CARI:  
   Manuskrip Kesunyian
   http://mifka.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
 
           
   
PENGUMUMAN
 
Drop Box
Yang diberikan Tuhan ....
Proviciat! HEBAT!
Lomba Cerpen 2008 ; deg-deg an!
Blogger bukan hacker
 
     
 

Free chat widget @ ShoutMix
 
     
BLOG TERBARU
 
» yumi'z wave
» asmaras' blog
» impianku
» illuminati_navy
» i'm a nidjiholic
» perjuangan kita
» indonesiaku indah
» sandman
» dwiesukaharchie
» nata~chan
 
     
POSTING TERBARU
 
» pagi ini iblis bersama...
» rifqa, engkaulah wanit...
» nasionalisme
» editing
» ;; a emotional love so...
» thoughts on fi
» dari dalam hati
» 63lap!
» "adikku masuk sekolah...
» ketika sore telah tiba
 
     
   
 

PENGUMUMAN:
Drop Box
 
Mereka Yang Menangis di Depan Jenazah Ayah
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:51 WIB - Musik, Film & Hiburan
  Hari ini ayahku wafat. Dia ayah yang baik bagiku. Dia suami yang baik bagi ibuku. Dia adalah pahlawan bagi kami semua. Kasih sayang juga perlindungannya yang lembut dan sederhana pada kami, membuatku semakin percaya bahwa cinta adalah sebuah kesempurnaan…

Aku ingat, ketika masih kecil, aku selalu mendapat cerita sebelum tidur. Ada banyak cerita yang menyenangkan, tentang rembulan dan hujan. Atau tentang si kancil dan kura-kura yang berjalan lambat. Betapa hangat aku dipeluknya sebelum akhirnya aku lelap dalam mimpi indah. Tapi semenjak ayah bertugas di luar kota, cerita sebelum tidur itu hanya terdengar seminggu sekali. Tentu saja, selama di luar kota, kami sangat merindukannya untuk cepat pulang. Aku senang ketika setiapkali ayah pulang. Di depan pintu, ia mencium kening ibu dihadapanku, dan mengajak kami makan malam di akhir pekan yang selalu indah.

Setelah aku besar, dia masih tetap sosok yang sangat mesra dan perkasa. Cintanya pada ibu semakin romantis dan bijaksana. Ayah adalah lelaki terbaik bagi ibu, begitupun sebaliknya. Selama rumah tangga, mereka tak pernah bertengkar. Jika ada persoalan, mereka akan menyelesaikannya dengan baik-baik dan penuh humor. Kalaupun dulu aku pernah melihat ibu menangis, itu terjadi ketika ia sangat bahagia mendapat hadiah ulang tahun, atau ketika ayah jatuh sakit. Selebihnya, ibu memilki senyum yang panjang disamping ayah. Itulah ayah, pria yang lembut dan penuh pengertian. Tapi dia kini tinggal kenangan. Setelah satu minggu terbaring dengan tubuh sakit-sakitan, kematian akhirnya merangkulnya.

Ibu pasti sangat sedih kehilangan ayah, melebihi kesedihan siapapun. Air matanya tak henti mengalir semenjak pertama kalinya ayah jatuh sakit hingga kini wafat. Hanya aku kini satu-satunya milik ibu. Kerabat ibu sudah lama tak terdengar lagi kabarnya. Menjadi kebahagiaan terbesarku jika kini aku akan menghabiskan masa remajaku untuk menjaga dan menemani ibu, menghapus kesedihan ibu. Kami akan tetap tinggal di rumah sederhana ini. Rumah dari kerja keras ayah selama ini.

Aku merangkul ibu yang masih menangis di hadapan jenazah ayah. Doa-doa terdengar dari mulut orang-orang yang sejak pagi tadi duduk melingkar depan jenazah. Sebelum dzuhur jenazah ayah rencananya akan dikebumikan. Kini kami tinggal menunggu beberapa teman ayah dari luar kota yang rencananya akan datang ke sini. Setelah itu segalanya sudah dipersiapkan dengan baik.

Pukul setengah sepuluh teman-teman ayah mulai berdatangan. Mereka turut berbela sungkawa. Ada yang bercerita panjang lebar tentang pengalaman masa kecilnya dengan ayah. Ada juga yang bercerita tentang kebaikan-kebaikan ayah selama hidup. Atau ada seorang perempuan dengan dua anak kecil-kecil yang tiba-tiba menangis keras di hadapan jenazah ayah…

“Mas, maafkan aku…” ucapnya pelan di sela tangisnya. Perempuan itu, dan kedua anaknya, terdengar menangis demikian pedih di hadapan jenazah ayah. Aku perlahan menghampiri ibu yang mulai berhenti menangis. Ia menatapku perlahan.

“Ibu tak tahu siapa mereka…” ucapnya parau. Aku mencoba tersenyum dan merangkulnya. Tak lama kemudian aku melihat perempuan asing itu bangkit, mengusap air matanya dan membawa kedua anaknya yang tak henti menangis keluar ruangan. Aku diam-diam mengikutinya dari belakang sampai akhirnya mereka masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di halaman rumahku. Aku melihat mereka memilki kesedihan yang lebih besar dari kami, dari ibuku. Anak-anak yang lucu. Anak-anak yang tak henti menangis dan meronta-ronta tak mau berada di dalam taksi. Anak-anak yang memanggil nama ayah dalam tangis mereka yang memilukan…

Sumedang, 28 Juni 2008
http://manuskripkesunyian.wordpress.com
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
Apakah Cinta Ada Atau Tak Ada?
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:50 WIB - Diari
  Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang yang keluar dari tubuh saya dan berdiri di hadapan saya. Mereka mirip dengan saya. Kejadian itu menyadarkan saya satu hal: jadilah orang lain, maka kamu akan menemukan ragam penilaian yang penuh kebenaran tentang diri. Maka bersitataplah kami bertiga…

Siapapun yang mengalami hal seperti itu pasti akan merasa asing pada diri sendiri. Ternyata diri kita selama ini begitu luput untuk dimengerti dan diakrabi oleh diri sendiri, seperti halnya dengan nama kita yang jarang disebut oleh mulut kita sendiri. Pernahkah bercermin? Bukankah penilaian pada diri hadir di saat kita menemukan diri kita mata kita sendiri? Kita ternyata lebih mudah menemukan penilaian baik dan buruk terhadap orang lain ketimbang pada diri sendiri. Itu karena kita sudah kadung menganggap baik dan buruk segalanya selalu diukur dari sesuatu yang berjarak dari diri kita. Maka sesering apakah kita menilai diri, mencaci diri, memberi kritik pada diri?

Ada kalanya kita begitu angkuh dan tegap di hadapan orang lain, tapi di saat yang lain kita diam-diam begitu lemah dan mudah terhasut orang lain. Itu artinya kita ternyata tak bisa sepenuhnya mencintai diri sendiri dan tak juga sepenuhnya dapat diperbudak orang lain. Seringkali saya selalu belajar untuk menjadi orang lain bagi diri sendiri. Maksud saya, diciptakan sedemikian rupa keadaan seolah-olah saya tengah berdialog dengan diri sendiri. Seperti juga tokoh-tokoh fiksi yang saya ciptakan sendiri, dan pada gilirannya mereka menjadi lawan bicara saya. Disana saya membiarkan tokoh-tokoh imajiner itu punya otonomi kesadaran. Saya biarkan mereka memilih selera, pendapat dan imajinasi yang berbeda dengan diri saya.

Justru dialog seperti itulah yang membuat saya berada dalam posisi yang menyenangkan. Saya seperti menemukan banyak “orang lain” dalam novel yang saya ciptakan sendiri. Berdialog dengan orang lain dalam arti sebenarnya, misalnya, selalu berakhir buruk. Disana saya tak jarang memosisikan sebagai “orang paling benar” bahkan di saat dialog belum dilakukan sedikitpun. Saya kadung dilingkupi ribuan prasangka jauh sebelum segala hal terjadi. Itu artinya saya hampir seratus persen memutlakan diri menjadi protagonis dan jarang memberi kemungkinan bagi lawan dialog saya untuk benar. Tak hanya itu, seringkali dialog dengan orang lain menimbulkan konflik yang pada gilirannya merubuhkan akal sehat.

Di suatu malam, saya terbelah menjadi tiga. Dua orang keluar dari diriku, maka kubiarkan mereka jadi apapun. Kubiarkan yang satu menjadi rembulan, dan kubolehkan yang lainnya menjadi bintang. Kubebaskan yang satu jadi Munkar, dan yang lainnya menjadi Nakir. Kuciptakan yang satu menjadi iblis, dan yang lainnya menjadi Tuhan. Kuberi kemerdekaan yang satu menjadi malam, dan yang satunya lagi jadi cahaya. Mereka kuciptakan untuk menemaniku berbagi cerita. Mereka kuminta untuk mengajukan pendapat dan membicarakan banyak persoalan eksistensial. Mereka kulahirkan menjadi teman dan lawan dialog yang menyenangkan dan penuh perhatian. Tentu saja, teman dan lawan dialog yang sulit kutemukan di alam nyata.

Percakapan selalu berjalan tenang dan mengalir santai. Maka satu dari dua orang yang tengah duduk dihadapanku berkata:

“Berbahagialah jika kita dicintai. Karena ingatan dan kerinduan orang yang mencintai kita adalah doa. Semakin banyak orang mencintai kita, semakin banyak doa mereka menjaga hidup kita. Maka bersikap lembutlah…”

Saya mengangguk pelan dan mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Maka berkatalah ia:

“Cinta itu seperti bangunan yang megah, tapi sewaktu-waktu dapat pecah dengan mudah. Bukankah kemegahan itu nyatanya hanyalah gambar di permukaan kaca—kaca khayalan yang tak datar. Disana kita, dunia ini, seolah-olah terlihat besar; padahal sesungguhnya hanyalah ilusi. Kalaupun kita merasa begitu sulit menghapus jejak cinta dalam hati, itu hanya karena kita begitu bodoh menerima kenyataan bahwa cinta sebenarnya telah menipu kita…”

Saya kembali mengangguk pelan. Saya beri mereka waktu yang banyak seperti halnya saya punya jatah waktu yang banyak untuk membuat keputusan.

“Cinta adalah kejahatan konsepsi, atau semacam pembodohan. Boleh dibilang rayuan utopis. Atau modus murahan dari proyek raksasa bernama penindasan, hasrat, hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan serakah. Jangan biarkan dirimu mabuk tak berdaya karenanya…Hari gini kamu masih percaya cinta pejabat pada rakyat? Uh, kamu juga masih percaya kata-kata cinta dari mulut manis sang kekasih, lagu, filsafat, syair, film, dongeng dan buku-buku? Banyak orang berlindung dalam konsepsi cinta hanya karena mereka ingin menyembunyikan bahwa sifat dan keinginan mereka sangat buruk. Cinta itu sesungguhnya tak ada. Hanya ilusi. Yang ada hanyalah naluri munafik dan penipuan yang halus…Kamu sudah terlalu lama dibelenggu cinta. Kamu kehilangan banyak hal, kehilangan hakmu, kebebasanmu, hanya karena terlalu memuja cinta. Kamu rela berkorban dan menyakiti diri hanya karena terlalu lemah mengikuti cinta. Kamu merelakan segalanya hilang karena godaan cinta. Cinta adalah musuh yang menyamar di rumah hatimu. Ia membiusmu. Apa kau menyangka mereka mencintaimu? Tidak. Mereka bohong. Hati mereka sebenarnya sangat buruk. Mereka menggunakan cinta untuk kepentingan-kepentingan gila diri mereka. Kekasih? Omong kosong. Mereka tak butuh cinta. Mereka hanya merampok apa yang berharga dari diri kamu; harta, misalnya. Jika kamu tak mampu memberi mereka dunia yang mahal, maka kamu akan menyadari betapa cinta ternyata tak pernah ada dalam sejarah manusia. Cinta hanya membodohimu bahwa hubungan dengan orang lain hanyalah semacam bentuk eksploitasi yang panjang. Tak ada cinta, yang ada hanyalah uang dan kekuasaan… ”

Dan yang lainnya mendapat giliran:

“Cinta itu baik. Hidup yang baik lahir dari hubungan yang penuh cinta. Cinta itu baik, yang buruk adalah manusia yang tak mampu memahami dan mengerjakan pesan hakikatnya. Tak heran jika ada orang mengatakan cinta itu kata-kata kosong, toh mereka tak mengisinya dengan perbuatan. Cinta dapat menyelamatkan banyak hal. Belajarlah mencintai dengan melepas banyak kepentingan dan ambisi untuk lebih dicintai. Mencintai lebih penting dari dicintai. Tapi mencintai adalah langkah awal untuk dicintai. Jika kita tulus mencinta, maka dengan sendirinya kita akan mudah dicintai orang. Hubungan baik lahir karena cinta yang baik. Perbuatan baik lahir karena kita menjalani cinta dengan baik. Apa jadinya jika dunia ini kehilangan cinta? Karena cinta mengajari bahwa segala hal dapat berharga dan tak pantas untuk disakiti. Ia mengajari kita bagaimana membahagiakan orang lain. Cinta menuntun kita menjalani hidup dengan baik. Cinta pada makhluk hidup, cinta pada keseluruhan semesta, cinta pada Tuhan, akan menjadikan kita manusia terbaik, akan menjadikan hidup dan dunia ini ruang yang tenang dan menyenangkan. Kacau dunia ini jika tak ada cinta. Pembunuhan, kebencian, penindasan, dendam, kerusakan, kebodohan, ketidakadilan, kejahatan, adalah hal-hal akibat tak adanya cinta. Atau jika persoalanmu ditolak seseorang yang kamu cintai, itu tema sepele. Hal yang lebih penting adalah mencintai kehidupan. Itu akan membuatmu punya harapan yang lebih baik untuk tetap hidup dan tak bunuh diri karena kekecewaan, misalnya. Jika kamu malah kecewa karena ditolak cinta, maka itu artinya kamu masih memahami cinta sebatas kulit luar saja. Seperti juga raga sebagai pembungkus, jiwa dan cinta ternyata lebih penting. Ia inti kehidupan…”

Saya jadi penyimak yang baik. Mereka terus bicara:

“Ah, jangan terlalu berlebihan memuja cinta seperti itu. Orang seumur hidup mencari cinta, tapi tak berjumpa, karena cinta tak pernah ada. Yang ada adalah kesenangan karena hidup tak miskin, banyak uang, isteri cantik, pekerjaan yang memuaskan dan kedudukan. Berterima kasihlah pada uang, bukan cinta. Orang hidup karena uang, bukan cinta. Hidup butuh ongkos, butuh biaya, bukan cinta. Cinta adalah kekuatan? Ah, bohong. Yang ada hanyalah kekuatan yang lahir dari keinginan dan ambisi untuk menang, berhasil, sukses, dapat uang, aktivitas seks yang sempurna, dan kesenangan-kesenangan. Orang berumah tangga karena motivasi seksual, bukan cinta. Manusia itu sebenarnya binatang yang pandai berdusta tentang cinta. Banyak orang cerai karena tidak harmonis disebabkan kegagalan seks. Kalaupun rumah tangga awet, itu karena ada uang. Toh akhirnya pasangan yang tidak terpuaskan secara seksual akan berselingkuh dengan orang lain. Itu artinya seks dan uang lebih masuk akal daripada cinta.

“Ah, jangan terlalu berlebihan membenci cinta. Sudah dikatakan tadi bahwa cinta itu baik, yang tidak baik adalah perilaku manusia. Cinta itu indah, bijaksana, bersih…yang kotor adalah manusia. Cinta tidak pernah punya potensi merusak. Bukankah segala hal akan membahayakan jika berada pada tangan manusia yang tak baik. Itu sebabnya tadi ada istilah cinta kulit luar. Kamu tahu kan maksudku? Cinta kulit luar ibarat pisau yang disalahgunakan. Hakikat cinta itu baik. Ia lahir untuk kebaikan. Tapi jika disalahgunakan, ia akan kehilangan makna. Bukankah sendok dan garpu diciptakan untuk makan, kenapa harus dipakai untuk membunuh? Sebenarnya tak ada orang yang menderita karena cinta jika orang mau memahami dan mengerjakannya dengan baik. Banyak orang punya harta dan kedudukan, tapi ia menderita. Begitupun harta dan kedudukan akan disalahgunakan jika tak disertai cinta. Kita bukan hewan. Kita adalah manusia yang punya cinta. Itulah yang dapat membedakan kita berbeda dengan hewan. Soal rumah tangga, tujuannya bukan seks, tapi harmonisasi. Jika tujuannya seks, tak usah menikah. Bekal rumah tangga adalah cinta. Jika tak ada cinta, seks sekalipun tak akan indah.”

“Menurutku cinta itu tak ada…”

“Menurutku ia ada…”

“Bagaimana menurutmu?”

“Hm…”

“Jangan percaya cinta…”

“Percayalah cinta…”

“Bagaimana?”

“Hm…”

“Cinta adalah candu yang merusak…”

“Cinta bukan candu yang merusak…”

“Jika cinta itu baik, ia hanya sebatas cerita bohong yang dapat menghibur dan menyenangkan, tetapi pembodohan, tak baik bagi perkembangan mental anak-anak, juga orang dewasa…”

“Cinta itu pelajaran. Cinta adalah hikmah, adalah kebenaran. Mencintai orang lain adalah pelajaran berharga. Mencintai hidup adalah pelajaran terpenting. Kita akan hidup lebih baik…”

Malam kian larut. Percakapan terus berlanjut. Tak ada debat kusir. Tak ada pertengkaran. Tak ada teriakan. Tak ada ungkapan-ungkapan emosional. Tak ada egois dan keras kepala. Tak ada sikap-sikap yang merasa paling benar. Begitu sunyi. Malam ini sunyi…

Begitulah, setiap malam, saya terbelah menjadi tiga. Percakapan kami selalu menyenangkan, tetapi berharga. Pesan moral yang selalu saya dapat adalah: belajarlah berdialog dengan diri sendiri, sebelum berdialog dengan orang lain…

Lha, lantas apakah cinta itu ada atau hanya kebohongan?

01:55 Minggu, 29 Juni 2008
http://manuskripkesunyian.wordpress.com
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
Surat Lima Belas April
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:49 WIB - Diari
 
Hijrah Menuju Kesunyian
–Untuk Al

Al, kutulis surat ini hanya karena aku sudah tak mampu lagi menyimpannya dalam halaman-halaman perasaanku ini. Tentang kenyataan hidup kita, Al. Tentang ikatan napas kita bersama orang-orang tercinta yang terasa begitu kecil dalam pusaran raksasa kemewahan dunia ini.

Bagiku hidup ini terlalu rahasia, Al. Seringkali aku ingin menumpahkan air mataku hanya karena telah begitu letih menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup ini; hanya karena tak tahu bagaimana lagi aku harus menumbuhkan kerelaan untuk melangkah. Usiaku sudah mulai bertambah, seiring bertambahnya juga hitungan peristiwa dan orang-orang yang masuk dalam catatan hidupku. Tapi apa sebenarnya yang telah berubah? Waktu justru seakan-akan menghapus ingatanku tentang satu hal, dan menghadirkan hal lain yang lebih sulit. Hidup benar-benar terasa seperti lingkaran yang sangat asing bagiku…

Al, aku ingin menyelesaikan semua persoalan ini. Aku ingin hidup tenang. Tetapi selalu saja tak kunjung bisa, hanya karena aku tak mampu mengeluarkan banyak jawaban yang nyata; hanya karena aku tak percaya diri menjalani keseharian dan tanggung jawabku.

Aku memang sempat mengingat segalanya, Al. Masa silam yang teraba begitu saja, membuatku menemukan rasa sesal dan kecewa yang sangat dalam. Aku gagal melahirkan anak-anak bernama kenangan dan pengalaman. Ingin sekali aku demikian rapat menyembunyikan apapun yang membuatku sedih, tapi selalu saja tak bisa. Ingin sekali aku menyimpan kesedihan ini dengan tabah, seperti juga orang tua yang sebenarnya demikian bertahan bertahun-tahun menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Tapi yang terjadi padaku, keinginan untuk menyembunyikan kesedihan itu justru hanya keluh kesah panjang yang menghabiskan waktuku untuk mulai menjalani hidup ini dengan baik.

Al, aku ingin meninggalkan semua ini. Aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar baru; tempat yang tak sedikitpun pernah merekam kehadiranku sebelumnya. Aku ingin benar-benar seperti bayi yang baru dilahirkan, dan memulai hidupku dari awal. Tapi bagaimana mungkin aku bisa melakukannya, kalau memulai mencari cara untuk pergi dengan tenang saja aku tak bisa.

Aku tak betah tinggal di setiap ruang yang sudah begitu dekat kukenal, Al. Selalu saja muncul keinginan untuk berjalan bebas tanpa beban, menempati banyak ruang baru dan menikmati banyak kejadian. Aku malu dengan keadaanku sekarang. Aku kecewa dengan kenyataan ini. Tapi ternyata rantai kenyataan ini masih begitu kuat membelenggu kakiku. Selalu butuh biaya yang mahal untuk menebus kebebasan, untuk menebus kemerdekaan, untuk menebus kemenangan. Aku tahu, kenyataan ini menjadi teramat pahit bukan hanya karena aku begitu lama terpenjara dalam kenyataan ini, tetapi karena aku begitu banyak mengecewakan dan menyakiti orang-orang yang sangat aku cintai…

Al, aku benar-benar telah mengecewakan perasaan dan pengorbanan mereka. Aku takut kenyataan ini masih belum banyak menemukan perubahan, sementara mereka satu-persatu akan pergi tanpa hati yang puas melihatku berhasil dalam setiap peristiwa kemenangan.

Aku sudah lelah dipukuli mimpiku sendiri, Al. Aku bosan menutupi luka dengan luka baru. Sudah lama aku menyederhanakan setiap keinginan ke dalam bentuk yang sangat-sangat sederhana, tapi yang terjadi aku malah kehilangan segalanya. Aku seringkali berpikir kenapa aku dihadirkan diatas panggung kecemasan seperti ini? Aku kerapkali berpikir kenapa aku dilahirkan dalam kepingan dunia seperti ini? Tapi aku sadar, kenyataan ini adalah karya tanganku sendiri. Tujuan selalu diciptakan dari rangkaian proses. Tapi kenapa manusia tak punya kehebatan dapat memutar-ulang waktu? Penyesalan selalu berdiri di satu tempat, dan jalan keluar berdiri di tempat lain. Jarak yang jauh, direntang-rentang, malah semakin sakit. Setiap perbuatan selalu mengakar ke semua arah dan menacap kuat di tanah masa silam. Lalu dimanakah letak kebebasan?

Al, aku telah menghabiskan separuh hidup ini dengan berjalan mundur. Setiap akibat selalu tak pernah kulihat. Setiap pertimbangan selalu tak terlebih dulu dipikirkan. Aku tak becus mencium lubang hitam perjalanan. Aku terjerumus! Terperosok! Aku malu dengan setumpuk ketololan ini. Aku seperti seorang pelacur diatas sajadah belas kasihan!

Aku telah menghabiskan waktu hanya untuk belajar mencerca kenyataan, Al. Segala macam penyakit telah melemparku ke dalam rimba ketakutan dan keraguan menghadapi dunia. Telah kulewati waktu diantara hangar-bingar omong-kosong orang-orang. Telah kupungut hidup diantara hilir-mudik keangkuhan dunia. Aku terseret-seret diantaranya. Umurku tergilas di dalamnya. Cintaku diinjak-injak diantaranya. Rumah megah impianku digusur oleh kekonyolannya sendiri, dirubuhkan oleh kenyataan yang ada. Aku dibakar di ruang keterasinganku sendiri. Dunia berjalan lebih cepat meninggalkan impianku. Aku dicabik-cabik oleh rasa keterhinaan mengeja kalimat panjang sebuah kerumitan dunia. Aku dihimpit jeritku sendiri. Aku diejek ketidakmampuan, diejek ketidaksehatan.

Al, hari-hariku terasa pendek dan nyeri. Kusandarkan ia pada doa dan keberuntungan hari esok. Kalau-kalau…ah, selebihnya memang hanya menghemat kesedihan tanpa sedikitpun menguranginya. Ingin sekali aku menjalani sisa masa muda ini dengan lantang, berpaut dengan keriuhan bumi. Tapi ternyata hanya kesunyian yang ada. Hatiku sudah mati rasa pada hiruk-pikuk dan hura-hura. Hingga tiba saatnya aku hanya percaya pada dua kawan, yaitu ketenangan dan kesunyian.

Inilah aku, Al. Inilah aku yang akan mengisi sisa usia dengan gemetar. Hanya melakukan sesuatu yang aku bisa, meski menelantarkan banyak hal yang lainnya. Inilah aku yang menimang kekalahan dengan kedua tangan. Barangkali aku akan tenang hanya dengan memindahkan kekalahan ini ke tempat yang lain. Aku tak tahu, beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun ke depan, jika kenyataan ini masih begini, kepergianku akan dimulai. Hidup memang punya tikungan yang tak bisa kita tebak. Seperti juga hitungan tentang usia. Bukankah setiap hitungan ke depan yang sudah kita ketahui angkanya belum tentu akan terhitung? Karena kematian—direncanakan atau tidak—akan membawa kita kembali pada kekosongan.

Al, dunia ini sangat mahal. Seperti juga rasa penyesalan yang teramat mahal kutebus. Aku tak pernah berpikir bahwa keberanian adalah segalanya. Selalu saja ia menjadi kepingan diantara kepingan-kepingan yang lain. Aku memang terlalu buruk telah merusak separuh kebahagiaan kita. Aku tak becus memberikan kebahagiaan pada kehidupan kita yang sempit ini. Aku hanya bisa merampok pengorbanan dan keikhlasan orang-orang yang sudah mulai renta memikul usia dan harapannya, tanpa sedikitpun aku memberi mereka kebahagiaan.

Aku tahu tak ada perubahan, Al. Tapi aku punya satu perubahan yang kian tajam dalam jiwaku, yaitu dendam pada hidup. Perasaan itu kian tumbuh dalam dadaku. Aku tak tahu dendam itu kelak menjadi apa. Apakah ia menjadi kemenangan atau justru kekalahan yang lebih hitam, aku tak tahu. Tapi aku mulai merasakan, kesunyian telah menungguku, di ujung jalan itu. Dan kelak tiba waktunya aku akan meninggalkan segalanya, termasuk apa yang benar-benar sangat aku cintai. Ada saatnya aku mesti membuang seluruh kenangan dan kebersamaan, hanya karena mesti kembali pada pengertian bahwa diri ini sesungguhnya adalah puisi tentang kesendirian…

Salam,
Badru Tamam Mifka

Sumedang, 15 04 2008
Di Hari Ulang Tahunku
http://manuskripkesunyian.wordpress.com
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
Surat Cinta Untuk Kekasih
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:48 WIB - Diari
  Sebab sebagaimana cinta memahkotaimu,
dia juga akan menyalibmu.
Cinta akan menumbuhkanmu,
Juga akan memangkasmu.
(Khalil Gibran)

Salam sejahtera.

(1)
Kekasih, surat ini sengaja kutulis untukmu. Hanya karena aku tak begitu yakin mampu bertanya kenapa setiap musim juga hujan yang tiba-tiba kita terima acapkali tak meninggalkan namanya di tepi mimpi dan tempat tidur kita. Seperti kita yang tiba-tiba jatuh cinta pada seseorang, lalu pada doa, juga seringkas kenangan dan batas-batas.

Usia kita, kekasihku, tak perlu renta dalam cinta.
Lalu siapa yang berani berjalan lebih cepat dari cinta?
Tapi aku sejenak hanya ingin sendiri dengan mata yang terpejam dan berharap dapat melakukan sesuatu yang terbaik untuk mengenang seseorang. Mungkin aku akan mencatat kenangan itu dalam baris-baris puisi, catatan harian, sebuah cerita kecil atau bahkan mencoba melukis garis-garis wajahnya dipermukaan kertas atau kanvas. Dan kini, aku ingin menulis surat untukmu, sekedar mengenangmu dalam sebuah kerinduan yang paling hening, sekedar menyampaikan sesuatu dengan sederhana dan terus terang. Lalu kelak malam mengendap senyap, dan aku akan menemukan ruang yang cukup mesra untuk menafsirmu lewat puisi, juga doa.

Mei tahun lalu, bukan, barangkali Juni atau Januari tahun ini. Entahlah. Tapi aku ingat, hujan dan puisi tentangmu menyekapku dalam labirin kerinduan yang panjang. Ada kenangan kembali terdengar seperti suara gerimis di daun-daun, tanah dan atap rumah—serupa bunyi detik jam atau suara hela menarik napas. Sekejap puisi pun menjadi lengkap ketika disebuah tikungan jalan aku bertemu denganmu—sebuah tikungan yang sampai kini tak pernah bisa aku luruskan dengan beberapa kata dan semesta air mata. Cinta datang tanpa memberi kita waktu yang panjang untuk membicarakannya…

Aku tak pernah setuju bahwa aku pernah jatuh cinta dengan tergesa-gesa pada seseorang seperti anak kecil yang tiba-tiba jatuh cinta pada sebuah mainan di etalase toko tepi jalan. Setiap orang memang cenderung demikian tergesa-gesa menerima cinta sebagai sesuatu yang gampang dan sepenuhnya indah, tanpa luka. Padahal Gibran pernah bilang bahwa cinta adalah “mahkota sekaligus penyaliban.” Tapi kerapkali kita menolak satu sisi perih dari keping cinta bermata dua.


(2)
Tiba-tiba jam berputar serupa labirin…
Ada kawan sedang patah hati. Setiap malam menjeritkan nyerinya. Ia lantas di pagi harinya—sudah menjadi sebuah “penyakit” tetapi lumayan kreatif—akan membacakan puisi di toilet keras-keras. Hingga antrian orang yang mau mandi terus menggerutu. Ketika melihat kondisi kawanku yang kadang dapat meresahkan masyarakat, gila dan anarkis, aku akan perlahan mendekatinya. Tetapi ia bicara padaku bahwa ia heran dengan perempuan, ia tengah mengutuk tubuhnya sendiri sekaligus mengutuk nasib. Akupun menyusuri warna nasibnya. Ingin membuatnya kembali ceria. Setidaknya malam ini, menjelang ia tidur. Bahwa kemudian pagi hari ia kumat lagi, itu soal lain. Kejadian seperti itu membuatku memikirkan seseuatu yang memang cukup meresahkan.

Tetapi jika prasangka kawanku benar, bahwa seolah-olah asmara berkiblat pada tubuh, maka akan ada beribu orang yang kehilangan hak dicintai dan mencintai. Kawanku selalu mengeluh tentang wajah dalam perjalanan cintanya. “Wajahku jelek, dan perempuan itu cantik,” keluhnya. Ia tak percaya diri. Ia merasa kehilangan sesuatu. Atau bahkan ada pendam berontak seolah-olah ia ingin berteriak, seperi laiknya Gibran: aku dilahirkan dari keindahan cinta dan kasih sayang, maka aku berhak mencintai dan dicintai! “Tapi kenapa?” tanyanya pelan. Sambil berbaring, akupun ikut bertanya: “Apakah ini takdir mpunya firman? Atau jejaring nilai buah konstruksi sosial dan media yang begitu gaduh merekonstruksi mitos tubuh dan wajah pria dan wanita dalam iklan dan disetiap citra yang dibisikkan dalam gosip-gosip para perawan desa maupun gadis-gadis kota yang gandrung majalah remaja?”

Persoalan tersebut akhirnya aku angkat dalam sebuah diskusi menjelang tengah malam yang digelar di sebuah organisasi. Aku memang pernah dengan semangat dan yakin (mungkin juga dendam, defresi atau bahkan gila) berkata: “Wajah, dalam hal ini—disamping uang dan harta, pada dasarnya adalah alasan utama yang kerap menguasai logika perempuan (bahkan laki-laki), kenapa ia membuat yang lainnya berhenti dan terbuang dipintu gerbang asmara. Alasan itu berupa kata-kata yang tak keluar dari mulutnya. Ia mengendap di alam bawah sadar. Perempuan boleh membela diri bahwa krieria wajah atau fisik menempati urutan terbawah dari daftar kriteria tentang imajinasi pasangannnya. Bahkan ada yang membuangnya dari daftar kriteria.

Misal, mereka mengagungkan dan mengutamakan kriteria “lelaki baik hati” sebagai pilihan yang terpenting. Tetapi ketika datang seseorang yang mampu memenuhi kriteria tersebut, ia tetap menolak cintanya dengan alasan yang berbelit-belit: ingin sendiri, mau konsen kuliah, sudah punya pacar (padahal jomblo), belum waktunya, dilarang pacaran sama mama dan sebagainya dan sebagainya… Mereka kesulitan untuk jujur bahwa mereka memiliki obsesi yang tinggi akan wajah yang tampan, tubuh yang bagus dan lainnya…” ucapku panjang lebar. Bahkan dengan jengkel, aku mengatakan bahwa hakikat cinta telah nyaris lenyap dari kesadaran masyarakat. Bahkan di dunia remaja, cinta mengalami reduksi. Ia menjadi sekedar birahi, phsycly dan fun. Atau “cinta” bahkan dipahami sekedar dunia remaja, hubungan asmara antara dua sejoli. Mereka lupa bahwa cinta itu universal. Cinta pada Tuhan, orang tua, sahabat atau bahkan cinta pada orang yang memusuhi kita bla…bla…bla…

Diskusi, seperti biasa, akan melebar; dari mulai sharring, tukar pengalaman, debat, legitimasi ayat dan kutipan, persoalan teologi sampai membayangkan apa bunuh diri paling cantik bagi kami.

Disaat-saat patah hati, misalnya, seseorang memang harus menulis atau bicara banyak hal pada seseorang. Lalu kukatakan pada kawanku: “Setiap orang telah mengalami hal yang sama, Cuma soal waktu dan sikap apa yang seharusnya dilakukan. Kegagalan cinta itu hal yang wajar. Teruslah berjalan, kalau takut, duduklah! Tetapi itu berarti kau kehilangan kesempatan untuk mengerti cinta. Ekspresikan saja luka-luka, tentu saja lewat hal-hal yang positif. Berpuisilah, atau melukislah, atau bernyanyilah, atau menulislah…

Memang, cinta dapat membuat orang merdeka lewat karya-karyanya. Seperti semangat yang berkelindan dalam lukisan Monalisa-nya Leonardo Da Vinci, para filosof, sufi-sufi dan puisi atau karya sastra para sastrawan—karena cinta. Bahkan moralitas, keadilan dan kebenaran lahir dari agungnya cinta. Kita boleh luka oleh cinta, tetapi jangan pernah kalah olehnya (maksudnya, diperbudak). Bahwa kemudian kau tak merasa merdeka karena seseorang tak kunjung mau percaya padamu, itu soal lain. Jangan lari dari luka, tetapi dekaplah perihnya. “Kenikmatan hidup, kawan, dapat hadir dari himpitan rasa sakit…” kataku padanya yang terus murung. “Waspadalah, bukankah cinta juga bisa bikin orang gila—bahkan bunuh diri?”

Setiap orang cenderung selalu ingin merasa utuh dihadapan sang Kekasih. Padahal ia demikian kecil, keinginan yang menggebu untuk menjadi kekasih yang utuh—sebuah obsesi pecinta khas manusia! Seutuh apapun ia, setiap orang memang tak pernah kunjung lengkap. Selalu, setiap orang ingin dilengkapi oleh yang lain, termasuk sang pecinta.

Mungkin juga cinta hamba terhadap Tuhannya. Selalu, keinginan akan kehadiran sang Kekasih kian kekal. Begitupun cinta sesama manusia. Mencintaimu membuatku mau belajar pada setiap orang di tepi jalan, diruas-ruas buku dan kaki langit yang paling sepi—aku mau belajar pada semesta, pada hidup. Tapi bukankah kita juga dapat “mati” oleh cinta jika kita tak menerima cinta sebagai sebuah pelajaran untuk mencintai yang lainnya dalam keadaan paling buruk sekalipun. Perceraian dalam rumah tangga, misalnya, seringkali mengabaikan hal itu, kan? Tapi Nabi Muhammad ketika diludahi, malah mendoakan orang yang meludahinya. Mulia kan? Mungkin itu bagian sikap dari cinta yang agung…


(3)
Tiba-tiba jam berhenti setajam belati…
Kekasih, terus terang, malam ini aku sebenarnya tak mengerti kenapa setiap ingatan tentang masa lalu selalu berharga untuk diungkapkan kembali, bahkan acapkali berharga untuk tetap dipertahankan. Mungkin ini semacam kerinduan. Aku memang selalu bahagia ketika memahami cinta dan kerinduan padamu sebagai sebuah gagasan dan semangat. Hingga aku cukup bahagia mempertahankannya. Karena aku merasa, setiapkali menerima kehadiran seseorang yang dicintai adalah menerima hidup yang maha tenang, nyaman dan giat berkarya serta merenung. Tetapi bisa juga berarti bermain dalam kecemasan. Bukankah kecemasan juga dapat melahirkan keindahan dan sebuah gairah berkarya?

Akupun memang harus belajar untuk hidup tegap dalam setiap keputusanku, meski setiap keputusan itu benar-benar tak nyaman—termasuk ketika aku membuat keputusan untuk tetap bertahan mencintaimu. Aku pernah menulis catatan kecil di halaman pertama buku kawanku: “…sudah saatnya kita mempercayai ada banyak hal yang dapat membuat kita merdeka dalam hidup ini, meski dicari dengan cara yang paling tak nyaman sekalipun.” Aku hanya ingin membuktikan diriku dalam doa-doa yang dapat mengubah setiap kesepian menjdi kenangan; mengubah cinta menjadi karya. Aku ingin belajar mengisi seluruh ruang dengan segenapmu.

Aku percaya, ada sesuatu yang tetap kita pertahankan dalam hidup sesingkat ini. Tapi ia sesuatu yang tak bisa disebut. Hanya jika cinta utuh dimengerti, dengan bathin yang bersih, dengan doa…

Kekasih, aku memang merasa harus menulis tentang apapun. Setidaknya aku berharap dapat belajar mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi yang lain. Malam ini, keheningan berjalan demikian perlahan. Kudengar di luar suara gitar dipetik dan seseorang telah bernyanyi. Meski kadang antara nada gitar dan nyanyian tak selaras. Ingin sekali aku menemani kawanku bernyanyi, tetapi lewat tengah malam adalah jadwalku untuk menulis. Toh bernyanyi ketika malam menjelang shubuh lumayan mengkhawatirkan, mengganggu orang tidur yang tengah bermimpi indah. Aku pernah punya pengalaman ketika nyanyianku harus dibalas dengan lemparan sepatu atau baju kotor. Malam memang lebih cantik ketika seseorang memilih diam, tanpa suara, sekedar tafakur dan menulis. Atau sekedar mengukur beberapa kenangan.

Malam inipun, aku merasa setiap kenangan tentangmu begitu cepat merangkum huruf-huruf, menjadi puisi, catatan kecil dan sebuah inspirasi untuk sebuah cerita sederhana. (walau kadang, lewat tengah malam, inspirasi boleh saja menumpuk, tetapi perut amat keroncongan.) Mungkin ada banyak orang yang selalu tak punya alasan yang cukup untuk membuang setiap kenangan yang cantik, termasuk ketika kerapkali kita demikian gugup mencari alasan yang logis kenapa kita mencintai seseorang. Orang mungkin juga tahu, selalu tak hadir alasan yang layak dan dapat dipahami kenapa mereka mencintai seseorang.

Aku sadar, orang bisa menceritakan, memikirkan dan menjelaskan segalanya tentang cinta—hanya sedikit. Selebihnya adalah entah. Karena, konon, cinta hadir diluar materi dan tidak bisa diukur dengan materi, bahkan ia sesuatu yang tidak bisa disebut. Ia hadir lebih lengkap di luar batas bahasa. Bukankah seringkali perasaan cinta terhadap apapun pada akhirnya tak punya bentuk yang utuh dalam bahasa, tak bernama? Atau memang ada banyak orang yang percaya bahwa pernyataan tentang cinta memang tak terlalu penting dihadirkan dalam kata-kata. Tak heran jika banyak orang yang mengungkapkan dan menjawab cinta dengan metafora, sikap dan isyarat-isyarat. Mereka ingin cinta tak diungkapkan secara verbal. Tapi bukan berarti mengungkapkan cinta dalam kata-kata adalah salah, tolol dan tak percaya diri.

Aku percaya bahwa kata-kata dan gambaran tentang cinta yang dapat hadir menjadi karya. Bahkan mengucapkan “aku cinta padamu” akan menjadi baris kalimat karya yang begitu tegas dalam gema kenangan, tak sekedar isyarat. Sebab isyarat sarat ambiguitas bahasa. Bukankah dengan mengamalkan cinta serta mengucapkannya sebuah persembahan akan menjadi kian lengkap?

Aku memang seringkali menemukanmu demikian utuh dalam diam daripada menemukanmu dalam sebuah obrolan panjang lebar tentangmu dengan seorang kawan. Atau aku telah menemukanmu begitu utuh pula dalam pikiran ketika aku duduk sendirian. Seperti sore tadi, kurasakan angin teduh, sesekali menggugurkan satu-dua daun dan membuatnya berserak dipermukaan tanah yang lembab. Dedaun itu sempat mengingatkan aku pada kenangan-kenangan yang berserak dalam puisi-puisi yang tak selesai atau lagu-lagu yang ingin aku nyanyikan untukmu, tapi tak pernah satupun yang kunjung selesai.

Aku memang cukup lama ringkih dan gugup mencatatmu dalam ingatanku. Tetapi selalu ada alasan yang cukup bagiku merasa bahagia menulis puisi dan catatan kecil tentangmu. Bahkan aku seringkali membayangkan kau membacakannya untukku disebuah tempat yang cukup teduh, sunyi dan sederhana. Aku selalu gembira membayangkan hal itu. Tapi jarak merentang demikian nganga dan kian panjang diantara kita. Kau hadir di batas yang terjauh, ditebing harapan yang letih untuk kutempuh.

Hingga aku mencintaimu dalam diam. Seperti diam ketika dihadapkan pada kenyataan yang sangat rumit untuk diuraikan dipermukaan keinginan. Tetapi kadang cinta membuat kita untuk tetap siap berpikir. Dan aku telah menuliskan setiap cercah pikiran itu. Seperti ketika kita mencintai seseorang, dan ia yang kita cintai tak pernah sedikitpun mencintai kita. Maka kita hanyut dalam arus kegelisahan. Dalam itu, akupun berusaha melupakanmu dengan berbagai cara, tetapi selalu saja malam yang hening dan puisi yang sunyi berulangkali menegaskanmu. Tetapi aku percaya cinta menjadi agung jika kita mampu dan ikhlas mencintai seseorang yang ternyata tak mencintai kita.

Nurani adalah sabda paling lengkap dan ia kadang menunjukkan arah lain. Demikian penempuhan ini, sabda membangun titik dikeseluruhanmu. Aku berharap ada iman yang dahaga dan demikian tetap menyala, menerangi jalan menujumu. Aku pikir, setiap orang punya alasan yang kokoh kenapa ia mesti mempertahankan keyakinannya atas cinta, meski terjal.


(4)
Kakasih, aku menemukan seorang pemikir Islam dalam sebuah buku yang usang. Ia seakan keluar dari huruf-huruf dan membentuk diri yang rendah hati duduk disampingku. Ia lalu berkata: “…jika cinta adalah lampu senter yang menerangi jalan seseorang, ia akan menunjukkan apa arti keadilan, kemuliaan kata, kemurahan hati dan ketaatan. Akupun jadi ingat ketika Hamlet, dalam lakon Shakespeare, mengatakan sesuatu pada Ophelia tentang kebenaran cinta: “Ragukan bahwa bintang-bintang itu api. Ragukan bahwa matahari itu bergerak. Ragukanlah bahwa kebenaran itu dusta. Tapi jangan ragukan cinta.” Seolah-olah Rumi pun membisikkan sebuah kalimat cantik ditelingaku: “Apakah cinta? Dahaga yang sempurna. Maka, biarkan aku berbicara tentang air kehidupan.” Mereka semua berputar, bermuara di segenap diriku.

Bahwa demikian terasa indah dan sia-sia pencarian ini; tetapi berharga. Denganmu aku bermakna. Tertawa saja karenanya. Toh setiap hal mengira itu sebuah lelucon—kecuali hati yang mengerti.

Tapi, disana kerapkali kenyataan bicara lain bahwa setiap harapan ternyata begitu rumit dan remuk, dan kitapun gamang memilih: tetap “bekerja” membentuk harapan atau “bunuh diri” jika setiap penempuhan kadung dianggap tidak realistis, dan kita dipaksa mengamini ketidakmungkinan dan kekalahan diri? Apalagi jika orang-orang disekitar kita berprasangka buruk tentang cinta kita. Lantas, apa yang tersisa pada seseorang yang demikian mencintai segenap kenangan tentang cinta, mencintai sekujur penempuhan tentang cinta dan keseluruhan waktu yang berulangkali bermuara pada seseorang yang dicintainya? Bukankah kita dapat menghapus seseorang yang dicintai dalam kata, tetapi tidak dihati?

Mereka berkata: “kenapa harus cinta dipaksakan?” saya menunduk, diam. Tapi saya harus belajar bahagia dapat mencintai seseorang, sekalipun ia tak mencintaiku dan terasa jauh, menjauh menjelma bayangan…

Pada gilirannya, kelak perasaanku menjadi terdakwa. Aku terpenjara dilema. Aku memang pernah bimbang, cukup lama. Apalagi persoalan bersilang, menumpuk dan acak. Serba letih, aku letih menulis. Tapi, syukurlah, kemudian aku memang begitu lemah untuk sekedar membunuh apa yang telah aku anggap benar—termasuk ketika aku tak mampu berpaling dari setiap gagasan dan keindahan ingatan tentangmu. Jadi, seberapa pentingkah kejujuran? Hingga ketika mengucapkannya harus menerima resiko yang tak kecil: luka, keterasingan…Tetapi kadang aku tersenyum sinis pada kenyataan, mejadi batu-batu yang siap dilemparkan ke langit. Tetapi dalam kesempatan yang lain, aku demikian luruh dihadapanmu. Rikuh. Aku tak kunjung mengerti kenapa aku demikian gemetar dihadapanmu. Selalu, ada perasaan campur aduk menyadari hadirmu, dari mulai malu, kikuk, salah tingkah dan lain sebagainya. Benar, aku harus mulai belajar jadi lelaki konyol seperti itu. Bahkan aku heran, kenapa aku lebih mudah dan berani presentasi di depan kelas atau di forum debat berjam-jam lamanya daripada harus bicara padamu meski beberapa kata tentang rasa rindu, misalnya. Apakah setiap orang pernah mengalami hal serupa?

Aku ingat, disebuah malam yang tenang, seolah Syuhrawardi memberikan sebuah buku usang berjudul Hikayat-hikayat Mistik. Sebelum pergi ia berkata: “…segala sesuatu yang ada dimanapun akan mencari kesempurnaan. Kamu tidak akan pernah melihat seseorang yang tidak cenderung pada keindahan. Dengan demikian, setiap orang adalah pencari keindahan dan berusaha mendapatkannya.” Ucapnya dengan ramah.

Lantas ia melanjutkan kata-katanya: “Tetapi alangkah sulit mendapatkan keindahan, karena pertemuan dengannya harus melalui perantaraan cinta. Dan keindahan tidak tinggal disembarang tempat, dan tidak secara sembarangan menunjukkan wajahnya pada sembarang orang. Jika secara kebetulan menemukan seseorang yang pantas memperolehnya, keindahan mengirimkan kesedihan untuk membersihkan rumah orang itu. Kamu ingin cinta?” Syuhrawardi bertanya padaku. Aku mengangguk pasti lalu ia berkata: “Masukilah dulu kesedihan, jika ia telah membersihkan seluruh dirimu, keindahan akan serta merta memelukmu…” ucapnya. Ia lalu pergi dariku, meninggalkan sisa malam yang indah bersamaku, menulusup cuaca shubuh.

Setelah pertemuan dengan kata-kata agung itu, akupun lahir dalam puisi-puisi yang mengenangmu, meski—aku tahu—kau masih menjauh. Tapi aku masih bahagia. Bukankah keindahan hakikat tak pernah bisa disebut oleh sepasang mata kepala kita yang telanjang? Disini, aku mulai belajar mensyukuri apapun yang terjadi karenamu; menyimpan perlahan sekujur usia ketabahan disepanjang ladang hidup dan pencarian. Maka akupun tetap mencarimu, atau sekedar menunggu kau lewat dihadapanku. Menunggu. Sampai matahari pelan turun dan senja meninggalkan warna jingga di pelupuk mata yang berbinar.

Seperti hidup yang tak pernah mengajarkan aku untuk jenuh ketika duduk sendiri ditepi jalan, memikirkan apapun yang mungkin menyenangkan, meski gamang. Kulihat lalu lalang orang, suara-suara percakapan orang. Seperti begitu menyenangkan pula ketika melihatmu berjalan lewat dan duduk beberapa meter dariku. Aku diam-diam akan melihatmu, karena khawatir kau mengetahui aku mencuri pandang—sebab itu berarti setiap bersitatap selalu bicara tentang sesuatu yang cemas, letih, berjarak bahkan siap merasa kalah—semacam horor rasis, tak ada kecocokan, mitos perbedaan, pongah dan sebagainya serta cerita penyatuan hati yang dianggap mustahil, setidaknya mungkin itu dalih orang yang tak mau mencintai sesamanya (?).

Namun, ketika kamu beranjak dari tempat dudukmu dan berlalu dari sana, tak lama kemudian aku akan duduk ditempat yang sama ketika kamu duduk. Aku berharap duduk ditempat yang sama adalah sesuatu yang menyenangkan, meski kamu telah beranjak pergi, meski—aku tahu—aku demikian gamang dan gemetar membayangkanmu, atau sekedar menghampiri dan menyapamu.

Sepertimu, akupun beranjak pergi dari sana. Sebelum pergi aku sejenak menatap tempat dimana kau sempat duduk dan menyimpan selembar puisi diatasnya, berharap esok hari kau duduk kembali ditempat yang sama dan menemukan puisi itu lalu membacanya. Tetapi bukankah setiap harapan tak selamanya adalah sebuah bentuk keinginan yang utuh terjadi? Begitupun puisi yang sempat aku simpan ditempat yang biasa kau duduk sejenak dan pergi. Esok hari aku mendapati puisiku masih tersimpan disana, dengan huruf-huruf yang luntur karena embun pagi yang dingin dan mengkristal jatuh diatasnya. Huruf-hurufnya tak lagi terbaca. Dan kau tak sempat menemukan dan membacanya.

Namun, ketika kita jatuh cinta, dan kita akan terus menanyakan seseorang yang dicintai sepanjang jalan pada setiap orang. Kita bahkan mencarinya. Tetapi, ketika sudah bertemu dan bertatap muka, kita tak bicara apa-apa. Bisanya hanya diam tak menentu. Memang aneh.

Hal tersebut kerapkali menghkhawatirkanku. Ingin sekali aku lebih tegap bertemu dan bicara denganmu. Hingga aku seringkali belajar pada setiap percakapan tentang pengalaman cinta orang lain. Aku sering mendengarkan obrolan kawa-kawan yang panjang tentang seseorang yang mereka taksir. Atau perilaku mereka ketika jatuh cinta Mereka tak jarang memanggil seseorang dalam gumam sendirian dan senyum-senyum sendiri, bernyanyi sendiri, bahkan diantara kawanku ada yang mendzikirkan nama seseorang yang dicintainya seusai shalat. Konyol, memang.

Aku jadi ingat sebuah pepatah Arab, Man ahabba syai`an aktsara min dzikihii, barangsiapa mencintai sesuatu, tentu banyak menyebutkannya. Akupun seringkali keceplosan memanggil teman perempuanku dengan namamu. Sebuah kesimpulan populer pun dalam pergaulan remaja kadung muncul: mereka curiga aku menyukaimu. Dan saya yakin, mereka tidak berburuk sangka dan menyebar fitnah.

Seseorang telah berkata amat cantik padaku dengan pribahasa Arab, Man mahhadhaka mawaddatahuu faqad khawwalaka muhjatahuu, barangsiapa yang benar-benar ikhlas dalam mencintaimu, maka ia telah memberikan jiwanya padamu. Juga, ia pernah menulis untukku tentang semangat dan cinta: jika cintamu adalah rahim bagi karya-karyamu. Maka rayakanlah cinta itu…meski berliku disetiap jalannya; meski perih disetiap langkahnya…

Aku pikir, ia benar, bahkan aku merasakannya. Memang, setiap senyum dan sapaan dari seseorang yang dicintai ibarat vitamin. Ia dapat membuat gairah, semangat dan gembira. Sebaliknya, beberapa hari atau bahkan jam tak senyum dan menyapaku, aku merasa lemah. Memang hal itu terkesan berlebihan. Tetapi aku merasakannya, denganmu.

Maka, aku telah belajar banyak hal dari penempuhan ini. Cinta telah mengajarkan aku untuk ikhlas mendoakanmu. Cinta yang tidak membangkitkan adalah cinta yang mati. Bukankah manusia harus siap mencintai yang lainnya untuk sepenuhnya percaya bahwa disaat yang sama ia telah mencintai seganap hidup? Di sebuah malam, Rumi pernah membisikan sesuatu ditelingaku: “Hidup adalah sekolah cinta. Dan cinta adalah satu-satunya pelajaran yang harus dipelajari dalam hidup.” Hingga sering aku percaya, bahwa seseorang dapat menjadi baru karena cinta. Ia dapat berputar, menari menempuh batas arti pengetahuan dan pemahaman. Aku, entahlah, mendadak berangsur tenang. Aku ingin menjadi baru.

Saya bersyukur, tentang kekuatan cinta: merubah segalanya jadi hal yang terbaik; besarkan hati, beri kekuatan…

Hingga aku masih berdiri, disini, menatap batas langit—mungkin juga batasmu. Ketika berjalan sendiri, hidupku demikian cukup. Saya ingin percaya bahwa langit telah teduh dan bumi bukan lagi riuh. Aku sendiri ketika manusia terdengar seperti gelas pecah dan kunang-kunang yang saling menjauh keluar dari dadanya. Aku telah sendiri ketika manusia pecah dan menjauh, ketika yang satu tak lagi siap menghargai yang lainnya, ketika yang satu tak lagi siap mencintai yang lainnya. Aku berjalan sendiri dan perlahan menghimpun keheningan dan kenangan disudut kecil yang—aku yakin—kebanyakan orang tak suka melewatinya. Menyendiri.

(5)
Kekasih, kamu berhak sepenuhnya tak bicara sedikitpun untuk menjawab tentang ini. Sebab keseluruhan dirimu telah mengajarkan aku untuk percaya bahwa cinta bisa diajukan bukan sebagai suatu pertanyaan, tetapi sesuatu yang dapat menjadi pelajaran untuk menjadi seseorang yang terbaik bagi yang lainnya, mampu bersikap memberi tanpa menuntut untuk selalu ingin menerima.

Penempuhanku yang absurd menujumu adalah karya terbaikku.
Aku ingin menemukan setiap kerinduan untukmu
sebagai sebuah gagasan dan semangat.

Aku tahu, umur akan terus bertambah disepanjang perjalanan, dalam jeram-jeram harapan akan cinta. Disana, seseorang tak sekedar menikmati cinta, tetapi juga memikirkannya. Bukankah hati juga punya logikanya sendiri? Aku ingin terus mengukur dan mensyukuri umur dengan karya. Berharap—dalam keberanian berkarya—cinta dapat masuk kedalamnya, lewat batas-batas pengertian yang sederhana sekaligus agung. Hingga harapan kelak, karya dapat mendewasakan cinta dan seseorang demikian bahagia menemukan cinta yang mendewasakan sepanjang hidupnya.


Mungkin kelak aku harus belajar bicara langsung tentang sesuatu yang sebenarnya ingin aku sampaikan padamu. Mudah-mudahan aku tak menjadi horor, tak membuat kamu takut. Mungkin suatu saat tiba-tiba aku akan berjalan menikung dan meletih dalam hidup, maka aku dapat belajar banyak hal dari kenangan tentang arti melangkah. Belajar tentang arti kehilangan, kecemasan, keindahan, ketabahan, kerinduan dan arti cinta, doa, arti berharap…Hingga tiba sebuah hidup yang demikian sederhana ketika aku terluka karena kau luka. Aku bahagia karena kau bahagia…

Kekasih, jika malam menjelang, keluarlah dan lihat langit malam. Ada banyak bahasa yang akan berbicara padamu. Sungguh, kita tak sanggup menerka beberapa menit ke depan ataupun hari esok yang penuh rahasia. Tapi, malam ini, kulihat warna langit malam menyimpan apa yang tersisa dari apa yang tak sempat aku tulis dengan selesai tentang dirimu.

Sungguh, telah kuberikan segalanya yang bisa aku berikan.
Disini sudah habis sehabis-habisnya.
Lalu setiap kata melunta dalam peta sengketa.
Setiap cuaca tiba-tiba mulai samar terbaca…

Kekasih, tapi siapa dirimu? Kekasih, tapi dimana dirimu?

 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
Surat Untuk Kawan
Jumat, 4 Juli 2008 @ 23:47 WIB - Diari
  Kawanku,

Aku khawatir kita terlalu jauh menapaki keluh demi keluh. Aku khawatir muram kita membatu, membeku dan kian kelu. Menyadari hal itu aku bergegas menulis beberapa puisi tentang cinta, tentang lelucon, optimisme, gerai tawa, dan harapan-harapan yang gagah. Tetapi, lagi-lagi, aku sering lupa meletakkan apapun. Mungkin puisi-puisi itu jatuh di jalanan atau entahlah. Aku mencari kemana-mana, tak juga kutemukan; padahal malam larut demikian kental. Demikian bengal.

Memang, sesuatu yan membosankan berjalan terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus menunduk. Sepanjang jalan aku terus mencari lipatan kertas. Aku mencarinya di tepian jalan, di toilet, di sekretariat, di tong sampah, di taman, di tikungan ingatanku. Aku terus mencari di setisp jslsn ysng beberapa jam lalu pernah kulewati. Lelah, aku bersandar di tembok gedung tak jauh dari mesjid. Tak jauh dari tempatku duduk, seorang lelaki terlihat asyik memainkan handphone. Mungkin ia asyik saling balas SMS dengan pacarnya, atau entahlah. Aku tak perlu tahu. Lelaki itu berkacamata tebal. Aku jadi ingat, dulu temanku berkacamata sangat tebal. Biji matanya di balik kaca seperti biji salak. Banyak juga orang yang mengaggap seseorang yang berkacamata pasti kutu buku. Tetapi di kampungku, ada seseorang yang berkacamata tebal padahal ia buta huruf. Waktu SMA, aku selalu menyangka bahwa guru yang berkacamata tebal pasti guru IPA, atau matematika. Aku juga kerap menyangka setiap guru matematika punya teknik matematis untuk memprediksi cuaca secara akurat. Tapi dulu ada guru matematika berteduh dari hujan. Aku keliru.

Selalu, aku keliru. Tak ada tempat yang aku temui menyimpan puisi-puisi itu. Aku berharap puisi itu terjatuh di tepi jalan; tetapi yang aku temukan hanya sobekan kertas bekas bungkus makanan. Aku juga berharap puisi itu kutemukan di tong sampah, tetapi aku hanya menemukan sobekan kertas dari buku panduan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Aku terus berharap menemukan puisi-puisi. Tetapi aku ceroboh. Aku lupa. Barangkali aku lupa. Aku curiga kepalaku hanya punya kapasitas 0MB untuk memori. Aku pelupa, sangat.


Kawanku.

Aku berharap melupakan lembar-lembar puisi itu. Tetapi aku tak bisa. Aku selalu menderita ketika berniat melupakan tulisanku yang hilang…

Oktober 2006 , lewat tengah malam
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     

S E L A N J U T N Y A »

 
 
Ruang soliloqui
 
 
PROFILE
BUKU TAMU
 
     
 
BLOG  [v]
mereka yang menangis di depan jenazah ayah
apakah cinta ada atau tak ada?
surat lima belas april
surat cinta untuk kekasih
surat untuk kawan
Arsip Blog
 
 
CARI BLOG
 
     
 
PENGUNJUNG  [v]
» sastrawiguna
» bubu_okky
» rezasyahputra
» yuzi_biyan
» ursa
Total: 22
 
     
 
KOMENTAR  [v]
» salam kenal,,"...
» geus lieur heula sebe...
» babi...identik dengan...
» banyak ide yah, lo ke...
» duh eta meni kataji k...
 
  RSS Komentar Blog  

RSS Blog
Created:
Minggu, 4 Mei 2008 @ 05:22 WIB
   
         
    Copyright © 2004, PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI