| |
|
|
|
 |
Download Puisi-puisi Mustafa Bisri
|
 |
 |
Senin, 22 September 2008 @ 15:07 WIB - Musik, Film & Hiburan |
 |
| |
Mendengar puisi-puisi Gusmus, hati saya selalu tiba-tiba hangus, tetapi kemudian perlahan menghalus. Mendengar syair-syair Bisri, hati saya nyeri, tetapi kemudian sadar bahwa saya mesti mencari diri. Jika kamu ingin merasakan hal yang sama, silakan download link puisi-puisi Mustafa Bisri berikut:
* Aku merindukanmu, Oh Muhammmadku * Aku Tak Bisa Lagi Menyanyi * Basrah * Bila Kutitipkan * Buah Mata * Dzikir Malam * Gelombang Gelap * Kau Ini Bagaimana * Lirboyo * Nasihat Ramadhan * Q.S Asyu’ara * Selamat Idul Fitri * Tadarus * Wanita di Multazam
filenya .wav, tapi kamu juga bisa di convert ke mp3 pake software WAV to MP3 Converter
Link Download: http://manuskripkesunyian.wordpress.com
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Download Inspirational Moments II
|
 |
 |
Senin, 22 September 2008 @ 15:05 WIB - Musik, Film & Hiburan |
 |
| |
Kalau saya mandeg mencari inspirasi buat nulis atau mengerjakan banyak hal lain, saya selalu dengerin musik yang menggetarkan seperti Inspirational Moments. Setelah 2-3 lagu terdengar, cairlah pikiran yang sempat beku, haluslah hati saya yang sempat kaku.
Alih-alih inspirasi yang udah muncul dikerjakan, eh malah langsung ktiduran whe…he… coz musiknya bikin adem.
Download euy!
Inspirational Moments II Track1
Inspirational Moments II Track2
Inspirational Moments II Track3
Inspirational Moments II Track4
Inspirational Moments II Track5
Inspirational Moments II Track6
Inspirational Moments II Track7
Inspirational Moments II Track8
Inspirational Moments II Track9
Inspirational Moments II Track10
Inspirational Moments II Track11
Inspirational Moments II Track12
Inspirational Moments II Track13
Inspirational Moments II Track14
Link Download: http://manuskripkesunyian.wordpress.com
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Mereka Yang Menangis di Depan Jenazah Ayah
|
 |
 |
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:51 WIB - Musik, Film & Hiburan |
 |
| |
Hari ini ayahku wafat. Dia ayah yang baik bagiku. Dia suami yang baik bagi ibuku. Dia adalah pahlawan bagi kami semua. Kasih sayang juga perlindungannya yang lembut dan sederhana pada kami, membuatku semakin percaya bahwa cinta adalah sebuah kesempurnaan…
Aku ingat, ketika masih kecil, aku selalu mendapat cerita sebelum tidur. Ada banyak cerita yang menyenangkan, tentang rembulan dan hujan. Atau tentang si kancil dan kura-kura yang berjalan lambat. Betapa hangat aku dipeluknya sebelum akhirnya aku lelap dalam mimpi indah. Tapi semenjak ayah bertugas di luar kota, cerita sebelum tidur itu hanya terdengar seminggu sekali. Tentu saja, selama di luar kota, kami sangat merindukannya untuk cepat pulang. Aku senang ketika setiapkali ayah pulang. Di depan pintu, ia mencium kening ibu dihadapanku, dan mengajak kami makan malam di akhir pekan yang selalu indah.
Setelah aku besar, dia masih tetap sosok yang sangat mesra dan perkasa. Cintanya pada ibu semakin romantis dan bijaksana. Ayah adalah lelaki terbaik bagi ibu, begitupun sebaliknya. Selama rumah tangga, mereka tak pernah bertengkar. Jika ada persoalan, mereka akan menyelesaikannya dengan baik-baik dan penuh humor. Kalaupun dulu aku pernah melihat ibu menangis, itu terjadi ketika ia sangat bahagia mendapat hadiah ulang tahun, atau ketika ayah jatuh sakit. Selebihnya, ibu memilki senyum yang panjang disamping ayah. Itulah ayah, pria yang lembut dan penuh pengertian. Tapi dia kini tinggal kenangan. Setelah satu minggu terbaring dengan tubuh sakit-sakitan, kematian akhirnya merangkulnya.
Ibu pasti sangat sedih kehilangan ayah, melebihi kesedihan siapapun. Air matanya tak henti mengalir semenjak pertama kalinya ayah jatuh sakit hingga kini wafat. Hanya aku kini satu-satunya milik ibu. Kerabat ibu sudah lama tak terdengar lagi kabarnya. Menjadi kebahagiaan terbesarku jika kini aku akan menghabiskan masa remajaku untuk menjaga dan menemani ibu, menghapus kesedihan ibu. Kami akan tetap tinggal di rumah sederhana ini. Rumah dari kerja keras ayah selama ini.
Aku merangkul ibu yang masih menangis di hadapan jenazah ayah. Doa-doa terdengar dari mulut orang-orang yang sejak pagi tadi duduk melingkar depan jenazah. Sebelum dzuhur jenazah ayah rencananya akan dikebumikan. Kini kami tinggal menunggu beberapa teman ayah dari luar kota yang rencananya akan datang ke sini. Setelah itu segalanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Pukul setengah sepuluh teman-teman ayah mulai berdatangan. Mereka turut berbela sungkawa. Ada yang bercerita panjang lebar tentang pengalaman masa kecilnya dengan ayah. Ada juga yang bercerita tentang kebaikan-kebaikan ayah selama hidup. Atau ada seorang perempuan dengan dua anak kecil-kecil yang tiba-tiba menangis keras di hadapan jenazah ayah…
“Mas, maafkan aku…” ucapnya pelan di sela tangisnya. Perempuan itu, dan kedua anaknya, terdengar menangis demikian pedih di hadapan jenazah ayah. Aku perlahan menghampiri ibu yang mulai berhenti menangis. Ia menatapku perlahan.
“Ibu tak tahu siapa mereka…” ucapnya parau. Aku mencoba tersenyum dan merangkulnya. Tak lama kemudian aku melihat perempuan asing itu bangkit, mengusap air matanya dan membawa kedua anaknya yang tak henti menangis keluar ruangan. Aku diam-diam mengikutinya dari belakang sampai akhirnya mereka masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di halaman rumahku. Aku melihat mereka memilki kesedihan yang lebih besar dari kami, dari ibuku. Anak-anak yang lucu. Anak-anak yang tak henti menangis dan meronta-ronta tak mau berada di dalam taksi. Anak-anak yang memanggil nama ayah dalam tangis mereka yang memilukan…
Sumedang, 28 Juni 2008 http://manuskripkesunyian.wordpress.com
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
ferryenrico Senin, 6 April 2009 @ 08:57 WIB
 (Reply)
waduh awalnya gw amat simpati dgn cerita sosok ayah yang baek, eh akhir-2 cerita kok jadi laen ya, dasar laki-2 gak bisa pisah dari istri, pasti punya sepia, perempuan yg menangis dengan 2 anaknya adalah simpanan ayahmu yah. waduh jadi ga heppi ending
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Apakah Cinta Ada Atau Tak Ada?
|
 |
 |
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:50 WIB - Diari |
 |
| |
Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang yang keluar dari tubuh saya dan berdiri di hadapan saya. Mereka mirip dengan saya. Kejadian itu menyadarkan saya satu hal: jadilah orang lain, maka kamu akan menemukan ragam penilaian yang penuh kebenaran tentang diri. Maka bersitataplah kami bertiga…
Siapapun yang mengalami hal seperti itu pasti akan merasa asing pada diri sendiri. Ternyata diri kita selama ini begitu luput untuk dimengerti dan diakrabi oleh diri sendiri, seperti halnya dengan nama kita yang jarang disebut oleh mulut kita sendiri. Pernahkah bercermin? Bukankah penilaian pada diri hadir di saat kita menemukan diri kita mata kita sendiri? Kita ternyata lebih mudah menemukan penilaian baik dan buruk terhadap orang lain ketimbang pada diri sendiri. Itu karena kita sudah kadung menganggap baik dan buruk segalanya selalu diukur dari sesuatu yang berjarak dari diri kita. Maka sesering apakah kita menilai diri, mencaci diri, memberi kritik pada diri?
Ada kalanya kita begitu angkuh dan tegap di hadapan orang lain, tapi di saat yang lain kita diam-diam begitu lemah dan mudah terhasut orang lain. Itu artinya kita ternyata tak bisa sepenuhnya mencintai diri sendiri dan tak juga sepenuhnya dapat diperbudak orang lain. Seringkali saya selalu belajar untuk menjadi orang lain bagi diri sendiri. Maksud saya, diciptakan sedemikian rupa keadaan seolah-olah saya tengah berdialog dengan diri sendiri. Seperti juga tokoh-tokoh fiksi yang saya ciptakan sendiri, dan pada gilirannya mereka menjadi lawan bicara saya. Disana saya membiarkan tokoh-tokoh imajiner itu punya otonomi kesadaran. Saya biarkan mereka memilih selera, pendapat dan imajinasi yang berbeda dengan diri saya.
Justru dialog seperti itulah yang membuat saya berada dalam posisi yang menyenangkan. Saya seperti menemukan banyak “orang lain” dalam novel yang saya ciptakan sendiri. Berdialog dengan orang lain dalam arti sebenarnya, misalnya, selalu berakhir buruk. Disana saya tak jarang memosisikan sebagai “orang paling benar” bahkan di saat dialog belum dilakukan sedikitpun. Saya kadung dilingkupi ribuan prasangka jauh sebelum segala hal terjadi. Itu artinya saya hampir seratus persen memutlakan diri menjadi protagonis dan jarang memberi kemungkinan bagi lawan dialog saya untuk benar. Tak hanya itu, seringkali dialog dengan orang lain menimbulkan konflik yang pada gilirannya merubuhkan akal sehat.
Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang keluar dari diriku, maka kubiarkan mereka jadi apapun. Kubiarkan yang satu menjadi rembulan, dan kubolehkan yang lainnya menjadi bintang. Kubebaskan yang satu jadi Munkar, dan yang lainnya menjadi Nakir. Kuciptakan yang satu menjadi iblis, dan yang lainnya menjadi Tuhan. Kuberi kemerdekaan yang satu menjadi malam, dan yang satunya lagi jadi cahaya. Mereka kuciptakan untuk menemaniku berbagi cerita. Mereka kuminta untuk mengajukan pendapat dan membicarakan banyak persoalan eksistensial. Mereka kulahirkan menjadi teman dan lawan dialog yang menyenangkan dan penuh perhatian. Tentu saja, teman dan lawan dialog yang sulit kutemukan di alam nyata.
Percakapan selalu berjalan tenang dan mengalir santai. Maka satu dari dua orang yang tengah duduk dihadapanku berkata:
“Berbahagialah jika kita dicintai. Karena ingatan dan kerinduan orang yang mencintai kita adalah doa. Semakin banyak orang mencintai kita, semakin banyak doa mereka menjaga hidup kita. Maka bersikap lembutlah…”
Saya mengangguk pelan dan mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Maka berkatalah ia:
“Cinta itu seperti bangunan yang megah, tapi sewaktu-waktu dapat pecah dengan mudah. Bukankah kemegahan itu nyatanya hanyalah gambar di permukaan kaca—kaca khayalan yang tak datar. Disana kita, dunia ini, seolah-olah terlihat besar; padahal sesungguhnya hanyalah ilusi. Kalaupun kita merasa begitu sulit menghapus jejak cinta dalam hati, itu hanya karena kita begitu bodoh menerima kenyataan bahwa cinta sebenarnya telah menipu kita…”
Saya kembali mengangguk pelan. Saya beri mereka waktu yang banyak seperti halnya saya punya jatah waktu yang banyak untuk membuat keputusan.
“Cinta adalah kejahatan konsepsi, atau semacam pembodohan. Boleh dibilang rayuan utopis. Atau modus murahan dari proyek raksasa bernama penindasan, hasrat, hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan serakah. Jangan biarkan dirimu mabuk tak berdaya karenanya…Hari gini kamu masih percaya cinta pejabat pada rakyat? Uh, kamu juga masih percaya kata-kata cinta dari mulut manis sang kekasih, lagu, filsafat, syair, film, dongeng dan buku-buku? Banyak orang berlindung dalam konsepsi cinta hanya karena mereka ingin menyembunyikan bahwa sifat dan keinginan mereka sangat buruk. Cinta itu sesungguhnya tak ada. Hanya ilusi. Yang ada hanyalah naluri munafik dan penipuan yang halus…Kamu sudah terlalu lama dibelenggu cinta. Kamu kehilangan banyak hal, kehilangan hakmu, kebebasanmu, hanya karena terlalu memuja cinta. Kamu rela berkorban dan menyakiti diri hanya karena terlalu lemah mengikuti cinta. Kamu merelakan segalanya hilang karena godaan cinta. Cinta adalah musuh yang menyamar di rumah hatimu. Ia membiusmu. Apa kau menyangka mereka mencintaimu? Tidak. Mereka bohong. Hati mereka sebenarnya sangat buruk. Mereka menggunakan cinta untuk kepentingan-kepentingan gila diri mereka. Kekasih? Omong kosong. Mereka tak butuh cinta. Mereka hanya merampok apa yang berharga dari diri kamu; harta, misalnya. Jika kamu tak mampu memberi mereka dunia yang mahal, maka kamu akan menyadari betapa cinta ternyata tak pernah ada dalam sejarah manusia. Cinta hanya membodohimu bahwa hubungan dengan orang lain hanyalah semacam bentuk eksploitasi yang panjang. Tak ada cinta, yang ada hanyalah uang dan kekuasaan… ”
Dan yang lainnya mendapat giliran:
“Cinta itu baik. Hidup yang baik lahir dari hubungan yang penuh cinta. Cinta itu baik, yang buruk adalah manusia yang tak mampu memahami dan mengerjakan pesan hakikatnya. Tak heran jika ada orang mengatakan cinta itu kata-kata kosong, toh mereka tak mengisinya dengan perbuatan. Cinta dapat menyelamatkan banyak hal. Belajarlah mencintai dengan melepas banyak kepentingan dan ambisi untuk lebih dicintai. Mencintai lebih penting dari dicintai. Tapi mencintai adalah langkah awal untuk dicintai. Jika kita tulus mencinta, maka dengan sendirinya kita akan mudah dicintai orang. Hubungan baik lahir karena cinta yang baik. Perbuatan baik lahir karena kita menjalani cinta dengan baik. Apa jadinya jika dunia ini kehilangan cinta? Karena cinta mengajari bahwa segala hal dapat berharga dan tak pantas untuk disakiti. Ia mengajari kita bagaimana membahagiakan orang lain. Cinta menuntun kita menjalani hidup dengan baik. Cinta pada makhluk hidup, cinta pada keseluruhan semesta, cinta pada Tuhan, akan menjadikan kita manusia terbaik, akan menjadikan hidup dan dunia ini ruang yang tenang dan menyenangkan. Kacau dunia ini jika tak ada cinta. Pembunuhan, kebencian, penindasan, dendam, kerusakan, kebodohan, ketidakadilan, kejahatan, adalah hal-hal akibat tak adanya cinta. Atau jika persoalanmu ditolak seseorang yang kamu cintai, itu tema sepele. Hal yang lebih penting adalah mencintai kehidupan. Itu akan membuatmu punya harapan yang lebih baik untuk tetap hidup dan tak bunuh diri karena kekecewaan, misalnya. Jika kamu malah kecewa karena ditolak cinta, maka itu artinya kamu masih memahami cinta sebatas kulit luar saja. Seperti juga raga sebagai pembungkus, jiwa dan cinta ternyata lebih penting. Ia inti kehidupan…”
Saya jadi penyimak yang baik. Mereka terus bicara:
“Ah, jangan terlalu berlebihan memuja cinta seperti itu. Orang seumur hidup mencari cinta, tapi tak berjumpa, karena cinta tak pernah ada. Yang ada adalah kesenangan karena hidup tak miskin, banyak uang, isteri cantik, pekerjaan yang memuaskan dan kedudukan. Berterima kasihlah pada uang, bukan cinta. Orang hidup karena uang, bukan cinta. Hidup butuh ongkos, butuh biaya, bukan cinta. Cinta adalah kekuatan? Ah, bohong. Yang ada hanyalah kekuatan yang lahir dari keinginan dan ambisi untuk menang, berhasil, sukses, dapat uang, aktivitas seks yang sempurna, dan kesenangan-kesenangan. Orang berumah tangga karena motivasi seksual, bukan cinta. Manusia itu sebenarnya binatang yang pandai berdusta tentang cinta. Banyak orang cerai karena tidak harmonis disebabkan kegagalan seks. Kalaupun rumah tangga awet, itu karena ada uang. Toh akhirnya pasangan yang tidak terpuaskan secara seksual akan berselingkuh dengan orang lain. Itu artinya seks dan uang lebih masuk akal daripada cinta.
“Ah, jangan terlalu berlebihan membenci cinta. Sudah dikatakan tadi bahwa cinta itu baik, yang tidak baik adalah perilaku manusia. Cinta itu indah, bijaksana, bersih…yang kotor adalah manusia. Cinta tidak pernah punya potensi merusak. Bukankah segala hal akan membahayakan jika berada pada tangan manusia yang tak baik. Itu sebabnya tadi ada istilah cinta kulit luar. Kamu tahu kan maksudku? Cinta kulit luar ibarat pisau yang disalahgunakan. Hakikat cinta itu baik. Ia lahir untuk kebaikan. Tapi jika disalahgunakan, ia akan kehilangan makna. Bukankah sendok dan garpu diciptakan untuk makan, kenapa harus dipakai untuk membunuh? Sebenarnya tak ada orang yang menderita karena cinta jika orang mau memahami dan mengerjakannya dengan baik. Banyak orang punya harta dan kedudukan, tapi ia menderita. Begitupun harta dan kedudukan akan disalahgunakan jika tak disertai cinta. Kita bukan hewan. Kita adalah manusia yang punya cinta. Itulah yang dapat membedakan kita berbeda dengan hewan. Soal rumah tangga, tujuannya bukan seks, tapi harmonisasi. Jika tujuannya seks, tak usah menikah. Bekal rumah tangga adalah cinta. Jika tak ada cinta, seks sekalipun tak akan indah.”
“Menurutku cinta itu tak ada…”
“Menurutku ia ada…”
“Bagaimana menurutmu?”
“Hm…”
“Jangan percaya cinta…”
“Percayalah cinta…”
“Bagaimana?”
“Hm…”
“Cinta adalah candu yang merusak…”
“Cinta bukan candu yang merusak…”
“Jika cinta itu baik, ia hanya sebatas cerita bohong yang dapat menghibur dan menyenangkan, tetapi pembodohan, tak baik bagi perkembangan mental anak-anak, juga orang dewasa…”
“Cinta itu pelajaran. Cinta adalah hikmah, adalah kebenaran. Mencintai orang lain adalah pelajaran berharga. Mencintai hidup adalah pelajaran terpenting. Kita akan hidup lebih baik…”
Malam kian larut. Percakapan terus berlanjut. Tak ada debat kusir. Tak ada pertengkaran. Tak ada teriakan. Tak ada ungkapan-ungkapan emosional. Tak ada egois dan keras kepala. Tak ada sikap-sikap yang merasa paling benar. Begitu sunyi. Malam ini sunyi…
Begitulah, setiap malam, saya terbelah menjadi tiga. Percakapan kami selalu menyenangkan, tetapi berharga. Pesan moral yang selalu saya dapat adalah: belajarlah berdialog dengan diri sendiri, sebelum berdialog dengan orang lain…
Lha, lantas apakah cinta itu ada atau hanya kebohongan?
01:55 Minggu, 29 Juni 2008 http://manuskripkesunyian.wordpress.com
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Surat Lima Belas April
|
 |
 |
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:49 WIB - Diari |
 |
| |
Hijrah Menuju Kesunyian –Untuk Al
Al, kutulis surat ini hanya karena aku sudah tak mampu lagi menyimpannya dalam halaman-halaman perasaanku ini. Tentang kenyataan hidup kita, Al. Tentang ikatan napas kita bersama orang-orang tercinta yang terasa begitu kecil dalam pusaran raksasa kemewahan dunia ini.
Bagiku hidup ini terlalu rahasia, Al. Seringkali aku ingin menumpahkan air mataku hanya karena telah begitu letih menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup ini; hanya karena tak tahu bagaimana lagi aku harus menumbuhkan kerelaan untuk melangkah. Usiaku sudah mulai bertambah, seiring bertambahnya juga hitungan peristiwa dan orang-orang yang masuk dalam catatan hidupku. Tapi apa sebenarnya yang telah berubah? Waktu justru seakan-akan menghapus ingatanku tentang satu hal, dan menghadirkan hal lain yang lebih sulit. Hidup benar-benar terasa seperti lingkaran yang sangat asing bagiku…
Al, aku ingin menyelesaikan semua persoalan ini. Aku ingin hidup tenang. Tetapi selalu saja tak kunjung bisa, hanya karena aku tak mampu mengeluarkan banyak jawaban yang nyata; hanya karena aku tak percaya diri menjalani keseharian dan tanggung jawabku.
Aku memang sempat mengingat segalanya, Al. Masa silam yang teraba begitu saja, membuatku menemukan rasa sesal dan kecewa yang sangat dalam. Aku gagal melahirkan anak-anak bernama kenangan dan pengalaman. Ingin sekali aku demikian rapat menyembunyikan apapun yang membuatku sedih, tapi selalu saja tak bisa. Ingin sekali aku menyimpan kesedihan ini dengan tabah, seperti juga orang tua yang sebenarnya demikian bertahan bertahun-tahun menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Tapi yang terjadi padaku, keinginan untuk menyembunyikan kesedihan itu justru hanya keluh kesah panjang yang menghabiskan waktuku untuk mulai menjalani hidup ini dengan baik.
Al, aku ingin meninggalkan semua ini. Aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar baru; tempat yang tak sedikitpun pernah merekam kehadiranku sebelumnya. Aku ingin benar-benar seperti bayi yang baru dilahirkan, dan memulai hidupku dari awal. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukannya, kalau memulai mencari cara untuk pergi dengan tenang saja aku tak bisa.
Aku tak betah tinggal di setiap ruang yang sudah begitu dekat kukenal, Al. Selalu saja muncul keinginan untuk berjalan bebas tanpa beban, menempati banyak ruang baru dan menikmati banyak kejadian. Aku malu dengan keadaanku sekarang. Aku kecewa dengan kenyataan ini. Tapi ternyata rantai kenyataan ini masih begitu kuat membelenggu kakiku. Selalu butuh biaya yang mahal untuk menebus kebebasan, untuk menebus kemerdekaan, untuk menebus kemenangan. Aku tahu, kenyataan ini menjadi teramat pahit bukan hanya karena aku begitu lama terpenjara dalam kenyataan ini, tetapi karena aku begitu banyak mengecewakan dan menyakiti orang-orang yang sangat aku cintai…
Al, aku benar-benar telah mengecewakan perasaan dan pengorbanan mereka. Aku takut kenyataan ini masih belum banyak menemukan perubahan, sementara mereka satu-persatu akan pergi tanpa hati yang puas melihatku berhasil dalam setiap peristiwa kemenangan.
Aku sudah lelah dipukuli mimpiku sendiri, Al. Aku bosan menutupi luka dengan luka baru. Sudah lama aku menyederhanakan setiap keinginan ke dalam bentuk yang sangat-sangat sederhana, tapi yang terjadi aku malah kehilangan segalanya. Aku seringkali berpikir kenapa aku dihadirkan diatas panggung kecemasan seperti ini? Aku kerapkali berpikir kenapa aku dilahirkan dalam kepingan dunia seperti ini? Tapi aku sadar, kenyataan ini adalah karya tanganku sendiri. Tujuan selalu diciptakan dari rangkaian proses. Tapi kenapa manusia tak punya kehebatan dapat memutar-ulang waktu? Penyesalan selalu berdiri di satu tempat, dan jalan keluar berdiri di tempat lain. Jarak yang jauh, direntang-rentang, malah semakin sakit. Setiap perbuatan selalu mengakar ke semua arah dan menacap kuat di tanah masa silam. Lalu dimanakah letak kebebasan?
Al, aku telah menghabiskan separuh hidup ini dengan berjalan mundur. Setiap akibat selalu tak pernah kulihat. Setiap pertimbangan selalu tak terlebih dulu dipikirkan. Aku tak becus mencium lubang hitam perjalanan. Aku terjerumus! Terperosok! Aku malu dengan setumpuk ketololan ini. Aku seperti seorang pelacur diatas sajadah belas kasihan!
Aku telah menghabiskan waktu hanya untuk belajar mencerca kenyataan, Al. Segala macam penyakit telah melemparku ke dalam rimba ketakutan dan keraguan menghadapi dunia. Telah kulewati waktu diantara hangar-bingar omong-kosong orang-orang. Telah kupungut hidup diantara hilir-mudik keangkuhan dunia. Aku terseret-seret diantaranya. Umurku tergilas di dalamnya. Cintaku diinjak-injak diantaranya. Rumah megah impianku digusur oleh kekonyolannya sendiri, dirubuhkan oleh kenyataan yang ada. Aku dibakar di ruang keterasinganku sendiri. Dunia berjalan lebih cepat meninggalkan impianku. Aku dicabik-cabik oleh rasa keterhinaan mengeja kalimat panjang sebuah kerumitan dunia. Aku dihimpit jeritku sendiri. Aku diejek ketidakmampuan, diejek ketidaksehatan.
Al, hari-hariku terasa pendek dan nyeri. Kusandarkan ia pada doa dan keberuntungan hari esok. Kalau-kalau…ah, selebihnya memang hanya menghemat kesedihan tanpa sedikitpun menguranginya. Ingin sekali aku menjalani sisa masa muda ini dengan lantang, berpaut dengan keriuhan bumi. Tapi ternyata hanya kesunyian yang ada. Hatiku sudah mati rasa pada hiruk-pikuk dan hura-hura. Hingga tiba saatnya aku hanya percaya pada dua kawan, yaitu ketenangan dan kesunyian.
Inilah aku, Al. Inilah aku yang akan mengisi sisa usia dengan gemetar. Hanya melakukan sesuatu yang aku bisa, meski menelantarkan banyak hal yang lainnya. Inilah aku yang menimang kekalahan dengan kedua tangan. Barangkali aku akan tenang hanya dengan memindahkan kekalahan ini ke tempat yang lain. Aku tak tahu, beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun ke depan, jika kenyataan ini masih begini, kepergianku akan dimulai. Hidup memang punya tikungan yang tak bisa kita tebak. Seperti juga hitungan tentang usia. Bukankah setiap hitungan ke depan yang sudah kita ketahui angkanya belum tentu akan terhitung? Karena kematian—direncanakan atau tidak—akan membawa kita kembali pada kekosongan.
Al, dunia ini sangat mahal. Seperti juga rasa penyesalan yang teramat mahal kutebus. Aku tak pernah berpikir bahwa keberanian adalah segalanya. Selalu saja ia menjadi kepingan diantara kepingan-kepingan yang lain. Aku memang terlalu buruk telah merusak separuh kebahagiaan kita. Aku tak becus memberikan kebahagiaan pada kehidupan kita yang sempit ini. Aku hanya bisa merampok pengorbanan dan keikhlasan orang-orang yang sudah mulai renta memikul usia dan harapannya, tanpa sedikitpun aku memberi mereka kebahagiaan.
Aku tahu tak ada perubahan, Al. Tapi aku punya satu perubahan yang kian tajam dalam jiwaku, yaitu dendam pada hidup. Perasaan itu kian tumbuh dalam dadaku. Aku tak tahu dendam itu kelak menjadi apa. Apakah ia menjadi kemenangan atau justru kekalahan yang lebih hitam, aku tak tahu. Tapi aku mulai merasakan, kesunyian telah menungguku, di ujung jalan itu. Dan kelak tiba waktunya aku akan meninggalkan segalanya, termasuk apa yang benar-benar sangat aku cintai. Ada saatnya aku mesti membuang seluruh kenangan dan kebersamaan, hanya karena mesti kembali pada pengertian bahwa diri ini sesungguhnya adalah puisi tentang kesendirian…
Salam, Badru Tamam Mifka
Sumedang, 15 04 2008 Di Hari Ulang Tahunku http://manuskripkesunyian.wordpress.com
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
RSS Blog  |
| Created: |
| Minggu, 4 Mei 2008 @ 05:22 WIB |
|
|
|