan yang saat ini sedang dipersengketakan adalah sebuah hasil karya yang tentu tak semua orang dapat membuatnya. Kalau kau menghargai hasil karyamu, maka kau berhak mempertahankannya.”
"Hai, hai, wakatta yo.- Ya,ya aku mengerti." Sahut Shou dengan wajah yang penuh makna. Ia berjanji akan menelepon salah seorang dari temannya pada malam hari. Namun tak disangka-sangka yang ditelepon malam itu adalah Minimari.
-
Dini hari Minimari terjaga dari tidurnya. Entah kenapa pikirannya jadi ruwet. Karena sudah tak bisa melanjutkan tidurnya, ia mengambil secarik kertas dan pensilnya dan mulai mencatat apa-apa saja yang mengganjal hatinya.
Catatan pertamanya adalah mengenai kronologis masuknya lukisan Shou ke dalam galeri pameran. Yaitu sebagai berikut:
• Chihiro dari klub penyiar radio sekolah mengumumkan adanya pameran lukisan yang diadakan sekolah-sekolah tingkat daerah. • Akhirnya Shou mengikut sertakan beberapa lukisannya untuk dipamerkan setelah kami (teman-teman sekelasnya) mendukungnya untuk ikut pameran tersebut. Satu dari empat lukisan yang dipamerkan adalah yang saat ini dipersengketakan. Lukisan itu adalah tentang seorang perempuan berkimono merah yang sedang menatap ke arah pantai sambil berpayungan. Sebuah lukisan yang dibuat tepat pada saat aku datang ke bengkel Shou untuk mengadukan masalahku setahun yang lalu. • Selama tujuh hari pameran, Shou hanya dapat hadir pada saat awal pembukaan pameran saja. Karena sehari setelahnya, Shou masuk rumah sakit. Ia terserang Thypus. • Keabsenannya sebagai salah satu peserta pameran tentu saja dipertanyakan. Apalagi pada saat mendaftar ikut pameran, Shou hanya menuliskan inisial ‘S~’ pada nama pendaftar dan mencantumkan nomor telepon selularnya sebagai keterangan tambahan. • Selain bertujuan memamerkan hasil karya siswa sekolah, pihak penyelenggara pameran rupanya juga menetapkan juara pemenang lomba. • Lukisan Shou yang mendapat peringkat juara dua menjadi bermasalah. Bermasalah karena Shou hanya mencantumkan inisial ‘S’ saja pada keterangan lukisannya. Dengan keadaan semacam ini membuat siswa kelas tiga, maksudku siapa saja yang memiliki kepentingan dengan lukisan itu dapat mengklaim lukisannya. “Dan kalau Shou masih tinggal diam dengan keadaan semacam ini, alibi Senda untuk mengklaim lukisan itu sebagai lukisannya akan semakin kuat. Karena inisial nama Senda pun berawalan dengan huruf ‘S’..” Minimari diam tercengang.
_
Sepulang sekolah, Minimari buru-buru pergi menuju gedung pameran sekaligus mencari informasi mengenai data-data para peserta lomba lukis.
Dan seperti apa yang telah diperkirakan sebelumnya, ia mendapatkan banyak perbedaan fakta yang ditemukan antara Shou dan Senda dalam pameran lukisan tersebut. Namun walaupun begitu entah kenapa Minimari masih merasa ada sesuatu yang masih samar. Sesuatu yang mungkin justru lebih berharga ketimbang fakta-fakta yang ditemukannya selama investigasinya di gedung pameran. _
Di malam hari, Shou kembali menelepon Minimari dari rumah sakit. Ia menanyakan apakah kasusnya sudah didaftarkan ke klub meja hijau.
Menurut Minimari, sidang kasusnya akan digelar dua hari ke depan. “Tapi lucunya, saat aku akan mendaftarkan kasusmu, ternyata berkas gugatan milik Senda sudah terdaftar lebih dulu.” Minimari tertawa getir. “Aku jadi berpikir, betapa Senda menginginkan lukisanmu itu,” Sambungnya gemas. Shou tertawa. “Mungkin apa yang dikatakan Higuchi ada benarnya. ‘Siapa sih yang tak suka uang banyak?’” “Yeah.. Bisa jadi.” Jawab Minimari ragu. “Ah, andaikan kau tak perlu masuk rumah sakit ya Shou..” Ucap Minimari lirih. “Jadi kita berdua kan bisa mengalahkannya!” Kini nadanya berubah semangat.
Namun lagi-lagi Shou tertawa mendengar kalimat terakhir Minimari yang terakhir, “Layaknya sebuah mesin yang terus-menerus bekerja, mesin pun butuh istirahat. Mungkin saat ini memang saatnya aku harus sakit. Dengan masuknya aku ke rumah sakit, aku baru bisa beristirahat. Walaupun dengan terpaksa." Jawab Shou. “Lagipula kalau pun aku tak di rumah sakit kurasa aku tak akan banyak membantumu. Aku kan sudah mempercayakan kasus ini padamu." "Yeah, bilang saja kau tak mau tampil di depan publik.." Cibirnya kesal.
Selesai menerima telepon dari Shou pikiran Minimari jadi buntu. Walaupun kliennya yang satu ini adalah temannya sendiri tapi rupanya ia lebih suka menyerahkan keseluruhan kasusnya padanya.
Lagi-lagi ia menarik catatan kecilnya yang sudah bertuliskan “Karakter Klienku” • Shou orangnya sombong • Berpembawaan dinamis. Kadang ia tampak bersemangat, kadang ia tampak tenang, kadang juga cuek. Ia menambahkan catatannya itu dengan: • Sepertinya ia yang kurang terbiasa di keramaian, bisa saja tiba-tiba menarik diri.
“Menarik diri.. Aah! Bagaimana ini?” Minimari melempar catatannya dan langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang reyotnya.
Ia pun kemudian mulai membuka buku mengenai undang-undang yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan kecil klub meja hijau.
Sedang asyik-asyiknya mengeja kalimat perundang-undangan, tiba-tiba matanya terpaku pada perundangan Pasal 11 ayat 1 dan 2, “Hee? Nani kore? Dou iu imi?-Apa ini? Bagaimana maksudnya?”
Selama dalam perjalanan ke sekolah, Minimari tak bisa berhenti berpikir. Kalau pun Senda gagal memperebutkan hak cipta tersebut, tapi kalau Shou tetap tak mau memperjuangkan lukisannya, kemungkinan besar hak cipta atas lukisan tersebut beralih ke tangan pihak sekolah. Hal ini bisa saja terjadi mengingat Shou merupakan bagian dari sekolah. Jadi sekolahlah yang berhak memegang hak cipta dari lukisan tak bertuan itu. Dan itu artinya penghargaan atas kemenangan Shou pun jatuh ke tangan pihak sekolah. Kecuali bila ia menemukan sesuatu yang bisa menunjukkan bahwa lukisan tersebut memang milik Shou.
Karena merasa tak tahan lagi dengan situasi yang rumit, Minimari menelepon Shou dan menceritakan kekalutannya. Bahwa Senda merangkul Pak Guru Kono, seorang pembimbing klub pelukis untuk dijadikan saksinya. Dan ini akan memudahkan Senda memenangkan kasusnya.* “Kukira aku juga butuh seorang saksi. Tapi tampaknya ketua klub seni lukis sangat sulit dihubungi..” "Coba hubungi Ren. Dan mintalah ia untuk jadi saksi kuncimu." "Ren?" "A." Shou mengiyakan. "Tapi.." Minimari tak jadi meneruskan bicaranya karena di seberang sana, Shou seperti bicara dengan seseorang. Mungkin dokter atau suster sedang memeriksa kondisinya.
"Ren kan bukan anggota klub kesenian? Jadi bagaimana ia tahu tentang lukisan?” Sambil melangkah menuju kelasnya Minimari terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa Shou memang tak berkata salah. "Eh, sebentar!” Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
Bila Shou sudah menunjuk Ren sebagai saksi kunci, maka siapa pun Ren, ia pasti mengetahui sesuatu tentang lukisan Shou. Sesuatu yang bahkan mungkin ia sendiri belum mengetahuinya. Begitu kira-kira yang terlintas di benaknya.
Ia teringat jawaban Shou ketika Minimari bertanya kenapa Shou tampak santai dan lebih banyak tertawa menghadapi kasusnya. “Karena aku mendapati teman-teman mendukungku walau aku tak memintanya. Jadi sepertinya tidak ada yang perlu dicemaskan berlebihan.”
Akhirnya, Minimari menyadari sesuatu. Walaupun tampak sendirian, tapi sebenarnya ia tak sendirian. Shou selalu berusaha memantau perkembangan kasusnya walau cuma lewat telepon. Ketidak hadiran Shou di sisinya hanya karena Shou perlu berkonsentrasi memulihkan kondisinya. Hal ini membuatnya sedikit lega.
_
Minimari mendapatkan giliran pertama untuk menghadirkan saksi terlebih dulu. Dan seperti yang sudah diduga sebelumnya, Okina selaku pembela Senda menyampaikan keberatannya. “Kenapa?” Tanya sang hakim. "Akan dapat diterima bila saksi yang ditampilkan adalah seseorang yang berkompeten dalam bidang seni lukis.” Ada segurat rona sombong di wajah Okina.
Lalu bayangan kekalahan Minimari pada kasus ketiganya kembali terekam di benaknya. Okina, seorang siswi bertubuh tinggi besar kelas tiga dengan posisi jaksa pada persidangan beberapa waktu lalu telah berhasil mengalahkannya dengan cara yang menyebalkan.
Ia berusaha menghasut hakim dengan mengatakan bahwa serangan yang dilakukan klien Minimari pada saat persidangan adalah satu dari sekian tingkah seorang pemabuk. Waktu itu Minimari yang saat itu juga terkejut dengan ulah kliennya, akhirnya tak berhasil meyakinkan Hakim bahwa apa yang dilakukan kliennya hanyalah bersifat spontan, setelah mendengar putusan Hakim yang menurutnya tak benar.*
Kliennya yang akhirnya dijatuhi hukuman skors selama seminggu ini tak berniat naik banding. “Jujur saja, menghadapi pengadilan selama tiga hari dalam semingguan ini membuatku gerah.” Kata sang Klien. “Jadi pada saat pembacaan kesimpulan fakta yang tak berdasar oleh Hakim, tiba-tiba membuatku kesal.” Ia tertawa getir. “Biarlah. Mungkin dengan begini dendam Okina padaku jadi tersalurkan* Semoga setelah ini semuanya akan selesai dengan baik.” “E? Dendam?” Tanya Minimari tak mengerti. Sang klien hanya mengangguk pelan. “Saat itu ia marah-marah karena aku lebih memilih buku ketimbang dirinya.” “Mak.. Maksudmu dia sakit hati padamu?” Saat itu pertanyaan Minimari hanya dijawab oleh sebuah senyuman penuh misteri dari sang mantan klien. Tatapan dibalik kaca matanya yang berbingkai hitam menyiratkan bahwa sebenarnya ada hal lain selain yang telah disebutkannya barusan.
Tiba-tiba bayangan itu buyar ketika didengarnya suara yang lantang. “Kami berkeberatan karena saksi Ren adalah siswa dari klub ilmiah yang notabene hanya berkutat pada tabung-tabung kimianya dan hewan-hewan penelitian. Sedangkan kasus yang kita hadapi saat ini adalah mengenai seni lukis. Jadi bagaimana ia bisa menilai suatu seni lukis?”
Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba timbul tekad dalam diri Minimari yang mengatakan kali ini ia tak boleh lagi kalah dari Okina. Walaupun saksi yang ditampilkannya bukanlah dari kalangan kesenian tapi karena ada seorang teman yang telah mempercayakan keseluruhan kasusnya di tangannya padahal sang klien tahu bahwa ia baru saja kalah dalam persidangan sebelumnya.
“Mohon maaf Yang Mulia, saksi Ren yang kutampilkan ini memang bukanlah dari kalangan klub pelukis. Tapi ia adalah saksi yang diinginkan Shou untuk dijadikan saksi kuncinya. Selain itu Ren yang bercita-cita ingin menjadi ilmuwan hebat tentunya mesti pandai-pandai mengamati suatu masalah. Dalam kaitannya dengan lukisan, pemilihan saksi kunci oleh klienku tentu ada maksudnya. Aku yakin, sedikit banyak Ren mengerti tentang lukisan milik Shou." Ucap Minimari tegas. "Baik. Lanjutkan.." “Baiklah..” kata Okina dengan nada berat. “Sejauh mana kau mengerti tentang lukisan?” “Keberatan Yang Mulia! Pembela Okina berusaha mencoba menguji Ren dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu meluas tentang seni lukis. Bukankah itu hanya buang-buang waktu saja?” “Keberatan ditolak. Untuk mengetahui apakah saksimu itu mengerti tentang seni lukis, maka pertanyaan tersebut cukup wajar diajukan. Lanjutkan,” Sahut sang Hakim. “Aku memang tak tahu banyak mengenai aliran seni lukis. Kebanyakan hanya mengerti tentang istilah-istilahnya saja. Seperti ekspresionis, fauvinis, naturalis, romantis dan beberapa istilah aliran lainnya.” “Kalau begitu menurutmu lukisan Shou ini beraliran apa? Tanya Okina mencoba menantang Ren. “Surrealis.” “Surrealis? Dapatkah kau jelaskan dengan singkat apa itu surrealis?” Di kursinya Minimari menahan geramnya."Kenapa ia bertele-tele begini sih?" Dumalnya kesal.
Untuk sejenak Ren menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia berkata, “Setahuku kebanyakan lukisan dengan aliran ini mengambil bentuk-bentuk lukisan yang diilhami dari mimpi. Biasanya pelukis dengan aliran ini mengabaikan bentuk secara keseluruhan dari mimpi yang dialaminya untuk kemudian mengolah lukisan setiap bagian tertentu dari objek sehingga menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.” “Sepertinya kau mengetahui banyak juga tentang seni lukis.." Sindir Okina. "Aku sedikit memahami tentang surrealis ini karena Shou termasuk seniman dengan aliran ini." "Oh ya? Jadi dengan kata lain, kau bermaksud mengatakan bahwa karena kau adalah teman Shou, maka aliran seni lukis Shou pun kau pelajari, begitu?” Lagi-lagi Okina menyindir. Di bangkunya Minimari hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu dapatkah kau menyebutkan hal-hal apa saja yang dapat membuktikan bahwa lukisan tersebut memang milik Shou?” “Sepertinya bisa.” Jawab Ren singkat. “Kau menggunakan kata ‘sepertinya’?” Okina terbahak mendengar jawaban Ren. “Kau sedang tak main-main dengan pengadilan kan?”
Lagi-lagi Minimari tampak geram dengan kelakuan Okina yang merasa sok benar. Namun berbeda dengan Minimari, tanpa menggubris ejekan sang pembela, Ren langung menyahut, “Shou selalu mencantumkan simbol inisial namanya yang menandakan bahwa itulah ciri khasnya.” “Ciri khas?” “Ya. Shou selalu mengimbuhkan suatu simbol inisial pada setiap lukisannya. Simbol ini menyerupai huruf ‘S’. "Inisial klienku pun juga 'S'." Cibir Okina. "Kurasa kau mengambil kesimpulan yang terlalu umum." "Keberatan Yang Mulia! Pembela Okina terlalu memojokkan saksiku." Interupsi Minimari. Ruang sidang yang hanya berkapasitas sekitar lima puluh orang itu berubah menjadi tegang.
Lalu Minimari meminta izin sang Hakim untuk menghadirkan Senda. Di hatinya menggeram, "Pertanyaan balasan!"
"Langsung saja. Senda-senpai, kalau klienku beraliran seni lukis surrealis, lalu anda sendiri bagaimana? "Naturalis," Jawab Senda yakin. "Naturalis.. Berarti itu artinya seorang seniman dengan aliran seni ini berusaha menampilkan obyek realitas dengan penekanan setting alam. Bukan begitu?” Senda mengangguk. “Apakah anda yakin demikian, Senda-senpai?” Minimari sekali lagi meyakinkan Senda. “Tentu saja yakin!” Sahut Senda kini bernada tinggi. Ia merasa perkataan Minimari seolah telah meragukan apa yang diyakininya. “Lihat saja lukisan itu. Seperti menggambarkan situasi yang sebenarnya kan? "Baiklah.” Minimari tersenyum simpul. “Apakah anda juga selalu mengimbuhkan inisial 'S' pada setiap lukisan anda?" Tanya Minimari. Senda terdiam sejenak. Lalu, "Tentu saja. Aku selalu mengimbuhkan inisial namaku pada setiap lukisanku." Minimari manggut-manggut. "Lalu seperti apa inisial yang anda maksud itu?" "Kalau itu.. Itu.. Seperti angka delapan yang renggang." "Dapatkah anda menunjukkan letak dimana anda menulis inisial anda?" "Itu.." Minimari kembali tersenyum. "Kau tak mampu menunjukkannya kan Senpai?"
"Kalau boleh tau, apa motif anda mengklaim bahwa lukisan perempuan berkimono merah yang sedang memegang payung itu milik anda?" "Jelas saja, karena itu memang milikku. Kau ini bagaimana sih?" Mata Minimari melirik sebal. "Apakah anda bermaksud menjualnya dalam waktu dekat ini?" "Jika ada yang berminat pada lukisanku, kenapa tidak? Bukankah bila ada seseorang yang berminat pada lukisanku itu namanya penghargaan?" "Aku selesai Yang Mulia."
Sidang diistirahatkan selama setengah jam. _
“Aku telah melakukan fakta perbandingan Yang Mulia.” Jawab Minimari dengan percaya diri. Lalu dengan hati-hati ia merunutkan semua fakta perbandingan yang didapatnya.
Menurutnya, pada tahap seleksi, dari sepuluh lukisan yang diajukan ternyata Senda berhasil meloloskan enam lukisannya. Sedangkan Shou berhasil meloloskan empat dari tujuh lukisannya. Pada saat pendaftaran, Senda mencantumkan seluruh informasinya tentang dirinya secara lengkap, sedangkan Shou hanya menuliskan nama berikut nomor telepon selular sebagai keterangan tambahan. Pada saat pameran, Senda juga menambahkan informasi lengkapnya pada sisi lukisan sebagai keterangan untuk menunjukkan dialah sang pelukis. Sedangkan Shou hanya menuliskan inisial namanya dan deskripsi singkat mengenai lukisannya. Pada saat pengumuman kemenangan, Shou berhasil menduduki peringkat kedua. Sedangkan Senda tidak sama sekali. Selama sepekan ajang pameran, Senda selalu berusaha untuk hadir setiap harinya. Sedangkan Shou hanya hadir pada saat awal pembukaan pameran. Ini dikarenakan ia harus masuk rumah sakit. Kondisi semacam ini tentu memberi kesempatan baginya untuk menguasai keadaan. Jadi sewaktu ada yang berminat membeli lukisan Shou, ia dapat dengan mudah mengklaim lukisannya.
“Menurut Senda-senpai, lukisan yang dipersengketakan ini beraliran naturalis. Sedangkan menurut saksiku lukisan ini bersifat surealis. Dan pada kenyataannya memang seperti itu. Silahkan Yang Mulia perhatikan,” Minimari mendekati lukisan yang dipersengketakan tersebut. Lalu lanjutnya, “Bila bersifat naturalis, maka seharusnya lukisan ini menggambarkan situasi obyek secara alami dan apa adanya tanpa diimbuhi macam-macam.” “Tapi ini berbeda. Di sisi kiri gunung sebagai latar pemandangan ada gambar bunga matahari yang ukurannya sama dengan gunung tersebut. Sedangkan di sisi kanan sang perempuan ada bunga anggrek. Kukira tak ada bunga anggrek yang dapat hidup di genangan air.” Minimari menunjukkan genangan air di sekitar perempuan tersebut yang berdiri memunggung menatap ke arah gunung. “Lagipula untuk ukuran suasana malam yang kelam dengan gambar bulan sabit di bagian kiri ini pewarnaan langitnya terlalu cerah.”
“Dilihat dari segi motif pengakuan terhadap lukisan yang saat ini sedang dipersengkatan pun antara Senda-senpai dan klienku pun berbeda,” Senda-senpai berkata, ia akan menjual lukisannya tersebut. Ini kan artinya uang dijadikan satu tolak ukur penghargaan. Sedangkan Shou lebih suka mempertahankannya karena baginya lukisan-lukisannya memiliki nilai historis tersendiri.”
“Nilai historis?” Tanya sang Hakim. “Ya.” Dilihatnya sang Hakim tertarik untuk mendengar penjelasan lebih lanjut dari Minimari.
“Sebenarnya lukisan itu dibuat tepat pada saat aku datang ke bengkel Shou. Adanya penambahan bunga matahari dan bunga anggrek yang aneh itu adalah atas ideku, Yang Mulia.” Minimari nyengir.
“Kalau begitu itu artinya sebenarnya, Shou bukanlah seorang pelukis dengan aliran surrealis dong?” Okina tiba-tiba melemparkan pertanyaan ejekan. “Bukankah surealis adalah suatu aliran yang diinspirasi oleh mimpi?”
“Bila ia bukan seorang surrealis, maka ia tak akan memperkenankanku menambahkan gambar kedua bunga tersebut. Pada kenyataannya, lukisan awal dengan tema perempuan berkimono merah adalah ide awal lukisan Shou.”
“Baiklah. Kesimpulannya adalah lukisan tersebut beraliran surealis dan Senda bukanlah si pencipta lukisan.” Sang Hakim berdehem sok berwibawa. “Walau demikian, tentu kau tahu kan, bila kau hendak mempertahankan keyakinan bahwa lukisan tersebut adalah milik Shou, maka kau harus menunjukkan bukti yang lebih spesifik. Tentu saja hal ini untuk menunjukkan suatu ciri khas tersendiri.” “Dalam hal ini aku telah menyadarinya sejak awal Yang Mulia,” Ia lalu meminta izin pada Hakim untuk menampilkan Ren sekali lagi. Menurut Minimari Ren akan menunjukkan suatu bukti yang lebih spesifik tersebut.
Ketika Ren sudah berada di depan lukisan ia berkata, “Seperti yang kusebutkan sebelumnya, pada setiap lukisannya Shou selalu berusaha mencantumkan suatu simbol “S” yang dibuat sedemikian rupa untuk menandakan bahwa itulah ciri khasnya.”* Telunjuk kanannya perlahan menunjuk pada suatu gambar petir mungil di sebelah kiri atas. “Simbol “S” ini berbentuk seperti petir. Terkadang simbol ini diimbuhi di bagian atas atau kiri bawah lukisan.” Ren mengatur nafasnya sejenak lalu, “Aku meyakini bahwa simbol petir ini merupakan suatu bentuk inisial namanya sekaligus aliran lukisannya. “S” untuk Shou dan “S” untuk surealis.” Hadirin yang memenuhi ruang pengadilan bersorak riuh rendah. Maka untuk menenangkan, Sang Hakim memukul palu beberapa kali.
“Kuharap apa yang baru saja ditunjukkan Ren sudah cukup jadi barng bukti Yang Mulia..” Minimari tersenyum puas ketika dilihatnya sang Hakim manggut-manggut. Kemudian ia pun meneruskan bicaranya, “Jadi berdasarkan hal tersebut, pemegang sah hak eksklusif atas lukisan perempuan berkimono merah itu adalah Shou, Yang Mulia.”
Sang Hakim kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Terlintas di benak Minimari, “Kuharap Sang Hakim sedang tidak sedang sakit. Sejak tadi cuma manggut-manggut..” Ia pun tersenyum geli.
Tak lama kemudian, Sang Hakim memukul palunya. Tampak wajah masam Okina dan Senda di seberang sana ketika Hakim membacakan putusan bahwa Shoulah yang memenangkan hak cipta atas lukisan tersebut.
“Yatta..!-Berhasil..!” Minimari tersenyum penuh kemenangan. Dilihatnya wajah teman-temannya yang duduk di deretan kiri juga tertawa puas. _
Sore itu di kebun sekolah, Minimari memandangi bunga mataharinya dari jarak dua meter. Ia menumpukan dagunya pada lipatan lengannya di atas pagar kebun.
“Oi!” Tiba-tiba suara Shou mengejutkan Minimari. Betapa senang Minimari mendapati Shou sudah keluar dari Rumah Sakit.
Hening. “Atashi no himawari, kirei deshou?- Bunga matahariku cantik kan?” “A.” Shou mengangguk. “Demo..” Minimari menggantung ucapannya. Seperti mengerti arah pikiran Minimari, dengan canggung Shou berkata, “Akhirnya kau berhasil memenangkan persidangan.” Bila Shou canggung, maka Minimari lebih canggung lagi. “Itu bukan apa-apa.” Sahut Minimari dengan wajah merona. “Waktu itu sebenarnya aku takut kalah dalam memperjuangkan hakmu.. Aku kan masih belum mengerti banyak tentang hukum.. Apalagi lawan yang kuhadapi adalah seseorang yang pernah menjatuhkanku pada persidangan sebelumnya.” Minimari diam sejenak lalu, “Tapi sekarang sepertinya aku tahu alasan kenapa mantan klienku yang dulu tak mencoba naik banding. Ia bukannya seorang maniak buku. Lebih dari itu, sepertinya ia cuma tak ingin berdekatan dengan seseorang yang sombongnya melebihi dirimu,” Minimari terkekeh. “Oh? Ternyata ada orang lain yang sombongnya melebihiku ya?” Shou tertawa keras.
Namun sejenak, raut wajah Shou berubah serius. “Hukum.. Saat itu, aku bukannya tak peduli pada kasusku. Tapi mengingat klub meja hijau adalah klub yang masih baru dimana para anggotanya masih taraf belajar, jadi aku berpikir, selain ada area hitam dan putih, ada pula area abu-abu. Jadi kalau saat itu kau kalah pun tak apa. Yang penting aku tahu kau sudah berusaha keras.”
“Iya. Tapi kan akan lebih melegakan kalau kita berada di posisi yang menang..” Tangkis Minimari. “Haa.. Sebenarnya, kalau seseorang sudah jadi pembela terkenal, enak ya! Bisa dapat uang banyak dari kliennya.” “Pembela terkenal itu sama dengan pembela yang ulung, tidak ya?” Shou bertanya. “E?” “Entahlah. Aku berpikir, seorang pembela sejati tak akan bekerja untuk mengejar uang. Tapi demi apa yang diyakininya benar. Yang ada malah kelak bila ia dikenal banyak orang, uanglah yang akan mengejarnya.”
“Untuk menentukan siapa yang benar atau siapa yang salah pun bukan pekerjaan yang mudah.. Bahkan walaupun sudah mengetahui siapa yang benar siapa yang salah, hanyalah orang yang mempunyai kekuatan saja yang bisa menang.. Apalagi kalau bukan demi kepentingan pribadi atau golongan.."
Shou mengangguk. Ia lalu menambahkan bahwa Higuchi hendak membuatkan teman-teman sekelas masakan istimewa untuk merayakan kemenangan Minimari. Mungkin Higuchi ingin mempraktekkan ilmu yang didapat selama ia bergabung di klub memasak.
Yang dipuji semakin tertawa senang.
"Besar nanti, kalau aku tetap tak bisa jadi tukang bunga aku ingin jadi guru TK saja ah!” Minimari memejamkan matanya lalu melanjutkan ucapannya, "Bermain, bercanda dengan anak-anak.. Lalu sok menasehati mereka supaya berbuat baik di masyarakat.."
Dan Shou hanya tersenyum mendengar ucapan Minimari. Ya. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya, sewaktu kecil Minimari tak sempat mengecap bangku TK. .......
_
Kembali dipublikasikan tanggal 27 November 2008 dengan judul baru "Ironic" ^_^v _
Minimari memiliki dunianya sendiri. Walau demikian karena kali ini bercerita tentang hukum, maka mau tak mau aku perlu merubah image Minimari sebagai karakter utama yang cenderung kaku dan pemalu menjadi seorang yang penuh percaya diri dan cuek. Tapi semuanya juga bukanlah hal yang mudah karena harus disesuaikan menurut kadarnya. Selain itu memang ada sisi ironis di balik tulisan ini.. Ternyata sang penulis masihlah seorang pengguna barang bajakan >_~, *aku tak tahu harus berkata tentang hal ini dengan suara yang cuek, sedih atau tetap narsis. Yaa.. Semuanya mermang tak mudah. Barang bajakan kan memang lebih murah.. =D
|
Disarankan: 0
Jumat, 10 Oktober 2008 @ 13:31 WIB - Diari
Kinni-chaan! Apa kabar? Semoga baik-baik ya!
Ini adalah hari ketujuh aku bercerita padamu.
Oh! Tapi sebelum terlupa dan walaupun agak terlambat, aku ingin sekali mengucapkan Selamat Idul Fithri (1429 H) padamu. Semoga segala amal ibadah kita diterima Allah SWT. Amiin.
Kinni-chan, pada awal bulan Ramadhan tahun ini aku sungguh senang. Karena sama halnya dengan beberapa Negara Timur Tengah dan juga beberapa Negara Barat, seluruh muslim di Indonesia juga melaksanakan ibadah puasa secara serempak pada tanggal yang sama. Yaitu pada tanggal 1 September 2008.
Kudapati nuansa bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan Allah SWT ini sungguh berbeda dengan yang bulan-bulan lainnya.
Sayangnya, masih sama seperti tahun lalu, perayaan Idul Fithri pada beberapa tempat di Indonesia kembali berbeda. Ada yang merayakannya pada tanggal 30 September dan ada pula yang merayakan pada tanggal 1 Oktober. Rasanya kok jadi sedih ya..
Tapi walau ada perbedaan, semoga tali persaudaraan sesama muslim tetap dapat terjalin erat dan baik ya Kinni-chan!
Ngomong-ngomong, apakah tahun ini kau mudik Kinni-chan? Kalau aku dan keluargaku, iya. Tapi sedikit berbeda dengan tahun lalu, yang mudik ke kampung halaman Baa-chan, cuma aku sekeluarga dan Kirako sekeluarga. Chotto sabishikutemo, tanoshikatta- Walaupun sedikit sepi tapi tetap menyenangkan kok.
A! Kurasa aku punya beberapa gambar yang dapat kuberi lihat padamu. Jumlahnya ada belasan
Ini dia..
Kira-kira begitulah gambaran kampung Baa-chan, Kinni-chan 
Haa.. Ja ne, Kinni-chan ^_^v
*Saegusa Iori*
__ *Aslinya nama Kinni-chan berasal dari kata niki. Dalam bahasa Jepang, niki berarti buku harian. Namun karena Minimari ingin memberi panggilan bagi buku hariannya, maka ia pun membalik/memodifikasi kata niki menjadi Kinni. Penambahan ~chan pada Kinni, cuma supaya terdengar lebih akrab.
___ Mungkin satu atau dua gambar pada slideshow akan diubah suatu hari nanti. Atau bisa jadi akan tetap didiamkan seperti itu. Entahlah..
|
Disarankan: 0
 |
| |
nugiefun Jumat, 10 Oktober 2008 @ 15:57 WIB
 (Reply)
met idul fitri juga. mohon maaf lahir dan batin.
 |
 |
| |
 |
m_ulan_n Senin, 13 Oktober 2008 @ 13:28 WIB
terima kasih. sama-sama ya =)
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
miftahmuhaemen Jumat, 10 Oktober 2008 @ 17:54 WIB
 (Reply)
selamat idul fithri 1429 h. semoga segala amal ibadah kita diterima allah swt. amiin q ikut mama mudik, sekitar 300km dr bjm. ga tiap thn kami mudik mba, terakhir 3thn yg lalu
 |
 |
| |
 |
m_ulan_n Senin, 13 Oktober 2008 @ 13:31 WIB
wah, miftah si adik kecil.. salutku buat miftah =)
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
haerulsohib Jumat, 10 Oktober 2008 @ 19:29 WIB
 (Reply)
selamat idul fitri ya...mohon maaf lahir batin nih...walau agak terlambat.....heheheeh
 |
 |
| |
 |
m_ulan_n Senin, 13 Oktober 2008 @ 13:42 WIB
aku juga telat ngucapinnya hehe.. sama-sama ya =)
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
hertyanuar Jumat, 10 Oktober 2008 @ 20:59 WIB
 (Reply)
minal aidzin wal fa idzin,,,,mohon maaf lahir dan bathin,,,,
 |
 |
| |
 |
m_ulan_n Senin, 13 Oktober 2008 @ 13:46 WIB
sama-sama =)
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
sultan_haidir Selasa, 14 Oktober 2008 @ 07:57 WIB
 (Reply)
mohon maaf lahir bathin ya
|
|
 |
 |
 |
| |
vega_enz Sabtu, 25 Oktober 2008 @ 16:18 WIB
 (Reply)
met idul fitri juga minimari mohon maaph lahir batin
lebaran emang berasa meriah banget kalo dilaksanainnya bareng2an kayak kemaren itu
|
|
 |
 |
 |
|
|
Senin, 8 September 2008 @ 22:06 WIB - Diari
Kinni-chan, genki na no? Atashi..
Ini adalah hari ke enam aku bercerita padamu. Tapi kalau dilihat dari tanggal, maka hari ini merupakan hari ke delapan di bulan Ramadhan. Bila dihitung mundur ke sebulan yang lalu, maka pada tanggal delapan Agustus kemarin, Tou-chan Ulang Tahun. Tanggal saat beliau Ulang Tahun ini menurutku sangat bagus lho, Kinni-chan. 080808. Ya kan?
Ngomong-ngomong bagaimana kesanmu selama menjalani puasa selama delapan hari ini? Kalau aku dan keluargaku pada hari-hari menjelang dan awal bulan puasa seperti ditimpa musibah bertubi-tubi. Padahal kami kira kami udah berbuat yang sebaiknya kami lakukan lho. Tapi.. Mungkin emang begitu itu yang namanya hidup barangkali. Terkadang segala sesuatu terjadi begitu aja tanpa memandang bulu apakah kita udah berada di posisi yang benar atau salah.
On my own side, lately, I also wonder about my past.. The past that still influence my life until today or even for future. Yeah.. Sometimes life isn’t easy. It could become easy when all people around us seem supporting to what we do. But it could be disaster, if we feel in the wrong place.
But the late Kitou Aya-san's quoted just make me wake up.. I know the case that happened to me and Aya-san's are absolutely different. But perhaps, if I could take to what her meaning, it would be good for me. At that time she said, "People shouldn't dwell on the past. It's enough to try your best in all that you're doing now. She also said, “Just being alive is such a lovely and wonderful thing.”
Yeah, to see how far we could through the journey. And to see how strong we face it.. And as for my case, could survive until today, is just because Allah’s blessing.
Yet, this world or this life is not the important thing but the next stop of it journey. It is called as the village of Akhirat..
Haa.. Pada beberapa kejadian yang lalu telah membuatku memahami beberapa hal yang berkaitan dengan niat. Misalnya, baik buruknya hasil dari sesuatu yang kita usahakan itu ngga terlepas dari niat awalnya. Betapa pun kita berusaha keras, tapi kalau niat awalnya buruk, maka hasilnya pun bisa jadi gagal. Sebaliknya pun begitu. Betapa pun sulitnya sesuatu kalau diawali dengan niat yang baik, maka hasil pekerjaannya pun berbuah manis. Sedangkan betapa pun kita berniat baik ingin melakukan sesuatu, tapi belum tentu pula baik menurut pandangan orang lain. Dalam hal ini aku jadi berpikir.. Apa yang sebaiknya kulakukan? Tapi ngga apalah. Dapat mengambil kesimpulan seperti itu pada pengalamanku pun udah cukup baik. Semoga lain kali aku ngga melakukan sesuatu menurut keinginanku aja ya Kinni-chan!
Eh Kinni-chan tahu ngga? Kalau Yagami ngga suka violence, maka Saegusa ngga suka dengan yang namanya SKSD [baca: Sok Kenal Sok Dekat] lho. Entahlah. Sepertinya akan lebih baik kalau aku SKSR [baca: Sok Kenal Sok Ramah]- ketimbang SKSD =D Dengan SKSR, kemungkinan dapat teman itu bisa aja terwujud. Tapi kalau SKSD.. eeuh..
Tapi kalau sok ingin ikut campur urusan orang lain termasuk kategori SKSD juga ngga ya? Humm.. Bisa jadi iya. Walau bagaimanapun, pada titik tertentu, SKSD bisa membuat hati terluka.. Haa.. Mou ii wa! ..
Kuharap pada sisa bulan Ramadhan ini, aku dan keluargaku dapat menjalani ibadah puasa dengan tenang. Kinni-chan juga ya! ^_^v
*Saegusa Iori*
-- This written finnally published on September, 13th..
|
Disarankan: 0
S E L A N J U T N Y A »
|
|
 |
Cuma tulisan ga jelas dari seorang introvert yang ingin belajar merangkai kata..
______________________________________________________________________
[♥] Teruntuk Ulan*: Teruslah merunduk karena malu dan bukan karena takut. Sesungguhnya cuma makna tulisanmulah yang dinilai di tempat ini [♥] - Minimari: Teruslah ciptakan kebahagiaan melalui senyuman apa pun yang terjadi. Sesungguhnya dunia indah dengan segala keunikannya ini hanyalah bersifat sementara [♥] - Pengunjung blog ini: Akan terus terungkap kata terima kasih atas kesediaan anda mampir ke tempat ini. Sesungguhnya isi di blog asli ngga jelas ini bukanlah apa-apa [♥]
___________________________________________________________________
* The authoress (of this blog) her self
|
 |
|
| |
| » Profile |
 |
 |
| » Buku
Tamu |
|
Arsip Blog
|
|
|
|
My Books
|
|
|
|
Total: 1087 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Created on:
Selasa, 27 Juni 2006 @ 22:00 WIB |
|
|