16to17
http://sixteen2seventeen.bloggaul.com
16to17

::..W3lc0m3 2 my BL09gy......3nj0y urs3lf......:::::


Top
UK Casino


PENGUMUMAN:
BlogGaul mau berubah ...
 

berapa harga cintamu?

Minggu, 30 Maret 2008 @ 16:11 WIB - Diari


Aku dilahirkan dengan memiliki wajah biasa-biasa saja dan dari keluarga kebanyakan, semua orang juga tahu. Kebiasaanku dari kecil senang dengan hal-hal gaib, belajar kebatinan adalah obsesiku. Aku ingin seperti ki Somad seorang sakti mandraguna yang bermukim di kaki gunung Ciremai.

Setiap hari banyak orang berdatangan ke rumahnya yang gelap di antara pohon-pohon besar. Lihat saja disana-sini banyak patung setan dengan kepala bertanduk dan ekor di belakangnya. Setidaknya itulah bayanganku akan bentuk setan. Asap kemenyan tak henti-hentinya menyebarkan aroma mistis. Sungguh daya tarik magis yang kuat bagiku. Aku senang tinggal dirumah ki Somad. Dia telah menjadikan ku muridnya.

Ki Somad memiliki tampang yang menakutkan, badannya tinggi besar dengan brewok yang lebat, batu cincin terpasang di jari-jari tangannya yang hitam dan kotor, kepalanya dililit selarik kain hitam, gelang akar bahar melingkar di kedua pergelangan tangannya yang kokoh, seperti kebanyakan dukun-dukun sakti lain. Begitulah penampilannya.

Pernah aku melihat langsung ki Somad menampar seorang jagoan di pasar kecamatan ketika membeli minyak wisik untuk keperluan perdukunannya. Dia memukul orang itu dengan sekali tampar. “PLAK.” Orang itu langsung semaput.

Aku bangga dengannya, dia menampar orang itu karena membelaku. Aku dengan badan ceking, dekil dan bau kemenyan ini di ganggu oleh jagoan itu. Barang-barang belanjaanku di lempar ke tanah, uang sisa belanja coba di rebut. Aku kaget setengah mati. Belum pernah aku di rampok dan di perlakukan seganas itu. Hatiku sungguh ketir, mulut bagai di kunci. Untuk berteriak minta tolong pun aku tak mampu. Tapi entah darimana datangnya, tiba-tiba ki Somad yang tadi menyuruhku menunggu di tukang tuak muncul begitu saja. Sungguh aku terkesan atas pembelaan itu.

Setelah kejadian itu makin banyak orang-orang berdatangan pada ki Somad untuk sekedar meminta ilmu pukulan, ilmu kebal, penglaris, pengasihan dan ilmu-ilmu lainnya.

Setelah berbulan-bulan aku bergaul dengan ki Somad sedikit demi sedikit aku di ajari ilmu-ilmu kebatinan dan kanuragan. Ilmu pertama yang di ajarinya yaitu memanggil roh setan gentayangan. Tapi aku tak terlalu menyukai ilmu itu. Karna aku terobsesi dengan ilmu pelet. Aku ingin segera belajar ilmu itu, tapi keliahtannya ki Somad belum berkenan memberi ilmu itu padaku, mungkin dia tahu, kalo aku sudah belajar ilmu itu, aku akan meninggalkannya. Lalu siapa lagi yang akan dia suruh-suruh kalau aku tak ada. Si damin agak-agak lamban dan dungu kalau di suruh menyiapkan sesajen. Ada saja salahnya. Dia kebanyakan menghayal menjadi pendekar, kebanyakan baca cerpen silat Kho Ping Hoo. Obsesinya memang menjadi jagoan pasar.

**

Bukan tanpa alasan mengapa aku begitu ingin belajar ilmu pengasihan. Ada peristiwa yang sampai saat ini membekas di hatiku. Dulu waktu aku masih tinggal di kampungku. Aku pernah di ludahi seorang gadis yang kusuka dengan malu-malu. Saat itu aku masih mengaji di wak Husin, dia seorang ulama yang menyepi ke kampungku, dia mempunyai cita-cita luhur untuk menyebarkan ilmu tauhid pada kampung-kampung yang buta pengetahuan agama seperti dikampungku. Dia ingin semua orang menjadi pintar, biar bisa menaklukan persilatan dunia dan akhirat, begitu luhur cita-citanya.

Ketika aku pulang dari mengaji itulah peristiwa yang kemudian membawaku ke tempat biadab ini terjadi. Ada seorang teman sepengajianku, Siti namanya. Dia amat cantik, kulitnya hitam manis, pipinya cerah kekuningan bagai mentari pagi, giginya berbaris rapi bagai untaian mutiara, tubuhnya ramping semampai. Kalau senyum indah sekali. Bulan dan bintang pun mungkin jatuh ke bumi bila melihatnya tersenyum. Tapi dia agak-agak judes, jual mahal maksudnya barangkali.

Awalnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, aku toh belum mengenal apa arti cinta ataupun nafsu-nafsu begitu, apalagi pacar-pacaran. Namun teman-teman sepengajianku selalu mengolok-olokku dengan menjodoh-jodohkan ku dengan Siti, setiap ia dan teman-teman wanitanya berjalan melewati kami. “Banda bogoh ka Siti, Siti bogoh ka Banda,” lalu teman-temanku bersorak-sorai, sambil menggoyang-goyangkan pantat mereka, “towel gadona isuk peuting kawina.” Dagu ku di colek-colek terus mereka tertawa terbahak-bahak lagi. Sungguh kurang ajar, bikin malu saja.

Memang malu, tapi lama kelamaan bila tak di goda oleh teman-teman, aku jadi kangen ingin di ledek. Rasa kangen itu tumbuh menjadi rasa ingin dekat dengan Siti. Menjelang tidur selalu terbayang-bayang wajah Siti. Kulitnya, senyumnya. Kalau sedang sendiri pasti ingat Siti. Pipi Siti, aih ingin ku mengelusnya, begitu indah dan halus. Terkadang saking asyiknya berkhayal, aku sering tersenyum sendirian. Ah indahnya Siti, khayalan pertamaku.

Di pikir-pikir kalau cuma berkhayal, lama-lama aku bisa gila. Aku bertekad harus berani mendekatinya, ya minimal menyapa. Ini harus terlaksana. Hati di kuatkan. Tekad di bulatkan. Aku-harus-berani!! Dan ternyata keberanian itulah yang menjadi awal petaka bagi pertumbuhan jiwa kering ini.

Aku beranikan diri untuk menyapanya ketika berpapasan dijalan menuju langgar tempat kami mengaji, tapi aku di tolaknya mentah-mentah. Pertanyaan dan sapaan ramahku di balas dengan air ludahnya. Ternyata dia membenciku, sangat-amat-sangat membenciku. Tak seperti diriku yang coba merindukan hatinya.

Semenjak itu perasan hati ini sulit melupakan kekejian cinta itu. Mengapa sapa ku di balas dengan air ludah. Mengapa ia bunuh cintaku yang baru tumbuh. Sungguh keterlaluan. Setiap malam aku tak bisa tidur., membayangkan betapa malu dan marahnya hatiku. Aku malu di begitukan. Untung saja tak ada yang melihat kejadian itu. Kalau sampai teman-temanku yang lain melihat bisa-bisa aku langsung pingsan menerima cemoohan mereka

Kemarahanku melahirkan dendam. Aku menanamkan doktrin cinta di hatiku. Aku harus mendapatkan Siti, titik. Bagaimanapun caranya.

Mungkin tiada cara lain, hanya dengan pelet, Siti dapat aku taklukan. Karena aku sudah kehilangan muka untuk berbicara lagi dengannya. Bagaimana tidak, belum apa-apa saja aku sudah di ludahi. Itu baru menyapa. Ah sungguh sial.

Aku mengutarakan niatku pada pada wak Husin, perihal keiginanku untuk belajar ilmu pelet. Tapi sekali lagi aku di tolak mentah-mentah. Malahan aku di nasehatinya dengan kata-kata yang menyayat hatiku. Masih terngiang kata-kata wak Husin.

“Cah bagus, jodoh itu di tangan Tuhan. Tidak usah kau mencari ilmu-ilmu yang akan menyesatkan hidupmu demi sesuatu yang Insya Allah kan kau dapatkan. Sekarang kau pelajari saja Al-quran, shalat dengan khusyu, berbuat baik pada orang lain. Ilmu pelet itu syirik anakku”

“Tapi Wak, ilmu pelet itu kan di buat dari ayat-ayat suci Al-quran?” sanggahku.

“Subhanallah, Ayat-ayat Al-quran itu untuk di kaji, kemudian di amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan untuk jimat ngger. Menyekutukan Allah itu adalah syirik. Tidak di benarkan mempercayai sesuatu selain Gusti Pangeran, apalagi kamu menulis ayat-ayat suci lalu kau jadikan jimat, itu salah nak-itu salah. Bila kita mengalami cobaan kembalikanlah pada-Nya. Dengan hati yang sabar dan iklash, Insya Allah hanya Dia yang dapat menolong.”

“Bukankah semua ilmu datang dari Allah? Mengapa aku tidak boleh mempelajari hal itu?” tanyaku merajuk.

“Betul ngger, semua ilmu itu berasal dari-Nya. Kita sebagai manusia di beri akal untuk memilih, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak. Apakah dengan menguasai pelet itu bermanfaat bagimu? Ketauhilah nak, setan dengan berbagai cara mencoba menjerumuskan manusia. Mungkin bagi kamu terasa benar bila menuliskan ayat-ayat suci Al-quran pada kain, lalu kau bawa kain itu kemana pun kau pergi. Lama-lama kau tidak akan percaya kekuasaan-Nya lagi. Tapi kau percaya pada kain itu, lalu kau mendewak-dewakan kain itu sebagai penyelamat mu. Sesungguhnya akidahmu telah di gelincirkan oleh setan. Ngomong-ngomong memangnya kamu sudah kepengen kawin?” Wak Husin balik bertanya padaku sambil tertawa terkekeh memperlihatkan gugusan giginya yang putih.

Aku tergagap menerima pertanyaannya, aku tak siap untuk ditanya balik, “oh anu, wak, belum sih. Baa-ba-baaiklah wak, aku-aku permisi dulu.” Secepat kilat aku pamit dari hadapan wak Husin, aku bingung hendak menjawab apa. Tidak mungkin aku menjawab buat memelet siti. Sungguh biadab bila aku menjawab terus terang begitu. Aku kan malu.

Semenjak itu pula aku berhenti mengaji di tempat Wak Husin. Aku telah malu dua kali ditempat yang sama. Tidak sudi aku menampakan batang hidungku. Aku bagai orang-orang yang kalah. Biarkan saja aku pengecut.

Ibuku acapkali menasehatiku untuk pergi mengaji aku hanya pura-pura berangkat, padahal aku pergi ke hutan bentrongan di kaki gunung Ciremai. Tempat orang-orang di kampungku berpantang. Mereka bilang anak kampung leuwimunding pamali berjalan ke hutan bentrongan ini.. Ah persetan dengan tradisi itu, padahal disini adalah surga makanan banyak buah-buahan yang lezat. Mereka saja yang bodoh mau di takut-takuti tradisi konyol itu.

**

Dari seringnya aku alpa mengaji, akhirnya aku menemukan kediaman ki Somad guruku yang sekarang aku puja.

Semakin aku berjalan ke utara hutan bentrongan ini udara semakin dingin dengan suasana mencekam. Suara-suara monyet semakin nyaring di udara, suara burung kakak tua bersahut-sahutan dengan burung jalak hitam. Aku penasaran, apakah ada setan alas di hutan ini. Aku jadi ingin melihat.

Aku berjalan terus hingga suatu tebing yang menurun, aku menjumpai jalan setapak. Aku yakin hutan ini sering di jamah manusia. Kuputuskan untuk berjalan lebih jauh lagi.

Aku meneruskan langkah hingga kelokan sungai yang berbatu, yang terkenal tempat bertapa orang-orang yang berniat mencari kekayaan dengan memuja iblis. Hingga akhirnya jalan yang kulalui semakin sulit di lalui, jalannya menanjak dan kadang pula menurun. Jalan ini masih tersembunyi di tutupi oleh daun dan pepohonan yang menjuntai ke tiap sisi jalan. Ku keluarkan golokku. Ku babat ranting pohon yang menghalangiku agar jalanku mudah. Aku sampai ke sisi bukit, di tebing sebelah barat daya. Ah ternyata ada pesawahan yang terhampar luas. Kulihat banyak orang disini. Ah ternyata aku seperti hidup di bawah tempurung. Dunia itu ternyata luas.

Kutatap cakrawala, bagai tersenyum padaku. Seolah-olah ada kehidupan baru dalam jiwaku. Semangat baru, jiwa baru. Kuputuskan aku akan pergi saja sejauh kaki ini membawaku. Kuteruskan perjalanan. Menyusuri tebing yang di tumbuhi pepohonan cemara. Tebing ini landai dan berhawa sejuk. Kuhirup udara sepoi-sepoi ini, ah segarnya.

Hingga tiba di suatu lembah dengan jalan berbatu cadas, kulihat banyak sekali patung-patung menyeramkan disisi kiri dan kanan jalan itu. Dibawah pohon beringin paling besar ada rumah, namun banyak sekali orang-orang disana. Ada yang bersila sambil komat-kamit, ada pula yang duduk-duduk sambil merokok kawung, tapi rumah ini terlalu ramai untuk ukuran rumah yang terpencil. Tempat apakah ini? Mimpikah aku? Bertanya-tanya hatiku. Mengapa di tengah hutan begini banyak sekali orang? Kulangkahkan kaki ku kesana.

Tempat yang menyenangkan. Aku rasa inilah tempat yang cocok untuk singgah. Mungkin sementara waktu atau mungkin selamanya. Entahlah, sebenarnya aku tak punya tujuan pasti.

Disitulah awal mulanya aku menemukan Sang Mahaguruku, Ki Somad.

**

Setelah belajar ilmu kebatinan pada ki somad, aku merasa menjadi sakti mandraguna. Telah kubuktikan ketika aku mau ke kota kecamatan untuk berbelanja keperluan-keperluan ki Somad yang tengah bermeditasi di gua ciwadul. Aku berjalan kaki melewati pesawahan, untuk menghemat waktu dan uang. Sebab kalau aku jalan kaki lewat jalan raya aku mesti berjalan sekitar satu jam, kalau naik angkutan desa mesti bayar 200 rupiah, ah mahal benar. Dari pada buat ongkos lebih baik aku belanjakan untuk membeli batu cincin, biar gayaku mirip ki Somad.

Ketika lewat pesawahan itulah aku di kejar anjing milik koh Ahong. Koh Ahong pemilik ternak babi di pedukuhan Gobogan, memang memiliki banyak anjing kampung, untuk menjaga ternak-ternaknya dari gangguan anjing liar maupun maling ternak.
Sangat menakutkan bagiku di kejar anjing-anjing buas milik koh Ahong. Entah kenapa anjing-anjing itu menjadi sedemikian bernafsunya mengejarku, padahal aku telah terbiasa melewati pesawahan dan ternak koh ahong. Mungkin juga ini di akibatkan oleh bawaan hawa ruhku yang berganti menjadi orang sakti (husss sombong amat ya) yang selalu di ikuti oleh jin-jin atau khadam peliharaanku. Makanya anjing-anjing itu menggonggong dan mengejarku sejadi-jadinya.

Tadinya aku berlari kencang ke tengah sawah, sampai-sampai kakiku beberapa kali terjerembab ke lumpur sawah yang banyak lintahnya itu, uh sungguh tragis dan melelahkan, tapi segera saja ku teringat akan ilmu pukulan jauh yang di ajari ki somad. Aku teringat kalau sekarang aku bukan anak pengecut lagi, aku harus ingat kalau aku sekarang sakti “sakti mandraguna”. Dengan gerakan berbalik dan mundur satu-dua langkah, ku kepalkan kedua tanganku dan menahan napas di dada dan perut, sambil merapal aji-ajian dan mantra pukulan,

“jigoh-gocap jadi tilu salawe, sakali gebuk paeh siah”

Tanpa ampun tiga anjing yang mengejarku terkapar gosong bagai tersetrum ribuan volt listrik. Aku sampai terkaget-kaget melihat keampuhan ilmu warisan ki Somad itu. Pantas saja ki Somad selalu wanti-wanti untuk tidak menggunakan ilmu itu sembarangan.

Wah bangga dan bahagianya diriku, walau cuma anjing kampung yang kena ilmuku, cara berjalanku otomatis berubah. Dada kubusungkan, tangan aku lebarkan bagai burung bangau hinggap di pematang sawah, kalau kata di damin sih cara berjalanku mirip orang yang ketiaknya bisulan. Dasar si Damin itu selalu ada-ada saja kalau bicara.

**
Izinkan aku bercerita sedikit tentang saudara perguruanku si Damin.

Si damin orangnya agak tertutup, dia lebih sering mendengarkan keluh kesahku. Apalagi kalau aku sudah bercerita bagaimana cantiknya siti, si Damin kelihatannya senang. Seolah-olah ia ingin melumat Siti. Kurang ajar. Kalau saja ada orang lain aku tak mau berkeluh kesah padanya.

Damin paling senang menggodaku dengan nyanyian ciptaannya sendiri, yang di lantunkan dengan lagam Sunda, bagai sinden kesiangan gaya bernyanyinya. Sungguh memuakan.

“Berapa harga cintamu Siti--hingga kakang putus asa--menjual jiwanya pada setan-berapa harga cintamu Siti--bolehkah ku tukar dengan satu malam kepuasan--berapa harga cintamu oh sayangku Siti--bolehkah ku gadaikan cinta ini dengan beras.”

Sungguh penghinaan. Aku lebih baik pura-pura tak mendengar. Susah nanti diriku sendiri bila berkelahi dengannya. Aku takut dengan kekuatan fisiknya.

Damin lebih menguasai ilmu kanuragan daripada kebatinan, dia malas kalau di suruh semedi atau mutih oleh ki Somad, dia tak sungguh-sungguh kalau belajar, makanya ki Somad hanya mengajarkan ilmu-ilmu raga saja, barulah si damin semangat. Dia senang apabila dia sudah bisa memecahkan lima atau tujuh tumpuk batu bata, dia anggap dirinya hebat.

Apalagi kalau di suruh angkat sekarung beras oleh ki Somad dari toko koh A Liem di pasar kecamatan, sampai ke rumah ki Somad pun dia mau memanggul itu sendirian. Sambil memamerkan otot-ototnya yang gempal pada semua orang, apalagi ketika dia melewati rumah si Minul, makin di kencangkannya-lah otot-otot tangannya yang sebesar pahaku itu, dasar tukang pamer!!!

Untuk membelah kayu bakar pun dia sengaja sekali memperlihatkan otot-ototnya. Bagai gorilla dia tepuk-tepuk dadanya yang telanjang itu, lalu mulutnya mengaum bagai gorilla jantan birahi mencari sang betina. Sangat menjijikan bagiku. Dia selalu berkata kepadaku “lihatlah laki-laki sejati sedang bekerja, kau wanita memasaklah untukku.” Kurang ajar betul kata-katanya tetapi aku tak mau melakukan pembalasan kepadanya, karena hanya dia temanku disini

**
Sudah lebih dari empat tahun aku disini. Kebosanan menghampiriku. Telah beribu kata kuungkap dalam keheningan malam di gua Ciwadul. Hingga ku goreskan kalimat cinta yang tak pernah sedikitpun kulupakan siti.

Cintaku hanya untuk kau seorang, beribu kata puisi telah kuungkapkan, berjuta harap telah kuimpikan. Jauh dalam kalbuku perasaan cintaku yang mendalam kepadamu tak kan pernah hilang di sapu badai topan atau tsunami sekalipun. Hingga ku tiada lagi didunia ini, cinta ku takan pernah lapur dimakan usia. Kan ukir gambar hatiku dengan namamu di batu sungai. Takan pernah aku berpikir tuk berpaling pada yang lain walau hampir tak mungkin ku mendapatkan bidadari seindah dirimu.

Salahkah bila ku terobesi padamu wahai bidadari pelipur lara, hanya matamu yang dapat membuatku tertunduk penuh harap, hanya gerakan tubuhmu yang hiasi mimpiku, kini dimana engkau berada. Ku terperosok dalam dinding kalbuku, dalam dinding yang menghimpit dada.

Ah aku lelah kini, telah ku habiskan bertahun dalam nistanya ilmu hitam yang tak henti-hentinya memperbudak ku dalam dinginnya embun malam, dalam dinginnya khayalan ku yang belum tuntas dalam nyata. Terlelap aku dalam kesendirian yang tak pasti. Aku putus asa. Dan itu sebetulnya telah lama aku idap, semenjak aku merasa kecil di hadapan Siti dan Wak Husin.

Dan bila esok mentari bersinar dalam hampanya jiwaku, kuingin Siti membelai rambutku dengan penuh cinta. Lalu kemanakah cintaku pujaan hatiku, wahai jelitaku pengobat rindu ku, muramkan aku dalam benak dunia, luruh dimakan waktu.

**
Akhirnya ku beranikan diri untuk mengahadap ki Somad, bertanya kapan aku akan di ajari ilmu mumpuni yang ku damba-dambakan, ilmu yang akan membawa kebahagian pada diriku, kebahagiaan sejatinya, kebahagiaan semu, pengobat rasa hatiku yang terluka oleh cinta yang kubuat-buat sendiri. Setengah mati ku menahan rasa ini, tak kuasa ku menitikan air mata akan kesedihan dan pengharapan.

“Ki Somad, berilah sedikit berkah dan kebaikan hatimu untuk diriku, bilamana kau tak mau dan tak iklash menurunkan ilmu pelet biadab itu padaku, biarlah kau lepaskan aku untuk pergi melanglang buana. Biarkan aku mati dalam kerinduan tak tertahan pada kekasihku yang selalu ku impikan tiap hembusan napas. Aku senang hidup melayani mu dan bertemankan iblis damin, tapi ku tak kuasa akan diriku, akan impianku. Berilah sedikit saja dari pengharapanku akan semua itu,” air mataku buyar tak tertahan lagi, ki somad hanya diam seribu basa, mematung bagai patung dewi durga sesembahannya, dingin tak beraroma.

Ku menundukan kepalaku dalam-dalam kepada Ki Somad, aku pamit untuk pergi dari kehidupan laknat ini, kehidupan sia-sia yang kujalani bertahun-tahun. Diamnya sudah cukup dalam bahasa kalbu, bahwa ia menolak hasratku. Ia hanya memanfaatkan aku. Aku marah. Benar-benar marah. Rasanya sia-sia semua pengorbananku. Aku hampa. Berlari aku menuruni tebing, menjauhi rumah Ki Somad.

Aku adalah orang-orang yang kalah. Hingga aku rela meninggalkan keluargaku tercinta. Ah aku teringat ibuku, si kecil adikku amir yang selalu ku gendong-gendong dulu. Tiba-tiba ku menitikan air mata lagi, “ibu maafkan aku, meninggalkan mu tanpa kabar.”

Aku terasing dalam dunia manusia. “aku anak durhaka. ijinkan aku menemuimu kembali padamu bu. Walau ku penuhi hatimu dengan kekecawaan. Aku anak lelaki mu yang selalu menyengsarakanmu,” tak pernah ku sesedih ini.

Kutelusuri jalan setapak yang terjal menuju kampungku yang terpisah jauh dari tempat ku berguru selama ini kepada ki Somad “selamat tinggal ki, selamat tinggal Damin sahabatku, aku kan selalu menjadi bagian hidupmu.” Tak ingin ku melihat ke belakang. Tatapanku lurus ke depan. Aku rindu ibuku.

**

Melihat anak-anak kecil mengembala kambing hantarkan aku dalam hiruk pikuknya masa lalu nan indah, begitu nakalnya aku dulu, anak nakal yang pemalu, anak nakal dengan sejuta mimpi, hingga suatu ketika dalam masa ini.

Aku terseok-seok berjalan dengan dada yang berdegup kencang. Aku rindu ibuku, aku rindu adikku, si kecil Amir yang selalu ku ajak mengembala agar dia lupa rasa lapar yang menyerang perutnya.

Sedangkan ibu membantu mencuci dan membersihkan rumah Pak Kuwu, demi sesuap nasi, demi kelangsungan hidup anak-anaknya. Sudahlah aku terlalu sedih untuk membayangkan bagaimana ibuku berjuang membesarkan aku, semenjak di tinggal ayahku pergi dengan janda brengsek ke kota Jakarta. Aku selalu menaruh dendam dan memaki, mudah-mudahan dia cepat mati di tabrak motor.

**

Aku terbelalak kaget, melihat rumahku kini. Mataku berbinar, entah untuk keberapa kali di hari yang sama aku menitikan air mata sialan ini. Rumahku-oh-rumahku, tinggal tiang bambu yang berdiri, rumput tumbuh disana-sini, atap kelapa yang menutupinya pun tak terlihat lagi, sumur dibelakang rumahku telah tertutup semak belukar. Aku berkelilng mencari sesuatu yang hinggap di kepalaku akan rumah ini, tempatku di sayang ibuku, di manja, di suapi. Sekarang rumahku hilang, “ibu ku kemana? Adikku?” Derai air mata menetes kembali di pipiku. Sialan kenapa cengeng sekali diriku, aku kan pendekar, perlahan kuseka mata ku.

Tiba-tiba selintas suara mengagetkanku, “nak cari siapa disitu?” ternyata emak sari tetanggaku si penjual kue lopis kesukaan ku.

“Emak sari??” Ku tergagap dari keterkejutan, ku usap air mataku.

“Iya, si mas siapa ya…?” Terheran-heran ia.

“Aku banda anak Nyi Risa, mak.”

“Oalah….banda ya?? Si anak nakal…kemana saja kau nak? Kau sudah besar sekarang, gagah, dan rupawan. Kau membuat geger seisi kampung saja. Kami kira kau di culik wewe gombel, dari mana kau, nak?” suaranya masih cerewet saja.

Aku tak menjawab, aku malah balik bertanya “ibuku kemana mak?” tanyaku penasaran.
”Itulah nda, ibu dan adikmu pergi ke kota. Mencari bapakmu. Mencari kamu. Dia yakin kamu menyusul bapakmu ke kota. Semenjak itu ibumu pun tak ada kabar beritanya. Hilang bagai di telan air bah. Aku pikir kalian sudah bahagia hidup di kota.” Ujar si mak.

Ku menerawang ke alam lain, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Bagaimana nasib ibuku, adikku. Tiba-tiba aku pusing-.pusing sekali. Dunia ku berputar. Lalu gelap. hilang.

**

Aku terlalu naif untuk memutuskan cinta di hatiku. Padahal aku tak pernah tahu apa arti cinta sebenarnya. Mungkin itu hanya nafsu belaka. Rasa penasaran di diriku. Yang akhirnya menjebakku dalam ketololan yang pasti.

Telah ku lupakan hidupku. Keluargaku, masa depanku. Aku kalap. Itulah harga cinta ku atas keterbelengguan pada dunia fana. Aku terbuai dengan asa cinta. Bahwa cinta yang ku kandung pada Siti adalah segalanya.

Cinta yang ada di diriku menjadikan aku manusia yang tak memiliki cinta lagi. Aku mengaburkan apa arti cinta itu. Aku menghilangkan harga cinta di gelapnya hati.

Hingga suatu ketika, suatu waktu, dalam terangnya hatiku. Hingga ku ragu dalam godaan, semua telah usai dalam kisah ini. Telah kulupakan pula cinta butaku terhadap Siti. Cinta yang menumbuhkan aku menjadi mahluk lain. Kini aku berserah diri pada-Nya. Biarkanlah aku bercinta dengan Rabb-ku. Itu lah harga cinta yang harus kumiliki dengan takzim.

Kutinggalkan semua ilmu yang di ajari ki Somad. Kembali ku belajar dengan Wak Husin. Perlahan namun pasti, ku baca surat Al-falaq, dalam keterbataanku mengamini hal-hal yang nyata.

Ya Allah, lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
Katakanlah: aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh
Dari kejahatan mahkluknya
Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
Dan dari kejahatan-kejahatan tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.






Disarankan: 0
  Komentar: 5 (Lihat)    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

woman rights (buat henceu)

Jumat, 10 November 2006 @ 15:33 WIB - Diari



ISLAM MEMBERIKAN HAK-HAK WANITA DENGAN SEMPURNA
Sesungguhnya Islam menempatkan wanita di tempat yang sesuai pada tiga bidang :

1. Bidang Kemanusiaan :
Islam mengakui haknya sebagai manusia dengan sempurna sama dengan pria. Umat-umat yang lampau mengingkari permasalahan ini.

2. Bidang Sosial :
Telah terbuka lebar bagi mereka (terpisah dari kaum pria) di segala jenjang pendidikan, di antara mereka menempati jabatan-jabatan penting dan terhormat dalam masyarakat sesuai dengan tingkatan usianya, masa kanak-kanak sampai usia lanjut. Bahkan semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula hak-hak mereka, usia kanak-kanak; kemudian sebagai seorang isteri, sampai menjadi seorang ibu yang menginjak lansia, yang lebih membutuhkan cinta, kasih dan penghormatan.

3. Bidang Hukum
Islam memberikan pada wanita hak memiliki harta dengan sempurna dalam mempergunakannya tatkala sudah mencapai usia dewasa dan tidak ada seorang pun yang berkuasa atasnya baik ayah, suami, atau kepala keluarga.

Hak-hak ini semua tidak terdapat dalam faham yang menamakan dirinya "faham modern", yang menyerukan 'Emansipasi Wanita' itu. (Bahkan sebaliknya) mereka mengatakan bahwa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah.

Apakah karena Islam tidak menjadikan wanita sebagai dagangan murah yang bisa dinikmati setiap pandangan mata dan pemuas nafsu mereka yang bejat itu?

Inikah kebebasan yang mereka kumandangkan? Dan inikah hak yang mereka tuntut? Apakah mereka menginginkan kita mengeluarkan puteri-puteri dan isteri-isteri kita ke jalan raya dengan pakaian telanjang, bercampur baur dengan kaum pria? Lalu di mana rasa cemburu terhadap kehormatan dan harga diri kita?

Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka dan pendukung mereka, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Imam Bukhari, dari Ibnu Mas'ud Radhiallahu ‘anhu:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلىَ : إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَاشِعْتَ

"Sesungguhnya termasuk yang didapati manusia dari salah satu ucapan kenabian yang terdahulu adalah : jika kamu tidak mempunyai perasaan malu, maka berbuatlah semaumu".

Demi Allah! Yang demikian itu berarti terjerumus ke dalam rayuan dan ajakan Salibis yang dengki dan Zionis yang jahat.

Tidaklah mereka itu, melainkan corong-corong yang berbunyi menurut perintah bos-nya dari Barat dan Timur, untuk menghancurkan kita dalam beragama Islam.

Dan saya mengatakan dengan tegas, sesungguhnya mereka itu tidak menyerukan kebebasan dan hak-hak wanita, karena Allah Azza wa Jalla telah memberikan hak-hak mereka dengan sempurna, tetapi mereka - demi Allah - menyerukan kebebasan tubuh-tubuh wanita agar melanggar batas-batas akhlak yang utama dan adat istiadat yang baik, sehingga tersebarlah kerusakan dan kebejatan moral di muka bumi.

Alangkah jauhnya angan-angan mereka, sementara di sana telah siap putera-putera yang telah bersumpah untuk menjadi tentara Allah yang jujur di jalan agama, untuk mengorbankan segala apa yang ada pada diri mereka.


Kopas dari mana ya gw…lupa tuh…mudah2an di izinin sama penulisnya, amin…


Disarankan: 0
  Komentar: 4 (Lihat)    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

shut-up!!

Kamis, 9 November 2006 @ 16:45 WIB - Diari



asik banget ya kalo isi blog dengan niatan eksis di blog yg penuh mahluk pencipta komen seperti ini, isi blog cuma biar spamming aza, biar tambah ngetop..

tapi cuek aza daripada gak posting tar dikira bodoh, jalan satu2nya bikin puisi atau kopas..itu tambah asik..

gak boleh ada yg komen!!! buang keyboard masing2..


Disarankan: 0
  Komentar: 7 (Lihat)    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

S E L A N J U T N Y A »