|
||
Catatan Melati Bagian 4
Kamis, 28 Agustus 2008 @ 11:53 WIB - Diari
|
Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul enam sore.“Rangga jangan lupa ya, Aku tunggu di kantin,“ sebuah Massege dari Helena. bertepatan dengan selesainya Aku merevisi Foster. Sementara Alvin dan Lusi sudah pulang duluan, mereka biasa setiap hari senin pulang lebih awal lantaran mau nonton film paket hemat, alias nomad di Cineplex apalagi hari ini ada film garapan sutradara Jepang Akira Kurosawa dan kami semua dikantor sangat mengidolakan sutradara ini. Aku langkahkan kakiku menuju pintu lift untuk turun dari lantai 11, pintu terbuka didalam lift terlalu ramai dan sesak, maka Aku tunda untuk turun, lalu pintu lift tertutup kembali. Aku tunggu lagi lift selanjutnya, “ Terima kasih Rangga,postermu sungguh memukau pak Dewanto“ sapa Ibu Jullay tepat dibelakangku beliau juga ingin pulang.“ “makasih bu“ “ hari ini sangat melelahkan ya bu“ „ ya tapi saya senang sebab logo yang kamu buat akhirnya jadi juga“ Aku tersenyum ibu jullay memujiku „Rangga kayaknya kamu buru-buru emang mau kemana?“ „Ke rumah sakit Harapan kita bu“ „Emang siapa yang sakit? „Kagak ada yang sakit“ „Lalu..?“ „Ketemu seseorang“ „eemm, Saya mengerti“ Ibu Jullay tersenyum Ya sudah kalau begitu ikut dengan mobil Saya aja kebetulan saya lewat rumah sakit harapan kita Ibu Jullay menawaran jasanya sambil tersenyum Terima kasih Ibu, tapi Saya cukup naik bus aja dengan ramah Aku tolak tawaran Ibu Jullay, pintu lift terbuka kami masuk. untuk turun dari lantai 11 gedung wisma Aksara Suasana diluar gedung hujan orang-orang hilir mudik untuk menyelamatkan diri dari guyuran air hujan. jika sudah begini, sedikit menyesal juga menolak tawaran ibu Jullay untuk ikut mobilnya nebeng ke rumah sakit harapan kita. kini aku harus berbasah-basah ria menunggu bus di halte yang sesak lantaran orang-orang berkerumun menunggu hujan redah. Seorang anak kecil mendekatiku,“ Pak payung, ia menawarkan ojek payungnya, lalu aku meraih payungnya untuk berdiri disamping halte sambil sekali-kali melihat kebelakang mengamati jurusan terminal grogol yang melewati Rumah sakit harapan kita, sementara Anak kecil ini berjalan disampingku dengan basah kuyup kedinginan,“ siapa namamu,“ sapaku “wahyu Kak“ „wahyu masih sekolah?“ „Sekolah Kak, kelas 4 SD“ „sering ngojek payung disini “ „ Iya Kak kebetulan rumah Wahyu dekat sini,“ „Wahyu temanin Saya menunggu mobil bus ya nanti saya bayar lebih“ Wahyu hanya mengangguk sambil melipat tangan didadanya. Ia kedinginan. Tubuh mungil dengan wajah yang bundar namun semangatnya untuk mengumpulkan rupiah dari mengojek payung membuat Diriku semakin iba, batapa anak sekecil ini harus bersusah paya mencari uang sementara diriku adalah seorang lelaki yang mempunyai pekerjaan dan mendapat gaji dari perusahaan, seharusnya Aku bersyukur dengan nikmat yang tuhan berikan kepada ku. yang tidak bersusah payah harus mencari uang seperti Wahyu ini. dari kejauan terlihat mobil bus dengan kode nomor 213 mobil bus yang ku tunggu-tunggu datang juga, setelah setengah jam lebih menunggu di trotoar ini, lalu Ku cari uang didalam tas yang biasa Aku selipkan sehabis belanja maklum terkadang uang kembalian dari belanja tidak pernah Ku simpan di dompet nah, akibat kebiasaan itu tas terkadang isinya berbaur , ada buku komputer, id card perusahaan hendphone, carger hp dan recording mp3 serta uang logam dan kertas, setelah merogoh beberapa saat Aku menemukan uang kertas untuk dikasihkan dengan anak kecil disamping ku yang kedinginan, sesaat kuliahat wajah wahyu sekali lagi nampak pucat „Wahyu ini uang buatmu “Tangan kecil Wahyu menerima uang sambil bergetar lantaran dingin, lalu melihat lembaran uang 10,000,“Kak uangnya kebanyakan kagak ada kembalianya“ sambil tersenyum lalu kuserahkan payung pada Wahyu,“ simpan saja kembalianya buat Wahyu ya.“ Mobil bus behenti didepan halte lalu kulangkahkan kakiku masuk kedalam Bus, dari dalam jendela bus Ku kelihat wahyu berlari sambil mengejar Bus, berteriak.“ Kakak terima kasih ya“ suasana yang dingin tadi yang menerpa wahyu berubah menjadi semangat yang menyala, Aku hanya tersenyum dan berkata dalam hati, Wahyu tetaplah berjuang dalam hidup dan jangan mudah menyerah. Bersambung |
Disarankan: 0
| Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar | Recommen | Print |
|
jie_nugros Minggu, 5 Oktober 2008 @ 14:23 WIB
 (Reply)
hidup mank 9tu x yeeeeeeeee |
||
|
funnisa Rabu, 29 Oktober 2008 @ 12:06 WIB
 (Reply)
huaekuakakakque...hawe are yuuuu... btw dah merrid belum seh??? ... sombong sekuale dirimu itu... but... always wish u luck, thx 4 taught me everything... i love u my brother... and never d e l e t e me from ur deepest heart cuz ... u know lah what's the answer is, hehehe |
||
My Blog
- catatan melati bagian 6
- novel yin galema
- catatan melati bagian 5
- catatan melati bagian 4
- catatan melatih bagian 3
Pengunjung
Total Pengunjung: 209Favorites
Komentar
Created on:
Rabu, 30 Juni 2004 @ 12:26 WIB
Rabu, 30 Juni 2004 @ 12:26 WIB

