| |
|
|
Cerita tentang sebuah radio
Kamis, 23 Oktober 2008 @ 16:48 WIB - Musik, Film & Hiburan
Mantaaaaaaaaaaab , baru beberapa hari yang lalu aku baca postingan salah seorang "bubuhan tukang kayuh" yang intinya ngebahas razia lalu lintas itu kenapa bagi sebagian kecil orang dihindari????? Dan tadi, ketika pulang kantor dari jalan Pangeran Samudera dan berniat nganter my young bro ke terminal km 6, ternyata oh ternyata .. didepan Poltabes ( Jalan A Yani km 3,5 ) dilaksanakan razia lagi, perasaan kalau razia depan Poltabes terus deh ( dari dalam kota :red ). Males sih untuk ikutan antri, maklumlah yang masuk area razia itu ratusan kenderaan roda 2, walau banyak personel yang periksa, tetap az mesti antri bukan??? Diperiksanya cuman SIM doang, dan langsung berlalu .. ga ada masalah karena lengkap.
Ok .. itu cuman sekedar inget-inget doang kalau mau jalan kemana-mana mesti bawa kelengkapan surat menyurat kenderaan bermotor, seperti SIM dll. Biar pass ada razia dadakan ga perlu menghindari petugas!!!
=== Hem .. aku mau posting sebuah cerita jaman dulu, waktu televisi masih belum dimiliki oleh penduduk sebuah perkampungan, ntah belum ada siaran televisi yang bisa dijangkau disana .. atau memang karena televisinya yang belum ada, do no !!! Ga penting untuk dibahas yaaa 
Waktu itu untuk mendapatkan informasi, penduduk kampung cukup mendengarkan radio sebagai sumber informasinya. Dan satu-satunya siaran yang bisa diterima hanyalah siaran dari Radio Republik Indonesia ( RRI ), berhubung perkampungan itu adalah bagian dari provinsi Kalimantan Selatan bagian pedalaman, maka menjadi Radio Republik Indonesia Banjarmasin ( ga jelas mengudara pada frequency AM atau FM berapa ).
Tersebutlah seorang terkaya dikampung itu, ingin membeli sebuah radio dengan merk "Transistor" ( ada yang masih pada inget ga yaa gimana bentuk dari radio ini?), maka berangkatlah ia ke kota ( Banjarmasin ), dan menuju ke toko elektronik ( dulu yang jualan adalah orang Cina yang di panggil Engkoh ).
Sampai ditoko Engkoh, ia pun menjelaskan maksudnya untuk membeli radio merk "Transistor". Engkoh pun kemudian memenuhi permintaan pembelinya dan menjelaskan kalau radio itu adalah radio termahal untuk saat itu. Dengan bangga dan tentunya sangat senang hati, pulanglah orang kaya tadi ke kampungnya. Tapi sebelumnya telah dipastikan berkali-kali kalau radio itu adalah radio "Transistor".
Tiba dikampung eh dirumahnya, ia kemudian mencoba untuk mendengarkan siaran dari radio tersebut. Pada pukul 19.00 Wita, kebetulan siarannya adalah informasi/berita.
Volume dikerasin supaya bisa didengar dengan sejelas-jelasnya, dan terdengarlah sebuah suara dari pembawa berita.
"Terimakasih, Anda masih bersama kami .. Radio Republik Indonesia Banjarmasin" demi mendengar itu orang kaya tadi terkaget-kaget, ia bertanya dalam hati ... itu radio yang dibelinya adalah radio Transistor, bukan Radio Republik Indonesia Banjarmasin.
Belum ada rasa kesal atau kecewa dihatinya, meskipun pertanyaan tadi sudah melekat dikepalanya, besok pagi diulanginya lagi hal yang sama .. dan kebetulan pula pada pukul 07.00 ada siaran berita persis seperti kemarin, "Terimakasih, Anda masih bersama kami .. Radio Republik Indonesia Banjarmasin"
Duh .. orang kaya itu mulai hilang kesabaran, ada prasangka buruk kepada Engkoh kalau ternyata ia dibohongi. Namun masih juga ada kesabaran yang dimilikinya .. tapi dengan satu catatan, jika terdengar begitu lagi maka ia akan mengembalikan radio tersebut dan meminta uangnya agar dikembalikan !!
Jam 13.00 Wita, kembali diputarnya tuning pada radionya .. dan lagi-lagi siaran berita yang akan disiarkan, dan suara penyiar itu begitu dihapalnya. Terdengarlah suara "Terimakasih, Anda masih bersama kami .. Radio Republik Indonesia Banjarmasin"
Meledaklah kemaran orang kaya itu, "Engkoh pembohong .. Engkoh pembohong, aku mau radio Transistor, kenapa dikasih Radio Republik Indonesia Banjarmasin???????"
Alhasil, keesokan paginya .. ia berangkat ke kota untuk mengembalikan radio itu dan ingin menuntut Engkoh karena berani membohonginya. Sesampainya di Banjarmasin ia langsung menuju tempat yang ia tuju. Tepat pada pukul 13.00 Wita .. "wah berarti bakalan ada berita itu lagi kan?"
Singkat cerita, tanpa basa basi lagi .. orang kaya tadi marah-marah dan mengatakan bahwa ia tak mau beli radio itu karena merasa dibohongi. Engkohpun bertanya apakah bukti kebohongannya, lalu radiopun dihidupkan dan terdengarlah suara seorang pembaca berita "Terimakasih, Anda masih bersama kami .. Radio Republik Indonesia Banjarmasin"
"Duh .. ternyata seperti itu yaaaaaaa" Engkoh-pun mengerti .. ternyata pembelinya ga bisa baca, taunya merk "Transistor" cuman dari mulut ke mulut .. Jadi deh ngotot karena mendengar Radio Republik Indonesia, bukan "Terimakasih, Anda masih bersama kami .. Radio Transistor"
 xixixixixiixixi .. semoga menghibur, dan tks buat Bapak yang tadi pas baca postingan "sepatu kulit buaya"ku berbaik hati ke aku dan lalu kasih cerita ini .. xixixixixixixixi
|
Disarankan: 0
 |
| |
dfahrizal Kamis, 23 Oktober 2008 @ 17:32 WIB
jadi inget sama filmnya warkop dki tahun80an. indro sampe bingung pas mendengarkan siaran berita rri.
 |
 |
| |
 |
nia_bjm Kamis, 23 Oktober 2008 @ 19:53 WIB
he he he .. knp sampe binun????
|
| |
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
Created on:
Kamis, 19 April 2007 @ 11:14 WIB |
|
|