|
||
Ultah terkomplit...
Selasa, 23 Juni 2009 @ 12:40 WIB - Diari
|
Hari ini, jelas hari paling bahagiah buat aku. AKu ulang tahun..aku bahagiah..karna mereka..karna kalian semua...My best Friends... Thanks for all, yang membuat hari ini menjadi tak terlupakan... Muaccccccccch... |
Disarankan: 0
| Komentar: 4 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Midnight With Daeng Blackky
Senin, 22 Juni 2009 @ 10:35 WIB - Diari
|
Malam kian merambat hampir menyentuh angka jam 2 malam. Ketika aku baru saja,berhasil memulihkan Daeng Blacky (dibaca:Komputerku) dari tidur panjangnya,akibat gangguan otak (dibaca; Processor) yang selama ini dideritanya,akibat kecerobohan sang Majikannya;aku yg malang! Daeng Blackky adalah satu set komputer pentium 3. Komputer pertama yang kubeli dengan melepas predikat "Banci Kamera/Narsis" yang selama ini kusandang dengan bangga yang terpaksa harus kutanggalkan dengan melelang HP kamera pertama yang kumiliki. Dan mungkin juga,kejadian detik-detik terakhir aku melepas HP Kamera itu, ke tangan pengadah. Yang menginspirasi lahirnya lagu,"My Heart will Go On" karna aku dapat merasakan, perasaan Rose saat melepaskan Jack yang rela berkorban nyawa demi keselamatan Rose. Rasanya seperti melepas separuh nafas kita. Aku juga merasakan air mata perih Rose saat melihat Jack harus meninggal dengan tragis di depan matanya. Dan betapa Rose tak sanggup membayangkan sedikitpun bagaimana kehidupan yang akan dijalaninya setelah kepergian Jack. Apakah kelak ia bisa mendapatkan lelaki seperti Jack yang mencintainya secara tulus? Begitupun aku, aku juga tidak sanggup berpikir lagi, ketika menemui kenyataan kalau Kamera HP yang bertubuh mungil seksi itu harus bertukar dengan batu bata (baca NK 3310) dan harus hidup berdampingan dengan HP hitam putih di tengah gempuran HP 3G. Dan yang paling menyakitkan dari ini semua, ketika semua mata pemilik pohon Mangga menatapmu dengan tatapan curiga, seolah-olah benda yang tengah kau genggam itu,akan kau lemparkan ke pohon Mangga mereka.hikz..hikz..hikz... But Life must go on! Habis Banci terbitlah Daeng Blackky. Mulailah, aku mengisi kehidupan baru bersama Daeng Blackky. Hari-hari kami lalui dengan tetap berusaha tegar, di tengah semakin naiknya tagihan listrik rumah, dan menemukan kenyataan kalau Daeng Blaccky ternyata sekomputer (baca seolah-olah menyebutkan seorang) Metroseksual. Dia rajin sekali ke salon (Bengkel/service komputer.Red). Hampir tiap minggu tabunganku berkurang untuk memenuhi biaya salonnya. Belum lagi, life style Daeng Blackky yang begitu tinggi. Dari keinginan untuk dilengkapi dengan Speaker Multimedia sampai Keyboard dan Mouse yang harus keluaran Logitech. * emang loe pikir,Majikan loe bininya Vallentino Rossi?* Tapi anehnya, aku tetap bertahan. Dan malah aku semakin mencintai Daeng Blacky. *Ya iyalah, secara gw dah byk nanam saham di body dia. Lama-lama dia kaya' tambang emas gue deh Daeng Blacky memang komputer dengan hati HDD 10 giga tapi memiliki kemulian hati setara HDD 120 giga. Ia tidak lupa membalas budi atas kebaikanku mengangkat ia dari kumpulan barang-barang rongsokan, menjadi sesuatu yang sejujurnya sangat dipaksakan, karna menguras isi kantongku lahir bathin, agar ia kelihatan "sedikit layak" disebut barang "Mewah" (Ya, barang mewah, jika dilihat pake pipet dari hongkong!) Ia mulai begitu jinak, begitu sabarnya menemaniku melewati proses penulisan cerpen-cerpen komediku, yang kemudian dibukukan dalam buku 3 Colours-kumpulan Cerita Tiga Warna- yang kususun bersama cerpen Bunda Okky dan Bu Jini. Dari kesetiaan Daeng Blacky pula, beberapa side job dadakan berhasil kami tangani bersama. Daeng Blackky benar-benar telah menjadi komputer yang jauh lebih dewasa dari pertama kali aku diperkenalkan oleh seorang Mahasiswa yang kehabisan uang untuk mudik ke kampung. Sampai di sini, aku masih ingat wajah Mahasiswa itu yang sangat berat melepaskan Daeng Blackky padaku. Andai ia bisa melihat perkembangan Daeng Blackky selama bersamaku. Ia pasti akan bangga, dan merasa tak salah memilihku sebagai majikan Daeng Blackky selanjutnya. Walau pada kenyataannya, siapapun yang melihat kehidupan aku bersama Daeng Blackky selama ini. Akan sulit membedakan, mana yang Majikan dan mana yang babu sebenarnya .Hikzz.. Trilliunan detik (kalau gw ngga salah itung sih!)Yang aku lalui bersama Daeng Blackky. Tidak lagi membuat kami seperti Majikan dan bawahan. Kami adalah patner kerja yang setiap saat bisa menjadi sepasang kekasih yang kasmaran yang rela duduk berjam-jam hanya saling mencurahkan isi hati. Dan di kesempatan lain, kami bisa jadi sepasang kawan yang sedang ribut. Aku perna membentaknya ketika adrenalinku tengah terpacu saat mengetik sebuah tulisan di tubuhnya, dan tiba-tiba Daeng Blackky turn off begitu saja, tanpa bertanya sedikitpun, apakah aku sudah menyimpan tulisan yang telah kuketik sampai puluhan halaman itu atau tidak? Saat itu, aku benar-benar ingin mengangkatnya setinggi-tinggi langit kamarku dan kuhempaskan ke lantai kamarku begitu saja. Namun aku masih punya perasaan, selain mengingat kerugian terbesar pasti tetap berada di pihakku selaku pemegang saham tunggal akan aset yang ada di tubuh Daeng Blacky. Aku juga tidak ingin terlibat dalam kekerasan penggunaan barang elektronik. Biar bagaimanapun Daeng Blackky masih keturunan barang Electronik yang memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi jika tidak diperlakukan layaknya seperti komputer-komputer dari sebangsanya. Maka sebagai ganti atas kekesalanku padanya ketika ia mengulang kesalahan yang sama. Aku memakinya dengan mengatai ia sebagai "Komputer Impoten" Tak kusangka,kalimat kasar yang keluar dari mulutku secara emosi itu, rupanya tersimpan erat di memory yang hanya 64 MB. Ia benar-benar total impoten selama lebih dari 3 bulan. Dan saat itu, aku seperti pengantin perempuan yang paling menyedihkan di kamar pengantinku sendiri. --------------- Bunga-bunga di taman kembali bermekaran, langit mendung kembali menampakkan cerahnya, burung-burung mulai berkicau, suara alam tiba-tiba riuh..(Ini mau apa sih?) Menyambut kebangkitan Daeng Blackky dari impoten panjangnya. Aku pun bersorak sorai, gairahku mulai memuncak lagi, bersama Daeng Blackky kuhabiskan malam-malamku dengan penuh gairah, memuaskan segala hasrat kerinduanku lewat tulisan-tulisanku. Walau jujur aku akui, aku perna melewatkan beberapa malam dengan selingkuh bersama laptop tetangga dan laptop kantorku. Itu semua kulakukan, karna ulah Penjual Listrik yang tiba-tiba padam saat aku dan Blackky tengah getol-getolnya menyelesaikan beberapa tulisan. Dan perjalanan itu pun mencapai titik klimaksnya, saat 2 Cerita Hukum yang aku godok bersama Daeng Blackky dibukukan dalam buku Good Lawyer! Dan salah satunya berhasil meraih juara satu pada saat kompetisi lomba cerita hukum itu berlangsung tahun lalu. Begitu banyak perasaan yang bercampur, mengaduk-aduk emosiku saat itu. Aku menangis, tertawa, teriak dalam waktu yang bersamaan! Aku dan Blackky bagai sepasang orang tua yang begitu bersuka cita ketika melihat buku Good Lawyer berdampingan manis dengan buku 3 Colours dalam lemari bukuku. Bagai melihat anak-anak yang kami besarkan dengan penuh perjuangan itu, telah berhasil mencapai cita-citanya.*hue?* Tiba-tiba, aku teringat dengan kalimat yang entah di mana perna aku curi-curi baca (ketahuan tukang pinjam buku Kita tidak akan perna merasakan nikmatnya bersyukur, ketika kita tak perna merasakan masa-masa sulit sebelumnya. Dan kita tidak akan perna tahu bagaimana rasanya kenyang jika kita tidak perna merasakan lapar. Dan kita tidak akan perna tahu, kalau wajah Tukul sebenarnya lumayan manis ketimbang Sumanto. Kalau kita tidak perna melihat dua manusia ajaib ini bersanding dalam satu frame. * Semoga Sumanto sudah jadi Vegatarian saat membaca notes ini* Dan hal-hal sederhana ini lah yang telah kulalui bersama Daeng Blackky. Dan ini pula yang membuat aku teramat sulit untuk melepaskan Daeng Blacky dan semakin mencintainya!* bukankah cinta biasa tumbuh dari hal yang sederhana?* Dan ini pula mengapa aku sampai saat ini, belum perna tergoda melelang atau pun menggadaikan Daeng Blackky (emang ada yg mau?) Padahal godaan untuk berpaling ke Laptop begitu kuat menggoda. Apalagi jika penyakit Impoten Daeng Blackky kambuh. (Kamuflase yang sempurna untuk menutupi fakta yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya alasan satu2nya utk tdk melepaskan Daeng Blackky hanyalah karna dana yang belum cukup, untuk memiliki si seksi Luna, Toshiba. Aku akan terus memiliki Daeng Blackky, walau ia kelak akan lebih banyak diam. Aku akan tetap menempatkan Daeng Blackky di tempat yang special di hatiku, walau mungkin kelak aku telah berpoliandri dengan beberapa Laptop. Aku tak ingin kehilangan sensasi, saat menulis sebuah tulisan bersama Daeng Blackky di tengah-tengah kecemasanku, kalau penyakit Impoten Daeng Blackky akan tiba-tiba kumat dan menghancurkan puluhan halaman tulisanku yang belum sempat ku save. Aku masih ingin merasakan, bagaimana harap-harap cemasnya aku, menanti kapan Ibu ku tidur, sehingga aku bisa mematikan Rice cooker dan Kulkasnya diam-diam, agar energi Daeng Blackky bisa stabil. Dan menghabiskan malam dengan menulis dan menulis, sampai akhirnya tertidur tak sadarkan diri bersama Daeng Blackky dan bangun kesiangan dengan wajah yang penuh jejak-jejak tombol keyboard. Dan entah mengapa, saat sebagian penghuni bumi ini, telah terlelap dalam cerita mimpi-mimpi mereka. Saat itu lah aku merasakan, sangat dekat dengan Daeng Blackky. Hanya ada aku, Daeng Blackky, dan suara Keyboard yang mengiringi tarian jemariku, yang tengah mengurai cerita tentang mimpi-mimpi kami. |
Disarankan: 0
| Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Ini Makassar Cess...!!
Minggu, 31 Mei 2009 @ 11:09 WIB - Diari
|
Ini Makassar Cess...! Yups, ini lah kalimat yang kupilih untuk mengawali notesku tentang acara Talk Show Good Lawyer yang berlangsung di Samudera Food Court-Mal Ratu Indah. Why..? Coz ada kebanggan tersendiri sekaligus beban untuk bisa tampil semaksimal mungkin di depan publik Makassar. Kampung sendiri, tanah kelahiran sendiri. Sekarang saya baru bisa memahami, pernyataan salah satu pemain sepakbola PSM. Yang perna berkata, bahwa bermain di kandang sendiri jauh lebih berat ketimbang harus bermain di kandang lawan Begitu banyak rasa yang berkecamuk sebelum akhirnya saya berani melangkahkan kaki ke panggung saat MC Acara menyebut namaku dan mempersilahkan saya untuk ke panggung sambil diiringi tepuk tangan riuh para sahabat. * Saya lebih suka menggunakan kata sahabat, ketimbang kata audince. Karna atas persahabatanlah saya yakin mereka semua bersedia meluangkan waktunya untuk menghadiri acara Talk Show GL Perasaan grogi sempat nyerang begitu berada di panggung. Ku tarik nafas panjang, sambil berbisik pada diri sendiri, " Tenang Mhi, let's go to rock..!!" Selanjutnya Uyha menyusul ke Panggung. Di atas panggung kami seperti orang asing yang baru bertemu, hanya tersenyum. I know, Uyha pasti mengalami hal yang sama dengan diriku. Iya ngga uyha..? * Ngga ngaku, di cium tukul!*lol Kemudian disusul Pak Abdul Mutalib,SH ( Direktur LBH-Makassar) Dan Pak Rusdin Tompo, SH yang bertindak sebagai Moderator di acara Talk Show GL tadi sore yang membuat jantungku semakin berdetak kencang. *Fuih, Tuhan... ampuni dosaku. Tolong jangan hukum aku lewat acara ini*hihihi Dengan satu tarikan nafas lagi, saya kembali menenangkan diri saya sambil membayangkan Vallentino Rossi yang sedang duduk menatap saya dengan penuh harap, seakan berkata," Ewako....!!" Huhahahahha..! Berkat khayalan tingkat tinggi tersebut, kepercayaan diriku pun kembali tumbuh. And siap untuk action. Dan dengan berusaha untuk tenang, saya pun memperkenalkan diri sebagai salah satu penulis buku Good Lawyer dan menerangkan secara singkat sejarah lahirnya buku Good Lawyer dan ke dua cerkum saya yang ada di buku Good Lawyer. Begitu pun Uyha yang sepertinya sudah bisa menguasai dirinya dengan lancar ia pun menjelaskan tentang dirinya dan cerkum yang ia buat di buku GL. Sampai di sini, saya merasa acara ini akan berjalan nyaris tanpa hambatan dan akan mulus-mulus saja. Namun ketika Moderator menyerahkan mic kepada Pak Abdul Muttalib, SH yang semula saya duga akan menjadi narasumber yang akan membantu kami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat yang mungkin ada bertanya soal hukum yang lebih dalam. Ternyata dugaan saya salah. Pak Abdul Muttalib, SH dihadirkan sebagai penyangga buku GL. Busyeet...!! Saya langsung menarik nafas panjang siap mendengar sanggahan-sanggan dari beliau.. Apalagi saat Pak Abdul Muttalib mengungkit satu kalimat dalam cerkum saya yang berjudul " Mawar untuk Rose" saat Rose * tokoh lawyer dalam cerkum tersebut* menolak Daeng Lira sebagai kliennya dan menyarankan Daeng Lira ke LBH. * Lembaga Bantuan Hukum* Dan dengan tegas pak Abud Muttalib menyatakan kalau tindakan Rose tersebut dianggap tidak mencerminkan seorang " Good Lawyer"! Mantapp........!!! Dan saya tiba-tiba berharap Vallentino Rossi ke atas panggung membawakan saya sebutir Paramex.*huhuhu* Dan tak hanya cerkum saya yang menjadi sorotan pak Abdul Muttalib. Cerkum Uyha pun tidak lepas dari kritikan beliau. Dan saya dan Uyha hanya saling melirik dan sesekali saling berbisik ," Mampus" Hahahahahaha....! Menit-menit awal memang berkesan kalau kami berdua sedang di hakimi. Hahahahaha...tapi untunglah sebelum ini saya dan uyha sempat diskusi untuk tetap tenang dalam kondisi apapun yang mungkin tidak terduga oleh kami sebelumnya. Dan menyakinkan diri, bahwa ini Talks Show buku kami,bola ada di tangan kami berdua Dan begitu Moderator memberikan Mic secara bergantian kepada kami untuk menanggapi sanggahan dari Pak Abdul Muttalib tentang buku GL. Maka kami pun merasa saatnya bola dimainkan! Yippe... Kami pun berdua berusaha tenang memberikan penjelasan-penjelasan terkait pernyataan-pernyataan Pak Abdul Muttalib dan sahabat-sahabat semua yang sangat antusias mengikuti acara Talk Show GL kemarin sore. Kita sengaja tidak mengarahkan ini sebagai debat hukum, karna jelaslah kita kan bukan orang hukum, bukan pakarnya,hahahha...! ini kan talk show buku GL. Buku Kumpulan Cerita Hukum, bukan Makalah Hukum yang mesti diperdebatkan, iya ngga..? Maka sebisa mungkin kami menjelaskan dari sisi penulisan cerkum-cerkum kami. Berbicara sebagaii seorang penulis yang memaparkan tentang karya tulisan kami. Berbicara dari sudut sastra penulisan, bahwa tema "hukum" adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dileburkan dalam suatu karya sastra apalagi banyaknya istilah-istilah hukum yang bersifat "tehknis". Dan kehadiran buku Good Lawyer sendiri di dunia penulisan bukan bermaksud duduk manis berdampingan dengan buku-buku hukum yang notebene ditulis oleh pakar hukum. Ini adalah Karya Sastra, kumpulan cerita-cerita yang bertema hukum yang dengan segala usaha kami, kami berusaha menyederhanakan bahasa hukum itu sendiri agar lebih mudah dipahami oleh orang-orang awam akan hukum, termasuk saya sendiri adalah satu dari begitu banyaknya orang yang masih merasa dunia hukum adalah sesuatu yang "mahal" dalam pengetahuan kami. Yang memang tidak perna bersentuhan dengan dunia hukum. Dan acara ini semakin seru saat perdebatan masalah Cover GL, Hahahahha..Di sini saya hanya bisa ngakak dan menggeleng-gelengkan kepala, karna yang nanggapin soal Cover ini datang dari kaum lelaki. hukakakakkaa...! Seru deh, apalagi ada yang berkata bahwa Cover GL bisa menimbulkan imajinasi yang "aneh-aneh" wauakakaka.....! Sungguh sesuatu yang tak terduga dan begitu suprise mendapati sahabat-sahabat yang hadir saat itu yang menanggapi buku GL sebegitu detailnya. Luar biasa bukan...? 120 menit yang saya dan uyha lalui kemarin sore, benar-benar pengalaman yang sungguh berharga, duduk berdampingan dengan orang-orang praktisi hukum dan berdiskusi dengan mereka tentu ini adalah pengalaman yang seru. apalagi mendapatkan masukan-masukan yang luar biasa dari mereka. Terimakasih yah semuanya... Senang rasanya melihat banyaknya sahabat-sahabat yang menghadiri acara Talk Show buku Good Lawyer. Dari Angin Mamiri, Unhas, UNM, UIN, Univ 45, sahabat-sahabat Blogger, Facebooker, sahabat-sahabat dari berbagai media dan semuanya yang sudah berkenan hadir di acara talk show kami. Terimakasih.... telah menjadikan sore kemarin sebagai pengalaman yang tak akan perna saya dan Uyha lupakan, Terimakasih, terimakasih, terimakasih.....love you all.....! Dan kepada Irwan Tando Production-Radio PLS 107.8 FM and tim yang luar biasa yang telah menyelenggarakan acara ini. Terimakasih cess!! angkat dua jempol dah untuk kerja tim kalian...! hebat oeyyy....dan semoga semakin banyak pihak-pihak yang mengikuti jejak kalian untuk mengadakan talk show-talk show buku seperti ini. Bukan hanya membanjiri Makassar dengan konser-konser musik, saatnya Makassar juga diramaikan dengan acara-acara yang penuh edukasi seperti ini. Sekali lagi terimakasih...!! Dan terakhir termakasih untuk support dari Mba Risa dan Mas Dwi, teman-teman RHW, dari Rose Heart Publishing, Mama-mama kami yang bersedia tampil secantik mungkin melihat ke dua putrinya beraksi, hehehehe. Thanks Bunda nya Uyha, Thanks My Momz atas jempolnya. Love you all...ummuaccccccchhhhhhhhhh............ FYI : Buku GL laris Manis Lho....jadi yang belum sempat dapet kemarin, di Gramedia stoknya masih ada, buruan jangan sampai kehabisan lagi |
Disarankan: 0
| Komentar: 3 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Ayo..Makassar.....!!!
Kamis, 28 Mei 2009 @ 13:43 WIB - Diari
|
Ehem...! Ehem...! Ehem...! Eh, mau ngomong apa nih? Heheheh...Maaf lupa, saking groginya mau ngundang-ngundang teman-teman semuanya terutama yang bermukim di Makassar dan sekitarnya. Untuk dateng di acara Pukul 15:30 - 17:30 Wita Samudera Food Court Lat.2 Mall Ratu Indah-Makassar Undangan ini berlaku untuk 1 (satu) orang, sekaligus sebagai Voucher. Undangan bisa didapatkan langsung di tempat acara bagian registrasi atau confirm via email ke: mhi2box@yahoo.com. Jadi jangan sampai ketinggalan Ayo...Makassar..mari kita cerdas hukum bersama lewat cerita. Ewakooo.....!!! ![]() |
Disarankan: 0
| Komentar: 0 | Beri Komentar | Recommen | Print |
Ketika Ibu-Ibu ngomong soal Hukum!
Selasa, 26 Mei 2009 @ 14:02 WIB - Diari
![]() Berhubung gw ngga bisa hadir di acara Talk Show yang akhirnya berubah menjadi acara " Dialog interaktif" di Lampung. Maka Reportase singkat dari acara tersebut gw copas dari notes Mba Risa di FB nya. ============================================= Dialog interaktif yang rencananya akan diadakan di Gramedia terpaksa saya batalkan karena tempatnya yang tidak memadai untuk acara talk show di akhir minggu. Saya dan distributor pun kemudian berencana untuk memindahkannya ke salah satu universitas di sana. Tetapi lagi-lagi saya terbentur masalah jadwal. Saya tidak bisa talk show di hari kerja. Mendengar rencana talk show saya di Gramedia batal, sepupu saya mengatakan bahwa teman-teman dan beberapa ibu-ibu yang sudah membeli dan membaca buku GOOD LAWYER di Lampung, ingin bertemu saya, meminta tanda tangan dan berfoto bersama. Antara senang karena tahu bahwa GL ternyata juga sudah punya penggemar di Lampung dan ragu karena jadwal talk show menjadi tidak pasti, saya mengatakan, "Ajak saja mereka datang ke acara kita, saya pasti ada di sana!"My mom, as usual selalu punya ide brilliant. Dukungannya yang sangat besar kepada usaha dan misi saya, membuatnya berpikir 'Kenapa tidak kita adakan saja talk show di rumah? Toh rumah di sana besar dan sanggup menampung lebih dari 200 orang!' Keluarga besar kami kebetulan akan mengadakan acara pertemuan keluarga dalam rangka merayakan ulang tahun beberapa anggota keluarga secara berbarengan, tanggal 23 Mei ini. So, jadilah my mom and sisters, dibantu oleh sepupu saya tadi menyulap ruangan yang tadinya hanya akan dipakai untuk acara pengajian dan ulang tahun, menjadi tempat untuk talk show juga!Mom, and my whole family berangkat hari Jumat, sementara saya dan Mas Dwi menyusul Sabtu pagi karena kami masih harus masuk kerja pada hari Jumat. Dan sampailah saya dan Mas Dwi tadi pagi di Lampung. Sejak awal Mei, Garuda sudah memiliki penerbangan ke Lampung, jadi sedikit agak lega juga untuk naik pesawat karena sebelumnya hanya ada Sriwijaya Air yang kalau sedang di udara rasanya seperti naik metro mini terbang! *hihi... Sorry Sriwijaya, but that's what I really felt everytime I flew you! Meski dengan pendaratan yang sedikit mengerikan karena hentakan landing yang keras, saya masih tetap bersyukur tidak terjadi apa-apa. 'Jadi makin takut naik pesawat nih', batin saya. Tapi daripada memikirkan pendaratan yang lumayan menegangkan, lebih baik saya alihkan pikiran kepada Bakmi Koga yang memang menjadi bakmi favorite kami setiap ke Lampung. (Bohong deng, saya memang sudah berencana ingin makan bakmi dulu sebelum check in di Sheraton *hihi...) *** So, sampai di sini sudah tahu dong pasti, siapa saja audience talk show kali ini? By the way, saya lebih suka pakai istilah dialog interaktif saja supaya tidak terkesan orang menonton saya 'ngoceh' Betul sekali, audience saya kali ini para ibu! Mulai dari ibu-ibu yang masih muda, sampai yang sudah tua. Terus terang, saya tadinya agak khawatir apa yang akan saya sampaikan akan sulit mereka terima, mengingat saya jarang sekali bergaul dengan ibu-ibu, bahkan saya tidak pernah ikut acara arisan! But nothing can stop me from my mission! I mean, ibu-ibu ini benar-benar asli masyarakat yang awam hukum, jadi ini adalah tantangan terbesar saya! Melihat backdrop GL yang terpasang di dinding, para ibu tersebut sudah demikian excited. Menurut ibu saya, mereka memang benar-benar menunggu kedatangan saya! Isn't that so exciting? Sayangnya, fotografer yang kami sewa (even katanya sudah termasuk yang terbagus juga, mengingat fee-nya sama dengan Jakarta) ternyata masih harus banyak belajar dari fotografer lain! He's not too good in capturing moments! *grrr* Dan memang benar! Ternyata berdialog soal hukum dengan cara sederhana dengan para ibu ini begitu menyenangkan! Tentu saja karena sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga dan hidupnya di desa, bagian yang paling menarik perhatian mereka adalah kasus hukum yang berkaitan dengan KDRT, pelecehan seksual, poligami, perkawinan, dan perceraian! Saya melihat binar semangat di mata ibu-ibu itu setiap mereka bertanya. Bukan hanya karena mereka memang ingin tahu lebih jauh mengenai hukum yang bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari mereka, akan tetapi mereka seperti menemukan tempat untuk menyampaikan unek-unek mereka dan segala pertanyaan yang selama ini hanya mereka tahu dari 'katanya si ini' dan 'katanya si itu'. Setiap kali saya selesai menjawab satu pertanyaan, setidaknya dua tiga orang kemudian mengacungkan tangan lagi untuk bertanya. Ketika saya menerangkan sambil mengeluarkan pertanyaan kepada mereka, hampir semua mengangkat tangan untuk berusaha menjawab. Sangat menyenangkan berdialog dengan orang-orang yang aktif dan benar-benar mengikuti diskusi yang saya adakan. Bahkan seorang ibu sempat mendebat saya ketika saya menceritakan satu bagian dari cerita di buku GL yang berkisah tentang perjuangan seorang mantan PSK untuk mendapatkan keadilan yang sama di mata hukum kita. Ibu itu mengangkat tangannya dengan penuh semangat ketika saya mengatakan sambil bertanya "Jika ada seorang mantan PSK, apakah kita harus memperlakukan dia berbeda?"Ibu ini menjawab "Saya kurang setuju! Iman seseorang itu naik turun. Kalau kita bergaul dengan mantan PSK, nanti kalau imannya dia sedang turun, kita bisa ketularan! "Polos ya argumennya? Di sinilah tantangan bagi saya untuk membuka pikiran ibu-ibu ini. Saya berusaha menjelaskan mengenai kedudukan setiap warga negara di mata hukum kita. Tapi tampaknya kalau saya bicara ini, penjelasan saya tidak akan masuk. Saya pun kemudian masuk kepada cara yang paling sederhana dengan mengajaknya memahami bahwa iman seseorang tidak bisa dikontrol oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Jika kita ingin mendapatkan masyarakat dan lingkungan yang lebih baik, maka kita harus bahu membahu saling membantu dan tidak membeda-bedakan orang dengan melihat pekerjaannya, apalagi kalau dia seorang mantan PSK yang ingin 'bertobat' kenapa justru ingin dimusuhi? Satu pertanyaan saya membuatnya tersenyum malu dan menunjuk ibu-ibu di kompleknya "Atau ibu takut suami ibu tergoda ya Bu?"Ibu itu menjawab "Ah nggak... Itu tuhhh ibu-ibu komplek kan suka begitu..." Di deretan lain, ibu-ibu yang merasa tinggalnya di komplek perumahan langsung menyanggah "Ihhhh enak ajaaa... Kita biar tinggal di komplek nggak pernah begituuu...." Dan tawapun menghiasi seluruh ruangan. Pada diskusi yang lain, seorang ibu memberi contoh tetangganya yang suka menuduh para janda menjadi penyebab keretakan rumah tangga orang. Seperti biasa, alert saya langsung berbunyi dengan kencang ketika mendengar kata 'janda'. Sayapun nyeletuk "saya janda juga niiih..." Si ibu buru-buru minta maaf karena katanya hanya memberi contoh! Hehehe... Tawapun menggema lagi. Lalu, ketika microphone sudah di tangan saya lagi, saya bertanya kepada para ibu "Ibu-ibu kalau saya berkenalan dengan suami-suami ibu, pada khawatir nggak bu?"Koor jawaban "Nggaaaaaak..." pun langsung terdengar. "Kenapa nggak bu? Kan saya janda? Cantik lagi bu...hahahaha...." tanya saya lagi sambil bercanda."Ya tergantung jandanya juga, Mbak...kalau dia nggak bener ya pasti kita nggak suka laaah" celetuk salah seorang ibu. Dan diskusi soal janda pun begitu 'meriah' dan menghasilkan pertanyaan hukum mengenai perceraian, hak asuh anak, sampai proses perceraian yang mereka pikir sangat complicated. Saya berusaha menjelaskan satu persatu dengan pendekatan 'keperempuanan dan hukum' sehingga wajah puas pun akhirnya saya dapatkan dari mereka. Salah seorang ibu yang juga kelihatannya sering menjadi pembicara, bahkan sangat bersemangat mendukung program 'melek hukum' bagi para perempuan di tanah air! Hebat ya? Bicara soal KDRT, para ibu pun sangat paham bahwa mereka sudah seharusnya mengerti hak-hak mereka untuk hidup aman dan terlindungi secara hukum di dalam rumah tangga. Ketika sampai pada topik "Apakah kalau sedang tidak ingin melayani hasrat seksual suami dan dipaksa melayani juga, bisa disebut bagian dari KDRT?"Seorang ibu mencontohkan bahwa menurut agamanya, jika menolak melayani hasrat seksual suami nanti tidak masuk surga. Dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang saya lontarkan seperti "apakah ibu merasa terpaksa di awal dan ikut menikmati setelah terpaksa melakukannya?" membuat tawa kembali membahana. Penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan seperti ini berusaha saya hubungkan dengan hukum yang ada di negara tanpa mempertentangkannya dengan anjuran agama. Meski saya merasa tidak begitu pandai bicara soal hukum agama, jawaban-jawaban saya tetap mendapat respon yang sangat positif dan tepuk tanganpun menggema di ruangan. Bertubi-tubinya pertanyaan dan antusiasme ibu-ibu inipun sampai membuat suara saya serak juga. Di session terakhir, selain karena pertanyaannya agak teknis, saya mengundang Mas Dwi yang sedari awal begitu antusias juga melihat semangat para ibu ini untuk berbagi pengetahuan hukum dengan mereka. Dua jam berlalu, suara saya serak, dan saya batasi sampai dengan 3 pertanyaan terakhir. Para ibu sangat menikmati dialog interaktif ini sehingga waktu dua jam bagi mereka tidak terasa, dan sedikit menyalahkan saya karena hanya sebentar bertemu mereka. Setiap penanya mendapatkan kaos GOOD LAWYER, tapi sayangnya mereka tetap ingin terlihat cantik dengan baju muslim mereka masing-masing. Selain itu, kaosnya juga beberapa tidak muat! *lol so, mereka bilang, "dipajang di depan dada aja yaaaa...." Ketika sessi foto bersama, mereka memeluk saya erat-erat dengan gemas, semuanya ingin berfoto di sebelah saya. Mengharukan ya? Sampai di sini tampaknya saya harus menyudahi reportase saya. Sebuah pengalaman yang mengharukan, menyenangkan, dan menimbulkan pengalaman baru yang sangat berharga buat saya. O ya, buku yang saya bawa dari Jakarta habis lho diborong oleh ibu-ibu ini! Tidak sia-sia saya membawa banyak buku untuk dijual langsung di tempat! Yippieee!!! *Bandar Lampung, 24 Mei 2009 dini hari, ditulis sambil menonton kualifikasi F1 di global TV* ============================== So habis Lampung, rencananya GL bakalan masih keliling kota lagi. Ada dua kota dalam waktu dekat ini akan dikunjungi; Semarang dan Yogyakarta. Dan untuk di Makassar..?? Huheheheh...tunggu cess posting berikutnya kita juga bakalan melek hukum bersama. Oke...? See you all Peace, Love and Ewako! M |
Disarankan: 0
| Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
My Blog
- ultah terkomplit...
- midnight with daeng blackky
- ini makassar cess...!!
- ayo..makassar.....!!!
- ketika ibu-ibu ngomong soal hukum!
Bloghood
Arsip LinksPengunjung
Total Pengunjung: 1975Komentar
Created on:
Kamis, 27 Juli 2006 @ 18:00 WIB
Kamis, 27 Juli 2006 @ 18:00 WIB












