| |
|
Senin, 5 January 2009 @ 21:18 WIB - Diari
Aku sudah bilang ketika kau berkata kau amat sangat mencintaiku, itu terdengar seperti siulan burung-burung pipit diatas pohon nangka itu. Besok juga kau akan berkata seperti itu lagi. Namun lagi-lagi kau tetap berhubungan dengan dia. Memangnya kamu pikir aku lelaki macam apa?
Aku juga memiliki perasaan, memiliki rasa cemburu, bila kekasihku terus-terusan menggoda lelaki lain. Berkomunikasi dengan centilnya di henpon yang aku hadiahkan kepadamu ketika kau merengek terus dipusat elektronik. Sungguh perbuatan menyebalkan yang menjadi kebiasaan.
Kini katanya kau akan menikah denganku tapi masih saja di belakangku kau berhubungan dengan dia. Alasan kau lagi-lagi ‘just friend”. Kau mulai bermain api ya denganku? Kau mau aku mutilasi seperti di tipi-tipi itu?
Mau???
***
Aku memiliki kekasih yg sangat pecemburu. Aku kesal selau di atur ini-itu. Kalau aku mau pergi kemana pun harus bilang. Kalau tak bilang ia akan murka, seperti aku melakukan kesalahan yang fatal. Hanya ke mall saja dengan teman-teman kantorku dia murka. Sungguh bidab. Memang sih aku punya teman dekat selain dia, tapi itukan “just friend, nothing more”. Dia pikir aku apa? Piaraan atau kekasih?
Aku seperti seekor burung kalau di pikir. Burung piaraan. Bagaimana tidak? Aku selalu di mata-matai. Seakan-akan aku bak putri salju yang di larang kemana-mana karena akan mati bila tertusuk jarum. Padahal selama menjadi kekasihnya, dia hanya membelikan aku sebuah henpon jelek saja dan dipikirnya aku sudah terbeli olehnya. Sungguh memuakan.
Memang aku akan menikah dengannya, namun kalau bukan karena teman-temanku yang sudah duluan menikah, mungkin aku enggan menikah dengannya. Sebab zaman sekarang ini sulit mencari pria yang ingin menikah. Pria-pria itu hanya ingin main-main saja. Hanya ingin bercinta saja.
***
Mungkin aku tidak memiliki kekasih, tapi aku memiliki banyak teman wanita. Bukannya aku playboy atau sok ganteng, tapi bagiku pasangan hanya membuatku jengkel dengan segala urusan yang remeh temeh.
Kalau aku sedang kesepian lebih baik aku telepon salah satu temanku. Sekedar hanging out atau mungkin check in. Hei! Ini zaman modern bung! Jangan kau pikir ini zaman lutung kasarung. Yang kemana-mana hanya pakai obor. Sungguh kasihan kamu.
Bersambung…
|
Disarankan: 0
 |
| |
abell Selasa, 6 January 2009 @ 12:56 WIB
 (Reply)
cuapeee deh... !! gak jelas kapan tuh sambungannya ada !
|
|
 |
 |
 |
| |
harumi Selasa, 6 January 2009 @ 15:37 WIB
 (Reply)
ada cerita rakyatnya juga ya (lutung kasarung)?
|
|
 |
 |
 |
| |
mhimi Senin, 12 January 2009 @ 12:22 WIB
 (Reply)
bersambungnya jangan lama2 yah..,hehehe
|
|
 |
 |
 |
| |
passion Rabu, 14 January 2009 @ 17:52 WIB
 (Reply)
hmmm... ceritanya kayak familiar deh
|
|
 |
 |
 |
| |
henceu Rabu, 21 January 2009 @ 14:38 WIB
 (Reply)
hai...
|
|
 |
 |
 |
| |
oesank Selasa, 3 February 2009 @ 06:13 WIB
 (Reply)
wkwkwkwkwk om ocephhhhhhh
si om yg satu ini ceritanya bikin oesank wakas ajah make bersambung segala  buruan atuh di sambungnya jangan lama lama yah di antossssssss
|
|
 |
 |
 |
|
|
Senin, 5 January 2009 @ 05:08 WIB - Diari
Tiga baju Nabi Yusuf AS
aku dengar keindahan dari sebuah tempat di masa itu, masa di zaman para nabi. sebuah pengharapan akan perikehidupan dan kesetiaan. suatu kisah-kisah seorang alim juga utusanNya.suatu kisah tentangnya, tentangku
kisah tiga buah baju nabi yusuf a.s dalam hidupnya
baju pertama penuh darah dari tipu daya saudaranya - wajahku pucat pasi
baju kedua koyak oleh perangkap zulaikha - hatiku tercabik
baju ketiga tercium oleh ya'qub a.s - aku yakin bilakah aku seperti baju yg ketiga suatu saat akan sampai kepada seseorang yang mencintaiku selamanya.
SZ 5 januari 2009, tehran..
|
Disarankan: 0
 |
| |
sastrawiguna Senin, 5 January 2009 @ 05:50 WIB
 (Reply)
pertanyaan yang sama, bilakah..????
|
|
 |
 |
 |
| |
abell Senin, 5 January 2009 @ 12:02 WIB
 (Reply)
hiks..... will my dream come true ??
|
|
 |
 |
 |
| |
beda Senin, 5 January 2009 @ 22:33 WIB
 (Reply)
menanti sebuah jawaban...........
|
|
 |
 |
 |
|
|
Jumat, 19 Desember 2008 @ 01:29 WIB - Diari
Aku bertemu teman lama disuatu tempat yg penuh hiruk pikuk manusia, entah dari belahan dunia mana dengan rupa yang beraneka ragam. Seorang teman ketika aku dan dia masih sama-sama muda dan berjuang demi hidup ini. Mengalahkan semua tantangan demi cita yg tercipta. Aku dan dia begitu optimis meraih semuanya.
Kami selalu dipacu oleh adrenalin yang memicu hasrat untuk menjadi unggul. Menjadi yang terbaik di tempat kami masing-masing. Kami biasa berlarian bak dua anak kijang yang tengah menunjukan jati diri. Memerkan kelebihan lenggak-lenggok tubuh. Dengan sinar mata yang selalu menyala bak sepasang obor di gelap malam yang gulita.
Namun semua itu berbeda kini. Matanya sayu, sinarnya redup entah kemana. Senyumnya tidak lagi lebar seperti dulu yang memamerkan gugusan giginya yang rapih. Hanya secuil senyum di bibir kirinya ketika melihat aku. Seperti mendesis dalam sapanya. Sebuah belaian yang sangat dingin di tanganku ketika kami berjabat tangan.
Tapi satu yang tidak berubah, rambutnya yang hitam legam. Masih terurai panjang, mengibaskan puncak dunia.
Lama kami terdiam, dalam genggaman tangan yang entah sangat tak biasa kami lakukan. Sepertinya ia tak ingin aku lekas pergi dari tempat itu. Lalu kami memilih tempat duduk di deretan kursi-kursi yang di sediakan untuk traveler untuk menunggu.
Lambat laun setelah semua rasa itu cair dalam nostalgia. Ia bercerita akan kisah hidupnya. Kisah kegagalan dalam cinta. Satu lagi kisah cinta dalam hidup manusia. Ia begitu sedihnya bercerita bagaimana lelaki itu meninggalkannya demi perempuan lain. Kesedihan yang tak pernah berujung kebahagiaan. Selalu ada nestapa dan dendam dalam setiap kisah.
Aku hanya bisa merangkul pundaknya, di tengah hujan air matanya. Dalam ingatan ku tak pernah sekalipun ia bercerita ttg perasaan dalam pribadinya yang mandiri padaku. Ini benar-benar keajaiban di tengah kisah traumatic, sehingga ia mampu melepaskan semua itu bagai ribuan peluru yang dimuntahkan oleh satu klik trigger uzi dalam putaran waktu.
Aku sering mendengar, melihat bahkan mengalami semua derita yang di akibatkan oleh kekecewaan akan cinta. Namun aku memilih untuk tetap bertahan hidup. Aku tak mau mati demi cinta semu yang menggerogoti jiwa rapuhku.
Karena aku sadar, semua orang akan mengalami suatu siklus hidup. Penderitaan, kesenangan dan semua bunga-bunga kehidupan. Semua manusia mengalaminya dalam kurun kehidupannya di muka bumi ini. Semua kupastikan adalah cobaan dari sang maha Kuasa. Untuk memberikan kita imun agar menjadi kuat dalam mengarungi kehidupan ini.
Aku tabahkan dia dalam kalimat-kalimat yang entah mengapa menjadi begitu gamang terdengar oleh telingaku sendiri. Yang bahkan aku pun hampir-hampir tidak yakin oleh kalimat ku sendiri. Begitu asyik mahsyuknya aku menenangkan dia. Hingga aku tak sadar bahwa aku pun bukan mahluk yang penuh kesabaran dan keiklasan dalam menghadapi cobaan itu.
Betapa sakitnya bila terkhianati oleh kepercayaan yang terbentuk dalam cinta. Ketika kita mengorbankan jiwa dan raga namun semuanya itu palsu. Tidak seperti apa yang kita inginkan. Dan ia jauh, menjauh bagai tertiup angin lalu hilang pergi tanpa bekas, hanya perasaan hampa dalam diri yang terus menyayat dan berteriak tak puas.
Hingga dendam membahana dalam setiap lubang pori dan aliran darah. Ingin rasanya melihat cinta itu menderita lebih dari apa yang kita terima.
Namun semua itu hanya perasaan yang mengada-ada. Ketika kita menangisi hidup itu penuh derita nestapa, tak ada yang peduli akan hati ini. Ketika kita mati dalam penderitaan yang menyesakan dada tak ada yang melihat arti kematian itu karena cinta. Hanya kesia-sian belaka. Ketika kita melemparkan amarah yang begitu dahsyatnya, hanya orang lain yang tak berdosa menjadi korban. Kita adalah mahluk social yang independent.
Tak ada yg tersenyum ketika kita malas tersenyum. Tak ada yang merangkul bila kita tak membuka tangan. Tak ada yang memberi bila kau hanya meminta. Tak ada yang mendengar bila kau hanya berkeluh kesah. Lalu…
Tetaplah tersenyum sahabat, mentari masih menyinari pagi kita. Burung-burung masih berterbangan di atas kepala kita. Jadilah malaikat dalam sesaknya hidup. Bukan ini yang kita cari tapi itu.
|
Disarankan: 0
 |
| |
maryo Jumat, 19 Desember 2008 @ 01:42 WIB
 (Reply)
demi cinta orang rela melakukan segalanya, dan demi cinta orang rela mati atas nama cinta
 |
 |
| |
 |
ochepp Senin, 5 January 2009 @ 20:33 WIB
begitulah tn.maryo...
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
sarojini Jumat, 19 Desember 2008 @ 05:20 WIB
 (Reply)
asyik banget bacanya... terbawa suasana.... persahabatan kayak kepompong...na naa..na...
 |
 |
| |
 |
oceph Senin, 5 January 2009 @ 20:48 WIB
iih bu dosen bisa aza iiih..
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
sastrawiguna Jumat, 19 Desember 2008 @ 06:14 WIB
 (Reply)
seperti biasa...tulisanmu enak dibaca...nendang pas kalimat ini ceph "tak ada yg tersenyum ketika kita malas tersenyum. tak ada yang merangkul bila kita tak membuka tangan. tak ada yang memberi bila kau hanya meminta. tak ada yang mendengar bila kau hanya berkeluh kesah. lalu…" enak pas baca, lalu.....  artinya dalemmmm pisan. oceph tidak sedang menyindirku khan...?
cuma ada satu yang kurang cep...sayang sekali... oceph jarang menulis di blog, padahal teteh sering menunggu dan kangen dibuatnya....thaileeeeee..... 
karena kangen, komentarnya jadi panjang...biar aja daah..yang penting enak dan tetep kangen tulisanmu....
 |
 |
| |
 |
oceph Senin, 5 January 2009 @ 20:51 WIB
teteh :d kangen juga sama teteh...ay lap yu
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
abell Jumat, 19 Desember 2008 @ 14:50 WIB
 (Reply)
ceeeeeeeph ! miss u somad ! duuuuh kangen nih sama tulisan oceph yg mendayu2 bikin uhuks! uhuks! gak kuku heheheh
|
|
 |
 |
 |
| |
bisot Rabu, 31 Desember 2008 @ 15:33 WIB
 (Reply)
gw gak bisa ngebayangin chep... nyerah hehehe
|
|
 |
 |
 |
| |
p-r-e-m-a-n Minggu, 4 January 2009 @ 04:06 WIB
 (Reply)
demi cinta.. bener juga kata org gara2 ini org bisa mengorban kan apa saja dan bahkan nyawa.. tapi kl di ulas balik bukan kah hubungan cinta itu ibarat seperti sedang ujian untuk ke jenjang selanjut nya layak nya pernikahan.. bisa berhasil dan bisa tidak kan.. dan inti nya kembali ttg 2 sisi hal,mempertahan kan atau ini sebuah pilihan.. mempertahan kan dalam arti dengan cinta sejati qta.. atau membuat sebuah pilihan dengan mencari lg yang terbaik dr pada bertahan dengan yg baik yg sudaha ada.. kembali lagi ke individu dan pribadi nya masing2 sebagai pelaksana rasa cinta itu sendiri.. dan bagaimana 2 insan itu sendiri menjalankan nya.. mudah2an dr cerita aa oceph bisa membuka pikiran dan mata qta betapa sesuatu yg sudah ada itu sangat lah berharga ketimbang qta mencari dan mengorban kan nya demi sesuatu yg lebih dengan dalih ingin yg terbaik walaupun hasil nya blom terlihat.. amin.. 
demi cinta..perlahan kita mulai belajar.. melaraskan batin.. meluaskan ruang,tingkap pengertian.. rasakan lah.. penat menjadi beban dan biarkan mengalir meski itu luka.. damai.. qta.. bersama.. sucikan cinta..
peace + love + respect
|
|
 |
 |
 |
| |
beda Senin, 5 January 2009 @ 02:25 WIB
 (Reply)
hmmm.....tulisan yg indah, tapi entah kenapa sepertinya yg dibicarakan itu aku ....... :"> (gr dikit), soalnya...rambutnya pajang hitam legam, matanya sayu, ... hmmm ...aku kah si wanita itu......... (heheheh)
kasian wanita itu
|
|
 |
 |
 |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
Created on:
Kamis, 20 Juli 2006 @ 11:32 WIB |
|
|