| |
|
|
|
 |
Ramalan Kepala Suku
|
 |
 |
Selasa, 7 Oktober 2008 @ 15:19 WIB - Diari |
 |
| |
INI catatan saya yag tercecer, beberapa bulan silam. Tentang sejumlah survei yang dilakukan berbagai lembaga menjelang pemilihan Gubernur (pilgub) Jabar, 13 April 2008. Hasilnya beragam. Jumlah responden dan metoda yang dipakai juga berlain- lainan.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Syaiful Mudjani dalam survei terbarunya yang diumumkan, Selasa (25/3), menyebutkan pasangan Agum Gumelar-Nu'man Abdul Hakim (Aman), berpeluang lebih besar memenangi pilgub.
Aman memiliki poin hingga 48 persen, disusul Danny Setiawan-Iwan R Sulandjana (Da'i) yang memperoleh 25,5 persen. Sementara Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade) hanya 16,6 persen dari total 1.020 responden yang berasal dari 102 desa. Surveinya sendiri dilakukan LSI dengan menggunakan metodologi multistage random sampling.
Namun, berbeda dengan LSI, survei yang dilakukan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategi (Puskaptis) pada 17-23 Maret 2008 justru menempatkan Da'i pada posisi pertama pilihan rakyat. Da'i memperoleh 6.054 suara atau 42,69 persen dari total responden, disusul Aman dengan perolehan 5.086 suara atau 35,66 persen. Sementara Hade di urutan ketiga dengan perolehan 3.962 suara atau 21,65 persen.
Menurut Direktur Puskaptis, Ir Husin Yazid MSi, survei ini menggunakan teknik stratafied random sampling dengabn jumlah responden 15.102 orang dari 2.600 kelurahan/desa di Jawa Barat.
Harisn Tribun Jabar, pada website-nya, http://www.tribunjabar.co.id, juga mengadakan polling yang terus ter-update. Hasilnya berbeda jauh dengan dua survei di atas.
Dari 60.227 pembaca yang mengikuti polling hingga Rabu (26/3/2008) pukul 12.30 tercatat, posisi tertinggi justru ditempati Hade dengan 44.828 suara atau 74.43 persen. Berikutnya adalah Da'i dengan 11.862 suara, atau 19.70 persen. Sementara posisi bontot ditempati Aman dengan 1.068 suara, atau 1.77 persen.
Apakah Tribun Jabar memihak Hade? Saya tahu persis, koran ini tak memihak satu pasangan pun. Hal serupa juga diakui LSI dan Puskaptis. Hasil survei bukan pesanan salah satu pasangan.
Namun, apa pun klaim dan pengakuannya, namanya juga "ramalan", tentu tak satu pun penyelenggara yang mampu memastikan bahwa apa yang terjadi pada 13 April nanti akan sesuai dengan hasil survei dan polling yang mereka lakukan saat ini. Sebab, apa pun bisa terjadi. Dunia polirik sulit ditebak.
Tapi, omong-omong soal ramalan, sebuah cerita yang saya baca pada sebuah situs internet, beberapa waktu lalu, entah kenapa tiba-tiba jadi teringat kembali. Kisah itu terjadi pada musim gugur, ketika seorang anggota suku Indian bertanya tentang suhu musim dingin yang akan datang pada kepala suku mereka yang baru saja diangkat.
Mendapat pertanyaan itu, kepala suku yang sudah modern ini bingung karena tak lagi menguasai cara-cara kuno meramal cuaca seperti yang biasa dilakukan pendahulunya. Tapi, supaya aman, ia pun mengatakan musim dingin nanti akan terasa dingin seraya menyuruh warganya untuk mengumpulkan kayu bakar untuk persiapan.
Namun, setelah beberapa hari, muncul idenya menelepon Layanan Perkiraan Cuaca, dan menanyakan prakiraan cuaca yang akan terjadi. Pertanyaan ia lontarkan melalui telepon dan dijawab petugas bahwa musim dingin mendatang akan sangat dingin. Dengan perasaan lega, kepala suku pun kembali menyuruh warganya untuk mengumpulkan kayu lebih banyak lagi untuk persiapan.
Seminggu kemudian dia pun menelepon kembali Layanan Perkiraan Cuaca. Pertanyaannya sama, dan lagi-lagi jawabannya serupa. Saat itu pula, kepala suku pun kembali menyuruh warganya untuk mengumpulkan kayu bakar lebih banyak lagi.
Dua minggu kemudian, ketika musim dingin hampir tiba, kepala suku memutuskan menelepon Layanan Perkiraan Cuaca untuk terakhir kalinya, menanyakan hal yang sama. Namun, untuk ketigakalinya jawaban petugas tetap saja sama.
Kepala suku pun sedikit penasaran. "Apa Anda yakin bahwa musim dingin kali ini akan sangat dingin?" tanyanya menyelidik. "Pasti", jawab orang di Layanan Perkiraan Cuaca tersebut. "Tapi, kenapa Anda bisa begitu yakin?" tanya kepala suku. Jawaban petugas di Layanan Perkiraan Cuaca ternyata sangat mencengangkan. "Karena kini para suku Indian sedang mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang gila-gilaan!"(*)
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Bohong
|
 |
 |
Selasa, 7 Oktober 2008 @ 15:05 WIB - Diari |
 |
| |
BEBERAPA bulan terakhir, ini barangkali satu-satunya berita yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri saat membacanya. Belakangan saya memang jarang, bahkan tak pernah lagi tersenyum saat membaca berita. Terlampau banyak kesedihan yang terjadi akhir-akhir ini.
Kisah menggelikan ini dilansir Kantor Berita AFP, Sabtu, 17 November tahun lalu. File beritanya masih saya simpan hingga sekarang. Bercerita tentang John "Liar" Graham yang dinobatkan sebagai pembohong terbesar sedunia, setelah pria Inggris itu kembali memenangi lomba cerita bohong tahunan yang digelar di Bridge Inn, Santon Bridge untuk keenam kalinya.
Dalam bohong kali ini, pria 69 tahun itu mengaku tersandung kapal selam U-boat saat kapal selam tersebut mempersiapkan serangan ke kota terdekat di Whitehaven. Sebelumnya, dia juga mengaku pernah menangkap ikan cod sepanjang 2,7 meter. Namun, ia bersikukuh bahwa ceritanya yang satu ini bukan sebuah kebohongan.
"Itu cerita sungguhan," serunya pada sejumlah kesempatan.
Sebagian orang akhirnya percaya. Tak heran jika cerita soal ikan cod sepanjang 2,7 meter itu kemudian diangggap sebagai kebohongan John yang paling berhasil.
Sejarah perlombaan bohong sendiri diawali dari polah pemilik bar setempat bernama Will Ritson pada abad ke-19 yang terkenal suka membual. Bualannya antara lain mengaku ada lobak di daerah mereka yang tumbuh sangat besar, yang saking besarnya orang pun bisa tinggal di dalamnya.
Dari situlah lomba bohong ini berlanjut. Bohong menjadi pemikat utama pariwisata di sana sekaligus even yang amat dinanti. Sayang, tak semua boleh ikut serta.
"Politisi dilarang ikut karena mereka sudah terlampau mahir berbohong," tulis AFP mengutip alasan yang diucapkan panitia.
Meski terlalu gegabah menuding semua politisi adalah tukang-tukang bohong, tentu bukan tanpa alasan jika pengecualian soal para peserta ini akhirnya diberlakukan panitia. Sebab, selain cerita kebohongan para politisi ini sudah terdengar sejak lama, memang nyaris tak ada satu nama pun di antara mereka yang benar-benar bersih saat menjalankan profesinya.
Di Indonesia, dunia polisik juga diwarnai banyak sekali kebohongan. Saking piawainya para politikus ini kita bahkan tak tahu lagi mana yang merupakan kebohongan dan mana yang bukan. Semua bertambah rumit karena selain terlatih dalam kebohongan dunia politik, banyak politikus ternyata juga berasal dari latar belakang pekerjaan di mana kepura- puraan menjadi modal dalam mencari kehidupan.
Beberapa waktu terakhir, ada banyak sekali artis yang putar haluan dan menggeluti dunia politik.
Memang, belum tentu juga bahwa para artis ini akan terus berbohong saat benar-benar menjadi politikus. Sebab, siapa tahu politikus artis justru menjadi politikus terjujur karena mereka sudah amat bosan "ber-acting".
Tapi, lagi-lagi mana kita tahu apakah apa yang mereka tampilkan adalah acting atau bukan. Sebab, namanya juga artis -- kita tak pernah tahu...
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
rtyrey Selasa, 7 Oktober 2008 @ 15:17 WIB
 (Reply)
blog lu ga penting. nyampah!!!!!!!!!!! ke laut aja lu!!!!
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
 |
Haji
|
 |
 |
Minggu, 5 Oktober 2008 @ 16:48 WIB - Diari |
 |
| |
ALKISAH, seorang jemaah haji asal Indonesia tertidur di dalam pesawat yang membawanya pulang dari perjalanannya memenuhi undangan Allah ke tanah suci.
Dalam tidurnya ia bermimpi, seorang pria mendatanginya seraya mengatakan bahwa tak satu pun jemaah haji Indonesia yang pergi tahun itu menjadi haji yang mabrur.
"Satu-satunya haji yang mabrur tahun ini justru tak jadi berangkat," kata pria dalam mimpi itu sambil menyebut ciri dan identitas lengkap haji mabrur yang tak jadi berangkat tersebut.
Dalam keadaan terguncang, jemaah haji itu pun terbangun dan gelisah. Perkataan pria dalam mimpi itu terus menghantuinya. Ia bahkan tak bisa lupa hingga akhirnya memutuskan pergi untuk mencari sosok haji mabrur itu berbulan-bulan kemudian.
Seperti diduga, pencarian tak berlangsung mudah. Puluhan kampung ia datangi, sebelum kemudian berakhir di sebuah kampung di mana orang yang dicari akhirnya berhasil ditemukan. Haji mabrur itu tinggal bersama isteri dan seorang anaknya jauh dari keramaian. Hidup alakadarnya di rumah kayu kecil di pinggir hutan.
Para tetangga kampung mengisahkan, si fulan yang dicari adalah bekas orang terkaya di kampung mereka. Namun, sejak beberapa bulan lalu si fulan gemar membagi- bagikan hartanya hingga jatuh miskin. Tak seorang pun dari mereka mengetahui sebabnya. Singkat cerita, tak ada lagi keraguan bahwa si fulan adalah sosok lelaki yang ia dapati dalam mimpinya saat keduanya akhirnya bertemu. Si fulan mengaku, niat untuk pergi haji memang sudah dipendamnya sejak bertahun-tahun lalu. Namun, ketika kesempatannya tiba, ia justru memutuskan untuk tak berangkat.
Si fulan berkata, sebuah peristiwa suatu sore sepekan sebelum ia berangkat haji telah mengubah segalanya. Saat itu, isterinya yang sedang mengandung mencium bau sate ayam yang luar biasa menggoda. Sang isteri memintanya mencari dan membeli satenya. Demi sang isteri, si fulan pun mencarinya ke sana kemari hingga hari beranjak gelap. Tapi semakin dicari, yang dicari tak kunjung ditemukan.
Dalam keputusasaannya, si fulan pun pulang dengan tangan hampa. Namun takdir menuntun jalannya. Harum sate yang semula hilang kembali tercium tepat di atas jembatan besar sebuah sungai yang berada tak jauh dari rumahnya yang besar.
Dengan tergesa, si fulan pun menuruni jembatan dan mendatangi seorang nenek yang tengah asyik membakar sate ayam ditunggui cucunya yang masih kecil. Kepada si nenek, si fulan menawarkan sejumlah uang agar dia dapat membeli sate itu. Tapi, di luar dugaan si nenek menolak.
Si nenek berkata, sungguh tak pantas ia menjual sate itu karena daging yang ia bakar adalah daging dari bangkai yang kebetulan hanyut di sungai. Ia terpaksa mengambil dan membakarnya karena cucunya sangat kelaparan. Bukan untuk dimakan, tapi sekadar membuat cucunya tertidur karena harumnya.
Mendengar cerita itu, seketika pucatlah wajah si fulan. Dalam hatinya ia berkata, bagaimana mungkin dirinya sanggup menengadahkan muka memenuhi undangan Allah untuk naik haji ke Baitullah di Mekah, sementara saat yang sama masih ada tetangganya yang tidur dengan perut yang lapar.
Sejak saat itu, si fulan membatalkan kepergiannya dan memilih keliling kampung setiap malam untuk melihat apakah semua tetangganya sudah kenyang atau belum. Ia infakkan semua hartanya hingga nyaris tak tersisa. Itu dilakukannya hingga wafat.
Kini, ketika ribuan calon jemaah haji juga tak jadi pergi karena adanya masalah soal kuota di Jabar, kisah si fulan tak sengaja kembali teringat. Kisah ini fiktif, tapi mengajari kita tentang banyak hal. Tentang seperti apa seharusnya hidup dalam lapang dan keiklasan. (*)
|
|
| |
|
|
| |
Disarankan: 0
|
|
 |
 |
 |
| |
 |
| |
khoiri_se Minggu, 5 Oktober 2008 @ 19:29 WIB
 (Reply)
betul.....
|
|
 |
 |
 |
| |
abuwaswas2.blogspot.com Minggu, 5 Oktober 2008 @ 20:24 WIB
 (Reply)
itu haji yang sejati
bukannya 10 kali naik haji , tapi tetangganya kelaparan
ke blog aku ya
|
|
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| Kembali Ke Atas |
| |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
RSS Blog  |
| Created: |
| Rabu, 4 January 2006 @ 15:02 WIB |
|
|
|