|
||
Hati...ku
Kamis, 7 Agustus 2008 @ 18:02 WIB - Diari
|
Jika aku tanya Tuhan...apakah engkau sayang padaku tuhan menjawab... "ya"... Aku sayang padamu makanya Aku berikan kamu hati yang akan aku jadikan senjata buat diriku untuk menguasaimu Dengan hati kamu Bisa merasakan Cinta Dengan hati kamu Bisa merasakan sakitnya Cinta Dengan Hati kamu Bisa bahagia Tapi...hati juga bisa membunuhmu Maka jagahlah Hatimu dengan bersih selalu bilas dengan napasku..."Ya Allah"... |
Disarankan: 0
| Komentar: 1 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Bunga mawar buat sang kekasih
Jumat, 1 Agustus 2008 @ 17:15 WIB - Diari
|
Apakah kamu ingin sekuntum bunga mawar..? tidak aku tidak ingin bunga mawar merah untuk kamu berikan padaku sebagai tanda cinta. sebab bunga mawar itu akan layu... lunglai dan jatuh ketanah hingga memuai dengan tanah Aku ingin kau berikan setangkai mawar yang bisa aku tanam didalam hatiku hingga terus berbunga kuntum-demi kuntum semerbak mewangi dan kumbang serta kupu-kupu iri mereka ingin datang padaku.. tapi aku sudah punya cintaku padamu Aku ingin mawar itu terus bersemi sepanjang waktu Terima kasih cinta Aku telah temukan kembali walau tidak seutuh dulu.. tapi akan tetap aku siram dan aku jaga hingga mekar sepanjang hari.. |
Disarankan: 0
| Komentar: 4 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
Air Berutak
Sabtu, 5 Juli 2008 @ 16:20 WIB - Diari
|
Sebuah puisi tentang perjalanan sejarah --------- Nyanyian riuh Teluk Balok tak lagi merdu, tapi biru lautnya masih mendayu Wangkang Chine dan Lancang Melake serta perahu palembang masih enak dipandang Lambat laun sepi juga angin bertiup, layar mereka tak nampak terkembang. Karena Pajak Raje, hukum dan care tak lagi kena di hati merike. Depati Ki Agus Abudin adalah beliung menelikung gunung, hatinya merah matanya darah, tetapi adiknya elok sabar menunggu fajar, Ki Agus Usman namanya. Rakyat pun mengalihkan pandang kepadanya. Adat temurun adik pun santun hingga menyingkir ke Cerucuk Hulu. Tapi Raja Abudin masih membatin karena tak puas ia bertukas. “Marilah bergaris tanah adinda” Darah muda pantang dicoba, Usman tak perlukan tahta tapi martabat raja mesti disapa Abudin membawa prajuritnya, Usman tak lupa akan senjatanya. Perahu dilayarkan kehilir, pedoman Kalamoa tampak di muka tapi mereka tak ke sana Di bawah Tanjoeng Goenoeng, kecipak air Sungai Berutak dicium hidung perahu Menyonsong hulunya hingga nampak ada lapang di antara hutan nyato dan semak batang bulo, lapang lah puang telah lama di sentuh parang. Di tepian Aik Berutak adalah lapang tebing bebak ume *) Lalang tak perlu ditebas semak pun tak juga mesti dipapas. Kedua pencak adik beradik menjadikan arena babak bingkas Keris di kiri tombak di kanan, mata lurus memandang lawan Angin dan petir ikut melawan hingga awan menyalo hujan Adik tak rubuh abang pun tak jatuh, sama-sama tetap kukuh Hujan menghapus tujuh tombak matahari telah mereda Prajurit yang menjaga tetap setia karena keduanya turunan raja bersaudara Pertarungan takkan habis jika tenaga tak terkikis. Abang dan adik pun menangis Tak menang juga tak kalah. Keris dijatuhkan tombak pun dipatahkan. Garis tanah ditelan tanah, Abudin dan Usman pun membuat titah “Detik ini, di tanah keramat ini, mulai esok, anak raje negeri ini jangan lagi menggaris tanah, tandailah gelar paman untuk mengingatkannya” Buih ombak Teluk Balok surut memudar Sang raja pun ditahan Palembang bersemayam di Pelayang Takkan ada Mantra Perahu Badau untuk menjemputnya; Unggang- unggit perau Badau Sape kecit de bawak ngayau ---------------------- Pondok oxigen pangkalpinang 2007 Seabad lebih kemudian, Tahun 1870, di tanah keramat lapang tebing Aik Berutak berdiri Mesjid Jami Kota Tanjungpandan |
Disarankan: 0
| Komentar: 0 | Beri Komentar | Recommen | Print |
My Blog
Arsip BlogPengunjung
Total Pengunjung: 185Favorites
Komentar
Created on:
Rabu, 30 Juni 2004 @ 12:26 WIB
Rabu, 30 Juni 2004 @ 12:26 WIB

