CARI:  
   elvina
   http://vin_lib.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
 
           
   
PENGUMUMAN
 
BlogGaul mau berubah ...
Punya siapa nih??
Lombanya Risa
Tebarkan Amalan, tebarkan Senyuman
Drop Box
 
     
BLOG TERBARU
 
» perjalanan hidup
» alwachidy
» susanemoyan
» neliel-auel
» simplypotter
» myband
» irwansyah
» emo_staile
» babul ilm
» death note
 
     
POSTING TERBARU
 
» direction uncertain
» _sebuah ph0t0.._
» busby seo test brain f...
» mari berfikir..
» berawal dari numpang l...
» let me introducing mys...
» douzo yoroshiku,minna-...
» - need some help !
» st12 - saat terakhir ...
» males lagi...
 
     
   
 
PENGUMUMAN:
BlogGaul mau berubah ...
 
hikmah Ramadhan
Senin, 1 November 2004 @ 11:21 WIB - Musik, Film & Hiburan
  Mampukah Kita Sederhana dalam Hidup?

BERBUKA nanti makan apa dan di mana ya? Sahur nanti makan apa ya? Lebaran nanti pakai baju apa ya? Shalat ied nanti pake sajadah baru warna apa ya? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang masih sibuk kita pikirkan jawabannya. Kita asik sibuk sendiri jadinya. Padahal kalau saja kita mau berpegang teguh pada kesederhanaan, pasti kita tidak akan bingung sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan seperti yang telah disebutkan diatas. Sederhana. Apa kita mampu?

Apa sih kata sederhana itu? Secara literatur, arti kata sederhana itu cukup singkat yaitu pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, tidak berlebih-lebih. Berarti pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari adalah kita tidak berlebih-lebihan dalam makan, tidak berlebih-lebihan dalam berbelanja, tidak berlebih-lebihan dalam bertutur kata, tidak berlebih-lebihan dalam bergaya, tidak berlebih-lebihan dalam bertutur kata dan masih banyak contoh tidak berlebih-lebihan lainnya.

Untuk berbuka puasa misalnya, kita berlebih-lebihan menyediakan menu berbuka sehingga pada akhirnya mubazir karena tidak termakan semuanya, padahal masih banyak yang kelaparan di sekitar kita. Berlomba-lomba beli baju lebaran, padahal baju yang kita beli dua bulan yang lalu masih sempurna kondisinya. Sibuk cari sepatu lebaran baru, padahal sepatu yang kita beli tahun lalu masih tersenyum bersinar kepada kita. Berlomba-lomba saling tukar gosip terbaru, padahal Allah SWT sangat membenci orang yang tidak dapat menjaga tutur katanya. Sekali lagi, masih banyak juga contoh perlombaan lainnya yang pasti tidak muat untuk ditulis dalam artikel ini.

Mari kita pandang junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau benar-benar contoh kongkret kesederhanaan. Dalam semua aspek kehidupannya, beliau amatlah sederhana, s
elalu memberikan akhlak dan contoh yang baik, tentu dengan cara yang penuh kesederhanaan. Rasul tidak pernah berlebih-lebihan dalam sandang, pangan dan papan.

Dalam hal berbuka, beliau akan lebih memilih berbuka dengan kurma. Tidak ada kurma, beliau memilih gandum. Tidak ada gandum, maka dengan keikhlasan kepada Allah SWT, beliau hanya berbuka dengan seteguk air. Begitu sederhananya. Beliau juga pernah bertanya kepada Aishah r.a, apakah ada makanan pada hari itu. Ketika dijawab bahwa tidak ada makanan, maka beliau mengajak sang istri untuk berpuasa. Seperti kita ketahui, untuk tingkatan seperti beliau, Rasul bisa saja memerintahkan para sahabat untuk datang membawakan makanan. Tapi beliau tidak melakukannya.

Rasul pun tidak pula berlebihan dalam hal sandang. Beliau tetap memakai pakaian yang sederhana namun bersih. Rasul pun tidak mendidik para istrinya dengan pakaian dan perhiasan mewah, tetapi mendidik dalam kesederhanaan yang bersahaja. Untuk seorang Rasul, bisa saja beliau memakai jubah dari benang emas. Tapi beliau tidak..

Untuk tempat berteduh pun, kita masih dapat melihat kesederhanaan Rasul. Rumah tempat tinggal Rasul tidaklah jauh beda dengan tetangga sekitarnya baik bentuk dan luasnya. Tidak mencolok dengan berhiaskan permadani sutra. Tidak seperti itu.

Kesederhanaan juga terdapat dalam perilaku Rasul. Tutur kata yang terangkai dari mulut beliau adalah tutur kata yang senantiasa membimbing umatnya kepada akhlak yang mulia. Beliau tidak berlebihan dalam berbicara, mengingat segala ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Tong kosong nyaring bunyinya, orang yang senantiasa terlalu banyak bicara sesungguhnya tidak ada makna atau ilmu apapun dalam bicaranya tersebut. Beliau tidak pula berlebihan dalam hal menangani segala persoalan yang dihadapi, dari yang terberat sampai yang ringan.

Mampukah kita? Jawaban untuk pertanyaan pendek itu hendaknya dikembalikan lagi kepada pribadi kita masing-masing, sanggupkah kita mengendalikan diri kita untuk tetap sederhana. Lingkungan kita pastilah banyak menggoda dan menguji kita. Selama kita polos ke Allah, memikirkan masih ada orang kurang beruntung daripada kita dan melaksanakan segala sesuatu hanya untuk-Nya, pastilah kita mampu.

Di kala kita ingin berlebih-lebihan dalam berbuka, misalnya, ingatlah bahwa di keluarga kita yang lain ataupun tetangga kita, ada yang justru sudah pasrah karena tidak tau mau makan dengan apa saat sahur nanti. Di kala kita dengan nafsunya sibuk memikirkan baju untuk lebaran, masih ada di sekitar kita yang dengan ringkihnya meringkuk kedinginan karena tidak berpakaian yang layak. Di kala kita sibuk tertawa-tawa ngabuburit di mal, masih ada di sekitar kita yang menahan tangis karena dihajar penderitaan. Masih banyak hal-hal berlawanan lainnya yang ada di sekitar kita, yang benar-benar patut kita renungi.

Untuk itu marilah kita sama-sama mengendalikan diri kita, menekan nafsu kita, mengembalikannya kepada Allah semata. Sesungguhnya orang yang mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah atau sederhana (tidak berlebihan dan tidak mengurangi) adalah pribadi yang dicintai oleh Allah. Mampu-mampulah kita menyesuaikan keseharian dengan pola hidup sekarang.

Sederhana bukanlah berarti merasa atau menunjukkan diri selalu serba kekurangan dalam materi, tetapi menempatkan diri dalam posisi di pertengahan. Jangan sampai karena menyalahartikan kata sederhana, tangan kita selalu senantiasa berada di bawah alias meminta-meminta. Akan lebih baik dalam keadaan apapun, fakir atau kaya, kita mampu menempatkan tangan kita di atas, yaitu dengan senantiasa memberi kepada lingkungan kita yang kekurangan.

Semoga di bulan agung ini, Allah benar-benar memberikan cahaya dan kekuatan-Nya agar kita mampu mengendalikan diri kita serta selalu ingat untuk memperhatikan sekitar kita. Semoga kita selalu diberkahi dengan petunjuk-Nya untuk membimbing kita kepada perilaku yang menunjukkan keserhanaan yang mulia di mata Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamiin!
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
hikmah Ramadhan
Senin, 1 November 2004 @ 11:09 WIB - Musik, Film & Hiburan
  Mampukah Kita Sederhana dalam Hidup?

BERBUKA nanti makan apa dan di mana ya? Sahur nanti makan apa ya? Lebaran nanti pakai baju apa ya? Shalat ied nanti pake sajadah baru warna apa ya? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang masih sibuk kita pikirkan jawabannya. Kita asik sibuk sendiri jadinya. Padahal kalau saja kita mau berpegang teguh pada kesederhanaan, pasti kita tidak akan bingung sendiri menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan seperti yang telah disebutkan diatas. Sederhana. Apa kita mampu?

Apa sih kata sederhana itu? Secara literatur, arti kata sederhana itu cukup singkat yaitu pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, tidak berlebih-lebih. Berarti pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari adalah kita tidak berlebih-lebihan dalam makan, tidak berlebih-lebihan dalam berbelanja, tidak berlebih-lebihan dalam bertutur kata, tidak berlebih-lebihan dalam bergaya, tidak berlebih-lebihan dalam bertutur kata dan masih banyak contoh tidak berlebih-lebihan lainnya.

Untuk berbuka puasa misalnya, kita berlebih-lebihan menyediakan menu berbuka sehingga pada akhirnya mubazir karena tidak termakan semuanya, padahal masih banyak yang kelaparan di sekitar kita. Berlomba-lomba beli baju lebaran, padahal baju yang kita beli dua bulan yang lalu masih sempurna kondisinya. Sibuk cari sepatu lebaran baru, padahal sepatu yang kita beli tahun lalu masih tersenyum bersinar kepada kita. Berlomba-lomba saling tukar gosip terbaru, padahal Allah SWT sangat membenci orang yang tidak dapat menjaga tutur katanya. Sekali lagi, masih banyak juga contoh perlombaan lainnya yang pasti tidak muat untuk ditulis dalam artikel ini.

Mari kita pandang junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau benar-benar contoh kongkret kesederhanaan. Dalam semua aspek kehidupannya, beliau amatlah sederhana, selalu memberikan akhlak dan contoh yang baik, tentu dengan cara yang penuh kesederhanaan. Rasul tidak pernah berlebih-lebihan dalam sandang, pangan dan papan.

Dalam hal berbuka, beliau akan lebih memilih berbuka dengan kurma. Tidak ada kurma, beliau memilih gandum. Tidak ada gandum, maka dengan keikhlasan kepada Allah SWT, beliau hanya berbuka dengan seteguk air. Begitu sederhananya. Beliau juga pernah bertanya kepada Aishah r.a, apakah ada makanan pada hari itu. Ketika dijawab bahwa tidak ada makanan, maka beliau mengajak sang istri untuk berpuasa. Seperti kita ketahui, untuk tingkatan seperti beliau, Rasul bisa saja memerintahkan para sahabat untuk datang membawakan makanan. Tapi beliau tidak melakukannya.

Rasul pun tidak pula berlebihan dalam hal sandang. Beliau tetap memakai pakaian yang sederhana namun bersih. Rasul pun tidak mendidik para istrinya dengan pakaian dan perhiasan mewah, tetapi mendidik dalam kesederhanaan yang bersahaja. Untuk seorang Rasul, bisa saja beliau memakai jubah dari benang emas. Tapi beliau tidak..

Untuk tempat berteduh pun, kita masih dapat melihat kesederhanaan Rasul. Rumah tempat tinggal Rasul tidaklah jauh beda dengan tetangga sekitarnya baik bentuk dan luasnya. Tidak mencolok dengan berhiaskan permadani sutra. Tidak seperti itu.

Kesederhanaan juga terdapat dalam perilaku Rasul. Tutur kata yang terangkai dari mulut beliau adalah tutur kata yang senantiasa membimbing umatnya kepada akhlak yang mulia. Beliau tidak berlebihan dalam berbicara, mengingat segala ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Tong kosong nyaring bunyinya, orang yang senantiasa terlalu banyak bicara sesungguhnya tidak ada makna atau ilmu apapun dalam bicaranya tersebut. Beliau tidak pula berlebihan dalam hal menangani segala persoalan yang dihadapi, dari yang terberat sampai yang ringan.

Mampukah kita? Jawaban untuk pertanyaan pendek itu hendaknya dikembalikan lagi kepada pribadi kita masing-masing, sanggupkah kita mengendalikan diri kita untuk tetap sederhana. Lingkungan kita pastilah banyak menggoda dan menguji kita. Selama kita polos ke Allah, memikirkan masih ada orang kurang beruntung daripada kita dan melaksanakan segala sesuatu hanya untuk-Nya, pastilah kita mampu.

Di kala kita ingin berlebih-lebihan dalam berbuka, misalnya, ingatlah bahwa di keluarga kita yang lain ataupun tetangga kita, ada yang justru sudah pasrah karena tidak tau mau makan dengan apa saat sahur nanti. Di kala kita dengan nafsunya sibuk memikirkan baju untuk lebaran, masih ada di sekitar kita yang dengan ringkihnya meringkuk kedinginan karena tidak berpakaian yang layak. Di kala kita sibuk tertawa-tawa ngabuburit di mal, masih ada di sekitar kita yang menahan tangis karena dihajar penderitaan. Masih banyak hal-hal berlawanan lainnya yang ada di sekitar kita, yang benar-benar patut kita renungi.

Untuk itu marilah kita sama-sama mengendalikan diri kita, menekan nafsu kita, mengembalikannya kepada Allah semata. Sesungguhnya orang yang mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah atau sederhana (tidak berlebihan dan tidak mengurangi) adalah pribadi yang dicintai oleh Allah. Mampu-mampulah kita menyesuaikan keseharian dengan pola hidup sekarang.

Sederhana bukanlah berarti merasa atau menunjukkan diri selalu serba kekurangan dalam materi, tetapi menempatkan diri dalam posisi di pertengahan. Jangan sampai karena menyalahartikan kata sederhana, tangan kita selalu senantiasa berada di bawah alias meminta-meminta. Akan lebih baik dalam keadaan apapun, fakir atau kaya, kita mampu menempatkan tangan kita di atas, yaitu dengan senantiasa memberi kepada lingkungan kita yang kekurangan.

Semoga di bulan agung ini, Allah benar-benar memberikan cahaya dan kekuatan-Nya agar kita mampu mengendalikan diri kita serta selalu ingat untuk memperhatikan sekitar kita. Semoga kita selalu diberkahi dengan petunjuk-Nya untuk membimbing kita kepada perilaku yang menunjukkan keserhanaan yang mulia di mata Allah SWT. Amin ya rabbal ‘alamiin!
 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 0 | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     
tak Rela Berpisah Darimu
Jumat, 8 Oktober 2004 @ 13:26 WIB - Diari
 
hujan turun gerimis di saat kedinginan
Menimpa jendela hati ini
Tak dapat ku tahan... perasaanku

Sungguh takku mengerti mengapakah begini
Tiada maksudku menyakiti
Hatimu itu oh sayang... maafkanlah

Kasih... hanya kau di hati
Usah biarkan hatimu terasa cemburu
Kasih... hanya ku pinta pengertianmu
Telah sekian lama kita bersama sayang

Apakah lagi yang kita cari
Apakah lagi yang kau harapkan
Lamanya ku menanti untuk hidup denganmu
Oh kasih...

Sayang, ku ingin kita bersama
Melayari lautan cinta
Ku bina mahligai
Di persada asmara kasih kita

Biarpun dugaan tiba
Kita kan tempuh bersama
Tak rela berpisah dari mu

 
     
  Disarankan: 0  
 
  Komentar: 2 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print
 
Kembali Ke Atas
     

S E L A N J U T N Y A »

 
 
selamat datang di blog aku dapatkan profile tentang diriku di blog ini. S E L A M A T M E N C O B A
 
 
PROFILE
BUKU TAMU
 
     
 
BLOG  [v]
hikmah ramadhan
hikmah ramadhan
tak rela berpisah darimu
cinta tak kenal siapa :)
hatiku berka
Arsip Blog
 
 
CARI BLOG
 
     
 
PENGUNJUNG  [v]
» aryces
» mastery
» koesplator
» rutje
» mastery
Total: 146
 
     
 
KOMENTAR  [v]
» so romantic ...
» waduh elvuna bagus ba...
» eh it-thie emang u ta...
» hehehe... anak kendar...
» aq skg udh gak nge-fa...
 
  RSS Komentar Blog  

RSS Blog
Created:
Rabu, 4 Agustus 2004 @ 13:51 WIB
   
         
    Copyright © 2004, PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI