|
||
Mendidik siswa
Rabu, 31 Oktober 2007 @ 07:19 WIB - Musik, Film & Hiburan
|
Dunia pendidikan sesungguhnya dipenuhi berbagai kebhinekaan. Sebab, tidak ada siswa yang punya daya tangkap, daya serap, daya pikir dan daya kecerdasan yang sama antara satu siswa dengan siswa lainnya dalam sebuah kelas atau sekolah. Untuk itu, cara mendidik pun sesungguhnya berbeda-beda tergantung tingkat kecerdasan masing-masing siswa. Namun yang terjadi selama ini adalah keseragaman tata cara pendidikan di setiap sekolah, seakan-akan semua siswa punya karakteristik yang seragam. Padahal, karakteristik setiap siswa itu amat berbeda, sehingga cara mengajarnya pun menjadi beragam. Bagaimana sebenarnya pendidikan yang berbhineka itu? ============ Dr. I Made Candiasa, M.I.Komp., dekan FPTK IKIP Negeri Singaraja, dalam sebuah orasi untuk perkenalan menjadi guru besar di kampusnya awal pekan ini mengungkapkan karakteristik siswa dalam sebuah kelas atau sekolah itu sangat beragam. Sehingga saat melakukan proses belajar-mengajar, setiap siswa sebaiknya menerima perlakuan individu dengan pendekatan yang berbeda-beda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Untuk itu, Candiasa yang lahir di Banjar Penasan, Klungkung 30 Juni 1960 ini menawarkan model pembelajaran yang khas dalam keberbhinekaan pendidikan. Model ini mencoba mengakomodasi perbedaan karakteristik peserta didik, agar mampu beradaptasi dengan kondisi peserta didik yang beragam. Dosen yang juga ahli di bidang matematika ini memaparkan peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan harus diakomodasi dalam pembelajaran, agar diperoleh hasil belajar yang optimal. Psikologi dengan berbagai cabangnya telah mengidentifikasi sangat banyak variabel yang mengindikasikan perbedaan individu dan mempengaruhi proses belajar, seperti kecerdasan, keberbakatan, gaya kognitif, gaya berpikir, daya adopsi, ketahan-malangan, dan kemampuan awal. Soal kecerdasan sudah sejak lama menjadi bahan pertimbangan dalam pembelajaran. Menurut Candiasa, teori faktor tunggal dari Binet-Simon mendeskripsikan kecerdasan dalam satu skor umum tunggal (overall single score) yang disebut intelligence quotient (IQ), sedangkan Spearman dengan teori dua faktor mendeskripsikan kecerdasan menjadi dua faktor kemampuan yang berdiri sendiri, yaitu faktor umum (general) dan faktor khusus (specific). ''Sekalipun teori faktor tunggal dan teori dua faktor memungkinkan penyeragaman proses pembelajaran, namun akan lebih baik jika individu dengan IQ yang berbeda mendapatkan layanan pembelajaran yang berbeda,'' kata Candiasa. Bahkan, lanjut Candiasa, pemberagaman pembelajaran akibat perbedaan kecerdasan menguat setelah Thurstone mendeskripsikan kecerdasan dan keberbakatan (aptitude) menjadi beberapa faktor kemampuan yang dikenal dengan faktor ganda (multiple factors), yaitu kemampuan verbal (verbal comprehension), kemampuan berhitung (number), kemampuan geometris (spatial relation), kelancaran kata (word fluency), ingatan (memory), dan penalaran (reasoning). Selanjutnya, tuntutan keberagaman pembelajaran lebih tampak lagi pada teori kecerdasan ganda (multiple intelligence) dari Gardner. Teori kecerdasan ganda menyatakan bahwa kecerdasan dan keberbakatan manusia terdiri atas tujuh komponen yang semiotonom, yaitu kecerdasan musik (musical intelligence), kecerdasasan bodi-kinestetik (bodily-kinesthetic intelligence), kecerdasan logika-matematika (logical-mathematical intelligence), kecerdasan ruang (spatial intelligence), kecerdasan interpersonal (interpersonal intelligence), dan kecerdasan intrapersonal (intrapersonal intelligence). Nah, agar diperoleh hasil belajar yang optimal, kecerdasan yang berbeda harus mendapatkan layanan pembelajaran yang berbeda pula. Selain kecerdasan, menurut Candiasa, gaya kognitif juga cukup kuat pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Sebagaimana disebutkan oleh Witkin yang membedakan individu berdasarkan gaya kognitifnya menjadi individu field independent dan individu field dependent. Individu field independent cenderung berpikir analisis, mereorganisasi materi pembelajaran menurut kepentingan sendiri, merumuskan sendiri tujuan pembelajaran secara internal dan lebih mengutamakan motivasi internal. Di lain pihak, individu field dependent cenderung berpikir global, mengikuti struktur materi pembelajaran apa adanya, mengikuti tujuan pembelajaran yang ada dan lebih mengutamakan motivasi eksternal. Gejala psikologis lain yang dapat membedakan individu dalam proses belajarnya adalah gaya berpikir. Gaya berpikir erat kaitannya dengan fungsi belahan otak. Candiasa mengutip Koestler dan Clark yang menyebut bahwa belahan otak kanan lebih bersifat lateral dan divergen, sedangkan belahan otak kiri lebih bersifat vertikal dan konvergen. Masing-masing belahan otak bertanggung jawab terhadap cara berpikir, dan masing-masing mempunyai spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa persilangan dan interaksi tertentu. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linier, dan rasional, sedangkan proses berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, divergen, dan holistik. Daya adopsi individu juga berbeda dan juga berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Rogers, menurut Candiasa, membedakan individu berdasarkan daya adopsinya menjadi empat kelompok, yaitu adopter, mayoritas awal (early majority), mayoritas akhir (late majority), dan pembelot (laggard). Individu yang masuk kelompok adopter selalu mempelopori penerimaan inovasi. Kelompok mayoritas awal memerima inovasi apabila sudah sekitar 30 persen individu lainnya menerima. Kelompok individu mayoritas akhir bersedia menerima inovasi setelah 60 persen individu lainnya. Kelompok individu pembelot adalah kelompok individu yang paling sukar menerima inovasi. Setelah itu, berawal dari kegagalan individu cerdas dan berbakat dalam usahanya, ditemukan variabel ketahan-malangan (adversity) yang dapat mempengaruhi aktivitas individu, termasuk belajar. Ketahan-malangan adalah daya tahan individu untuk menghadapi tantangan. Di sini Candiasa mengutip Stoltz yang membedakan individu berdasarkan ketahan-malangan yang dimiliki menjadi tiga kelompok, yaitu penjelajah (climber), penunggu (camper), dan penyerah (quitter). Individu penjelajah selalu ingin maju seberapa pun hambatan yang dialami. Individu penunggu, untuk berbuat sesuatu selalu menunggu keberhasilan individu lainnya. Individu penyerah adalah individu yang tidak berusaha untuk maju dan cenderung menyerah sebelum berusaha. Kemampuan awal peserta juga harus mendapat pertimbangan dalam proses pembelajaran. Kemampuan awal sangat dipengaruhi oleh pengalaman individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, perbedaan lingkungan dapat mengakibatkan perbedaan kemampuan awal. Perbedaan kemampuan awal mengakibatkan perbedaan kemampuan untuk mengelaborasi informasi baru untuk membangun struktur kognitif. Dengan melihat perbedaan-perbedaan itu rupanya dalam belajar juga dituntut individualisasi agar diperoleh hasil belajar yang optimal. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana mengakomodasi perbedaan karakteristik individu dalam pembelajaran. Permasalahan berikutnya adalah komponen-komponen pembelajaran yang mana saja dapat diadaptasikan dengan karakteristik individu yang amat beragam. (ole) |
Disarankan: 0
| Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Slank Feat. Nirina Zubir - Pandangan Pertama
Rabu, 31 Oktober 2007 @ 07:06 WIB - Musik, Film & Hiburan
|
pandangan pertama awal aku berjumpa pandangan pertama awal aku berjumpa seolah olah hanya impian yang berlalu sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya cowok setampan dia datang menghampiriku hampir-hampir aku tak sadr di buatnya sungguh karena dia aku di depan anda memberanikan diri bergaya dan bernyanyi pandangan pertama awal aku berjumpa pandangan pertama awal aku berjumpa memang kecantikannya dan kelembutan hatinya membuat aku berani menghadapi dunia |
Disarankan: 0
| Komentar: 0 | Beri Komentar | Recommen | Print |
Jagostu - Mau Tak Mau
Selasa, 30 Oktober 2007 @ 13:54 WIB - Musik, Film & Hiburan
|
apa yang bisa aku lakukan Em jika ia memilih untuk tak tinggal Dm Am dan semua terus berjalan F getirnya harus tetap kutelan Em dan aku sakit ahrus tetap bertahan Dm Am dan semua terus berjalan F Dm Am 2x Am F mau tak mau kuharus G C Em melanjutkan yang tersisa Am D7 meski semua telah berbeda F G C dan tak akan pernah ada yang sama [int] F Dm Am 2x F aku bisa memeluknya Em tetapi tidak hatinya Dm Am ooo... menyakitkan F semua telah dengan Em segenap hati kumerindunya Dm tapi hatinya telah pergi dan Am G telah lama mati Am F semoga angin berhembus G C Em membawakan mimpi baru Am D7 meski ku tau takkan pernah ada F G C yang sanggup mengganti keindahannya [ending] F Dm Am ...x |
Disarankan: 0
| Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Vagetoz - Saat Kau Pergi
Selasa, 30 Oktober 2007 @ 13:42 WIB - Musik, Film & Hiburan
|
SAAT KAU PERGI BERLINANG LAH AIR MATAKU BETAPA singkat ku rasakan kebahagiaan itu kini lenyap tlah sudah tak pernah ku ingin kan perpisahan ini terjadi ku hanya bisa merelakan jika memang kau pikir inilah yang terbaik tak perlu kau beri alasan mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku karena ku yakin semuanya itu bisa membuatmu bahagia sepenuhnya ku menyadari bahwa cinta ini tak meski harus memiliki namun ku akan selalu menyanyangi dirimu setulusnya hatiku |
Disarankan: 0
| Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Krisna - Kau Buatku Menangis
Selasa, 30 Oktober 2007 @ 13:36 WIB - Musik, Film & Hiburan
|
derai hujan membasahi bumi iringi kepergianmu dari sisiku samar terdengar langkahmu menjauh memudar tanpa jejak dan menghilang ku tak mampu hadapi semua ku tak sanggup lewati waktu tanpa hadirmu yang selalu mengilhami tiadakah jiwamu mengerti betapa agungnya kasihku bagai langit luas tak berbatas kau buat ku menangis kau buat ku tersiksa merasakan perih hancur perasaan ini tiada derita pernah kualami sehancur denganmu sepanjang umurku saat kuinginkan dirimu kau seperti malaikat pelindungku berikan cahaya di setiap sepiku namun mengapa kau hempaskan aku di saat ku butuh cinta dan sayang dirimu laksana surga pancaran anugrah cinta hingga ku tegar langkahkan hidup masihkah kau mungkin bisa mencintaiku karena ku kan selalu kembali bersama kau buat ku menangis kau buat ku tersiksa merasakan perih hancur perasaan saat kau tinggalkan diriku |
Disarankan: 0
| Komentar: 0 | Beri Komentar | Recommen | Print |
My Blog
- mendidik siswa
- slank feat. nirina zubir - pandangan pertama
- jagostu - mau tak mau
- vagetoz - saat kau pergi
- krisna - kau buatku menangis
Multimedia
Pengunjung
Total Pengunjung: 166Komentar
Polling
Created on:
Kamis, 5 April 2007 @ 10:32 WIB
Kamis, 5 April 2007 @ 10:32 WIB




