| |
|
|
;; A EMOTIONAL LOVE SONG ;;
Rabu, 20 Agustus 2008 @ 19:41 WIB - Diari
Dua hari ini aku lalui dengan begadang setiap malamnya. Anakku, akief, memintaku untuk membantunya meng-lay out majalah sekolahnya, miracle. Sebagai seorang ayah yang mencintai anaknya, tentu saja aku tidak bisa menolak. Aku kerjakan apa yang dia minta, dengan harapan dia bisa tetap belajar dan tidak terganggu aktivitas meng-lay out majalah ini, karena itu aku harus mengorbankan hari-hariku didepan komputer demi dia serta mengorbankan hari-hariku bekerja demi suksesnya penerbitan disekolahnya.
Sebenarnya, aku bisa saja menolak untuk mengerjakan permintaan dia itu, ttetapi aku tidak ingin mengecewakannya, aku tak ingin dia, akief, anakku, bernasib sama denganku. Aku pun tak ingin seperti bapakku yang tak pernah menghiraukan aku sebagai anaknya. Aku tak ingin akief bernasib sama denganku. Karena itulah, aku lebih banyak menuruti permintaan dia, selama aku bisa memenuhinya.
Begadang dua hari berturut-turut benar-benar melelahkan. Apalagi bila start dari magrib sampai subuh, sungguh-sungguh melelahkan. Tak hanya fisik tapi fikiran juga terkuras demi majalah sekolah itu. Belum lagi, ketika deadline penerbitan mulai mendekat, artikel yang dijanjikan belum juga sampai ketanganku, jadinya emosiku jadi mudah meledak-ledak.
Meski dua hari dan dua malam aku begadang, tapi masih aku sempatkan untuk masuk kerja, itu semua karena sudah manjadi tanggung jawabku, masuk kerja, tapi mskipun egitu, kerjaku dikantor jadi tidak maksimal. Bila istirahat, lebih bnayak ku habiskan untuk me’nembel’ jam tidurku yang benar-benar kacau dalam dua hari ini.
Kulangkahkan kakiku menuju kamar disebelah kantor dengan gontai, kakiku mulai lemah menahan berat tubuhku yang smakin lama-semakin berat saja. Mataku yang sedari tadi malam menahan kantuk, rasanya sudah tak kuat menahan rasa kantukku yang menyerang, dalam pikirku, satu keinginan yang ingan rasanya segera aku dapatkan. Tidur. Titik.
Tak ada keinginan lain selain tidur setelah badan sudah tak kuat lagi menahan lelah ini. Ingin rasanya aku segera berlabuh pada pulau kasur yang empuk, pulau yang dapat memulihkan staminaku dari rasa lelahku yang sepertinya tak berujung ini. Setelah aku dapati kasur dengan bantal, segera mungkin aku rebahkan tubuhku diatasnya.
Belum sempat mataku terpejam, tiba-tiba saja sebuah bantal melayang mengarah kepadaku dan mengenai kepalaku. Spontan saja, aku bangkit dari tidurku, tubuhku yang rebah kemudian berganti dengan posisi duduk. Dengan wajah bersungut-sungut dan penuh amarah.
“siapa yang nglempar bantal ini ?” tanyaku dengan amarah. Dengan bantal ditangan kananku, aku memandangan empat orang yang berada dalam kamar tersebut. Emosiku masih belum reda. Semua mata menatapku. Dua orang ‘cengengesan’ dipojok kamar dengan mata melihatku. Tak ada jawaban, aku coba menenangkan diri, kubersiap-siap untuk merebahkan kembali tubuhku, tapi samar-samar aku mendengar kata-kata yang membuat emosiku naik kembali.
“awas, ada yang kerasukan rohnya Ryan lho....” demikian suara yang samar-samar itu. Aku bangkit kembali dari tidurku, aku langsung berdiri dengan bantal ditanganku. Aku melangkah dengan marah mendekati suara yang samar-sama tadi, ya, aku tahu suara itu, tidak mungkin salah. Langsung saja, bantal ditangan melayang memukul mengenai kepalanya dia berusaha menagkis dengan kedua tangannya, aku ayunkan lagi bantal ditanganku kearaah kepalanya, dia menangkis kembali. Merasa belum puas, kuayunkan lagi bantal itu mengenai kealanya untuk ketiga kalinya.
Nafasku terengah-engah menahan amarah. Tekanan darahku naik, ingin sekali aku meluapkan semua amarahku kepadanya. Ingn rasanya aku menonjoknya dengan tanganku ini, atau kalau bisa dengan barang yang lebih keras agar dia berfikir dua kali bila ingin menghinaku. Aku sedang tak ingin mendengar kata-kata yang menghinaku sekarang. Jadi jangan memancing amarahku untk saat ini.
Setelah puas memukulinya, aku kembali kerah tempat tidurku yang aku tinggalkan hanya untuk meladeni laki-laki yang menghinaku tadi. Masih menahan amarah tentunya.
Kantukku hilang setelah itu. Rasa capekku yang sedari tadi mengglayutiku telah lenyap bersama amarahku. Setelah kejadian itu, tak sepatah kata pun keluar dari bibirku untuk menyapanya. Dia pun tak berani untuk bercakap-cakap kepadaku, dia lebih banyak menundukkan kepala atau pura-pura tak melihatku. Aku pun begitu.
Selama empat hari setelah kejadian itu, tak kunjung reda amarahku padanya. Emosiku masih tinggi bila melihat dia dihadapanku. Teman-teman dikantor juga berusaha untuk mendamaikan aku. Tapi aku tak peduli. Aku juga kaget, begitu cepatnya berita kemarahanku itu menyebar ke teman-teman kantorku.
Enam hari berlalu, ketika emosiku mulai reda. Aku beranikan sms kedia. Hnya ingin menyapanya, mencairkan kebekuan dalam hubungan kita. Sekitar jam sebelas malam, aku beranikan sms kedia.
“aq tlah klh dlm sndiwara ini, q tlah mnjd seseorang yg khilangan lentera dkgelapan. Q tersipu dlm jlnq dan mndrita dlm hdupku” tulisku dalam sms itu. Harapanku, dia segera membalas smsku. Semenit kemudian smsku msh belum dibalasnya, aku mencoba menunggu. Mungkin dia masih marah. Aku harus bersabar lagi. Kutungu lagi balsanya. Tapi hingga pagi menjelang, dia tak kunjung sms.
Matahari telah beranjak naik ketika getar Hpku mengagetkanku. Kulihat sebuah sms masuk darinya, segera aku baca sms itu.
“lungo t’ ati2..... kpn gonmu bali mecahing indahing wengi kuto nganjuk iki sumilir angn wates gugah kangene ati opo kowe ora ngerteni kowe t’ kngeni. Neng alun2 t’ golekki terminal stasiun tak ubengi Snajan 1 thn tak enteni tresnamu seng tak gondeli....”
demikian bunyi sms itu. Tawaku tak bisa kutahan lagi. Aneh, kanapa dia mengirimiku sms dari lagu jawa miliknya VITA KDI yang beredar khusus dinganjuk itu ? dia tahu saja lagu yang sekarang jadi lagu favoritku. Dia meman pandai membuatku tertawa.
“isik nesu tha ?” balasku kemudian. Menanyakan apakah dia masih marah kepadaku.
“hmmmmmmmmmmmmmm ora i.......” jawabnya lagi, masih dengan bahasa jawa yang membuatku tersenyum lagi. Lega rasanya, dia sudah nggak marah lagi padaku.
“brati aq yo....... sorry, kmrn lg emosi, ditrimo tha ngapurane ?” tanyaku lagi dalam smsku. Aku meminta maaf kepadany, aku jelaskan bahwa kemarin aku lagi emosi, kemudian bertanya lagi, apakah dia menerima maafku.
“weleh....biasa wae..... justru aku seng ngapuro sek.... yo wes pudu2 nek ngono....” balasnya lagi. Ingin minta maaf dulu sebenarnya, impaslah kita. Sudah tak ada lagi masalah diantara kita.
“ngunu thok ?” tanyaku lagi, ingin ngajak guyonan sebenarnya, aku ingin dia membalas apa lagi.
“lha piye ?” tanya dia balik. Ha...ha.... ternyata segitu saja marahku ya, gampang banget redanya tapi gampang juga marahnya.
Ternyata aku masih belum bisa mengontrol emosiku ya, masih saja mudah marah bial ada masalah. Aku harus lebih bnayak belajar menahan emosi lagi nih....................................
|
Disarankan: 0
 |
| |
koesplator Rabu, 20 Agustus 2008 @ 21:36 WIB
 (Reply)
baru tahu neh anda udah berkeluarga dan punya anak ... seharusnya jadi bapak yang sabar ya ..... hehehe ....
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
masih imoet
Selasa, 19 Agustus 2008 @ 11:18 WIB - Diari
lagi belajar ngedit nih.............. ni foto waktu aku diundang di acara tasyakuran anak-anak, masih kelihatan imoet ya ???????
|
Disarankan: 0
 |
| |
harry_zoe Selasa, 19 Agustus 2008 @ 11:56 WIB
 (Reply)
tp sekarang dah amit-amit ya?
|
|
 |
 |
 |
| |
sastrawiguna Selasa, 19 Agustus 2008 @ 12:27 WIB
 (Reply)
kamu yang mana?
 |
 |
| |
 |
riu_aj Selasa, 19 Agustus 2008 @ 17:22 WIB
sebelahnya orang tua tuh ! beliau tuan rumahnya
|
| |
|
|
 |
 |
 |
|
|
Disarankan: 0
 |
| |
cool_forever Minggu, 17 Agustus 2008 @ 18:35 WIB
 (Reply)
cup cup... anak manis jangan emosi...
merdeka
 |
 |
| |
 |
riu_aj Senin, 18 Agustus 2008 @ 12:44 WIB
di usahakan [b)]
|
| |
|
|
 |
 |
 |
| |
jie_nugros Senin, 18 Agustus 2008 @ 14:56 WIB
 (Reply)
pke sendox ajah........
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
Korban ke-13
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 16:48 WIB - Diari
“ati-ati, jadi korban ke-13 lho, ntar” kata pak qien tiba-tiba. Kata-katanya Membuyarkan serangkaian gelak tawa yang sedari tadi berlangsung dalam kamar berukuran 6X3 meter ini. Seketika itu juga, senyum dalam wajahku sirna, tawaku hilang terbawa bayu. Semua mata berpaling menatapku, lekat. Semua terdiam. Perbincangan terhenti oleh luconan yang bersifat sensitif ini.
Sejak pemberitaan Ryan yang berlebihan itu. Aku sering jadi korban dari olok-olok teman kantorku. Entah, untuk kesekian kalinya, teman-temanku selalu menghubungkan aku dengan jagal manusia dari jombang, Ryan. Meski semua tahu, aku tidak ada hubungan sama sekali dengannya. Tapi sejak terkuaknya pembantaian itu aku selalu jadi bulan-bulanan teman-teman kantorku.
Bila sindiran sudah nyampai kesitu, biasanya aku yang jadi pusat pembicaraan. Aku hanya bisa pasrah, aku nggak tahu harus membalas seperti apa. Aku hanya terdiam membisu, tertunduk malu. Dua kakiku aku tekuk, dan tanganku memeluk kedua ‘dengkulku’.
“kok 13 seh? Dah 15 sekarang” kataku membela diri. Hanya untuk menutupi kejengkelan diri. Mungkin semua tahu itu. Udah lah, percuma. Aku memang sering jadi korban olok-olokan itu, aku diam saja, tapi bila sudah tak kuat, pembelaan memang jadi jurus andalanku.
“kok langsung paham?” tanya pak qien.
“selalu ngikuti perkembangan dia” tambah pak hafidz dengan senyum yang menurutku dibuat-buat. Aku nggak pernah cocok dengan dia
“iyalah....” kata pak naseer ikut-ikutan. Aku juga mulai muak dengan orang ini. Semuanya tertawa lagi. Semua mata mengarah kepadaku lagi. Aku bingung, harus bagaimana lagi bila pembicaraan sudah mengarah yang ini. Jalan satu-satunya adalah menghindar. Menghilang dari peredaran.
Harus bagaimana lagi, mana bisa menang bila harus melawan orang sebanyak ini. Ada 7 orang yang yang duduk dalam guyonan ini.
Sempat terfikir olehku bertindak seperti Ryan. Entahlah, semoga aku tetap dalam lindungan Tuhan. Dalam rasa kejengkelan seperti itu, aku sering berfikiran nekadz untuk menghabisi mereka semua. “Astaghfirullah.................” kataku dalam hati. Kata-kata itu aku ulangi entah untuk kberapa kali. Dengan harapan bisa Mendinginkan suasana hati yang sedang bergejolak penuh amarah.
astaghfirullah. Ampuni hambamu ini.
Aku tak mau melakukan itu, tapi bila mereka sudah terlalu seperti itu, apa salahku ? bukankah ini salah mereka. Salah mereka lah yang membuatku berbuat begitu. Merekalah yang membuatku nekadz berbuat seperti ini.
“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk !!!”
Aku bukan seorang pembunuh, aku tidak mau jadi seperti mereka. Aku tak mau jadi orang yang tidak berfikir dulu sebelum bertindak. Tidak ! aku tidak mau jadi pembunuh !
“tapi, dia telah menghinamu“
“tidak. Mereka hanya bcanda”
“bcanda gmn maksud loe ? itu dah keterlaluan !”
“tidak ! mereka sahabtku”
“sahabat ? Kamu masih nganggap mereka sahabat setelah penghinaan yang mereka lakuin, hah ?!!”
“emang kenapa ?”
“itu canda yang berlebihan ! jangan mau direndahkan ma mereka ?!!!!!!!!”
“tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak !!!!!”
“kok mesti seh ! knapa aku yang dihubungin ma Ryan?” tanyaku kemereka. Setelah terjadi perang batin antara aku dan nafsuku.
“sebenarnya orang seperti kalian kok yang nyebabin orang itu mau membunuh !” tambahku dengan marah.
“orang itu akan sabar dan nggak akan membunuh kalo orang seperti kalian itu diam” kataku masih dengan emosi.
Kulihat mereka diam, menatapku tak percaya, tentu saja, aku memang jarang banget marah, emang nggak bisa marah sebenarnya, kalo marah, lebih bnayak aku buat tidur, mungkin sudah kebiasaan dikluargaku, bila marah, pasti diam dan banyak tidur. Udah.
Pak ali tertawa, aku melotot kearahnya. Dia jadi salah tingkah, yang lainnya ikut-ikutan mringis.
“maaf, pak,.....sebenarnya kita nggak maksud begitu, hanya kebiasaan aja......”kata pak ali meminta maaf.
“maksud loe ??!!!” tanyaku masih dengan emosi.
“he..he...kemarin kan pak Yudi yang sering kita godain, karena dah pergi, ya.....kita nyari lagi korban yang bisa buat canda-candaan” katanya memberi alasan, di iyakan oleh yang lainnya.
Aku jadi ingat ama pak Yudi, dia pergi dari kantor ini karena mereka semua, meski aku sudah memberi pengertian bahwa mereka hanya bercanda, tapi dia memaksa untuk pergi. Kini, setelah pak Yudi pergi, ganti saya yang jadi korban guyonan mereka. Emang terlalu ! apa mereka tidak bisa mengambil hikmah dari kepergian pak Yudi? Benar-benar terlalu !
Sebenarnya nyesel juga sih harus marah-marah kepada mereka, tapi mau bagaimana lagi, semoga mereka dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini.
|
Disarankan: 0
 |
| |
dfahrizal Jumat, 15 Agustus 2008 @ 17:09 WIB
 (Reply)
kok bisa di kaitkan sama lo? kenapa?? mirip kaga,keluaga juga bukan. biasanya orang yang becandanya merendahkan bawahan, kehidupan keluaganya jauh dari harmonis. jadi mereka menghibur diri dengan tetep jaga gengsi sebagai atasan.dan kalo udah begini bawahan yang jadi bulan2an.sabar aja..... semua ada balasanya kok...tapi entah kapan...?
|
|
 |
 |
 |
| |
temennya ryan Senin, 18 Agustus 2008 @ 10:19 WIB
 (Reply)
aq temennya si ryan, kalau atasan masih macem2 ama lu, call me, biar aq pendem dia di wc rmhku ..he..he..he.. merdeka !!!
|
|
 |
 |
 |
|
|
|
dana buat beli rokok
Jumat, 15 Agustus 2008 @ 16:47 WIB - Diari
Masalah rokok benar-benar membuatku marah dengan atasanku. Di keluargaku, sampai sekarang, akulah yang paling menentang adanya asap rokok dikeluargaku. Tetangga kami pun tahu itu, makanya, bila berkunjung kerumahku, mereka tak berani untuk menyalakan rokok dirumahku, apalagi dihadapanku. Aku benci dengan asap rokok.
Sekarang, setelah bekerja, aku pun masih belum bisa menerima dengan asap rokok disekitarku, tapi atasanku benar-benar seorang perokok. Tiap hari, rokok selalu menemaninya. Awalnya aku sih bisa menerima, tapi, akhir-akhir ini aku baru tahu. Ternyata.....................
Baru dua hari ni aku melihat laporan keuangan dana pembangunan masjid disebelah kantorku, dalam laopran itu, tertulis angka-angka yang menunujukkan pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan setiap minggunya, yang membuatku kaget bukan bnayaknya pengeluaran dalam proyek itu, tapi ada dana khusus buat beli rokok atasanku itu. Kok bisa ?
Okelah, kalo untuk para pekerja aku bisa terima, tapi kalo dana itu khusus menyuplai ketergantungan dia terhadap rokok, aku belum bisa terima. Buat bensin pun aku masih bisa terima, karena aku tahu untuk apa beli bensinnya, tapi untuk rokok, aku belum bisa terima.
Dana itu dana jariyah dari umat, dana untuk membangun masjid, kok bisa-bisanya dana itu keluar untuk rokok dia. Aku bukan suudzon, laporan itu menunjukkan tentang pengeluaran yang berbeda, rokok untuk pekerja dan rokok untuk dia. Beda kan ?
Setelah tahu itu, aku jadi malas banget ngajak ngobrol ma dia, apalagi berbasa-basi. Males.........................................
|
Disarankan: 0
 |
| |
dfahrizal Jumat, 15 Agustus 2008 @ 16:57 WIB
 (Reply)
gw setuju!! gw jugs orang yang paling gak betah kalo ada asap rokok.walau pun dulu gw perokok berat,tapi sekarang gw udah bersih.namun tetep aja gw layaknya perokok aktif, sebab bos gw juga perokok berat mau gak mau gw harus ngisep asap rokok juga.gw juga jamin fatwa mui haram merokok gak bakalan bisa ngilangin kebiasaan merokok orang islam.
|
|
 |
 |
 |
| |
riu_aj Jumat, 15 Agustus 2008 @ 17:19 WIB
 (Reply)
smoga fatwa mui ntar mengharamkan rokok, stuju !!!!
|
|
 |
 |
 |
|
|
S E L A N J U T N Y A »
|
|
|
| |
| » Profile |
 |
 |
| » Buku
Tamu |
|
|
Arsip Blog
|
|
|
| Aku ingin semua itu datang kembali,
Aku ingin semua itu tak hanya sebatas mimpi,
dan aku ingin semua itu akan hadir kembali
tanpa terpisah kembali,
seperti saat ini |
|
Total: 133 |
|
|
|
|
|
|
|
|
Created on:
Senin, 26 Mei 2008 @ 15:38 WIB |
|
|