| |
|
|
Ustad memang manusia
Sabtu, 3 February 2007 @ 15:13 WIB - Diari
Malam tadi, saya melihat tayangan sinetron di ANTV yang bertemakan agama. ternyata Ustad juga manusia. Seharusnya sinetron religious. Tapi jauh dari norma religious. Kenapa saya katakan jauh dari religious, karena di dalamnya tidak terkandung nilai-hilai yang bagus untuk dicontoh. Justru kesan yang saya dapat di sini adalah semacam umpatan, ungkapan ketidak senangan pada karakter tokoh tertentu. Anehnya, tokoh agama atau ustadlah yang menjadi sasaran tembak dari tayangan ini. Kalau kita cermati lebih jauh, nama-nama karakter hanya disamarkan dengan nama-nama yang tetap mirip dengan nama asli sang tokoh nyata. Seperti Aa Gym, disulap namanya menjadi Aa Jimy. Dan Ustad Jefri disulap namanya menjadi Ustad Jufreni. Entah Ustad siapa lagi yang akan menjadi bahan olok-olokan di tayangan ke depan.
Mungkin di ilhami dari Polygaminya Aa Gym sehingga sinetron ini terlahir. Lebih konyolnya lagi, pada sinetron Ustad Kawin lagi, disitu ditampilkan pula seorang tokoh agama yang memang benar-benar tokoh agama pada kehidupan nyata. Dikisahkan, pak Ustad yang satu ini, Ustad Wahfiudin, membacakan hadis-hadis dan dalil-dalil yang isinya kurang menyetujui perilaku Polygami. Saya sangat sedih dengan hal ini. Mengapa tidak diperankan oleh tokoh lain saja? Kenapa harus diperankan oleh sang Ustad asli? Bukankah justru terkesan mendiskreditkan, memojokkan sang tokoh sentral? Terlepas Ustad Wahfiudin memerankan karakternya sendiri sekalipun. Sebegitu parahkah kondisi cacimaki di Negara ini dengan tayangan yang mengundang permusuhan? Kalaupun tidak dendam, minimal sakit hati akan dialami sang tokoh yang jadi sasaran kritik. Dan kesan yang ditangkap, sang ustad asli memanfaatkan situasi untuk mendongkrak pamornya sendiri, meski harus menikam teman satu profesi.
Apakah kita memang tidak boleh memiliki panutan, atau apapun dalam kehidupan ini? Judulnya saja sudah memojokkan. Langsung memvonis: ‘’ternyata Ustad juga manusia’’ naudu billah… kok bisa seperti ini? Untuk karakter tokoh politik sudah habis-habisan dikritik dengan parodi, tanpa si tokoh mampu berteriak atau berdaya untuk bilang jangan. Inilah Reformasi? Tanpa batas-batas yang melihat etis dan tidak etisnya sesuatu. Saya berfikir, mungkinkah tayangan ternyata ustad juga manusia ini sengaja dibuat untuk memecah belah kehidupan tertentu? Sehingga kita dipaksa untuk tidak mempercayai tokoh tertentu, meskipun tokoh tersebut nyata-nyata tokoh agama. Memang, tidak ada manusia yang sempurna. Tapi haruskah kita mengobral kekurang sempurnaan seseorang secara membabi buta…
|
Disarankan: 0
 |
| |
tanisa Sabtu, 3 February 2007 @ 15:17 WIB
 (Reply)
hmmm.... iya...juga kita memang harus.... bisa melihat dari sisi orang lain juga... sebelum meng underestimate...
|
|
 |
 |
 |
| |
anangyb Sabtu, 3 February 2007 @ 15:27 WIB
 (Reply)
yap ! dari judulnya, kayaknya mau menceritakan ustadz sebagai sosok yang manusiawi, bukan tokoh di atas awan... maunya. moga2 di tayangan selanjutnya makin mengena dan bukannya makin bodor.. kalau model tayangannya, kayaknya ngekor kesuksesan sinetron plesetan (serial apa, saya lupa) yang misalnya berkisah perselingkuhan gusti randa, tapi diplesetin dikit-dikit gitu....
|
|
 |
 |
 |
| |
cool_forever Sabtu, 3 February 2007 @ 18:53 WIB
 (Reply)
males deh kalau udah sinetron...
|
|
 |
 |
 |
| |
feha Sabtu, 3 February 2007 @ 19:46 WIB
 (Reply)
sinetron itu menurut saya agak2 terlalu menyindir ustadz yang sebenernya, karena ceritanya nampaknya terinspirasi dari kisah mereka. bukankah secara tidak langsung kita terus mengungkit sesuatu yang kita anggap salah dari mereka?
kan kasian
|
|
 |
 |
 |
| |
ustad Senin, 26 February 2007 @ 20:07 WIB
 (Reply)
di satu sisi memang mengecewakan orang banyak. setelah figur teladan banyak hilang: ketika tiada lagi negarawan, kecuali politisi; tiada lagi keperwiraan yang berani, kecuali jenderal yang serakah; haruskah juga ustad terhancurkan? tapi ustad juga memang bukan kelas elit yang harus steril dari kritik, kan... kalo ada yg perilakunya gak bisa diterima ya wajar dikritik... akhirnya semua terpulang kepada kita para umat, untuk pandai-pandai menyeleksi dan tidak terpesona oleh penampilan luar saja...
|
|
 |
 |
 |
| |
arsidi Sabtu, 24 Maret 2007 @ 08:53 WIB
 (Reply)
terima kasih blog pijar cahaya... hampir adik saya juga ketipu hal yg sama,untung aku buka web site ini,alhamdulillah ga jadi ketipu. semoga dari pihak wings lebih mensosialisasikan programnya,dan pak polisi lebih ketat.
|
|
 |
 |
 |
| |
dedi7 Selasa, 31 Maret 2009 @ 09:24 WIB
 (Reply)
isi komentar kamu di sini! ambil pesannya saja poligami bukan suatu anjuran tapi hanya solusi.pernyataan miring2 kita pun menjadi krikil perpecahan umat dari gunung yang tinggi yaitu ukhuwahislamiyah
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
Created on:
Rabu, 9 Agustus 2006 @ 23:00 WIB |
|
|