CARI:  
   Blue Heart
   http://nrinawati.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
 
           
   
PENGUMUMAN
 
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis
Blogger Peduli
Mind Mapping - cara baru untuk ngeBlog!
 
     
BLOG TERBARU
 
» visual1
» bengkel hp bajo
» bisnis gratis 100%
» all about korea
» dee-net
» wellcome ,.
» all about suju
» bumblebee
» www.thecliquers.com
» chicamayonnaise
 
     
POSTING TERBARU
 
» opening theme tvri (19...
» closing theme radio re...
» opening theme radio re...
» gadis adam
» kuis fanfic
» iseng, coba-coba. .
» " membaca buku lagi yu...
» たんӕ...
» mediav1
» catatan subuh hari
 
     
   
 
PENGUMUMAN:
Promosikan buku-buku Anda di Google - gratis
 
Belajar dari wajah
Kamis, 20 November 2008 @ 09:33 WIB - Diari
  Menarik sekali jikalau kita terus menerus belajar tentang fenomena apapun yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan hanya masalah bentuknya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersembur dari si pemilik wajah tersebut.

Ketika pagi menyingsing, misalnya, tekadkan dalam diri : "Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

Ya, karena setiap orang pastilah punya wajah. Wajah istri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya. Nah, ketika kita berjumpa dengan siapapun hari ini, marilah kita belajar ilmu tentang wajah.

Subhanallaah, pastilah kita akan bertemu dengan beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Lho, kok menakutkan? Kenapa? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari.

Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa. Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

Nah, saudaraku, kalau hari ini kita berhasil menemukan struktur wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahulah kenapa dia sampai memiliki wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya.

Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Dan ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan.

Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Sedangkan bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai?

Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Adapun kemuramdurjaan, ketidakenakkan, kegelisahan itu muncul ternyata diantara akibta kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita orang yang paling utama. Makanya, terkadang kita melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian.

Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh. Tidak punya daya pancar yang kuat.

Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu saja bukan maksud untuk meremehkan. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, subhanallaah.
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
TRIK PINTAR UNTUK TAMBAH DUIT
Budaya buruk !!
Jumat, 19 September 2008 @ 11:16 WIB - Diari
  Friend…..Masih ingatkah tragedi maut di Pasuruan kemaren ?
Sungguh ngiris dan sangat menyesakkan dada setelah mendengar berita itu.
Begitu ironisnya…Sang Dermawan yang bertujuan baik membagi-bagikan sebagian rizkinya berujung maut yang telah menghilangkan banyak nyawa, tidak tanggung-tanggung 21 jiwa melayang.
Yang lebih menyedihkan lagi sebagian besar korbannya para manula.
Seandainya mereka yang menjadi korban itu saudara,orang tua atau kakek-nenek kita…..alangkah ngenasnya hati ini…..
Hanya gara-gara berburu uang yang tak sebegitu besar menurut ukuran orang yg mampu namun begitu besar bagi mereka telah merelakan nyawa mereka demi 30.000 rupiah.
Apakah ini kesalahan para dermawan itu ? Bisa ya….tapi tidak sepenuhnya,friend….
Kesalahan terletak pada budaya masyarakat kita yang kurang disiplin untuk antri.
Budaya ini sangat sulit dijalankan oleh mereka yang sebagian besar dari masyarakat tempo dulu.
Padahal dengan antri,segala urusan akan mudah diselesaikan dengan cepat dan tertib, tanpa harus egois ingin mendapatkan yang pertama.
Ini masalah sosial juga yang kurang harmonis, kebanyakan mereka mempunyai sifat ingin menangnya sendiri.
Akankah kita biarkan budaya ini terus menerus terjadi di tanah pertiwi ini, friend ?
Yuk, kita benahi permasalahan ini mulai dari diri kita dulu…..

Kita berharap para dermawan yang bertujuan baik agar lebih kritis memperhitungkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi dari harta yang di amalkan tersebut. Apalagi melibatkan orang banyak. Karena amal yang satu ini harus lebih dipikirkan dibandingkan dengan sekedar menyumbang ke panti-panti atau lembaga-lembaga dana yang terpercaya kinerjanya.

Hikmah yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut supaya kita selalu ingat dampak-dampak tindakan yang dilakukan baik sebelum maupun sesudahnya.

Mari kita berbenah diri !!!!
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 5 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
::: POEM ::: Makhluk Kejam
Rabu, 17 September 2008 @ 15:43 WIB - Diari
  MAKHLUK KEJAM

Kau datang mengganggu, Saat ku terdiam
Kau datang mengganggu, Saat ku bergerak.
Kau datang mengganggu, Saat ku tertidur.
Saat dimanapun aku, kau datang menggangguku.


Mahkluk apakah kau ini.
Begitu menyiksa diriku kini.
Namun kau ciptaan dari illahi.
Mengisi rona kehidupan di jagat ini


Sungguh kau mahkluk yang begitu mengganggu.
Kau sebarkan derita-derita itu.
Tanpa ampun dan ragu.
Hingga aku tak berdaya dan terbujur kaku.


Salahkah aku menghakimi.
Hanya doa dan usaha yang dapat mengobati.
Virus-virus deritaku kini.
Kau malaria….enyahlah kau dari sini.
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     

S E L A N J U T N Y A »

 
 
Hidup monoton akan sangat membosankan.......bloggaul ini cocok deh buat tempat curahan hati, ekspresi diri,sosialisasi dan pemikiran kita-kita yang pengen hidup lebih berwarna ........ My peacefull regards, Rina
 
 
PROFILE
BUKU TAMU
 
     
 
BLOG  [v]
belajar dari wajah
budaya buruk !!
::: poem ::: makhluk kejam
meaning words
bukan sulap bukan sihir......!!!!
Arsip Blog
 
 
CARI BLOG
 
     
 
PENGUNJUNG  [v]
» jie_nugros
» bilqist
» doelkomeng
» awonk
» herdiboy3
Total: 32
 
     
 
KOMENTAR  [v]
» tragis memang.. nyawa...
» nyooook kita bebenah ...
» gak bisa jadi contoh....
» selalu masih aj bur...
» yuk mareee...
 
  RSS Komentar Blog  

RSS Blog
Created:
Rabu, 6 Agustus 2008 @ 11:12 WIB
   
         
    Copyright © 2004, PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI