Laksmana Di Laut
http://smartkiagus.bloggaul.com
Laksmana Di Laut

Di erah Transisi memasuki komunikasi visual sekarang ini manusia nyaris tanpa ruang gerak...Diam tapi bebas menjelajah ke penjuru pelosok dunia laksana angin bergerak berhembus tanpa hambatan Itulah dunia Cyber...


PENGUMUMAN:
BlogGaul mau berubah ...
 

Catatan Melati Bagian 5

Rabu, 5 November 2008 @ 10:50 WIB - Diari


Koridor Rumah sakit nanpak disore hari ini, diluar hujan mulai reda, tinggal butiran-butiran gerimis namum belum bisa membuat orang-orang untuk beranjak keluar dari koridor ini. sebagian ada yang berdiri menatap keluar memandangi butiran-butiran gerimis hujan, sebagian lagi ada yang duduk di kursi, Aku kedingian bajuku basah akibat lari dari Mobil Bus tadi menuju koridor di tengah guyuran hujan, Kakiku kulangkahkan menuju kantin dimana Aku janjian dengan Helena untuk bertemu. eeemm Aku pikir akan lebih baik minum secankir kopi hangat buat menghangatkan tubuh ini mungkin akan terasa enak di sore ini sambil menunggu Helena.“ Gedubrak“...air mineral botolan jatuh kelantai setelah aku rasakan ada yang meyenggolku.“ Maaf mas enggak sengaja“ sambil memunguti botol mineral, seorang gadis dengan jilbab putih dan mata yang bundar tergesa-gesa bangkit lalu pergi. Aku hanya bengong melihat kejadian sesaat tadi.

Kopi ini sedikit mengusir dingin dari tubuhku, belum ada tanda-tanda Helena datang sedangkan telepon gengamku batrenya habis tidak bisa menghubungi Helena, Selintas bayangan wanita tadi hadir didepanku. Mata yang indah dan paras yang ayu di balut jilbab. Siapa wanita itu apakah Aku terpikat ya.“Majalah Pak“ seorang laki-laki setengah baya menawarkan majalah dari tumpukan ditangannya, nampak terlihat salah satu majalah design yang penuh dengan gambar. Ini sangat menarik.“ berapa satu Pak“ lalu majalah diletakan didepanku di atas meja.“ yang mana Pak“ laki-laki itu balik bertanya kubuka lembar-demi lembar majalah tersebut banyak gambar dengan teknik grafis wood cut karya perupa Mansyur.Wood cut adalah teknik cukilan kayu yang digambar dengan cara memahat diatas kayu kemudian dioleskan dengan cat lalu letakan di atas kampas, sehingga hasil goresan pahatan tersebut berbentuk garis-garis yang membentuk gambar sesuai dengan goresan pahatan kayu tadi, karya ini dinamakan grafis murni. Dibenua eropa teknik cukilan kayu ini begitu dikenal sedangkan di Indonesia sendiri teknik membuat lukisan seperti ini jarang ditemukan.
.“Saya beli yang ini Pak.“
.“Harganya 30 Ribu.“
Kagak bisa kurang pak.“ Aku balik bertanya dan menawar harga.“Bukankah Edisi majalah ini sudah lama.“
Bapak penjual itu senyum-senyum
.“Ok deh 25 ribu ya Pak, soalnya majalah ini jarang di jumpai dan di beli orang, nah, Bapak begitu memahami majalah design ini jadi saya kasih diskon khusus hanya buat bapak.“Akupun senyum dan membayar uang itu kepada sang bapak penjual majalah.

Bersambung


Disarankan: 0
  Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

Catatan Melati Bagian 4

Kamis, 28 Agustus 2008 @ 11:53 WIB - Diari


Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul enam sore.“Rangga jangan lupa ya, Aku tunggu di kantin,“ sebuah Massege dari Helena. bertepatan dengan selesainya Aku merevisi Foster. Sementara Alvin dan Lusi sudah pulang duluan, mereka biasa setiap hari senin pulang lebih awal lantaran mau nonton film paket hemat, alias nomad di Cineplex apalagi hari ini ada film garapan sutradara Jepang Akira Kurosawa dan kami semua dikantor sangat mengidolakan sutradara ini. Aku langkahkan kakiku menuju pintu lift untuk turun dari lantai 11, pintu terbuka didalam lift terlalu ramai dan sesak, maka Aku tunda untuk turun, lalu pintu lift tertutup kembali. Aku tunggu lagi lift selanjutnya, “ Terima kasih Rangga,postermu sungguh memukau pak Dewanto“ sapa Ibu Jullay tepat dibelakangku beliau juga ingin pulang.“
“makasih bu“
“ hari ini sangat melelahkan ya bu“
„ ya tapi saya senang sebab logo yang kamu buat akhirnya jadi juga“
Aku tersenyum ibu jullay memujiku
„Rangga kayaknya kamu buru-buru emang mau kemana?“
„Ke rumah sakit Harapan kita bu“
„Emang siapa yang sakit?
„Kagak ada yang sakit“
„Lalu..?“
„Ketemu seseorang“
„eemm, Saya mengerti“
Ibu Jullay tersenyum
Ya sudah kalau begitu ikut dengan mobil Saya aja kebetulan saya lewat rumah sakit harapan kita Ibu Jullay menawaran jasanya sambil tersenyum
Terima kasih Ibu, tapi Saya cukup naik bus aja
dengan ramah Aku tolak tawaran Ibu Jullay, pintu lift terbuka kami masuk. untuk turun dari lantai 11 gedung wisma Aksara Suasana diluar gedung hujan orang-orang hilir mudik untuk menyelamatkan diri dari guyuran air hujan. jika sudah begini, sedikit menyesal juga menolak tawaran ibu Jullay untuk ikut mobilnya nebeng ke rumah sakit harapan kita. kini aku harus berbasah-basah ria menunggu bus di halte yang sesak lantaran orang-orang berkerumun menunggu hujan redah. Seorang anak kecil mendekatiku,“ Pak payung, ia menawarkan ojek payungnya, lalu aku meraih payungnya untuk berdiri disamping halte sambil sekali-kali melihat kebelakang mengamati jurusan terminal grogol yang melewati Rumah sakit harapan kita, sementara Anak kecil ini berjalan disampingku dengan basah kuyup kedinginan,“ siapa namamu,“ sapaku
“wahyu Kak“
„wahyu masih sekolah?“
„Sekolah Kak, kelas 4 SD“
„sering ngojek payung disini “
„ Iya Kak kebetulan rumah Wahyu dekat sini,“
„Wahyu temanin Saya menunggu mobil bus ya nanti saya bayar lebih“
Wahyu hanya mengangguk sambil melipat tangan didadanya. Ia kedinginan. Tubuh mungil dengan wajah yang bundar namun semangatnya untuk mengumpulkan rupiah dari mengojek payung membuat Diriku semakin iba, batapa anak sekecil ini harus bersusah paya mencari uang sementara diriku adalah seorang lelaki yang mempunyai pekerjaan dan mendapat gaji dari perusahaan, seharusnya Aku bersyukur dengan nikmat yang tuhan berikan kepada ku. yang tidak bersusah payah harus mencari uang seperti Wahyu ini. dari kejauan terlihat mobil bus dengan kode nomor 213 mobil bus yang ku tunggu-tunggu datang juga, setelah setengah jam lebih menunggu di trotoar ini, lalu Ku cari uang didalam tas yang biasa Aku selipkan sehabis belanja maklum terkadang uang kembalian dari belanja tidak pernah Ku simpan di dompet nah, akibat kebiasaan itu tas terkadang isinya berbaur , ada buku komputer, id card perusahaan hendphone, carger hp dan recording mp3 serta uang logam dan kertas, setelah merogoh beberapa saat Aku menemukan uang kertas untuk dikasihkan dengan anak kecil disamping ku yang kedinginan, sesaat kuliahat wajah wahyu sekali lagi nampak pucat
„Wahyu ini uang buatmu “Tangan kecil Wahyu menerima uang sambil bergetar lantaran dingin, lalu melihat lembaran uang 10,000,“Kak uangnya kebanyakan kagak ada kembalianya“ sambil tersenyum lalu kuserahkan payung pada Wahyu,“ simpan saja kembalianya buat Wahyu ya.“ Mobil bus behenti didepan halte lalu kulangkahkan kakiku masuk kedalam Bus, dari dalam jendela bus Ku kelihat wahyu berlari sambil mengejar Bus, berteriak.“ Kakak terima kasih ya“ suasana yang dingin tadi yang menerpa wahyu berubah menjadi semangat yang menyala, Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati, Wahyu tetaplah berjuang dalam hidup dan jangan mudah menyerah.

Bersambung


Disarankan: 0
  Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

Catatan Melatih bagian 3

Selasa, 26 Agustus 2008 @ 17:32 WIB - Diari


Mata ini terasa berat dan rasanya ingin segera tidur, banyak sekali tugas hari ini yang harus Aku kerjakan, seharian mendesign foster untuk persiapan ulang tahun perusahanku dan baru saja selesai Aku kerjakan itu juga setelah molor dari dead line, jika komputer ini bisa berbicara maka ia akan mengejekku, sebab atasanku, Ibu Jullay sedikit ngomel lantaran kerjaanku seperti terburu-buru tapi walau gimana dia senang dan mengangumi hasil karyaku, memang belakangan ini Aku tidak mud untuk mendesign sesuatu. Insprirasiku seakan tersumbat. Jika sudah begini seharusnya Aku mesti sejenak keluar kantor menikmati secankir kopi hangat dikantin,“Eh...Rangga termenung aja ..ada telepon buatmu tuh..“ Alvin teman satu kantor dan satu profesi denganku memanggilku sambil menepuk bahuku,“ dari siapa?,“
“Ya mungkin dari pacarmu,“
“Bercanda kamu Vin, Rangga mana punya pacar, paling-paling tagihan kartu keridit“ sanggah Lisa yang lagi asik mendesign dengan photoshop, namun kupingnya mendenger. Aku hanya tersenyum sambil meraih gagang telpon,“ hallo,“
“Rangga“ dari seberang telepon sepertinya suara wanita yang sangat Aku kenal
“ya, Saya Rangga, ini siapa?“
“Saya Helena bisa gak sore ini kita ketemu“ Helena adalah sahabat lamaku dia lagi menyelesaikan pendidikan spesialis dokter kandungan. Sebelumnya helena pernah bekerja di salah satu rumah sakit Diva ibu dan anak.
“ Kira-kira ada perlu apa Hel“
“Aku butuh masukan ide kreatifmu tentang design logo buat acara seminar sehari kesehatan ibu dan anak, plaese bantu aku dong“ suara Helena sangat manja, jika tidak kuat hati maka akan terhanyut terbuai oleh kemanjaan Helena.
“Udah, Rangga temuin aja siapa tahu nanti, bisa jadi pacarmu“ sanggah lusi rupanya dia tahu Aku sedang, bicara dengan seorang wanita, Aku hanya tersenyum nyigir kepada Lusi. Lalu aku lanjutkan omongan dengan Helena
“ Iya Hel, sehabis pulang kantor Aku ke kampusmu“
“ Jangan bohong ya,.Aku tunggu lho“
“ Mana bisa Aku menolak lagian Aku pasti kamu traktirkan“ Candaku pada Helena
“ Siap Pak Rangga Aku akan traktirmu, Aku tunggu jam 7 malam depan kantin kampusku ya“
“ Ok hel tapi jangan pangil Aku Bapak“, dari seberang seakan Helena tertawa, kemudian gagang telepon aku tutup, Alvin dan Lusi hanya tersenyum-senyum memandangku.
Pintu ruangan terbuka Ibu Jullay tergesa-gesa menghampiriku sambil membawa gulungan kertas, Alvin dan Lusi kembali menghadap komputer , mereka tahu apa yang bakalan terjadi,
“Rangga, ada sedikit yang harus kamu revisi tentang foster ini warna logo dengan beckground ini kelihatan tidak kontras, ketika dicetak maka warnanya berubah“ sambil bicara Ibu Jullay membentangkan gulungan kertas diatas meja, Aku melihat warna yang telah berubah tidak sama ketika berada di layar komputer, ini disebabkan oleh warna visual komputer terdiri dari tiga warna yaitu Red, Green, Blue, disingkat dengan RGB. sedangkan hasil printing atau cetak telah mengalami perubahan distorsi yang terdiri dari, Cran, Megeta, Yellow dan Black. Yang disingkat CMYK. Jadi warna kuning diposter yang sudah dicetak tidak akan sama dengan yang ada di visual komputer.“Sebaiknya warna kuning ini kita ganti dengan warna lain yang disesuikan tema ulang tahun perusahan kita“ sambil berkata demikan kening Ibu Jullay sedikit mengkerut, seakan sejenak berpikir menimbang warna apa yang cocok.
“bagaimana jika warna merah, bukankah sesuai dengan moto kita, yang kembali berjuang meningkatkan reting penonton menjadi perusahan televisi nomor satu ditanah air ini“
Sejenak ibu jullay diam sambil mengamati foster. “Ok Rangga, saya setuju dengan pilosofimu warna merah yaitu berarti berani untuk terus maju berjuang, dan sore ini, revisi foster sudah berada di meja ruangan Saya, sebab besok harus segera kita sebarkan untuk promo ulang tahun.“
“ Baik Ibu..“
Sesaat setelah itu, Ibu Jullay pergi, Alvin dan Lusi kembali lagi memandangku raut wajah mereka seakan senang melihat keadaanku untuk merevisi foster, Lusi pun menyindir
“ Kayaknya kagak jadi ketemu sama sang juita nih, gara-gara revisi foster.“
“ Untuk foster bukan halangan dong, buat ketemu wanita, bukankah begitu Pak Rangga“
“Atur aja Vin.“ Sambil tersenyum kulontarkan kata tersebut.
Mereka berdua sahabat dan teman kantor yang baik selalu menghibur dan memotifasiku sealagi aku dalam keadaan yang ruetdalam berpikir, lalu Aku coba untuk konsentrasi, lagi memacu otak kreatifku yang mulai beraksi lagi dan tanganku replek dengan mouse menjalankan program photoshop.

Bersambung


Disarankan: 0
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
Kembali Ke Atas

S E L A N J U T N Y A »