| |
|
|
Potret
Kamis, 28 February 2008 @ 11:24 WIB - Diari
Orang-orang berbaris seperti jaman Jepang. Dengan kejenuhan dan segala rasa lelah bercampur kesal karena hanya punggung yang menjadi pemandangan tetapnya selama beberapa jam. Yah. Antrian panjang. Mengantri minyak tanah. Setelah beberapa saat rakyat Indonesia sibuk mengantri minyak goreng, tapi antrian minyak tanah seakan tetap abadi. Menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi, seperti lazimnya saat kita menyaksikan orang sedang berolah raga. Tidak aneh sama sekali. Inilah potret kita, Indonesia, Negara yang memiliki kandungan minyak bumi terbesar di dunia, tapi untuk mendapatkan minyak tanah saja serasa lebih sulit dari menulis di atas air.
Apa sebenarnya yang tengah menyelimuti Indonesia, Negara kepulauan yang termasyur dengan hasil bumi dan rempah-rempahnya, bahkan sebagai Negara tempat di mana ditemukannya makanan tradisional bernama tempe, tidak lagi sanggup memproduksi tempe karena tidak ada bahan bakunya. Apa bila Grup Muri mau memasukan Indonesia sebagai Negara yang paling aneh di dunia, mungkin sudah masuk criteria jika Negara kita memang aneh. Kemana dulu symbol khas gotong royong dan toleransi yang menjadi kebanggaan orang Indonesia saat gencar-gencarnya tahun kunjungan wisata dengan mengangkat Slogan “Senyum bagi warganya….?
Semakin banyak stasiun televise menjadikan semakin banyak kebobrokan yang langsung menjadi konsumsi seluruh dunia. Konflik di beberapa daerah, dan konflik sehari-hari yang hamper setiap hari pasti menghiasi layer kaca kita. Dan saya yakin orang-orang di luar Indonesia akan dengan sangat mudah menyaksikan berbagai tayangan anarkis dan kebrutalan massa beberapa menit setelah kejadian. Bukan karena bencana yang berturut-turut sambung menyambung menjadi satu nama…. Bencana nasional. Tapi lebih dari itu.
Sebenarnya siapa yang salah? Apakah karena kita telah kehilangan sosok yang berwibawa untuk menjadi sosok pemimpin yang sesungguhnya? Entahlah. Berkali-kali ganti pimpinan tetap saja seperti ini keadaannya. Apakah pendidikan nasional menjadi baik? Mudah-mudahan. Yang jelas banyaknya sosok preman yang menghiasi layer kaca kita bukan bagian dari program pembangunan yang sesungguhnya. Dan itu Naif sekali!
Apakah kita lantas menjadi heran jika kemudian Negara tetangga berani merebut asset budaya kita? Jelas tidak. Karena kewibaan sebuah Negara dapat dilihat dari seberapa besar bersatuanya suatu Negara, bersatu dalam arti kekompakan dan kerja samanya, bukan bersatu untuk saling adu pukul dan jotos seperti yang nampak di layer kaca Televisi nasional kita beberapa waktu yang lalu. Dulu kita pernah merasa bangga dengan Elias Piccal yang tahan banting dalam adu pukul di ring tinju, sungguh kita bangga. Kalau kemudian yang saling adu pukul adalah para wakil rakyat di suatu DPRD suatu daerah, jelas tidak ada rasa bangga sama sekali kecuali Negara telah menetapkan kontingen tinju yang diwakili langsung oleh anggota DPR.
Hmmm itulah Indonesiaku, Indonesia kita. Semoga akan kembali ke masa kejayaan seperti dulu, yang ramah tamah dengan kebudayaan yang terjaga, Pulau-pulau yang terjaga, dan bersatu padu untuk cita-cita bersama. Kita sangat merindukan Indonesia dengan sosoknya yang dulu, yang dihormati oleh Negara manapun, termasuk tenaga kerjanya. Cukuplah beberapa kasus terakhir saja TKW kita diperlakuakan semena-mena, asset budaya kita dicaplok orang semaunya, dan beberapa… beberapa… beberapa lannya… karena terlalu banyak kita telah kehilangan, kehilangan identitas kita yang sesungguhnya.
|
Disarankan: 0
|
|
Created on:
Rabu, 9 Agustus 2006 @ 23:00 WIB |
|
|