| |
|
Senin, 21 April 2008 @ 11:32 WIB - Diari
Sudah berapa kali negara kita terdengar Isu boikot suatu negara, Denmark, Prancis, Malaysia dan lain-lain. Tetapi, yang paling sering gak putus-putus disuarakan adalah pemboikotan Amerika Serikat... Dalam setiap diskusi selalu ada komentar bahwa sangat sulit memboikot Amerika karena produk mereka sudah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari... ada benarnya juga sih... tapi kadang kepikiran gimana dengan orang Amerika sendiri ya? Apa mereka keenakan hidupnya karena tidak bergantung dengan produk negara lain, seperti Indonesia?
Isu Boikot Cina yang lagi trend di dunia saat ini menceritakan hal lain, dan itu tertangkap atau tertuang dengan 'tegas' dalam karikatur ini
|
Disarankan: 0
 |
| |
harry_zoe Senin, 21 April 2008 @ 11:43 WIB
 (Reply)
hm....ikutan club aja deh.boikoters...hehhehee
|
|
 |
 |
 |
| |
indian Senin, 21 April 2008 @ 11:44 WIB
 (Reply)
wekz.. gw gak bisa liat gambarnya t.t gak kebuka.. dasar kompi lemot t.t
|
|
 |
 |
 |
| |
natane Minggu, 6 Juli 2008 @ 20:16 WIB
 (Reply)
temen gue yg boikot israel jg kmaren makan di mcd
dia blg biar aja kan cm rp.5500 gak nyampe ke israel [:d]
|
|
 |
 |
 |
|
|
Rabu, 2 April 2008 @ 16:13 WIB - Diari
Hari Minggu lalu (30 Maret 2008) saya sempat membaca artikel di halaman depan koran Kompas, sangat miris sekali melihat usaha seserang yang sebenarnya sudah 'lumayan' cukup tiba-tiba hancur setelah dia memilih profesi calon bintang. Mimpi-mimpi menjadi bintang memang menggoda tapi apa perlu hingga berjudi dengan pulsa hingga hilang 30 juta juga?
Amit...amit... Saya bakal larang anak saya ikutan acara kaya gitu! (Secara saya aja belum punya anak )
Kisah Selebriti Gagal
Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.
Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.
 Ian Kasolo, mantan peserta kontes Dangdut Mania TPI, kini bekerja mengantarkan katering di kompleks perumahan di kawasan Depok.
Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.
Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.
Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.
Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.
Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.
Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.
Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya.
Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.
Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.
Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.
Korban mimpi
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.
Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.
”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.
Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.
Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.
Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”
Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.
Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.
Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.
Sumber : Kompas
|
Disarankan: 0
Jumat, 14 Maret 2008 @ 15:37 WIB - Komputer & Internet
 Klik gambar diatas untuk menuju KBBI On Line...
Rasanya Baru saja saya terhibur dengan kamus-kamus Online di jagat maya. Dan secara tidak sengaja saya menemukan kamus yang tidak saya duga akan On Line... yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia... Well mungkin ini berkah untuk saya karena situs ini sepertinya baru saja di luncurkan dan juga saat saya sedang serius-seriusnya dengan skripsi...
Ternyata bangsa kita mulai serius dengan potensi yang ada, bagus deh...
Contoh: Pencarian penjelasan kata 'arsip' (tema skripsi saya) didapatkan hasil:
ar·sip n dokumen tertulis (surat, akta, dsb), lisan (pidato, ceramah, dsb), atau bergambar (foto, film, dsb) dr waktu yg lampau, disimpan dl media tulis (kertas), elektronik (pita kaset, pita video, disket komputer, dsb), biasanya dikeluarkan oleh instansi resmi, disimpan dan dipelihara di tempat khusus untuk referensi; -- utuh pembakuan, pengaturan, dan pengawetan yg diperlukan supaya bahan arsip dapat dikenal dan disusun sebagaimana aslinya tanpa ada yg dirusak dan diubah; meng·ar·sip·kan v membuat jadi arsip; peng·ar·sip n orang yg mengarsipkan: ia termasuk ~ yg rapi; peng·ar·sip·an n proses, cara, perbuatan mengarsipkan: manajemen yg baik, antara lain, ditandai oleh ~ yg baik pula; ke·ar·sip·an n perihal arsip: dokumentasi yg lengkap tergantung pd ~ yg baik
|
Disarankan: 0
 |
| |
harry_zoe Jumat, 14 Maret 2008 @ 16:02 WIB
 (Reply)
good luck deh
 |
 |
| |
 |
pathfinder Jumat, 14 Maret 2008 @ 16:20 WIB
thanks bro
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
natane Selasa, 10 Juni 2008 @ 15:18 WIB
 (Reply)
good luck ya skripsinya
presiden kolam berita kahir2 ini kok jrg muncul
gak seru nih tanpa pak presiden
|
|
 |
 |
 |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
Created on:
Rabu, 2 January 2008 @ 13:18 WIB |
|
|